fiksi sejarah Kisah Para Pemimpin sebuah Pulau bernama The Horn Land. cerita dalam rentang waktu 110 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sutrisno Ungko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian
Kesatria itu antara lain : Aragorn Balyn, pria berusia 43 tahun, Angurey Wayn, berusia 40 tahun, dan yang termuda Oliver Pho-Bela ia berusia 37 tahun. Lauren Lamalurra sendiri pada saat ini berusia 43 tahun.
Mereka kemudian menyusun siasat untuk mengikuti arahan pengirim surat itu soal jalur yang akan dipilih untuk bisa sampai ke penjara tempat Ommer Ghie ditahan. Dan saat semua persiapan dianggap matang, pada tengah malamnya mereka bergerak ke arah selatan melewati hutan dan beberapa perkampungan yang sepi.
Penjagaan tak terlalu ketat, sehingga mereka bisa melumpuhkan 3 orang penjaga yang bertugas malam itu. Sangat sepi keadaannya, hanya terdengar suara para tahanan yang ada di dalam penjara bawah tanah. Ini adalah penjara utama di kota ini yang mampu menampung tahanan sampai 100 orang. Anehnya situasi penjagaan tak terlalu kuat.
Dua orang penjaga lain mampu dilumpuhkan di areal dalam. Sampai kemudian mereka menemukan lokasi Ommer di tahan. Jhuma dan 4 orang sahabatnya ini tentu tak mengenal Ommer, hanya menanyakan para tahanan yang ada, yang justru meminta mereka semua dibebaskan sebelum memberi tahu di mana Ommer berada. Sampai setelah 3 pintu penjara itu di buka oleh Angurey Wayn yang punya kekuatan besar dalam melumpuhkan gembok. Dan berhasil mengeluarkan kurang lebih 20 tahanan. Ommer Ghie tiba-tiba berseru..
“Aku Ommer Ghie. Siapa kalian?.” tanya pemuda polos itu.
“segera bergerak tuan muda, kami teman ayahmu dari The Horn Land. Kita dikejar waktu untuk keluar. ” kata Jhuma.
Ommer mengikuti perintah dan segera berlari bersama puluhan tahanan lain yang ikut dibebasakan. Namun ternyata di luar sudah menunggu para penjaga bersenjata kurang lebih 40 orang. 5 yang lain mungkin adalah perwira karena menaiki kuda.
“Saatnya menghabisi para tahan ini, kita laporkan mereka melarikan diri.” teriak sang Komandan sambil menyerang.Pertempuran tak seimbang pun terjadi, karena para tahanan yang berjumlah 70 orang itu termasuk Ommer sama sekali tak bersenjata. Hanya para kesatria The Horn Land yang bersenjata, yang dengan gigihnya memberikan perlawanan dengan tetap fokus menyelamatkan Ommer.
Satu persatu para tahanan tewas ditangan para prajurit, namun kegagahan Lauren, Angurey, Oliver dan Aragon ternyata diatas rata-rata. Dua penunggang kuda jatuh terkena senjata mereka. Yang lain juga roboh karena sergapan, ada keinginan dari mereka berempat untuk menghabisi semua prajurit, sampai terdengar teriakan Jhuma..
“Ayo pergi! tuan muda harus kita selamatkan!”
Segera mereka membentuk formasi perlindungan kemudian menyelinap masuk dalam hutan. Meninggalkan para tahanan lain yang masih melakukan perlawanan, karena marah atas perlakuan yang mereka dapatkan selama di tahanan. juga marah atas siasat para prajurit yang memang ingin membantai mereka. Namun satu persatu mereka tewas, beberapa yang lain setelah menyadari tak akan memenangkan pertarungan memilih melarikan diri…para prajurit mengejar, terutama ke arah Jhuma dan teman-temannya pergi.
Atas bantuan pria tak dikenal, yang kembali mengirimkan anak kecil lain untuk menunjukan jalan mereka melarikan diri, Jhuma dan rombongannya selamat. Kini mereka berbagi tugas lagi.
“Lauren, kamu tahu arah ke rumah Owen , pergilah bersama Aragon dan jemput Regen dan Ser Owen ..kami menunggu di dermaga, tempat kita melabuhkan perahu kita.” kata Jhuma.
