Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.
Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Selama Dua Dekade
Sisa malam itu terasa seperti pemakaman bagi kebahagiaan Katya. Setelah kepergian Ian yang badai, keheningan di ruang makan kediaman Adiwangsa terasa lebih menyakitkan daripada teriakan mana pun. Aisha sudah dibawa masuk ke kamarnya oleh Bi Ijah, sementara Arkan masih terlelap, tidak menyadari bahwa fondasi rumah tempatnya tumbuh sedang retak hebat.
Donny duduk di kursi kerjanya yang besar, kepalanya tertumpu pada kedua tangannya. Lampu meja yang temaram menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti beban berat di pundaknya. Katya berdiri di ambang pintu, matanya sembab namun tatapannya menuntut jawaban yang jujur. Tidak ada lagi ruang untuk retorika atau janji-janji manis.
"Jelaskan padaku, Mas. Semuanya," suara Katya dingin, nyaris tanpa emosi. "Siapa dia sebenarnya? Dan kenapa aku baru mengetahuinya sekarang?"
Donny menghela napas panjang, sebuah desahan yang sarat dengan kelelahan jiwa. Ia mengangkat wajahnya, menatap Katya dengan tatapan yang hancur. "Namanya Ardiansyah. Dia lahir dua puluh dua tahun yang lalu, Katya. Dari sebuah pernikahan singkat yang terjadi jauh sebelum aku mengenal Marina, apalagi mengenalmu."
Katya mengerutkan kening. "Pernikahan singkat? Kamu selalu bilang Marina adalah istri pertamamu."
"Itu yang aku katakan pada dunia, bahkan pada ayahmu," Donny mengakui dengan suara serak. "Namanya Sarah. Dia adalah seorang wanita yang aku cintai saat aku masih sangat muda dan gegabah. Kami menikah diam-diam karena orang tuaku tidak merestui. Namun, pernikahan itu hanya bertahan dua tahun. Sarah pergi meninggalkan aku dan Ian yang saat itu masih bayi karena tekanan dari keluargaku. Dia meninggal dalam kecelakaan beberapa bulan setelah kami bercerai."
Katya mencoba mencerna informasi itu. "Lalu kenapa kamu menyembunyikannya? Kenapa kamu mengirimnya ke luar negeri seolah-olah dia tidak pernah ada?"
Donny bangkit dari kursinya, berjalan mendekati jendela yang mengharap ke taman belakang yang gelap. "Keluarga Adiwangsa punya banyak musuh, Katya. Saat itu, posisiku di perusahaan belum sekuat sekarang. Ayahku mengancam akan mencabut hak warisku jika aku mengakui anak dari wanita yang dianggapnya 'rendah'. Aku pengecut, Katya. Aku mengirim Ian ke sekolah asrama terbaik di Swiss agar dia aman dari intrik keluargaku, sambil memastikan semua kebutuhan finansialnya terpenuhi. Aku pikir, dengan menjauhkannya, aku melindunginya."
"Melindunginya?" Katya tertawa miris, suaranya naik satu oktaf. "Kamu membuangnya, Mas! Kamu membiarkan seorang anak tumbuh tanpa ayah, tanpa ibu, hanya dengan kiriman uang bulanan. Apakah kamu tidak sadar betapa hancurnya hati anak itu? Tadi dia menatapku seolah aku adalah iblis yang mencuri ayahnya!"
"Aku tahu aku salah!" bentak Donny tiba-tiba, suaranya menggelegar di ruangan itu sebelum kembali melirih. "Aku salah. Dan sekarang dia kembali untuk menuntut hutang masa lalu itu."
Katya terdiam. Alasan Donny terdengar masuk akal bagi seorang pria korporat yang ambisius, namun insting wanitanya merasakan ada sesuatu yang tidak pas. Ada sesuatu yang 'gelap' dalam nada bicara Donny saat menyebut nama Sarah. Ada ketakutan yang lebih besar daripada sekadar takut kehilangan warisan.
"Apakah hanya itu, Mas? Hanya karena warisan?" tanya Katya menyelidik.
Donny membelakangi Katya, bahunya tampak kaku. "Ya. Apa lagi?"
Katya tidak menjawab, namun keraguan mulai tumbuh seperti benalu di hatinya. Kepercayaan yang selama ini ia agungkan sebagai pilar pernikahannya mulai goyah. Jika Donny bisa menyembunyikan seorang anak selama dua puluh tahun, rahasia apa lagi yang ia simpan?
Malam semakin larut. Donny akhirnya tertidur karena kelelahan di sofa ruang kerja, sementara Katya tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya terus berputar pada kata-kata Ian: "Nikmati sisa waktumu... aku akan mengambil semuanya."
