NovelToon NovelToon
Aluna Milik Arsen

Aluna Milik Arsen

Status: tamat
Genre:Obsesi / CEO / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora_Minji

Satu tabrakan mengubah segalanya.

Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."

Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.

Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.

Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 29: Pilihan Mustahil

Tiga hari setelah kunjungan Rara yang tidak Aluna ketahui, sebuah pesan masuk ke ponselnya.

Dari nomor yang tidak tersimpan.

Tetapi Aluna mengenali gayanya menulis.

"Luna. Ini Rara. Aku perlu bicara denganmu. Penting. Jangan beri tahu Arsen."

Aluna membaca pesan itu tiga kali, jantungnya berdegup tidak karuan.

Rara menghubunginya. Setelah semua keheningan itu, setelah pintu yang dibanting, setelah kata-kata yang melukai Rara menghubunginya.

Tangannya gemetar saat mengetik balasan.

"Kak. Di mana?"

Jawaban datang cepat.

"Kafe Elora. Jam 2 siang. Besok. Datang sendiri."

Aluna menatap layar ponselnya lama. Lalu menghapus percakapan itu dari pesan masuk, menyimpan nomor Rara dengan nama "Dosen Pembimbing."

Besok.

Ia harus menemui kakaknya besok.

Tanpa Arsen tahu.

Berbohong pada Arsen ternyata lebih sulit dari yang Aluna bayangkan.

Bukan karena ia tidak pandai berbohong tetapi karena Arsen selalu melihat. Selalu memperhatikan detail kecil yang orang lain lewatkan. Cara Aluna makan sedikit lebih lambat dari biasanya. Cara matanya menghindari kontak. Cara jemarinya memainkan ujung bajunya saat ia gugup.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Arsen di meja makan, malam sebelum pertemuan itu.

"Iya," jawab Aluna terlalu cepat. "Hanya capek."

Arsen menatapnya sebentar tatapan yang membuat Aluna ingin mengaku segalanya.

Tetapi ia tidak.

"Besok aku mau pergi ke toko buku," ucap Aluna dengan suara yang ia usahakan terdengar santai. "Sendirian. Ada beberapa buku yang ingin aku cari."

Arsen meletakkan garpu nya.

"Aku bisa menemanimu."

"Tidak perlu," sahut Aluna cepat, lalu tersadar nadanya terlalu tegas. Ia tersenyum. "Maksudku... kamu pasti sibuk. Aku hanya sebentar kok."

Arsen menatapnya dengan ekspresi yang tidak terbaca. Detik-detik itu terasa seperti jam.

"Baik," ucapnya akhirnya. "Minta Pak Dani mengantar."

"Aku bisa naik taksi online."

"Aluna."

Satu kata. Satu nama. Tetapi cara Arsen mengucapkannya membuat Aluna tahu bahwa ini bukan negosiasi.

"Baik," ia mengangguk. "Minta Pak Dani."

Keesokan harinya, Aluna meminta Pak Dani mengantar ke toko buku dulu menghabiskan dua puluh menit di sana, membeli dua buku yang sebenarnya tidak terlalu ia inginkan sebelum ia meminta sopir itu menunggu di parkiran sementara ia "mampir ke kafe sebentar untuk menggunakan toilet."

Bohong kecil yang membuat perutnya mual.

Kafe Elora kecil dan tenang, dengan aroma kopi yang hangat dan musik yang lirih. Rara sudah duduk di pojok, mengenakan jaket abu-abu, wajahnya tampak lebih tua dari yang Aluna ingat.

Atau mungkin hanya lebih lelah.

Aluna melangkah mendekatinya, dan untuk sesaat mereka hanya saling menatap dua saudara yang terpisah oleh pilihan dan diam yang terlalu lama.

Lalu Rara bangkit dan memeluknya erat.

"Luna," bisik Rara dengan suara yang retak. "Luna, aku kangen kamu."

Aluna memeluk kakaknya dengan erat, matanya terasa panas.

"Aku juga, Kak."

Mereka duduk, memesan dua teh hangat yang tidak benar-benar mereka minum, dan Rara memulai dengan pertanyaan yang langsung menghantam dada Aluna.

"Apakah kamu bahagia?"

Aluna terdiam.

Pertanyaan sederhana. Empat kata. Tetapi jawabannya tidak pernah sesederhana itu.

"Aku..." ia menghela napas. "Aku mencintai Arsen."

"Itu bukan jawaban dari pertanyaanku," ucap Rara dengan lembut.

Aluna menatap cangkir tehnya.

"Aku... bahagia," jawabnya akhirnya. "Dengan cara yang rumit. Dengan cara yang kadang menyakitkan. Tetapi iya, aku bahagia."

Rara diam sejenak, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

Sebuah amplop.

"Sebelum aku tunjukkan ini," ucap Rara pelan, "aku minta kamu untuk mendengarkan dulu. Jangan langsung pergi. Jangan langsung marah. Dengarkan."

Aluna menatap amplop itu, jantungnya mulai berdegup tidak teratur.

"Apa itu?"

