Ziva Putri Willson, putri bungsu keluarga Willson, adalah perpaduan sempurna antara kecantikan, kecerdasan, dan kepercayaan diri setinggi langit. Di usianya yang masih muda, dia telah menjadi desainer ternama yg namanya menggema hingga ke mancanegara.
Damian Alexander, CEO muda yang dikenal kejam dan dingin. Baginya, hidup hanyalah deretan angka dan nilai saham. Dia sangat anti pada wanita karena menganggap mereka makhluk paling merepotkan di dunia.
"Dengar, Tuan CEO, kamu mungkin bisa membeli saham dunia, tapi kamu tidak bisa membeli hak untuk mengatur kapan aku harus bernapas. Jadi, simpan wajah sok kuasamu itu untuk rapat, bukan untukku." -Ziva.
"Aku sudah menghadapi ribuan musuh bisnis yang licin, tapi menghadapi satu wanita bermulut tajam seperti dia jauh lebih menguras energi daripada akuisisi perusahaan. Tapi justru itu yang membuatnya berbeda." — Damian.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Si Tuan Dingin yang mulai kehilangan akal sehatnya, atau Nona cerewet berwajah manis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN PERTAMA
Kring
Kring
Kring
Suara dering telepon yang sedari tadi berbunyi, membuat tidur seorang gadis cantik, merasa terganggu.
Dengan mata setengah tertutup, Ziva mengambil handphonenya di atas nakas dan menerima panggilan itu.
"Ha-"
"ZIVA PUTRI WILLSON, DARI MANA SAJA KAMU HAH!"
"LUPA KALAU MASIH PUNYA MOMMY HAH!"
Ziva terlonjak kaget dan langsung duduk, saat mendengar suara teriakan Mommy nya.
"ZIVA KAMU DENGAR MOMMY TIDAK!"
Teriak Nyonya Mauren dari sebarang.
"Ada apa sih Mom, pagi-pagi udah berteriak," ucap Ziva, masih mengantuk.
"Ziva sudah berapa kali Mommy bilang, kalau malam jangan begadang," ucap Nyonya Mauren, kesal dengan kebiasaan Putri nya.
"Bukan begadang Mom, tapi pekerjaan Ziva sangat banyak. Hoam..." jawab Ziva, menguap.
Nyonya Mauren yang mendengar jawaban Putri nya, hanya bisa menghela nafas nya panjang.
"Jangan terlalu keras Sayang, pekerjaan bisa di lanjut ke keesokan hari nya," ucap Nyonya Mauren, lembut.
"Hem"
Gumam Ziva, tidak jelas.
"Ada apa Mommy telepon Ziva pagi-pagi begini?" tanya Ziva, melirik jam yang menunjukan pukul sembilan.
"Apanya yang pagi, ini udah siang Ziva," jawab Nyonya Mauren, berdecak kesal.
"Kamu sekarang mandi bersih-bersih, terus sarapan, satu jam lagi jed pribadi Daddy kamu sampai, kamu pulang hari ini!" lanjut Nyonya Mauren, tegas.
"APA!"
"Ziva gak mau Mom, pekerjaan Ziva di sini masih banyak," tolak Ziva, tidak setuju.
"Tidak ada penolakan, Ziva Putri Willson! Hari ini kamu pulang ke negara J!" ucap Nyonya Mauren, tidak mau di bantah.
"Tapi-"
Tuttt
Sambungan telepon itu terputus, Nyonya Mauren mematikan sambungan telpon nya tanpa memberi Putri nya berbicara.
"Sebenarnya ini ada apa sih, kenapa Mommy tiba-tiba nyuruh aku pulang," ucap Ziva mengacak-acak rambut nya frustasi.
Ziva sudah lima tahun tinggal di negara K, di adalah seorang desainer terkenal yang memiliki butik dengan puluhan cabang yang tersebar di beberapa negara.
Dengan helaan napas panjang, Ziva bangkit dari tempat tidur nya, melangkah menuju jendela besar apartemennya di pusat kota negara K, menatap deretan gedung pencakar langit yang selama lima tahun ini menjadi saksi bisu perjuangannya membangun bisnis fesyennya. Z-Style.
Ziva segera menghubungi asisten pribadinya, Rika.
Tuttt
📞Tersambung....
"Halo, selamat pagi Nona," ucap Rika, menjawab penggilan dari Ziva.
"Pagi," jawab Ziva, singkat.
"Rika, batalkan semua jadwalku untuk seminggu ke depan, aku harus pulang ke Negara J satu jam lagi," perintah Ziva dengan suara tegas nya.
"Tapi Nona, siang ini kita ada pertemuan dengan Tuan Miller dan Nona Citra, untuk fitting baju-"
"Handle semuanya, kirimkan laporan lewat email, saat ini aku sedang dalam panggilan darurat keluarga," potong Ziva, dingin.
"Baik, Nona," jawab Rika, tidak berani membantah.
Tut.
Setelah memutus panggilan, Ziva bergegas mandi dan berganti pakaian, dia memilih setelan blazer berwarna cream yang elegan namun santai, khas seorang desainer kelas atas.
