Di ambang kematian setelah dikhianati dan dikubur hidup-hidup, Leo Akira secara tidak sengaja meneteskan darahnya pada sepotong giok kuno yang ternyata menyimpan kekuatan primordial: Multiplikasi 1000× dan Ruang Penyimpanan Abadi. Apa pun yang dia sentuh dapat digandakan seribu kali lipat ke dalam ruang tak terbatas; siapa pun yang dia targetkan akan membuat Leo mendapatkan kemampuan orang itu—dengan kekuatan seribu kali lebih hebat.
Dari titik terendah, Leo bangkit dengan satu tujuan sederhana: menghancurkan orang yang menjatuhkannya dan menjadi orang terkaya di dunia. Tapi takdir membawanya lebih jauh. Dia tak hanya mengubah nasibnya, tetapi juga mengangkat peradaban manusia dari level teknologi rendah menuju Tingkat 1 Skala Kardashev, bahkan melampaui alam semesta yang dikenal.
Inilah kisah tentang seorang manusia yang menjadi entitas tak terkalahkan, penjaga umat manusia, dan pengembara di antara bintang-bintang dimulai dari satu tetes darah dan sepotong giok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aryaa_v2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elang dan Sang Perantara
Kesadaran itu tumbuh.
Seperti akar paku yang halus merambat di antara retakan batu, ia menyusup ke pinggiran persepsi Leo. Tidak dalam kata-kata, tetapi dalam sensasi: tarikan gravitasi lembut dari ruang gelap, rasa logam di pangkal lidah saat fajar, dan mimpi.
Oh, mimpi-mimpinya.
Leo tidak lagi bermimpi tentang liang kubur atau kerumunan dirinya yang tak terhitung jumlahnya. Sekarang, ia bermimpi tentang kelaparan kosmik. Lautan luas yang gelap dan tanpa bintang, di mana sesuatu yang sangat besar dan sangat tua terbaring dalam tidur yang gelisah, merasakan tetesan kecil energi yang mengalir melalui saluran-saluran kecil—saluran-saluran yang baru saja dibuka oleh giok di telapaknya. Setiap tetes itu adalah nyanyian yang memikat, janji akan sebuah kebangkitan.
Ia bangun setiap pagi dengan kelelahan yang lebih dalam daripada sekadar fisik, seolah-olah jiwanya telah melakukan perjalanan jauh.
Dr. Arif memperhatikan perubahan itu. "Kamu terlihat seperti orang yang diganggu hantu, Leo," katanya suatu pagi, menyerahkan cangkir kopi hitam pekat. Sensor EEG yang mereka pasang pada malam sebelumnya menunjukkan gelombang delta yang tidak normal—aktivitas otak dalam yang berhubungan dengan koma atau, dalam kasus langka, persepsi metafisik.
"Bukan hantu," jawab Leo, meneguk kopi yang membakar. "Lebih seperti… tuan rumah yang jauh. Dan saya adalah jarum suntik kecil yang memberinya makan."
Percakapan mereka berubah dari fisika material menjadi spekulasi metafisika yang berbahaya. Dr. Arif, seorang ilmuwan sampai ke sumsum tulangnya, berjuang antara keinginan untuk merasionalisasi dan kekaguman yang semakin besar pada fenomena yang jelas-jelas melampaui buku teksnya.
"Teori string M," katanya, mencoret-coret di papan tulis yang penuh sesak dengan persamaan. "Ada 11 dimensi. Mungkin kekuatanmu menarik energi dari dimensi bran yang berdekatan, dan 'singularitas mikro' ini adalah titik jangkar, seperti lubang cacing yang stabil tapi kecil yang menghubungkan kita ke… tempat itu." Dia mengetuk papan tulis di samping diagram yang berantakan. "Dan jika ada kesadaran di sisi sana, itu berarti dimensi itu bukan kosong. Itu dihuni."