"Tiga hari lalu," mulai Rara dengan suara yang hati-hati, "aku datang ke rumah Arsen. Tanpa kamu tahu. Aku pergi menemuinya untuk bicara untuk memintanya melepaskanmu."

Aluna membeku.

"Kak..."

"Dengarkan dulu," potong Rara dengan tenang. "Kami bicara. Dan Arsen... dia mengancam ku, Luna."

Hening.

"Mengancam?" ulang Aluna dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Rara membuka amplop itu, mengeluarkan selembar kertas catatan yang ia tulis langsung setelah keluar dari rumah Arsen, saat ingatannya masih segar.

"Dia bilang dia akan menghancurkan usaha kue Mama. Menyebarkan rumor bahwa kue-kue itu tidak higienis. Memastikan tidak ada yang membeli lagi." Rara meletakkan kertas itu di meja dengan tangan yang stabil meski matanya tidak. "Kata-katanya persis seperti itu, Luna. Aku menulisnya langsung setelah aku keluar."

Aluna membaca kata-kata di kertas itu.

Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Setiap kata terasa seperti pukulan.

Untuk Aluna, aku akan menjadi monster.

Kata-kata Arsen sendiri, malam itu di perpustakaan, tiba-tiba terdengar berbeda di kepalanya. Bukan lagi terdengar seperti pengakuan cinta yang gelap.

Sekarang terdengar seperti kebenaran yang menakutkan.

"Dia..." Aluna menghela napas berat. "Rara, apakah kamu..."

"Aku tidak berbohong, Luna," potong Rara dengan tegas tetapi tanpa amarah. "Aku tidak sempurna. Aku pernah salah menilainya. Tetapi tentang ini tentang ancaman ini aku tidak berbohong."

Aluna menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap langit-langit kafe.

Di dalam dadanya ada sesuatu yang mulai retak. Bukan hancur belum. Tetapi retak. Seperti porselain yang jatuh tapi belum menyentuh lantai.

"Mengapa dia melakukan itu?" bisiknya, lebih untuk dirinya sendiri.

"Karena dia takut kehilanganmu," jawab Rara dengan suara yang anehnya tidak mengandung kebencian. "Aku melihat itu, Luna. Aku melihat bahwa dia mencintaimu. Dengan cara yang sakit, dengan cara yang salah tetapi itu nyata."

Aluna menatap kakaknya, terkejut.

"Tetapi cinta yang nyata pun bisa merusak," lanjut Rara. "Dan aku takut, Luna. Aku takut bukan karena dia kaya atau karena dia lebih tua darimu. Aku takut karena dia akan melakukan apa pun untuk mempertahankanmu. Dan apa pun itu... tidak ada batasnya."

Keheningan yang berat turun di antara mereka.

"Mama bagaimana?" tanya Aluna akhirnya dengan suara yang retak di ujung.

Rara menghela napas.

"Mama masih marah. Tetapi setiap malam aku dengar dia menangis di kamarnya sambil memanggil namamu."

Aluna menutup matanya.

Di balik kelopak matanya, ia melihat wajah ibunya. Wajah Arsen. Wajah Rara. Wajah orang-orang yang ia cintai, yang sekarang berdiri di dua sisi yang berlawanan dan ia berada di tengah, dirobek ke dua arah.

"Apa yang kamu mau aku lakukan, Kak?" tanya Aluna dengan suara yang lelah. "Apa yang sebenarnya kamu minta?"

"Aku tidak minta kamu meninggalkannya," jawab Rara dan itu mengejutkan Aluna. "Aku sudah belajar bahwa memaksamu tidak akan berhasil. Kamu keras kepala. Selalu begitu sejak kecil."

Senyum tipis muncul di sudut bibir Aluna meski matanya masih berat.

"Yang aku minta," lanjut Rara, "adalah agar kamu melihat. Melihat dengan jelas. Bukan hanya bagian yang mencintaimu tetapi bagian yang akan menghancurkan orang lain untukmu. Bagian yang tidak punya batas. Bagian yang takut."

Ia memegang tangan Aluna di atas meja.

"Kamu berhak tahu kebenaran tentang pria yang kamu cintai. Kamu berhak membuat pilihan dengan mata terbuka, bukan tertutup."

Aluna menatap tangan kakaknya yang menggenggam tangannya. Tangan yang sama yang mengajarkannya mengepang rambut. Yang mengusap air matanya ketika patah hati pertama. Yang selalu ada bahkan sekarang, bahkan setelah semua konflik itu.

"Jika aku bicara dengan Arsen tentang ini," ucap Aluna pelan, "apa yang akan terjadi pada bisnis Mama?"

Rara menggeleng.

"Aku tidak tahu. Itu yang membuatku takut juga."

Mereka berdua terdiam, dua saudara yang duduk di tengah badai yang tidak mereka buat tetapi harus mereka hadapi.

"Aku perlu waktu," bisik Aluna akhirnya.

"Aku tahu."

"Aku tidak bisa langsung memutuskan apa pun."

"Aku tahu itu juga."

