"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: KEMBALI KE NERAKA
Arunika berdiri di depan cermin kecil yang retak di kamar mandi rumah aman itu. Wajahnya pucat pasi, namun matanya memancarkan sesuatu yang berbeda—bukan lagi ketakutan murni, melainkan kedinginan yang mulai membeku. Kata-kata Adrian di telepon tadi terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Hamil.
Satu kata itu menghancurkan seluruh rencana pelariannya. Jika ia lari sekarang, ia tidak hanya membawa nyawanya sendiri, tapi juga nyawa yang tidak berdosa di rahimnya. Dan ia tahu betul, Adrian tidak akan segan-segan menghancurkan apa pun yang menghalangi obsesinya, termasuk hutan ini, Maya, dan Rendra.
"Arunika? Kamu di dalam?" Suara Rendra mengetuk pintu dengan lembut.
Arunika segera mencuci wajahnya, menghapus sisa air mata yang sempat jatuh. Ia menarik napas panjang, menelan semua kepahitannya bulat-bulat. Ia membuka pintu dan mendapati Rendra berdiri dengan wajah penuh harap.
"Maya bilang kita akan bergerak ke pelabuhan dalam satu jam. Kapal ke luar negeri sudah siap," kata Rendra penuh semangat.
Arunika menatap mata Rendra yang tulus. Rasa bersalah menghujam jantungnya. Pria ini sudah mengorbankan segalanya untuknya, dan sekarang, Arunika harus menghancurkan harapan itu demi keselamatannya.
"Rendra... aku tidak bisa ikut," ucap Arunika datar.
Senyum di wajah Rendra memudar. "Apa maksudmu? Kita sudah sejauh ini, Arunika. Ledakan itu, Maya, semuanya—"
"Adrian tahu kita di sini," potong Arunika, suaranya kini terdengar sangat lelah. "Ada penembak jitu di luar. Kalau aku pergi bersamamu, dia akan membunuhmu sebelum kita sampai di pelabuhan. Dan aku... aku tidak bisa membiarkan itu terjadi."
"Kita bisa melawan! Maya punya tim—"
"Aku hamil, Rendra."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Rendra. Pria itu mundur selangkah, wajahnya kehilangan warna. Keheningan yang menyakitkan menyelimuti mereka berdua.
"Anak... anak Adrian?" bisik Rendra dengan suara yang hancur.
Arunika hanya bisa mengangguk pelan. "Dia menggunakanku sebagai laboratorium berjalan, Rendra. Dan sekarang, dia punya alasan terkuat untuk tidak pernah melepaskanku. Kalau aku lari, dia akan memburuku sampai ke ujung dunia. Aku harus kembali. Demi nyawamu, demi Maya, dan demi... demi janin ini."
Dua belas jam kemudian.
Gerbang besi raksasa kediaman Valerius terbuka perlahan, mengeluarkan suara derit yang terdengar seperti sambutan dari pintu neraka. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan tangga marmer utama.
Adrian berdiri di sana. Dia mengenakan jubah mandi sutra berwarna hitam, memegang segelas wiski di tangan kirinya. Wajahnya tampak sangat puas, seolah kemenangan ini adalah hal yang sudah pasti.
Arunika turun dari mobil dengan langkah yang kaku. Rambutnya berantakan, gaunnya kotor, namun ia mendongakkan kepalanya. Ia tidak lagi menunduk seperti budak yang tertangkap.
"Selamat datang di rumah, Sayang," ujar Adrian dengan nada yang sangat merdu. Dia melangkah menuruni tangga dan berhenti tepat di depan Arunika.
Adrian mengulurkan tangan, mengusap pipi Arunika yang kotor dengan ibu jarinya. Arunika tidak menghindar, namun ia juga tidak memberikan reaksi apa pun. Matanya menatap lurus ke dalam mata gelap Adrian.
"Kau kembali lebih cepat dari dugaanku. Empat puluh delapan jam ternyata terlalu lama bagimu untuk menyadari di mana tempatmu yang sebenarnya," bisik Adrian.
"Jangan sentuh aku," ucap Arunika dingin. "Aku di sini karena perjanjian itu. Rendra dan Maya tidak boleh disentuh. Sedikit saja kau melukai mereka, aku akan memastikan 'proyek' kebanggaanmu ini berakhir di lantai kamarmu."
Adrian terkekeh, suara tawa yang membuat para penjaga di sekeliling mereka menundukkan kepala karena ngeri. "Kau mulai memiliki taring, Arunika. Aku suka. Kebencianmu membuat hormonmu jauh lebih menarik untuk diamati."
Adrian merangkul pinggang Arunika dengan protektif dan membawanya masuk ke dalam rumah. Di lobi, Sandra berdiri dengan wajah datar yang tidak terbaca. Saat mata mereka bertemu, Sandra hanya memberikan anggukan sangat tipis—sebuah kode bahwa permainan mereka di bawah permukaan masih berlanjut.
