Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.
Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.
Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.
"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: JAKARTA, DENGAN SEGALA WARNA WARNINYA
Jakarta menampar kami dengan segala kontrasnya begitu kaki menyentuh landasan bandara. Suara, bau, keramaian semuanya bergerak dengan kecepatan yang membuat Makassar terasa seperti kota kecil yang tertidur. Kinan menggenggam erat tanganku, matanya besar penuh takjub dan sedikit ketakutan. Bima berusaha terlihat tenang, tapi aku melihat tangannya mengepal erat di samping tubuhnya.
Bayu sudah menunggu di area kedatangan. "Selamat datang di Jakarta," sambutnya dengan senyum yang terasa terlalu sempurna di tengah kekacauan ini. "Mobil sudah siap di luar."
Perjalanan dari bandara ke rumah orang tua Rangga adalah pelajaran tentang jurang yang memisahkan kehidupan kami. Mobil mewah dengan kaca gelap, jalan tol yang mulus, gedung-gedung pencakar langit yang membuat Kinan berdecak kagum. Bima diam saja, menatap keluar jendela dengan ekspresi tak terbaca.
"Kakek dan nenek sangat bersemangat bertemu kalian," kata Bayu sambil menyetir. "Mereka sudah siapkan banyak sekali makanan."
Maya menatapku, tangannya meraih tanganku. Dingin.
---
Rumah itu lebih tepat disebut mansion terletak di kawasan elit Jakarta Selatan. Pagar tinggi, taman yang dipelihara sempurna, dan bangunan putih megah dengan pilar-pilar besar. Kinan berbisik, "Ini rumah atau istana, Ma?"
Sebelum kami sempat mengambil napas, pintu utama terbuka. Sepasang lansia berdiri di sana pria dengan rambut putih rapi dan kacamata tebal, perempuan dengan gaun sutra sederhana dan mutiara di leher. Orang tua Rangga.
"Selamat datang," sambut sang kakek, suaranya dalam dan berwibawa. "Kami sudah menunggu."
Mereka memeluk Bima dan Kinan terlebih dahulu. Pelukan itu terlihat kaku, seperti ritual yang harus dilakukan. Lalu mereka menoleh pada kami.
"Maya," kata nenek, memandang Maya dari atas ke bawah. "Dan ini... Raka, ya?"
"Saya Raka," kataku, mengangguk sopan.
"Silakan masuk."
Interior rumah lebih menakjubkan lagi. Lantai marmer, lampu kristal, lukisan-lukisan besar di dinding. Semua berteriak "uang" dan "kelas". Aisyah di gendongan Maya mulai rewel, mungkin merasa tidak nyaman dengan suasana asing ini.
Kami dibawa ke ruang tamu besar. Pelayan membawa teh dan kue-kue kecil. Semuanya terasa sangat formal, sangat terjadwal.
"Jadi," mulai sang kakek setelah duduk, "ini Bima dan Kinan. Tumbuh besar, ya."
"Dan ini bayi... Aisyah, kan?" nenek menambahkan, melihat Aisyah dengan ekspresi yang sulit kubaca antara ingin menyentuh dan menjaga jarak.
"Ya, Bu," jawab Maya pendek.
"Rangga sering bercerita tentang kalian. Dia... sangat menyesali semua yang terjadi."
Diam yang tegang. Lalu Bima, dengan keberanian yang mengejutkan, bertanya: "Di mana Papa? Kata Om Bayu Papa juga di Jakarta."
Sang kakek dan nenek saling memandang. "Rangga sedang... dalam perawatan. Tapi dia akan datang besok. Dia sangat ingin bertemu kalian."
Perawatan. Kata itu menggantung di udara. Maya memandangku, bertanya tanpa kata.
"Rangga sedang menjalani terapi intensif," jelas Bayu dengan suara rendah. "Untuk depresi. Untuk... menghadapi kesalahan masa lalunya."
Oh. Jadi itu sebabnya Rangga tidak datang langsung.
"Tapi dia baik-baik saja," cepat tambah sang nenek, seperti takut kami menarik anak-anak pergi. "Dia hanya butuh waktu."
Kunjungan hari pertama berlanjut dengan tur rumah. Mereka menunjukkan kamar untuk kami masing-masing terpisah, mewah, dengan kamar mandi pribadi. Lalu ruang keluarga dengan TV layar lebar. Ruang bermain dengan mainan-mainan import. Bahkan kolam renang di belakang.
"Kalian bisa berenang nanti," ajak sang kakek pada Bima dan Kinan.