Sambil merapikan koper kecil nya yang berisi barang-barang penting, otaknya terus berputar mencari alasan di balik kepulangan mendadak ini.
"Apakah Daddy sakit? Tidak mungkin, suara Mommy terdengar sangat bugar dan penuh energi saat berteriak tadi," batin Ziva, mengerut kan kening nya.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi di negara J?" batin Ziva, menghela nafas nya panjang.
Ting
Satu pesan masuk di handphone Ziva, ternyata itu dari bodyguard Daddy nya, yang ditugaskan untuk menjemput diri nya.
"Nona, mobil sudah siap, saat ini saya di depan."
Setelah membaca pesan singkat itu, Ziva bergegas keluar dari apartemen nya, turun ke bawah lobby apartment.
Ting
Ziva keluar dari lift, dengan mendorong koper kecil nya, dengan langkah anggun dia bejalan keluar, menuju mobil jemputan nya.
"Nona, silahkan masuk," ucap supir yang menjemput Ziva.
"Hem"
Ziva masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang di bangku penumpang.
"Jalan sekarang," ucap Ziva, dingin.
"Baik Nona," jawab supir, mulai menjalankan mobil nya.
Mobil hitam mewah yang menjemputnya itu, melaju dengan kecepatan sedang, menuju bandara khusus, di sana, pesawat pribadi milik keluarga Willson sudah menunggu dengan mesin yang mulai menderu.
Saat melangkah masuk ke dalam pesawat, Ziva disambut oleh pramugari pribadi keluarga mereka.
"Selamat datang kembali, Nona Muda. Nyonya Mauren berpesan agar Nona beristirahat selama penerbangan, karena ada acara penting nanti malam," ucap pramugari itu, tersenyum sopan.
"Acara penting?" gumam Ziva mengernyitkan dahi nya.
Memikirkan apa alasan dari kepulangan nya ini membuat kepala Ziva berdenyut sakit, dia menyandarkan punggungnya di kursi first class yang nyaman, dengan perasaan gelisah mulai merayapi hatinya.
Di Negara J, keluarga Willson bukan sekadar keluarga kaya, mereka adalah pilar ekonomi, Tuan Justin Willson CEO perusahaan Willson Gru, perusahaan yang menduduki peringkat kedua, terbesar di dunia.
Setelah menempuh perjalanan udara selama beberapa jam, jet pribadi keluarga Willson mendarat dengan mulus di bandara internasional Negara J.
Ziva melangkah turun dari pesawat dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.
Angin sepoi-sepoi Negara J menyambutnya, membawa aroma yang sangat familiar namun terasa asing setelah lima tahun.
Karena ingin menghirup udara segar sebelum masuk ke mobil jemputan, Ziva meminta pengawalnya menunggu di lobi utama sementara dia berjalan kaki sedikit menjauh dari area privat.
Saat Ziva sedang sibuk membalas pesan masuk dari Rika di ponselnya.
BHUK
Ziva yang tidak memperhatikan jalan, menabrak sesuatu yang terasa keras, sekeras dinding beton, tubuh mungilnya terhuyung ke belakang, dan ponsel mahalnya terlepas dari tangan, meluncur bebas menuju lantai marmer.
"Ah!" pekik Ziva refleks berteriak.
Sebelum ponsel itu menyentuh lantai, sebuah tangan dengan gerakan kilat menangkapnya, membuat Ziva terpaku.
Ziva mendongak kan kepala nya, di hadapannya berdiri seorang pria jangkung dengan setelan jas hitam yang sangat rapi.
Pria yang di tabrak ZIva itu memiliki garis rahang yang tegas, rambut hitam yang ditata sedikit berantakan namun elegan, dan mata tajam sedingin es yang seolah bisa menembus jiwa siapa pun yang menatapnya.
Pria itu menyodorkan ponsel Ziva tanpa ekspresi.
"Lain kali, perhatikan jalanmu, Nona, tidak semua orang punya waktu untuk meladeni drama mu," ucap pria itu dengan suara berat dan dingin.
Ziva yang awalnya merasa bersalah, langsung tersulut emosinya mendengar nada bicara pria tersebut, dengan cepat, Ziva merebut ponselnya kembali.
"Hey, aku memang salah karena tidak melihat jalan, tapi Anda juga tidak perlu se angkuh itu. Lagipula, Anda berdiri tepat di jalur pejalan kaki!" jawab Ziva sengit, harga dirinya sebagai desainer ternama terusik.
Pria itu menaikkan satu alisnya, sedikit terkejut ada wanita yang berani menjawabnya dengan nada seperti itu, karena biasanya wanita yang bertemu dengan nya akan langsung menjerit dan bertingkah murahan.
Pria itu menatap Ziva dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang menilai kualitas barang.
"Mau ku colok mata mu hah!" semprot Ziva, berang.
abang posesif vs clon suami kutub....🤣🤣🤣
crazy up dpng thorrrrr
koreksi ya semangat
bru brbgi air mnum aja udh baper...
kbyang nnti kl udh nkah,trs tnggal srumah....atw sekamar pula.....🤭🤭🤭