Malam itu, Arunika dikurung di kamarnya. Bukan lagi dikunci dengan pintu kayu biasa, tapi kini ada sensor laser tambahan di depan balkon. Adrian ingin memastikan "koleksi" berharganya tidak akan pernah menyentuh tanah luar tanpa izinnya lagi.
Arunika duduk di meja rias, menatap botol-botol parfum mahal yang berjejer rapi. Tiba-tiba, pintu terbuka. Sandra masuk membawa baki berisi makanan dan beberapa botol vitamin.
"Tuan besar ingin Anda mengonsumsi ini semua. Semuanya sudah melalui uji laboratorium," kata Sandra secara formal.
Begitu pintu tertutup dan Sandra memastikan ia berada di titik buta kamera CCTV—sesuatu yang sudah mereka pelajari polanya—Sandra mendekat.
"Kenapa kau kembali? Seharusnya kau lari," desis Sandra dengan suara rendah.
"Dia mengancam akan membunuh Rendra, dan dia tahu soal kehamilanku," jawab Arunika sambil membuang vitamin-vitamin itu ke dalam lubang pembuangan di balik meja rias yang sudah ia siapkan. "Sandra, aku butuh bantuanmu. Kali ini bukan untuk lari."
Sandra mengernyit. "Lalu?"
"Untuk menghancurkan risetnya. Aku ingin masuk ke laboratorium pusat di bawah mansion ini. Aku tahu Elena ada di sana. Dan aku tahu Adrian menyimpan semua data Project Medusa di server utama."
"Itu bunuh diri, Arunika. Keamanan di bawah sana menggunakan pemindai retina. Hanya Adrian yang bisa membukanya."
Arunika tersenyum tipis—sebuah senyum yang menyerupai cara Adrian tersenyum. Dingin dan penuh perhitungan. "Kalau begitu, kita harus membuat Adrian membawaku ke sana sendiri."
Pukul sepuluh malam, Adrian masuk ke kamar. Dia tampak segar, seolah kejadian ledakan kemarin hanyalah mimpi. Dia mendekati Arunika yang sedang duduk di tepi tempat tidur dengan pakaian tidur sutra putih yang transparan.
"Kau tampak tenang malam ini," kata Adrian sambil duduk di sampingnya.
"Aku lelah berlari, Adrian," bohong Arunika, tangannya perlahan menyentuh tangan Adrian yang dingin. "Dan aku sadar, anak ini membutuhkan ayahnya. Aku tidak ingin dia hidup di pelarian seperti Elena."
Mendengar nama Elena, otot-otot di wajah Adrian menegang sejenak sebelum kembali rileks. Dia menarik Arunika ke dalam pelukannya. "Pilihan yang bijaksana. Aku akan memberikan segalanya untukmu dan anak itu. Besok, aku akan membawamu ke fasilitas bawah untuk melakukan pemeriksaan pertama. Kita harus memastikan subjek—maksudku, anak kita—tumbuh dengan sempurna."
Arunika memejamkan mata dalam dekapan pria yang ia benci itu. Di balik punggung Adrian, tangan Arunika mencengkeram kain seprai.
Fasilitas bawah. Dia baru saja mendapatkan aksesnya.
"Adrian?" panggil Arunika pelan.
"Ya, Sayang?"
"Boleh aku melihat Elena besok? Aku ingin tahu apa yang akan terjadi padaku kalau aku gagal menyenangkanmu."
Adrian terdiam cukup lama. Keheningan itu terasa mencekam sampai akhirnya dia berbisik tepat di telinga Arunika.
"Elena tidak bisa bicara lagi, Arunika. Tapi kalau itu yang kau inginkan untuk meyakinkanmu agar tetap patuh... aku akan mengabulkannya."
Malam itu, di bawah pengawasan kamera yang berkedip merah, Arunika membiarkan Adrian menyentuhnya, namun jiwanya sudah melayang jauh. Ia bukan lagi wanita lemah yang memohon belas kasihan. Ia adalah bom waktu yang sedang berdetak di dalam jantung kekuasaan Adrian Valerius.
Saat Adrian terlelap, Arunika meraba bagian bawah nakas yang sudah diberi tanda oleh Sandra. Ia menemukan sebuah USB drive kecil dan sebuah suntikan berisi cairan bening.
Sebuah catatan kecil dari Sandra tertulis di sana: "Cairan ini akan melumpuhkan syaraf motoriknya selama 15 menit. Gunakan hanya saat kau sudah berada di depan server utama. Jangan gagal, karena besok adalah Selasa—hari 'pembersihan'."
Arunika menatap Adrian yang tidur di sampingnya. Ia memegang suntikan itu, menimbang-nimbang apakah ia harus mengakhirinya sekarang, atau menunggu sampai seluruh rahasia Adrian terbongkar di depan mata dunia.