Rafael Hutama, sang putra sulung keluarga Hutama terjebak one night stand dengan Milea yang datang untuk mencari sang dosen pembimbing sesuai alamat yang tertera di data kampusnya. Tentu saja Rafa yang berada dibawah pengaruh obat tak bisa berpikir jernih hingga berakhir di tempat tidur bersama Milea. Sebagai pria keluarga terpandang tentu dia berniat menikahi Milea. Tapi anehnya Milea malah menolak. Bagaimana bisa dia menerima pertanggung jawaban Rafael jika yang dia cintai adalah Richard Hutama, sang adik yang juga merupakan dosennya di kampus??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sushanty areta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut
Milea masih termenung di tempatnya. Sore sudah menyapa, namun tetap tak ada seorangpun di rumah besar itu. Gerbang terkunci, diapun takut untuk turun dan mendekatinya untuk sekedar mencari tau. Milea masih terus menatap ke arah pintu besar itu dengan gelisah, sebentar lagi malam. Dia bahkan tak tau harus menghubungi siapa. Aahh...Rafa. Bukannya tadi Richard meninggalkan kartu namanya? Bergegas Milea berlari ke kamarnya, mencari kartu nama itu di meja.
'Aahh..dapatt!!' soraknya dalam hati. Dia segera mendial deretan angka itu hingga telepon tersambung. Satu kali...dua kali...tiga kali...tetap saja tak ada seorangpun yang mengangkat panggilannya. Milea gelisah dan mulai ketakutan setengah mati saat melihat langit makin kelam dan adzan maghrib mulai terdengar. Untung tadi dia sempat menyalakan saklar lampu dibeberapa ruangan besar. Tapi anehnya, dia bukannya berani, tapi malah takut jika ada orang asing masuk dan berniat jahat. Milea semakin ketakutan.
Tap...tap...tap....
Tubuh Milly bergetar hebat saat suara sepatu itu menaiki tangga dan mendekati kamarnya. Gadis itu mengumpat dalam hati karena lupa mengunci pintu kamarnya. Sekarang sudah terlambat karena langkah kaki itu sudah amat dekat. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Yang dia lakukan hanya terus berdoa, meminta perlindungan dari Yang Maha Kuasa.
"Milea..." seketika mata Milly membulat sempurna. Suara itu begitu membuatnya bahagia. Amat bahagia hingga dia berlari memeluknya. Milly juga tak segan menangis di dada bidangnya. Untuk sesaat si pria hanya diam hingga dia merasakan tubuh Milly bergetar ketakutan, barulah kedua tangannya terentang dan memeluk tubuh langsing itu, mengelus kepalanya dan membisikkan jika semuanya akan baik-baik saja.
"Kemana semua orang? kenapa aku ditinggalkan sendirian di rumah ini?" ucap Milly terisak.
"Aku takut kak...." imbuhnya masih terisak pilu. Rafael membiarkan gadis itu terus menangis hingga merasa sedikit senang.
"Tak ada yang meninggalkanmu sendiri Milea. Momy dan dady sedang mengunjungi grandp, beliau sakit mendadak. Naura ikut bersama mereka. Sedang para pelayan...mereka selalu diberi libur tiap akhir bulan untuk sekedar mengunjungi keluarga atau bersenang-senang. Jam 9 nanti mereka baru akan kembali, atau mungkin besok pagi. Dan Richard....."
"Lalu kenapa kakak pulang semalam ini?" cicit Milly masih dalam mode sedihnya.
"Tak ada dady, aku harus mengurus semuanya sendiri. Sekarang lepaskan aku, badanku lengket, biarkan aku mandi lalu kita makan malam." Tapi Milea seperti enggan melepaskan tubuh tinggi athletis itu dari jangkauannya. Entah kenapa dada itu membuatnya begitu nyaman.
"Milly...."
"Bisakah kakak mandi disini saja?" Rafa menarik nafas panjang. Wanita muda itu terlihat masih ketakutan, hal yang membuatnya tak tega pergi dari sana. Dan Rafael mengangguk membuat Milly melerai pelukannya.
"Sebentar kuambilkan handuk dan pakaian ganti." Milly sudah lebih dulu masuk ke dalam walk in closet sebelum Rafa sempat mengatakan sesuatu. Lalu secepat yang dia bisa Milly kembali membawa keperluan mandi Rafa, membawanya ke kamar mandi, menyiapkan air hangat untuk sang suami lalu mempersilahkan pria tampan rupawan itu masuk ke dalam sana. Tak ada bantahan dari Rafa yang memilih diam dan segera membersihkan tubuhnya.
Milea menatap setiap gerakan Rafa setelah keluar dari kamar mandi layaknya gerakan slowmotion yang amat indah dalam scene film India yang aktor atau aktrisnya selalu mengalaminya saat terpesona pada sesuatu. Ya, kali ini Milly terpesona pada wajah segar, tampan, bersih dan rupawan itu. Lihatlah...wajah itu bahkan lebih rupawan dengan kulit pucatnya dibandingkan seorang Richard yang cenderung eksotis. Bibir itu....kenapa begitu merah dan menggoda? Salahkah Milly jika ingin berlama-lama memandangnya? bibir itu bahkan pernah mencercap seluruh tubuhnya penuh damba. Tubuh itu juga pernah berpacu diatas tubuhnya meski tak bisa dia terima, tapi dia juga tak bisa menolaknya.
"Ayo turun. Aku membawakan makan malam untuk kita." Suara bariton Rafa menginterupsi lamunan sang wanita muda.
"Ehh aku..."
"Ayo! Aku tak ingin kau kelaparan." Milea terus menatap pergelangan tangannya yang digenggam oleh Rafael amat lembut lalu menariknya menuju lift dan turu ke lantai bawah.
Saat tiba dibawah Milly melihat beberapa kantong plastik dari resto ternama yang masih diletakkan di meja makan. Pria itu...begitu perhatian padanya. Padahala bisa saja Rafa tak peduli padanya dan membalas perbuatan buruknya. Tapi Rafael tak melakukannya.
"Biar aku saja kak." dan Milly bergerak cepat mengganti wadahnya. Makanan itu? kenapa semuanya makanan favoritnya? tapi Milly tak sempat berpikir panjang. Dia segera menjerang air, membuatkan kopi hitam untuk sang suami lalu menyajikannya.
"Richard...."
"Kakak ingin dibuatkan apa lagi?" potong Milea saat Rafa kembali ingin membicarakan Richard. Enggan rasanya menyebut nama pria yang sudah jadi iparnya itu saat dia sedang merasa kagum pada wajah kebulean dengan manik blue ocean itu.
"Nothing. Mari makan." dan Milea denfab senang hati menikmati makan malam berdua saja dengan si pria tampan yang sesaat lalu bagai dewa penolong baginya.
iki onok nofel kocak