Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumpah Jiwa Kembar(Pertukaran Jiwa)
Ekspresi terkejut di wajah Nam segera berganti menjadi ketegangan profesional. Ia bangkit dari kursi dapur.
"Jiwa tertukar? Ini gila, Freen. Jauh lebih rumit dari sekadar mengusir hantu atau mengembalikan segel. Ini melibatkan transfer energi kesadaran!" ujar Nam sambil bergegas menuju kamar untuk berganti pakaian.
Freen, meskipun terkejut dengan kasus baru dan cara mereka mendapatkannya, bertindak dengan kecepatan yang sama. Ia meminum habis kopinya dan mengambil ransel.
"Kita harus cepat, Nam," kata Freen sambil mengenakan jeans dan jaket. Ia memastikan Mustika Merah Delima terpasang dengan aman di lehernya.
"Kau benar-benar harus mencari tahu tentang pertukaran jiwa. Apa yang menyebabkan itu terjadi? Ritual jenis apa yang bisa melakukan hal seburuk itu? Dan yang paling penting, bagaimana cara membalikannya?"
Sambil bersiap, Freen merenung, alisnya berkerut. "Tapi satu hal yang menggangguku: Bagaimana orang ini mendapatkan nomor ponselmu, Nam?"
Nam, yang sudah kembali ke ruang tamu dengan pakaian casual rapi siap tempur, memegang tabletnya.
"Aku juga memikirkan itu. Kita tidak pernah memasang iklan, Freen. Nomor ini sangat eksklusif, hanya untuk klien Vongrak dan kontak Bibi Som. Dan kau hanya menunggu perintah dari Mae Nakha, si Dewi Hantu. Tidak mungkin klien ini menghubungi kita secara kebetulan."
Freen mengambil kunci mobilnya. "Ada dua kemungkinan, Nam. Pertama, Tuan Vongrak merekomendasikan kita, dan kasus ini sangat mendesak hingga klien mengabaikan etika bisnis. Kedua, Mae Nakha yang membocorkan nomor kita."
Nam menatap Freen. "Jika itu Mae Nakha, berarti dia secara resmi menjadikan kita agen freelance yang terbuka untuk umum, Freen. Itu artinya kita tidak akan pernah punya waktu libur lagi."
"Kita akan hadapi Mae Nakha nanti," potong Freen. "Sekarang, fokus pada klien. Alamatnya di pinggiran kota Bangkok. Itu berarti kita bisa menggunakan taksi online dengan cepat."
Nam segera memesan taksi online sambil mengetikkan kueri pencarian di tabletnya: "Ritual Pertukaran Jiwa Thailand" dan "Cara Membalikkan Pertukaran Jiwa".
"Taksi tiba dalam lima menit," lapor Nam. "Dan aku menemukan beberapa legenda, Freen. Pertukaran jiwa biasanya terjadi karena ritual kuno 'Sumpah Jiwa Kembar' atau karena ada objek keramat yang digunakan sebagai wadah transfer. Ini bisa melibatkan dua orang hidup, atau satu orang hidup dan satu entitas spiritual."
"Dua orang hidup, atau satu orang hidup dan satu entitas," ulang Freen, memegang dadanya.
"Semoga bukan yang terakhir. Siapkan semua garam suci yang tersisa, Nam. Dan kita akan bernegosiasi harga di sana. Karena ini adalah kasus yang mahal dan sangat berisiko."
Taksi online tiba. Freen dan Nam bergegas masuk. Misi baru mereka, yang paling rumit dan intim secara spiritual, telah dimulai. Mereka harus menyelamatkan anak klien dari kengerian pertukaran jiwa yang tidak mereka pahami.
****
Perjalanan taksi menuju pinggiran kota Bangkok terasa menegangkan. Nam terus meneliti di tabletnya, sementara Freen mengawasi jalanan, pikirannya berputar pada misteri pertukaran jiwa.
"Aku menemukan detail yang lebih spesifik, Freen," kata Nam, memecah keheningan.
"Ritual Pertukaran Jiwa biasanya dilakukan oleh mereka yang ingin mendapatkan kekuatan, atau sebaliknya, untuk menyelamatkan seseorang yang sekarat dengan memindahkan jiwanya ke tubuh yang lebih sehat. Dalam kasus yang mengerikan, bisa jadi itu adalah ritual untuk memindahkan jiwa orang mati ke tubuh orang hidup, agar si mati bisa hidup kembali."
"Jiwa tertukar," gumam Freen, mengusap Mustika Merah Delima. "Jika ini terjadi pada seorang anak, itu berarti ada jiwa yang sangat kuat dan mungkin sangat putus asa yang berhasil mengambil alih tubuh anak itu. Dan anak itu... jiwanya mungkin terperangkap di tubuh yang salah, atau lebih buruk, terperangkap di objek ritual."