Ia sendiri bersama Ommer , Oliver dan Angurey. Segera menuju titik penjemputan perahu yang telah disiapkan. Namun dijalan Ommer memaksakan diri untuk mengajak serta calon istrinya. Sehingga perjalanan mereka bertambah jauh. Ditengah rasa was-was adanya prajurit kekaisaran yang berpatroli.
Akhirnya menjelang subuh, mereka sampai ke rumah kekasihnya. Namun yang didapatkan adalah kekosongan. Tak ada satupun orang disana. Ommer sempat ragu utuk ikut serta tanpa kekasih hatinya, namun setelah diberikan pemahaman oleh Jhuma untuk pergi, bahwa ayahnya telah menunggu, ia mengikuti. Kini target mereka sampai di dermaga.
***
Pagi harinya, di dermaga. Mereka menemukan sekelompok prajurit sedang memeriksa perahu kosong mencurigakan di dermaga itu. Saat yang bersamaan Jhuma sampai disana. Begitupun Owen dan 3 pendampingnya. Suasana menjadi tegang tak bisa di kendalikan karena para prajurit mengenali mereka dari tampilan bercak darah dan pedang dalam genggaman. Meskipun baju yang mereka kenakan masih tampilan pedangan dan petani.
“Kalian yang kami cari. Menyerahlah! Tak akan ada yang bisa pergi dari tempat ini! ” kata komandan prajurit maju, ia memberikan tanda pada 10 orang prajuritnya untuk maju mengepung orang-orang ini.
“Jika kalian menyerahkan diri tak akan ada yang …” belum lagi selesai kata terakhirnya. Sebuah pedang melayang dan menghujam dada sang komandan, tembus di tulang belakang. Spontan tubuh besar itu jatuh ketanah. Regen Manollion maju mencabut pedangnya itu.
“Masih ada yang mau menghalangi kami?” kata Regen dingin.
Para prajuirit yang kaget, secara bersama-sama maju menyerang, terjadilah pertarungan kedua belah pihak di pinggir dermaga di pagi buta ini. Oliver jatuh karena terluka, saat seorang prajurit akan menghabisinya Aragon maju menyelamatkan. Sisanya menyelesaikan tugas mereka dengan kemenangan. Termasuk Ommer yang menyerang dengan penuh semangat. Jhuma dan Owen sempat terdesak, keduanya meskipun seorang mantan perwira, usia tua menghambat pergerakannya keduanya. Untunglah Regen terus berada disamping mereka saat pertarungan itu berlangsung. 11 tubuh prajurit bergelimpangan bersimbah darah. Sementara dipihak Owen , hanya Oliver yang terluka, Jhuma dengan sigap memberikan pertolongan pertama pada pemuda itu.
“Segera naik ke perahu. ” kata Jhuma memberikan perintah. Owen dibimbing Regen menaiki perahu itu, Oliver di papah Angurey. Lauren dan Aragon Balyn mengikuti Jhuma yang naik kemudian… hanya Ommer yang tak terlihat.
“Ommer?” Jhuma mencari. Pemuda itu masih di dermaga. Semua orang menatapnya.
“Maafkan aku ayah aku tak bisa pergi. Aku akan tetap disini. Ini adalah tanah kelahiranku, diseberang sana adalah tanah perjuangan ayah. Disini juga ada makam ibu, aku akan merawatnya. mungkin aku akan menyusulmu, jika bersama Doria..”
“Ommer..” tatapan Owen tertuju pada anak itu. Bimbang hatinya antara akan turun lagi atau tetap didalam perahu. Namun tak ada kata-kata yang keluar darinya hanya air muka yang menggambarkan betapa hatinya bimbang saat itu. Saat satu-persatu wajah teman-teman barunya ini dilihatnya, juga pemuda Oliver yang merintih karena terluka. Hanya untuk datang membawanya pulang, Ia berfikir tak bisa membatalkan semua rencana hanya karena kasih sayangnya pada anak itu. Apalagi diseberang sana, tanah nenek moyangnya menunggu, ribuan penderitaan ada disana. Jhuma menghampiri Owen ..
“Kau mungkin bisa menunda, tapi waktu tak bisa menunggu Ser. ”
Owen akhirnya memilih melanjutkan perjalanannya, dan memendam cinta kasihnya, kekhawatirannya, serta rasa kecewanya pada anaknya…