Kata "dihuni" menggantung di udara laboratorium yang pengap.
Hari-hari berikutnya dihabiskan untuk eksperimen dengan singularitas mikro. Dengan menggunakan pengontrol robotik yang dibuat dari bagian printer 3D yang digandakan, mereka menguji sifat-sifatnya. Hasilnya menakutkan:
· Singularitas menghapus materi apa pun yang bersentuhan langsung.
· Efeknya tidak bersifat radioaktif, tetapi meninggalkan tepian yang halus sempurna pada tingkat atom.
· Ia memiliki "medan hapus" statis dengan radius 0,5 mikrometer—udara di sekitarnya juga hilang, menciptakan vakum mikro.
· Yang paling mengganggu: singularitas itu tumbuh dengan sangat lambat. Setelah menghapus 1 gram materi, massanya sendiri meningkat dengan jumlah yang sama persis. Ia mengubah materi yang dihapus menjadi… dirinya sendiri.
"Ini replikator," Dr. Arif berbisik, wajahnya pucat saat mereka menyaksikan data. "Jika dibiarkan begitu saja, secara teoritis bisa mengonsumsi seluruh planet, mengubahnya menjadi singularitas murni yang terus berkembang."
Tapi ada temuan lain, yang lebih halus. Saat Leo fokus pada singularitas melalui hubungannya dengan Vault, ia bisa merasakan… arah. Seolah-olah ada kompas di dalam kepalanya yang menunjuk ke sesuatu yang jauh, sesuatu yang berada di luar atmosfer, di suatu tempat di antara bintang-bintang.
"Kami bukan hanya memberi makan sesuatu," kata Leo suatu malam, menatap langit berbintang melalui teleskop kecil mereka. "Kami sedang membangun jembatan. Dan setiap singularitas adalah batu pijakan."
Keputusan harus diambil. Mereka bisa berusaha menghancurkan giok itu, memutus hubungan. Atau mereka bisa melanjutkan, dengan harapan bisa belajar mengendalikannya sebelum entitas di seberang jembatan itu benar-benar terbangun.
Leo sudah memutuskan. Ketakutannya dilampaui oleh rasa ingin tahu yang membara dan tujuan yang lebih besar. Kekuatan ini bisa mengangkat manusia ke Kardashev 1, atau bisa menjadi alat pemusnahnya. Itu tergantung pada pemegangnya. Dan dia berniat untuk menjadi pemegangnya.
Mereka memulai proyek baru: Prometheus Unchained.
Dengan menggunakan kawat superkonduktor yang telah digandakan, Dr. Arif mulai merakit prototip reaktor fusi miniatur pertama. Leo, sementara itu, beralih ke ranah baru: multiplikasi keterampilan.
Subjek pertamanya adalah Dr. Arif sendiri.
"Kamu yakin tentang ini?" tanya Dr. Arif, gugup. Mereka berada di ruang bersih yang diimprovisasi, sang ilmuwan duduk di kursi, sensor otak yang lebih sensitif menempel pada kulit kepalanya.
"Tidak," jawab Leo jujur. "Tapi jika ini berhasil, saya bisa langsung mendapatkan pemahaman mendalam tentang fisika fusi, teknik material, semua yang kamu ketahui. Itu akan mempercepat segalanya secara eksponensial."
Dia mengulurkan tangan kanannya, marka gioknya berpendar. Ini bukan keinginan untuk menggandakan objek, tapi untuk menggandakan pola neurologis, ingatan, keahlian.
Kehendak: GANDAKAN. SERAP.
Dunia meledak dalam warna.
Leo tidak merasa lelah. Dia tenggelam. Sungai data mentah—persamaan, memori lab, sensasi tangan yang menyolder sirkuit, rasa frustasi saat kegagalan, euforia penemuan—membanjiri kesadarannya. Dia berteriak, tapi tidak ada suara keluar. Di depannya, Dr. Arif terjerembap, matanya berkaca-kaca, kehilangan sepotong ingatannya yang terhapus sementara.