Nam menunjuk layar tabletnya. "Cara membalikannya: butuh ritual yang sangat presisi, dilakukan tepat di lokasi pertukaran, dan melibatkan objek medium yang sama yang digunakan untuk transfer awal misalnya, lilin khusus, patung, atau cermin."
Freen menghela napas. "Baik. Kita harus menemukan lokasi ritual itu dan objek mediumnya. Dan kita harus bertindak cepat. Jiwa yang dipindahkan tidak akan stabil lama di tubuh yang bukan miliknya."
Taksi itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah mewah bergaya lama yang dikelilingi pagar tinggi. Meskipun rumah itu besar dan mahal, suasananya terasa suram dan sunyi.
Seorang wanita paruh baya yang sangat rapi namun tampak putus asa, sudah menunggu di gerbang. Dia adalah klien mereka.
"Nona Freen? Nona Nam?" tanya wanita itu dengan suara bergetar. "Terima kasih, terima kasih banyak sudah datang. Saya Khun Rinda."
Freen segera mengambil alih negosiasi. "Kami adalah konsultan spiritual. Kami mengerti situasi Anda mendesak, Khun Rinda. Kami harus tahu bagaimana Anda mendapatkan nomor kontak kami, karena kami tidak beriklan."
Khun Rinda menunduk, air mata menggenang. "Saya... saya mendapatkan nomor Anda dari kenalan yang sangat berkuasa, Tuan Vongrak. Dia bilang hanya Anda yang bisa membantu. Saya mohon, uang bukan masalah, selamatkan anak saya, Tawan."
Freen mengangguk. Konfirmasi. Mae Nakha menggunakan jalur Vongrak untuk mengirim klien ini kepada mereka.
"Baik, Khun Rinda," kata Freen dengan nada tegas. "Kami akan membantu. Tapi kami butuh kejelasan: Apa yang terjadi? Di mana ritual itu dilakukan? Dan mengapa jiwa anak Anda tertukar?"
Khun Rinda segera membawa mereka masuk ke rumah. Di dalam, suasana semakin mencekam. Rumah itu dihiasi dengan perabotan mewah, tetapi ada aura kegelapan yang terasa di sudut-sudutnya.
"Suami saya, dia... dia sakit keras. Kami sudah mencoba segala cara. Seminggu yang lalu, dia bertemu dengan seorang dukun tua. Dukun itu bilang ada cara untuk menyelamatkan suami saya, dengan ritual pemindahan jiwa," bisik Khun Rinda, menunjuk ke sebuah kamar di lantai atas.
"Pemindahan jiwa?" tanya Nam terkejut.
"Ya. Dukun itu berjanji akan memindahkan jiwa suami saya yang sakit ke tubuh lain yang sehat. Suami saya tidak setuju, tapi dukun itu bersikeras. Dia bilang dia hanya butuh objek yang mengandung energi hidup yang kuat." Khun Rinda mulai menangis terisak.
"Anak saya, Tawan... dia sedang tidur di kamar dekat sana. Dukun itu menggunakan patung kayu tua sebagai medium, dan melakukan ritual di tengah malam. Pagi harinya... suami saya bangun, sehat sempurna. Tapi dia bukan suami saya."
"Dia bukan suami Anda?" tanya Freen.
"Jiwa suami saya tertukar dengan jiwa Tawan. Anak saya, Tawan... tubuhnya masih di kamarnya, tapi dia berbicara, berjalan, dan bertingkah persis seperti ayahnya, Tuan Phum! Dan suami saya... dia terbaring koma, jiwanya mungkin sudah terperangkap di patung itu, atau... di tubuh Tawan." Khun Rinda menutupi mulutnya.
Freen dan Nam saling pandang, ngeri. Ini adalah kasus pemindahan jiwa yang paling egois dan mengerikan.
"Di mana Tawan sekarang?" tanya Freen.
"Di kamarnya. Dia marah, berperilaku seperti ayahnya yang sakit dan putus asa. Saya tidak berani mendekat," kata Khun Rinda, menunjuk ke kamar di lantai atas. "Dan Patung Kayu itu! Dukun itu meninggalkannya!"
"Tunjukkan kami patung itu, Khun Rinda," perintah Freen. "Itu adalah kunci untuk membalikkan ritual ini."
Mereka bergerak menaiki tangga dengan hati-hati. Misi Freen Sarocha kini adalah memisahkan jiwa seorang ayah egois dari tubuh anaknya sendiri.
Khun Rinda memimpin Freen dan Nam ke sebuah ruangan di lantai atas yang digunakan sebagai ruang penyimpanan. Ruangan itu terlihat berdebu dan jarang digunakan, tetapi di tengahnya, di atas meja kecil yang dilapisi kain hitam, terdapat Patung Kayu yang dimaksud.