Tapi Bima hanya mengangguk, tidak bersemangat. Kinan melihat kolam dengan takut. "Adek nggak bisa renang."
"Nanti diajari. Om Bayu bisa mengajari."
Semua tawaran itu mainan, kolam, kamar mewah terasa seperti umpan. Dan kami, terutama anak-anak, adalah ikan yang mereka coba pancing.
---
Malam pertama di rumah itu adalah mimpi buruk. Aisyah rewel karena lingkungan asing. Kinan terbangun menangis karena mimpi buruk. Bima tidak bisa tidur, akhirnya datang ke kamar kami.
"Raka, aku tidak suka di sini," bisiknya di kegelapan.
"Kenapa, Bima?"
"Semuanya... terlalu sempurna. Seperti... seperti bukan nyata."
Aku memeluknya. "Kita hanya empat hari di sini. Setelah itu pulang ke rumah."
"Tapi mereka bilang... besok Papa datang."
"Kamu takut bertemu Papa?"
Diam lama. "Aku nggak tahu apa yang harus kubilang padanya."
"Katakan yang kamu rasakan. Itu sudah cukup."
Tapi apakah cukup? Di rumah megah ini, dengan semua kemewahannya, perasaan sederhana seorang anak delapan tahun terasa seperti benda asing. Seperti sesuatu yang tidak pantas diungkapkan di antara marmer dan kristal.
---
Rangga datang keesokan harinya, tepat sebelum makan siang. Dia terlihat berbeda lebih kurus, lebih tenang, matanya tidak lagi penuh amarah tapi... kosong. Kosong yang berusaha diisi.
"Bima. Kinan," sambutnya, suara serak.
Bima berdiri kaku. Kinan bersembunyi di balik Maya.
"Saya... saya senang kalian datang," lanjut Rangga, seperti kesulitan memilih kata.
"Papa baik-baik saja?" tanya Bima akhirnya, sopan seperti pada orang asing.
"Sedang berusaha. Bagaimana... bagaimana sekolah?"
"Baik."
Diam yang canggung. Sang kakek mencoba memecah: "Mari kita makan siang dulu."
Di meja makan panjang dengan sepuluh kursi, kami duduk berjauhan. Rangga di satu ujung, kami di ujung lain. Makanan mewah dihidangkan, tapi tidak ada yang benar-benar menikmati.
Setelah makan, Rangga mengajak Bima ke taman. "Bisa kita... bicara sebentar? Berdua saja?"
Bima melihatku, meminta izin. Aku mengangguk pelan.
Dari jendela ruang keluarga, aku melihat mereka duduk di bangku taman. Rangga berbicara, Bima mendengarkan dengan serius. Sesekali mengangguk. Tidak tertawa. Tidak marah. Hanya... menerima.
"Raka," Maya menarik perhatianku. "Lihat."
Dari jendela lain, sang nenek sedang mengajak Kinan melihat koleksi boneka antiknya. Boneka-boneka cantik dari berbagai negara, dalam lemari kaca yang terkunci.
"Kamu suka boneka, Kinan?" tanya sang nenek.
"Ya, Nek."
"Nanti kalau kamu sering main ke sini, nenek kasih satu. Atau... kalau kamu tinggal di sini, semua ini bisa kamu mainkan setiap hari."
Maya mengepalkan tangan. "Dia mulai."
"Aku tahu."
Strategi mereka jelas: Rangga pada Bima (figur ayah yang ingin diperbaiki). Nenek pada Kinan (iming-iming mainan dan kasih sayang). Kakek pada kami (wewenang dan logika). Bayu sebagai penengah.
Dan kami? Kami hanya punya satu senjata: cinta. Yang terasa seperti senjata tumpul di medan perang yang penuh dengan persenjataan canggih.
---
Sore hari, setelah Bima kembali dari bicara dengan Rangga, wajahnya murung.
"Apa yang Papa bilang?" tanya Maya.
"Dia... dia minta maaf lagi. Bilang dia sakit. Bilang dia ingin jadi ayah yang baik. Tapi..." Bima berhenti.
"Tapi?"
"Dia bilang... lebih baik kalau aku dan Kinan tinggal di sini. Sekolah di sini. Karena di sini lebih baik."
Maya menutup mata. "Dan kamu bilang apa?"
"Aku bilang... aku mau pulang. Dengan Mama dan Om Raka."
Tapi suaranya tidak yakin. Karena setelah melihat kemewahan ini, setelah merasakan perhatian dari kakek-nenek yang tampak peduli, setelah melihat kemungkinan kehidupan yang lebih mudah... siapa yang tidak tergoda?
