Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..
Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.
Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.
Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.
Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.
Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16.Sambel mata
Setelah makan siang, semuanya duduk mendengar penjelasan Aruna, sesekali melirik serigala yang sedang makan daging kelinci yang sudah dibakar di samping tenda.
Aruna menceritakan semuanya tanpa dilebih-lebihkan. Dia sudah memutuskan untuk memberi tahu tentang batu penyimpanannya..
"Hebat,, hebat.. Aruna bertemu dengan dua serigala."
"jika itu aku, pasti aku sudah mati ketakutan!" seru Lin dengan merinding.
"Ckckc karena kau memang penakut!" ucap Ayah Lin mencibir.
Semua hanya tertawa mendengarnya. Penjelasan Aruna memang sulit dipercaya, tapi bukti sudah ada di depan mata, serigala itu juga sangat menurut ucapan Aruna.
"Nak Aruna, tadi kamu mengatakan menangkap ikan dan banyak buruan lainnya, apakah kamu meninggalkannya di hutan? Jika begitu, biarkan yang lain pergi mengambilnya!" ujar Ayah Lin, dia berpikir, Aruna tidak sanggup membawanya.
"Ya, aku juga akan pergi!" Ozian ikut menyahut.
Kepala Desa dan Tabib Gu saling tatap, keduanya tentu sudah tau di mana tangkapan Aruna berada. Semalam Aruna sudah mengatakan, jika ingin memberi tahu para warga tentang batu penyimpanannya, Kepala Desa sudah memintanya untuk berpikir ulang, tapi Aruna tetap pada pendiriannya.
"Tidak perlu ke sana, aku sudah membawanya!' Jelas Aruna.
"Oh benarkah?" Semua bingung, mereka melihat dengan jelas, saat Aruna berlari tak membawa hewan buruan, hanya sebuah keranjang kecil yang berisi jeruk nipis.
Aruna tertawa kecil. "Ada di dalam sini!" di telapak tangannya ada sebuah inti kristal sebesar bola ping pong berwarna bening, itu milik Zombie yang masih di level pertama.
"Apa itu?" tanya Ji Yong, dia juga penasaran.
Semua penasaran, karena pertama kali melihat benda seperti itu. Tapi dari bentuk dan warnanya yang berkilau, sudah menunjukkan, jika benda itu barang mahal.
"Ini namanya inti kristal, seperti batu penyimpanan." Jelas Aruna.
Mendengar itu, para warga langsung heboh. Meski tinggal di desa, mereka juga suka mendengar gosip dari kota, batu penyimpanan hanya dimiliki oleh para bangsawan, karena barangnya yang mahal dan langka, mungkin hanya beberapa orang yang memilikinya.
"Maksudnya, inti kristal itu bisa menyimpan barang seperti batu penyimpanan?" tanya Lin dengan antusias.
"Betul sekali" balas Aruna dengan memberi dua jempol kepada Lin.
Di dalam benak mereka, langsung bertanya-tanya. Siapa Aruna sebenarnya? Dari bangsawan mana dia berasal? Apakah Aruna sekaya itu? Huu, Tabib Gu, ternyata memiliki keluarga yang kaya.
Melihat Kepala Desa dan Tabib Gu bersikap santai, membuat para warga paham, jika keduanya sudah tahu tentang itu, tapi kenapa Aruna malah memberi tahu mereka juga?
Aruna langsung berkata "Perjalanan kita baru saja dimulai, kita tidak tau, apa yang ada di depan sana. Entah itu bandit atau orang jahat seperti kedua orang itu! Jadi aku sengaja memberi tahu kalian, barang pribadiku, milik keluarga Kakek Ji dan Kakek Gu, ada di dalam batu penyimpanan ini"
Para warga kembali berbisik, pantas saja selama perjalanan, keluarga kepala Desa hanya membawa masing-masing buntalan kecil, ternyata barang lainnya tersimpan dengan baik.
"Jadi bagaimana? Kalian ingin nitip atau tidak? Aku tidak memaksa, bagi yang mau silahkan letakkan di atas kain itu!"
Para warga tidak berpikir panjang, siapa yang ingin menolak bantuan ini. Bukankah mereka akan berjalan lebih cepat lagi jika beban makin berkurang. Semua orang meletakkan barang-barang mereka dengan rapi, menyisakan buntalan kecil untuk keperluan beberapa hari saja.