"Tapi Kak..." Aluna menekan tangan kakaknya balik, matanya akhirnya melepaskan air mata yang sudah ditahannya. "Tolong jaga Mama. Tolong pastikan bisnis kue nya baik-baik saja. Aku akan... aku akan memikirkan cara untuk memastikan Arsen tidak melakukan apa yang dia ancamkan."

Rara menatapnya dengan ekspresi yang campur aduk khawatir, lega, sedih.

"Kamu tidak seharusnya menanggung ini sendiri."

"Aku yang memilih jalan ini," jawab Aluna dengan suara yang lebih kuat dari yang ia rasakan. "Aku yang akan menanggung konsekuensinya."

Perjalanan pulang terasa seperti mimpi buruk yang tenang.

Aluna duduk di kursi belakang mobil, menatap jalanan yang berlalu di luar jendela, pikirannya berputar tanpa henti.

Arsen mengancam keluarganya.

Arsen, yang menciumnya dengan lembut setiap pagi. Yang selalu menyiapkan teh untuknya. Yang berbisik *maafkan aku* ke kening nya meski tidak pernah benar-benar menjelaskan untuk apa.

Arsen, yang katanya akan menjadi monster untuk Aluna.

Dan ternyata ia bukan hanya mengatakannya.

Ia membuktikannya.

Apakah kamu masih akan mencintainya? tanya suara kecil di dalam kepalanya.

Aluna menutup mata.

Jawabannya adalah yang paling menyakitkan.

Iya.

Bahkan setelah tahu semua ini bahkan setelah membaca kata-kata ancaman itu dengan matanya sendiri ia masih mencintai Arsen. Cinta itu tidak pergi. Tidak mengecil. Tidak berubah menjadi benci.

Tetapi kini ada sesuatu yang berbeda.

Sekarang ia melihat. Seperti yang Rara minta.

Dan melihat dengan jelas jauh lebih menyakitkan dari tidak melihat sama sekali.

Arsen ada di ruang tamu saat Aluna pulang, berdiri dengan ponsel di tangan ekspresi di wajahnya berubah menjadi lega yang ia coba sembunyikan saat melihat Aluna masuk.

"Dapat bukunya?" tanyanya.

"Dapat," jawab Aluna, menunjukkan kantong toko buku di tangannya.

Arsen mendekatinya, mengambil kantong itu, mengintip ke dalamnya.

"Dua buku?" Alisnya naik. "Dua jam di toko buku dan hanya dapat dua buku?"

Aluna tersenyum senyum yang ia harap terlihat normal.

"Aku juga duduk-duduk membaca dulu di sana."

Arsen menatapnya sebentar. Tatapan itu tatapan yang selalu membuat Aluna merasa transparan.

Lalu ia mengangguk.

"Mau teh?"

"Mau."

Mereka berjalan ke dapur bersama, berdampingan seperti biasa, seperti tidak ada yang berubah.

Tetapi segalanya sudah berubah.

Dan saat Arsen membelakangi nya untuk menyiapkan teh, Aluna menatap punggung pria itu punggung yang lebar, yang sering ia bersandar, yang selalu terasa seperti rumah.

*Bagaimana aku bicara tentang ini?* pikirnya. *Bagaimana aku menghadapinya tanpa menghancurkan segalanya? Tanpa membuat situasi Mama semakin buruk?*

*Bagaimana aku mencintai seseorang yang mampu melakukan ini dan masih harus memutuskan apakah aku akan tetap tinggal?*

Tidak ada jawaban yang datang.

Hanya pertanyaan demi pertanyaan yang menumpuk di dadanya seperti batu.

Arsen berbalik, menyodorkan cangkir teh.

"Kenapa melamun?"

Aluna menerima cangkirnya, tersenyum tipis.

"Hanya capek."

Arsen menatapnya satu detik lebih lama dari biasanya.

"Aluna."

"Iya?"

"Jika ada yang mengganggu pikiranmu," ucapnya dengan suara yang lebih pelan, "kamu bisa bilang padaku."

Ironi kata-kata itu menghantam Aluna tepat di dada.

Ia bisa bilang padamu? Tentang hal yang kamu lakukan?

Tetapi ia hanya mengangguk.

"Aku tahu."

Dan itu adalah kebohongan terbesar yang pernah ia ucapkan.

Malam itu, saat Arsen sudah tidur, Aluna duduk di tepi tempat tidur dalam gelap menatap bayangan di langit-langit.

Pilihannya bukan antara Arsen atau keluarga.

Bukan sesederhana itu.

Pilihannya adalah: apakah ia akan terus mencintai dengan mata tertutup, atau mulai mencintai dengan mata terbuka dan menanggung semua yang ia lihat.

Apakah ia akan menghadapi Arsen dengan kebenaran yang ia tahu, dengan risiko meledakkan segalanya atau menyimpan kebenaran itu sendiri, melindungi Mama dengan caranya sendiri, dan belajar hidup dengan bayangan yang kini ada di antara mereka.

Tidak ada pilihan yang mudah.

Tidak ada pilihan yang tidak menyakitkan.

Ini bukan pilihan antara benar dan salah.

Ini adalah pilihan antara dua luka yang berbeda.

Dan Aluna belum tahu luka mana yang ia pilih untuk ditanggung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!