NovelToon NovelToon
Ketika Putri Istana Menjadi Antagonis

Ketika Putri Istana Menjadi Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Larasa

Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.

Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.

Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anak Nakal

Baik pelayan atau pengawal sibuk berlari hilir-mudik bukan untuk memastikan susunan meja kursi, makanan ataupun tempat berlangsungnya acara ulang tahun sudah rapi, tapi untuk membantu semakin banyak evakuasi korban keracunan makanan.

Tak hanya itu mereka juga membawa baskom yang berisi air panas, kain basah, rempah penawar dengan suara seruan apoteker saling terdengar dari segala arah.

Di sepanjang jalan menuju paviliun khusus anak-anak Kaisar, Ruoling bersama dua orang Pelayan menatap sekitarnya dengan rasa sedih, tapi Ruoling sadar tidak bisa melakukan apa-apa.

Di seluruh bagian istana yang terasa hanya perasaan duka karna melihat ada banyak orang yang menghadiri jamuan yang di baringkan begitu saja.

Beberapa kali Ruoling menutup hidungnya karna aroma obat-obatan yang menyengat sambil terus melangkah.

Selama itu juga ada tujuh tubuh manusia yang di lihatnya yang sudah di tutupi kain oleh pelayan serta ada beberapa orang di dekat tubuh itu sedang menangis histeris.

Mereka adalah anggota keluarga dari korban yang telah meninggal, tanpa sadar membuat Ruoling menghentikan langkah karna mengenal salah satu anak yang di tinggalkan keluarganya.

"Selir Hua akan memarahi kami kalau putri Ruoling tidak menuruti perintahnya," kata salah satu pelayan membuat Ruoling menatap mereka kesal.

"Aku hanya ingin mengatakan ikut berduka pada anak itu sebentar saja dan aku yakin ibuku tidak akan marah." Ruoling tanpa peduli dengan pelayan mendekati anak laki-laki yang sangat di kenalnya.

“Ibu… Ayah… bangun. Aku salah… aku harusnya maksa kalian agar tidak datang lebih keras lagi." Ucap anak laki-laki itu sambil menangis di depan kedua tubuh yang di tutupi kain. "Harusnya sejak awal aku melarang kalian pergi... aku juga mengatakan kegelisahan yang aku rasakan sejak kalian mengatakan ingin menghadiri acara bertambah usianya Kaisar."

Anak laki-laki itu terus meracau sambil mencengkram tangan salah satu mayat dengan kuat, Ruoling ada di belakangnya dengan mata berkaca-kaca.

Selama mengenal laki-laki remaja itu, Ruoling tidak pernah melihatnya selemah ini. Tak pernah melihatnya menangis seperti orang gila hingga membuatnya tidak bisa menahan air matanya.

"Ka... Kak Yuchen," kata Ruoling pada akhirnya.

“Maaf… maaaf... maaf karna aku cepat menyerah. Harusnya aku... andai aku lebih keras… andai aku lebih berani… Andai aku–"

"Jangan seperti ini, aku yakin... mereka tidak akan suka." Ruoling dengan ragu-ragu menyentuh bahu Yuchen yang langsung menepisnya.

Yuchen tanpa berbalik untuk mengetahui sosok yang peduli padanya membuka suara, "pergi! Aku tidak membutuhkan nasehatmu!"

"Tidak so..." Pelayan itu menghentikan ucapannya mendapatkan tatapan penuh peringatan dadi Ruoling.

Sementara Ruoling menatap Yuchen beberapa saat lalu menghela nafas panjang dan memutuskan untuk meninggalkan remaja laki-laki baik hati itu sendirian.

Dalam setiap langkahnya Ruoling sangat ingin membantu meringankan sedikit beban semua orang yang sangat sibuk menangani korban keracunan seperti yang di lakukan yang lainnya yang tidak terkena racun, tapi ibu malah melarang dan meminta kembali kediaman anak-anak.

Paling tidak dia bisa membantu menghibur anggota keluarga yang di tinggalkan, tapi tetap saja ibu lebih menginginkannya untuk diam di kediamannya.

"Kenapa aku tidak di izinkan merawat mereka? Padahal jika ada aku maka bisa meringankan sedikit tugas mereka." Ruoling tidak terima dengan keputusan ibunya, tapi tidak seberani itu membantah keputusan ibu dalam situasi serius. "Benar-benar tidak adil, Putra mahkota juga masih anak-anak, tapi kenapa di izinkan membantu merawat walaupun cuma sebentar?"

"Ah, untung kalian belum sampai ke kediaman anak-anak." Kata seseorang, membuat Ruoling menolehkan kepala ke asal suara dan melihat sang ibu berjalan dengan cepat mendekatinya.

"Selir Hua," hormat pelayan pada Selir Hua yang mengangguk singkat.

"Jadi ibu berubah pikiran?" Tanya Ruoling dengan binar bahagia. "Ibu mengizinkan–"

"Untuk saat ini kediaman anak-anak tidak aman," kata Selir Hua cepat. "Selama pelakunya belum di tangkap maka tidak akan pernah aman. Lebih baik kau bawa putriku ke kediamanku saja dan pastikan anak nakal ini tidak kemana-mana."

"Apa? Ibu, aku–"

"Aku tahu keinginanmu, tapi kau tetap tidak boleh membantu dan biarkan orang dewasa menyelesaikan semuanya," sala Selir Hua dengan tegas.

"Kenapa? Apa karna aku masih anak-anak? Tapi bagaimana dengan Putra mahkota? Aku lihat dia–"

"Putra mahkota beda, Long Ruoling!" Tegas Selir Hua lalu mengalihkan pandangannya lagi pada pelayan. "Pastikan dia tidak kabur!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!