Katya berjalan menuju perpustakaan pribadi Donny di lantai dua. Ia mencari sesuatu, entah apa, namun hatinya menuntunnya ke deretan buku-buku tua dan arsip keluarga. Ia mulai membuka laci-laci meja yang jarang disentuh. Sebagian besar berisi dokumen perusahaan yang membosankan.
Namun, perhatiannya tertuju pada sebuah brankas kecil di sudut lemari kayu jati. Ia tahu kode brankas itu—tanggal pernikahan mereka. Dengan tangan bergetar, Katya memasukkan angka-angkanya. Klik. Pintu brankas terbuka.
Di dalamnya tidak ada tumpukan uang atau perhiasan mahal. Hanya ada sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran kuno. Di dalam kotak itu, terdapat sebuah buku harian kusam dan sebuah amplop cokelat tua.
Katya mengambil amplop itu. Di dalamnya terdapat sebuah foto polaroid yang sudah menguning di bagian pinggirnya. Jantung Katya seakan berhenti berdetak saat melihat gambar tersebut.
Foto itu diambil di sebuah taman bunga. Donny muda tampak tersenyum sangat lebar—senyum yang tidak pernah Katya lihat sebelumnya—sambil merangkul seorang wanita. Wanita itu mengenakan gaun putih sederhana, rambutnya panjang terurai, dan ia sedang tertawa ke arah kamera.
Katya merasa sesak napas. Tangan yang memegang foto itu bergetar hebat. Wanita dalam foto itu... Sarah.
Wajah Sarah dalam foto itu tidak asing bagi Katya. Bukan karena ia pernah bertemu, tapi karena setiap kali Katya bercermin, ia melihat fitur wajah yang hampir identik. Bentuk mata yang sedikit sayu, lengkungan bibir yang tipis saat tersenyum, bahkan tahi lalat kecil di dekat telinga kiri.
Wanita itu... adalah versi dua puluh tahun lebih tua dari diri Katya sendiri.
Pikiran Katya langsung melayang pada awal pertemuan mereka. Bagaimana Donny begitu perhatian padanya sejak ia masih remaja. Bagaimana Donny selalu menatapnya dengan pandangan yang dalam, yang dulu ia kira adalah rasa sayang seorang paman kepada anak sahabatnya.
"Ya Tuhan..." bisik Katya lirih. Air mata jatuh menetes di atas permukaan foto itu.
Sebuah kenyataan pahit menghantamnya dengan telak. Apakah Donny menikahinya karena mencintainya sebagai Katya? Ataukah selama ini ia hanya dijadikan pengganti, sebuah bayangan dari masa lalu yang gagal dipertahankan Donny? Apakah pernikahan mereka hanyalah upaya Donny untuk menebus rasa bersalahnya pada wanita dalam foto ini?
Tiba-tiba, terdengar langkah kaki di lorong. Katya dengan cepat menyembunyikan foto itu di balik saku dasternya dan menutup brankas dengan terburu-buru.
"Katya? Sedang apa kamu di sini?"
Itu suara Donny. Pria itu berdiri di ambang pintu perpustakaan, matanya tampak waspada meskipun ia baru saja bangun tidur. Ia memperhatikan gerak-gerik Katya yang tampak gugup.
"Aku... aku hanya mencari buku untuk membantuku tidur," bohong Katya, suaranya terdengar parau.
Donny berjalan mendekat, menyipitkan mata melihat laci yang sedikit terbuka. "Kamu tidak perlu mencemaskan Ian, Sayang. Aku akan membereskan semuanya. Kembalilah ke kamar."
Katya mengangguk kaku, tidak berani menatap mata Donny. Ia berjalan melewati suaminya dengan hati yang berkecamuk. Di dalam sakunya, foto tua itu terasa seperti bara api yang membakar kulitnya.
Ia kini tahu, rahasia yang terkubur dua dekade itu bukan hanya soal keberadaan Ian, tapi soal alasan di balik setiap sentuhan dan kata cinta yang pernah Donny berikan padanya.
Katya kembali ke kamar dan mengunci diri di kamar mandi. Ia mengeluarkan foto itu lagi, lalu menempelkan wajahnya di depan cermin. Kemiripan itu bukan sekadar kebetulan; itu adalah sebuah obsesi. Saat ia membalik foto itu, terdapat tulisan tangan Donny yang rapi di belakangnya: "Sarah, jika aku tidak bisa memilikimu di kehidupan ini, aku akan mencarimu di wajah yang lain."
Katya menutup mulutnya agar teriakan histerisnya tidak terdengar keluar, sementara di balik pintu, Donny berdiri diam dengan tatapan yang sangat gelap.