"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: JEJAK DARAH DI BALIK SERAGAM
Kehangatan dada Adrian yang biasanya membuat Ghea merasa muak, kini terasa seperti tempat perlindungan yang membingungkan. Ghea tetap memejamkan mata, membiarkan Adrian mengusap rambutnya dengan lembut. Di balik kelopak matanya, bayangan foto ayahnya bersalaman dengan Adrian terus berputar seperti proyektor yang rusak.
Siapa kau sebenarnya, Adrian? Kenapa Ayah begitu mempercayaimu?
"Kau tampak sangat lelah hari ini, Ghea," bisik Adrian, suaranya terdengar begitu protektif. "Apa kau terlalu banyak berpikir?"
"Aku hanya... merindukan Ayah," jawab Ghea jujur, namun dengan nada yang ia sesuaikan agar Adrian tidak curiga. Ia melepaskan pelukannya perlahan, menatap mata Adrian yang dalam dan gelap. "Tadi aku memikirkan masa kecilku. Rasanya sudah sangat lama sekali."
Adrian terdiam sejenak. Ada kilat emosi yang melintas di matanya—mungkin rasa bersalah, atau mungkin duka yang sama dalamnya. "Ayahmu adalah pria yang hebat, Ghea. Dia adalah satu-satunya polisi jujur di kota yang sudah membusuk ini."
Ghea menelan ludah. Kata-kata Adrian selaras dengan apa yang ia baca di brankas tadi. Ia harus memancing pria ini lebih jauh tanpa membongkar bahwa ia telah membuka brankas rahasia itu.
"Bagaimana kau tahu dia jujur? Kau bahkan tidak pernah bercerita kalau kau mengenalnya," pancing Ghea.
Adrian tersenyum pahit, ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke hutan. "Aku tidak perlu bercerita untuk tahu. Keadilan yang ia pegang... itulah yang membunuhnya. Dan itulah yang hampir membunuhmu juga."
Setelah Adrian pergi mandi, Ghea segera duduk di meja kecil di pojok kamar. Ia tidak lagi memegang fisik dokumen itu, namun sebagai detektif dengan daya ingat fotografis, ia mulai merekonstruksi isi map UNIT-09 di dalam kepalanya.
Ada satu nama yang terus muncul di laporan ayahnya sebagai target operasi paling berbahaya: Komisaris Pratama.
Pratama bukan sekadar polisi korup biasa. Di dalam dokumen ayahnya, Pratama disebut sebagai "Arsitek". Dia yang mengatur aliran dana dari kartel narkoba ke kantong para pejabat tinggi, dan dia juga yang diduga merancang "kecelakaan" yang menewaskan Ayah Ghea sepuluh tahun lalu.
Jadi, selama ini aku bekerja di bawah perintah pembunuh ayahku sendiri? batin Ghea, tangannya mengepal hingga kuku-kukunya memutih.
Kepingan puzzle itu mulai menyatu dengan menyakitkan. Adrian menculik Ghea bukan karena obsesi gila semata. Adrian tahu bahwa setelah ayahnya tewas, Ghea adalah target berikutnya. Pratama membiarkan Ghea hidup dan menjadi detektif hanya untuk memantau apakah Ghea menyimpan bukti yang ditinggalkan ayahnya. Dan saat Ghea mulai menyelidiki kasus yang "terlalu dekat" dengan Pratama, mereka memutuskan untuk melenyapkannya di jurang itu.
Adrian bukan penculiknya. Adrian adalah orang yang menyambar Ghea tepat sebelum maut menjemputnya.
"Tapi kenapa harus dengan cara ini?" gumam Ghea pelan. "Kenapa dia harus membunuh rekan-rekanku?"
Ghea mengingat kembali daftar nama polisi yang tewas di tangan Adrian. Bram, Sersan mulyo, Inspektur Dani... jika teori Adrian benar, maka mereka semua bukanlah rekan yang setia. Mereka adalah informan Pratama yang ditugaskan untuk memastikan Ghea 'selesai' di jurang itu.