Aruna tersenyum puas, ternyata para warga tidak ada yang komplain karena baru mengatakannya sekarang. Karena itulah Aruna membantu mereka, karena para warga tidak banyak tanya.
"Nak Aruna terima kasih.. Kalau cuman bawa ini saja pasti aku tidak akan kelelahan.." seseorang berseru dengan gembira.
"Ya, aku juga sama!"
"Hehehe kita hanya tinggal mendorong gerobak dengan anak-anak di atasnya."
"Nak Aruna, sekali lagi terima kasih. Lagi-lagi kamu membantu kami!"
Kepala Desa dan Tabib Gu tersenyum lega, karena para warga bisa mengendalikan diri, awalnya dia takut, ada warga yang marah karena Aruna baru mengatakannya lebih awal, dan juga mereka tidak banyak tanya tentang asal usul inti kristal tersebut.
"Hmm, tidak masalah. Aku akan menyimpannya sekarang, jika ingin mengambil barang, tinggal katakan saja!" Setelah mengatakan itu, semua barang-barang itu menghilang.
"Waahh, ternyata seperti itu cara kerjanya."
"Ya ya,, sekarang aku tidak penasaran lagi!"
Setelah itu Aruna mengeluarkan semua hasil buruannya, mulai dari obat-obatan, buah liar, ikan, kelinci dan binatang lainnya.
Semua warga terdiam mematung, sebanyak itu? Kenapa rasanya Aruna tidak membiarkan mereka bernafas dengan baik, selalu saja ada kejutan yang dia berikan.
"Nenek,, lihat kelincinya banyak sekali.." seru Su Qian dengan tertawa riang, sambil menangkap seekor kelinci.
Anak-anak lainnya juga ikut bermain dengan kelinci. Mereka juga makan buah liar, sudah lama mereka tidak makan buah hutan, para orang dewasa makan sambil meneteskan air mata, rasanya ingin menghentikan waktu untuk sementara.
Aruna bertanya kepada Bibi Ying tentang jeruk nipis, dan dugaannya sangat tepat. Mereka tidak pernah meliriknya karena rasanya yang asem, anak-anak hanya mengambil untuk bermain.
Dengan rasa sabar, Aruna menjelaskan kegunaannya, yang bisa digunakan untuk masakan dengan juga sebagai obat-obatan. Tabib Gu sangat antusias, dia kembali menemukan ilmu baru, dia akan mencobanya nanti.
Setelah berbincang-bincang, Aruna beralih kedua pria Asing itu. Dia jalan mendekat dan duduk di depannya menggunakan kursi lipat, dia tidak takut lagi mengeluarkan barang-barangnya, karena dia sudah mengatakan, jika mereka melihat benda aneh yang dia gunakan, berarti benda itu berasal dari negaranya.
Ssseett
Ssseett..
Dua buah jarum, melesat dengan cepat kearah kedua pria itu, dan mengenai leher mereka.
"Aduhh sa-sakit.. Uggh, tanganku!"
"Apa yang terjadi? Kenapa kita terikat seperti ini?" Yang satu sangat bingung, bukankah tadi dia sedang melawan Ozian?
"Siapa kamu?" tanya pria berbadan besar setelah dia sadar dengan baik.
Aruna tidak ingin berbasa-basi, "Katakan! Siapa majikanmu?" tanya Aruna dengan suara dingin.
Kedua Pria itu langsung menciut, badannya bergetar, mereka tertekan. Andai tau jika bertemu dengan warga Desa harus bertaruh nyawa, mereka tidak akan pernah ingin mengambil pekerjaan itu.
Para warga juga terkejut, baru kali ini melihat sikap Aruna yang berbeda. Mereka langsung sadar, Aruna sebelumnya tidak pernah menunjukkan sikap seperti itu, dan sekarang terjadi karena seseorang datang membuat masalah. Singkatnya, jangan membuat Aruna marah.
"Katakan! Kenapa diam? Apa kalian bisu?" Aruna kembali bertanya dengan sedikit membentak.
Kedua Pria itu makin bergetar, dengan bersusah payah untuk menatap Aruna. Pantas saja kecantikan no 1 sangat marah, ternyata dia kalah saing.