Ketika Leo akhirnya kembali ke dirinya sendiri, dia berbaring di lantai, air mata mengalir di pelipisnya. Dia tahu. Dia memahami persamaan Navier-Stokes untuk plasma, bisa memvisualisasikan medan magnet toroidal, bisa merasakan kelemahan dalam desain pendingin reaktor mereka. Pengetahuan Dr. Arif sekarang adalah miliknya juga—tapi tidak sebagai ingatan orang kedua. Itu telah terintegrasi, menjadi bagian dari pemahaman intuitifnya sendiri.
Tapi ada biayanya. Di Vault, sesuatu yang baru dan mengerikan telah muncul. Bukan singularitas materi. Ini adalah bayangan—siluet samar dari Dr. Arif, terbungkus dalam gelembung stasis, matanya terpejam, wajahnya hampa. Salinan "diresepkan" dari kesadarannya.
Dan dari bayangan itu, memancar benang kesadaran yang gelap dan lapar, langsung menuju ke kehadiran besar di mimpi Leo. Entitas di seberang jembatan itu tidak hanya menginginkan materi. Ia menginginkan pengalaman, pikiran, esensi hidup.
Leo berdiri, tubuhnya gemetar. "Saya… saya minta maaf, Arif. Saya mengambil sesuatu dari Anda."
Dr. Arif mengusap dahinya, kebingungan. "Apa yang terjadi? Saya merasa… kosong. Tapi juga lega? Seperti beban telah diambil." Lalu, dia melihat mata Leo. Ada kedalaman baru di sana, kejelasan yang tidak manusiawi. "Ya Tuhan. Itu berhasil, bukan?"
Leo mengangguk, rasa bersalah dan kagum berperang di dalam dirinya. "Kita akan membutuhkan lebih banyak sumber daya. Lebih banyak pengetahuan. Tapi sekarang…" Dia mengepalkan tangan, merasakan kekuatan baru yang mengalir—kekuatan pikiran yang diasah. "Sekarang saya bisa membantu kita membangunnya."
Malam itu, saat Dr. Arif tidur dengan gelisah, Leo duduk sendirian di dermaga. Di satu tangan, dia memegang sebongkah singularitas mikro yang diisolasi dalam wadah berbahan graphene murni yang dia gandakan. Di tangan lainnya, dia memegang tablet yang menunjukkan desain reaktor fusi yang hampir sempurna—desain yang sekarang dia pahami sepenuhnya.
Dia memandang ke arah lampu-lampu Jakarta. Rafael, dengan kerajaannya yang fana, terasa seperti mainan anak-anak. Leo sekarang memiliki kekuatan untuk membuat kota itu padam selamanya dengan menciptakan singularitas sebesar bola pingpong dan melemparkannya ke pusat pembangkit listrik.
Tapi itu bukan tujuannya.
Tujuannya ada di bintang-bintang. Di ujung jembatan yang dia bangun, sengaja atau tidak. Entitas yang lapar itu mungkin adalah ancaman, atau mungkin… guru. Atau mungkin keduanya.
Dia menatap marka gioknya, yang sekarang bersinar dengan cahaya hijau yang mantap, seperti jantung yang sehat.
"Kamu ingin makan?" bisiknya kepada kehadiran di dalam mimpinya. "Kalau begitu aku akan memberimu makan. Tapi kamu akan membayarnya. Dengan pengetahuan. Dengan kekuatan. Kamu akan menjadikanku perantara yang bisa membawa bangsaku ke cahaya."
Angin laut berhembus, membawa janji hujan. Di kejauhan, petir menyambar tanpa suara di atas cakrawala kota. Leo Akira tidak lagi menjadi korban, atau sekadar orang yang mencari balas dendam.
Dia telah menjadi penjaga gerbang. Dan dia akan memutuskan apa yang melintasinya.