Patung itu adalah ukiran kayu tua, tampak menyeramkan dengan mata kosong dan senyum yang tipis dan dingin. Begitu Freen melihatnya dengan mata batin, ia langsung merasakan pusaran energi spiritual yang padat dan kacau. Itu adalah energi yang menyerap dan melepaskan jiwa.
"Itu dia," bisik Freen, mendekati Patung itu dengan sangat hati-hati. Ia mengeluarkan Mustika Merah Delima, memegangnya sebagai perisai.
"Patung ini adalah medium transfer. Jiwa anak Anda, Tawan, kemungkinan besar terperangkap di sini, atau... jiwanya yang sekarang berada di tubuh Tawan, menggunakan Patung ini sebagai sumber energi."
"Jiwa suami saya, Nona Freen," ralat Khun Rinda dengan putus asa. "Jiwa suami saya yang sehat di tubuh anak saya. Dan jiwa Tawan..."
"Kita akan cari tahu," potong Freen.
"Di mana dukun itu?"
"Dia pergi setelah ritual. Saya tidak tahu ke mana dia pergi," jawab Khun Rinda, gemetar.
Freen menoleh ke Nam.
"Nam, kau harus menjaga Patung ini. Jangan biarkan siapapun menyentuhnya, dan jangan biarkan energinya menarik apapun."
"Siap, Bos," kata Nam, segera mengeluarkan garam suci dan jimat pelindung. Ia mulai menaburkan garam di sekeliling meja dan Patung itu, membuat lingkaran pertahanan.
Freen kemudian menoleh kembali pada Khun Rinda. "Sekarang, tunjukkan kami kamar anak Anda, Tawan. Kita harus menghadapi jiwa yang ada di dalam tubuhnya. Ingat, jangan panggil dia 'Tawan' saat dia di sana. Panggil dia 'Phum'."
Mereka menuju ke kamar sebelah. Khun Rinda membuka pintu perlahan.
Di dalam kamar mewah, seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun duduk di tepi tempat tidur, mengenakan piyama. Anak itu seharusnya bernama Tawan, tetapi ekspresi wajahnya serius, putus asa, dan penuh beban seperti pria dewasa.
Saat mereka masuk, anak itu mendongak. Matanya, yang seharusnya polos, menatap Freen dan Nam dengan tatapan tajam dan marah.
"Siapa kalian?! Kalian mengganggu tidurku!" Suara yang keluar dari tenggorokan Tawan adalah suara bariton yang dalam dan berat, milik seorang pria dewasa. Phum.
Freen melangkah maju, melepaskan aura otoritas yang didukung oleh Mustika Merah Delima.
"Tuan Phum," sapa Freen dengan tenang. "Saya datang untuk menyelesaikan kekacauan yang Anda ciptakan. Anda tidak bisa menggunakan tubuh anak Anda sendiri sebagai wadah. Itu adalah pelanggaran terhadap hukum spiritual dan karma."
Anak itu—Phum—melompat dari tempat tidur. Ekspresi marahnya semakin intens.
"Aku harus hidup! Aku pantas hidup! Tubuhku sudah rusak, aku hanya mengambil yang paling dekat dan paling kuat! Dukun itu menjanjikannya padaku!" teriak Phum dengan suara anak kecil Tawan, kontras yang sangat menyeramkan.
"Di mana jiwa anak Anda, Tawan, Tuan Phum?" tanya Freen, mengabaikan teriakan Phum.
Phum menyeringai dengan senyum licik. "Dia sudah tenang. Aku membiarkannya tinggal di tubuhku yang lama. Dia sudah sekarat, jadi dia tidak akan bertahan lama. Biarkan saja dia mati di sana!"
Freen merasakan amarah yang murni. Ini adalah egoisme terburuk.
"Khun Rinda, di mana tubuh suami Anda yang asli?" tanya Freen.
"Di kamar utama, Nona Freen," jawab Khun Rinda, gemetar.
"Nam, segera bawa Patung itu ke kamar Tuan Phum yang asli!" perintah Freen melalui sambungan headset kecil yang mereka gunakan. "Aku akan membawa 'Tawan' ke sana, dan kita akan membalikkan ritual ini."
Freen menatap Phum yang ada di tubuh Tawan. "Anda akan keluar dari tubuh anak ini, Tuan Phum. Sekarang juga. Atau saya akan memaksanya keluar dengan cara yang tidak menyenangkan."
Phum tertawa dengan suara Tawan.
"Coba saja, Wanita! Tubuh ini milikku sekarang!"
Pertarungan Freen Sarocha melawan jiwa seorang ayah yang merasuki anaknya sendiri akan segera terjadi.