Namun, ada satu hal yang mengganjal di pikiran Ghea. Di lembar terakhir laporan ayahnya, disebutkan ada "Pengkhianat Kedua". Seseorang yang berada sangat dekat dengan Ayah Ghea, seseorang yang memberikan jadwal rute perjalanan Ayah Ghea di malam kecelakaan itu. Nama itu sengaja disamarkan dengan kode "JUDAS-02".
Siapa Judas-02?
Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka. Adrian keluar dengan handuk melilit pinggangnya, uap air masih menguar dari tubuhnya yang penuh bekas luka. Ghea menatap punggung Adrian. Di sana, di dekat belikatnya, ada sebuah luka parut besar yang tampak seperti bekas tembakan.
"Luka itu..." Ghea menunjuk ke punggung Adrian.
Adrian berhenti bergerak. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, lalu menatap Ghea lewat cermin tersebut. "Ini? Ini adalah kenang-kenangan dari malam Ayahmu meninggal. Aku terlambat beberapa detik, Ghea. Peluru ini seharusnya untuknya, tapi dia justru mendorongku keluar dari mobil sebelum meledak."
Jantung Ghea seolah berhenti. Adrian ada di sana. Adrian mencoba menyelamatkan ayahnya.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku, Adrian? Kenapa kau membiarkan aku membencimu sebagai monster selama berminggu-minggu?" suara Ghea meninggi, campur aduk antara marah dan haru.
Adrian berbalik, melangkah mendekati Ghea dengan tatapan yang sangat intens. "Karena jika kau tahu, kau akan mencoba bertindak sebagai polisi. Kau akan melaporkanku, kau akan menyerahkan bukti-bukti itu ke kesatuanmu, dan kau akan berakhir di liang lahat yang sama dengan ayahmu."
Adrian mencengkeram bahu Ghea, tidak keras, namun penuh penekanan. "Aku harus menjadi monster agar kau tetap hidup, Ghea. Aku harus membuat dunia berpikir kau sudah mati agar mereka berhenti memburumu. Aku tidak butuh cintamu jika harga yang harus kubayar adalah nyawamu. Aku lebih suka kau membenciku dalam keadaan bernapas, daripada kau mencintaiku di dalam peti mati."
Ghea tertegun. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Segala dinding pertahanan yang ia bangun—semua taktik manipulasi, semua kebencian—runtuh seketika. Ia menyadari bahwa selama ini ia sedang dilindungi oleh satu-satunya orang yang paling setia pada ayahnya.
Namun, di tengah momen emosional itu, sebuah ingatan muncul di benak Ghea. Sosok Judas-02.
"Adrian," bisik Ghea. "Di dokumen Ayah... siapa Judas-02? Ayah bilang dia adalah orang yang paling dia percayai di rumah."
Wajah Adrian mendadak berubah. Kedamaian yang tadi sempat muncul di matanya kini digantikan oleh kemarahan yang dingin dan tajam.
"Itulah alasan kenapa aku belum bisa membawamu keluar dari villa ini, Ghea," jawab Adrian dengan suara yang sangat rendah. "Judas-02 masih ada. Dia masih mengawasi kita. Dan dia adalah orang yang saat ini sedang berdiri di luar pintu kamar ini, atau mungkin sedang memasak sup untukmu di dapur."
Ghea membelalak. Pikirannya langsung melayang pada satu nama. Satu-satunya orang yang sudah bekerja di rumah ayahnya sejak ia kecil, dan sekarang ada di villa ini.
Bi Inah.
Ghea merasakan hawa dingin merambat di punggungnya. Jika Bi Inah adalah orang yang menjual ayahnya, maka selama ini ia telah curhat dan mempercayakan nyawanya pada pengkhianat yang sebenarnya.
"Duniaku benar-benar sudah gila," desis Ghea.
Adrian menarik Ghea ke dalam pelukannya, kali ini Ghea membalasnya dengan sangat erat. Bukan lagi sebagai sandiwara, tapi sebagai bentuk perlindungan yang nyata.
"Jangan percaya pada siapa pun kecuali aku, Ghea," bisik Adrian di telinganya. "Perang yang sebenarnya baru saja dimulai. Dan kali ini, kita akan menghancurkan mereka semua bersama-sama."
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....