"Itu, ka-kami dibayar oleh nona muda, kecantikan no 1 Kota Nuwu. Di-aa meminta untuk merusak wajah Tabib Sakti!" dia menjelaskan sambil berkeringat dingin.
"Ya ya, dia sangat marah, karena semua orang di Kota Nuwu membicarakan Tabib Sakti, apalagi mereka membandingkannya dengan Tabib Sakti, yang katanya kecantikan no 1 tidak ada apa-apanya." Pria satu juga ikut menjelaskan, berharap Aruna membebaskan mereka.
Aruna hanya tertawa kecil, dia sangat suka jika ada merasa iri dengan wajahnya, apalagi mereka menunjukkan secara terang-terangan. Berbeda dengan di zamannya, mereka iri, tapi malah beralasan jika wajahnya cantiknya itu pembawa sial.
Warga Desa yang mendengar itu marah, mereka mengutuk nona muda itu yang sangat keji, karena kalah cantik dia cemburu dan ingin merusak wajah Aruna, bukankah itu sangat keterlaluan.?
"Ck, percuma cantik, jika hatinya busuk!" geram Kepala Desa.
"Ternyata benar, seseorang tidak bisa dilihat hanya dari luarnya saja."
Aruna beranjak, jalan mendekat, dia bukan orang yang naif, karena mereka hanya disuruh, jadi tidak perlu sampai membunuhnya.
Kretak
Kretak
Bunyi retakan terdengar sangat nyaring, Aruna mematahkan kaki mereka dengan cara menginjak, dia sudah bersikap sedikit baik, tidak sampai membunuh mereka.
"Arrrrggghhh... Sakit,, sakit,, tolong ampuni kami.."
"Lepaskan kami, kami menyesal, tolong jangan bunuh kami." ucapnya dengan menahan rasa sakit.
"Baik, aku melapaskan kalian dengan satu syarat. Lakukan hal yang sama dengan majikan kalian!" pinta Aruna dengan menyeringai.
"Baik, baik,, kami akan melakukannya!" dia langsung setuju, setidaknya harus pergi dari situ dengan cepat.
"Tenang saja, kami pasti menyelesaikannya!" dia juga merasa marah, karena orang yang menyuruhnya tidak memberikan informasi dengan lengkap.
Aruna mengangguk puas, balas dendam dengan menggunakan tangan orang lain adalah cara yang terbaik. "Bagus," katanya singkat. Mengambil dua tael perak lalu melemparkannya, "Itu uang, untuk pengobatan kalian."
Aruna meminta Ozian melepaskan ikatannya, dan membiarkan mereka pergi dengan kaki pincang. Saat dia berbalik, dia melihat para warga berdiri mematung sambil menatapnya.
Aruna tertawa kecil "Kalian tak perlu takut begitu, hanya orang yang cari masalah yang akan merasakannya!" Kalimat itu seakan mengandung arti yang lain.
Para warga sebenarnya tidak takut, mereka hanya terkejut sampai syok. Aruna mematahkan kaki seseorang dengan sekali injak saja, sangat mengerikan, ternyata dibalik keceriaannya selama ini tersembunyi sesuatu yang tak boleh diusik.
Berbeda dengan para pemudanya, baik laki-laki maupun perempuan berdecak kagum. Itu terlihat sangat keren, ternyata Aruna memiliki kekuatan besar.
****
Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, sudah terlambat untuk melanjutkan perjalanan. Mereka memutuskan untuk menginap, Aruna masuk ke dalam kereta untuk beristirahat, sebenarnya dia ingin masuk ke dalam ruangnya.
Tapi sebelum itu, dia sudah mengeluarkan ikan yang sudah dia bersihkan. Dia mengajari Bibi Ying cara memarinasinya, dia menggunakan bumbu instan dan juga perasan jeruk.
Untuk sambal matanya juga tak ketinggalan, untung di zaman itu mereka sudah mengenal cabai, jadi dia tak perlu menjelaskan lagi, Aruna memetik banyak di hutan.
Saat makan malam tiba, semua makan dengan lahap. Ikan bakar dengan sambal mata racikan Aruna sangar enak. Ikan dalam jumlah banyak habis tak tersisa, bahkan tulang-tulangnya pun sampai hancur lebur. Aruna juga sangat puas, dia sampai menghabiskan satu ekor ikan besar.
lanjut thorr💪💪💪