Malam kedua, Kinan bertanya: "Ma, kalau kita tinggal di sini, Adek bisa punya banyak boneka ya?"
"Kamu mau tinggal di sini, Kinan?"
"Kadang-kadang. Tapi... nggak sama Nenek aja. Sama Mama dan Om Raka juga."
"Kalau Mama dan Om Raka tidak mau tinggal di sini?"
Kinan berpikir. "Kalau Mama nggak mau, ya Adek ikut Mama."
Tapi betapa kejamnya pilihan untuk anak lima tahun: antara boneka dan kasur empuk dengan ibunya. Antara kemewahan dengan cinta.
---
Hari ketiga adalah titik balik. Sang kakek mengajakku ke ruang kerjanya ruangan berpanel kayu mahogany dengan buku-buku hukum dan sertifikat penghargaan.
"Raka, duduklah," katanya, menawarkan kursi kulit.
Aku duduk, siap untuk negosiasi atau ancaman.
"Kami... menghargai apa yang sudah kamu lakukan untuk Maya dan anak-anak," mulainya, tangan bertopang di meja besar. "Kami tahu Rangga gagal. Dan kami tahu kamu... hadir ketika dia tidak."
"Terima kasih, Pak."
"Tapi izinkan kami jujur." Dia melepas kacamatanya, mengusap matanya yang lelah. "Kami sudah tua. Rangga... anak tunggal kami. Dan ketika dia gagal membangun keluarga, itu seperti kegagalan kami juga."
Aku diam, mendengarkan.
"Bima dan Kinan... mereka penerus terakhir nama keluarga kami. Dan kami... ingin memastikan mereka punya masa depan terbaik."
"Saya juga menginginkan itu, Pak."
"Tapi apakah kamu bisa memberikannya?" Matanya tajam sekarang. "Dengan pekerjaan di bengkel? Dengan hidup pas-pasan di Makassar? Sedangkan di sini, mereka bisa sekolah internasional. Punya koneksi. Punya warisan."
"Warisan bukan hanya uang, Pak."
"Tapi uang membuka pintu, Nak. Dan kamu tahu itu." Dia berdiri, berjalan ke jendela. "Kami tawarkan kompromi: biarkan anak-anak tinggal di sini. Mereka bisa sekolah terbaik. Kamu dan Maya bisa mengunjungi sesering mungkin. Bahkan... kami bisa bantu kamu cari pekerjaan yang lebih baik di Jakarta."
"Jadi... pisahkan kami?"
"Tidak pisah. Hanya... memberikan yang terbaik untuk masing-masing. Anak-anak dapat pendidikan terbaik. Kamu dan Maya dapat kehidupan yang lebih mudah."
"Itu masih memisahkan, Pak. Karena keluarga bukan tentang memberikan yang terbaik secara terpisah. Tapi tentang bersama-sama, melalui yang terbaik dan terburuk."
Dia memandangku lama. "Kamu idealis. Seperti Rangga dulu. Dan lihat hasilnya."
"Perbedaan saya dengan Rangga, Pak, adalah saya tidak akan pernah memilih untuk pergi. Tidak peduli seberapa sulit."
Pembicaraan berakhir tanpa kesepakatan. Tapi aku tahu ini baru babak pertama.
---
Malam terakhir sebelum kepulangan, Rangga meminta makan malam keluarga lengkap. Semua hadir kami, Rangga, orang tuanya, Bayu.
Makan malam itu seperti adegan dari drama: indah di permukaan, beracun di bawah.
Setelah hidangan penutup, Rangga berdiri, mengangkat gelas.
"Saya ingin mengucapkan sesuatu," mulainya, suara gemetar. "Untuk Maya... terima kasih sudah membesarkan anak-anak kita dengan baik. Untuk Raka... terima kasih sudah merawat mereka ketika saya tidak bisa."
Dia menarik napas. "Dan untuk Bima dan Kinan... ayah menyesal. Dan ayah ingin memperbaiki. Dengan... dengan mengajak kalian tinggal di sini. Bersama ayah. Dan kakek nenek."
Semua mata tertuju pada anak-anak.
Bima berdiri. Tubuhnya kecil di hadapan meja panjang itu, tapi suaranya tegas.
"Papa," panggilnya, dan itu adalah pertama kalinya sejak kami tiba dia memanggil "Papa". "Aku... aku mau maafin Papa. Tapi... aku nggak mau tinggal di sini."
Rangga terlihat seperti ditampar.
"Kenapa, Nak?"
"Karena ini bukan rumahku. Rumahku di Makassar. Dengan kamar kecilku. Dengan teman-temanku. Dengan... dengan Mama, Om Raka, Kinan, dan Aisyah."
"Tapi di sini kamu bisa punya lebih"
"Tapi aku nggak mau lebih, Papa. Aku mau cukup. Dan di Makassar, aku cukup."
Kinan ikut berdiri, memegang tangan Bima. "Adek juga mau pulang. Boneka di sini cantik, tapi... boneka nggak bisa peluk Adek waktu Adek takut."
Rangga menatap anak-anaknya, lalu menunduk. Air mata jatuh di serbetnya.
Sang kakek berdiri. "Baik. Kami hormati keputusan kalian. Tapi... tolong izinkan kami tetap menjadi bagian dari hidup mereka. Kunjungan. Bantuan pendidikan. Apa pun."
Maya memandangku, lalu mengangguk. "Kami tidak akan menghalangi mereka mengenal keluarga ayahnya. Tapi... dengan batasan."
"Batasan apa?"
"Bahwa kami, orang tua mereka, yang memutuskan apa yang terbaik. Bahwa Jakarta adalah kunjungan, bukan rumah. Dan bahwa..." dia memandang Rangga, "...kehadiranmu dalam hidup mereka harus konsisten. Tidak datang dan pergi sesukamu."
Rangga mengangguk, tak bisa bicara.
---
Penerbangan pulang ke Makassar terasa seperti pembebasan. Bima dan Kinan tidur nyenyak di pesawat, mungkin lelah dari ketegangan empat hari itu. Aisyah juga tenang di pangkuan Maya.
"Kita berhasil," bisik Maya, tangannya menggenggam tanganku.
"Belum selesai," jawabku. "Tapi kita menang babak ini."
"Kamu tidak takut mereka akan terus mencoba?"
"Tentu takut. Tapi kita punya senjata terkuat: anak-anak kita memilih kita. Memilih rumah. Memilih cinta sederhana kita."
Dan itu benar. Di antara kemewahan Jakarta, di antara iming-iming masa depan gemilang, Bima dan Kinan memilih kasur sempit mereka di Makassar. Memilih sepeda tua mereka. Memilih keluarga yang tidak sempurna tapi milik mereka.
Pesawat mendarat di Makassar saat senja. Udara hangat dan familiar menyambut kami. Bau laut. Suara azan dari masjid dekat bandara. Semuanya terasa seperti rumah.
Di mobil taksi menuju rumah, Bima berkata: "Rumah kita kecil ya, Om."
"Iya, kenapa?"
"Tapi pas buat kita. Nggak kayak rumah kakek, yang... yang kesepian."
Kata itu "kesepian" membuatku tersentak. Karena ya, di balik kemewahan itu, rumah itu terasa kosong. Dingin. Penuh benda tapi sedikit cinta.
"Kamu merasa mereka kesepian, Bima?"
"Iya. Kakek sering lihat foto-foto lama. Nenek pegangin boneka terus, kayak nggak ada yang diajak bicara. Papa... Papa kayak orang hilang."
Anak delapan tahun itu melihat lebih dalam dari kami semua. Dia melihat bahwa kemewahan tidak membeli kebahagiaan. Bahwa rumah besar bisa menjadi penjara yang indah.
---
Malam pertama kembali di rumah, kami semua tidur di ruang tamu bercampur di kasur darat, dengan selimut yang sudah lama, dengan rasa memiliki yang tidak bisa dibeli.
"Raka," bisik Maya di kegelapan.
"Iya?"
"Terima kasih. Untuk tidak pernah menawarkan kami kemewahan. Untuk hanya menawarkan dirimu."
Aku memeluknya erat. "Dan terima kasih padamu. Untuk memilih diriku, bukan kemewahan."
Di seberang kami, Bima dan Kinan sudah tertidur pulas. Aisyah mendengkur pelan. Dan di rumah kecil kami yang sederhana ini, dengan segala kekurangannya, kami punya sesuatu yang tidak dimiliki mansion di Jakarta: keutuhan.
Kami mungkin tidak punya kolam renang. Tapi kami punya pelukan yang hangat.
Kami mungkin tidak punya boneka antik. Tapi kami punya tawa yang jujur.
Kami mungkin tidak punya masa depan gemilang yang dijamin uang. Tapi kami punya cinta yang memilih untuk tetap ada, hari demi hari.
Dan untuk keluarga seperti kami, itu lebih dari cukup.
Itu adalah segalanya.