NovelToon NovelToon
Dark Crown: Devil'S Bride

Dark Crown: Devil'S Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Roman-Angst Mafia / Menikah dengan Musuhku / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Coldmaniac

‎"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."

‎Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
‎Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
‎Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.

‎Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.

‎Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.

‎Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 : Sangkar Emas dan Timah Panas

FAJAR menyingsing di atas Danau Como dengan warna ungu kemerahan yang cantik, namun bagi Aria Vane, keindahan itu terasa seperti ejekan. Ia terbangun dengan tubuh kaku, masih berada di sisi kanan tempat tidur yang luas itu. Ia menoleh ke samping, namun sisi tempat tidur Dante sudah rapi dan dingin.

​Pria itu sudah bangun entah sejak kapan.

​Aria duduk, memegangi kepalanya yang berdenyut. Kilasan kejadian semalam—gaun pengantin yang melorot, ancaman Dante, dan pengakuan tentang ayahnya—berputar seperti film horor di benaknya. Ia bergegas menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air es, mencoba menemukan kembali percikan api yang semalam sempat ia pamerkan di depan Dante.

​"Jangan lemah, Aria," bisiknya pada pantulan dirinya di cermin. "Jika kau mati sekarang, Julian Vane menang."

​Di atas meja rias, ia menemukan sebuah kotak hitam sederhana. Di dalamnya terdapat setelan baju olahraga ketat berwarna hitam, sepatu lari, dan sebuah pisau lipat kecil dengan gagang perak. Ada secarik kertas kecil di bawah pisau itu.

​Sepuluh menit di dermaga bawah. Terlambat satu detik, dan aku akan menganggapmu beban yang harus dibuang.

— D.

​Aria mengepalkan tangannya. Tidak ada pelayan yang membantunya, tidak ada sarapan mewah. Hanya perintah. Ia segera berganti pakaian. Saat ia menuruni tangga vila yang megah itu, ia menyadari betapa sunyinya tempat ini. Tidak ada suara tawa, hanya derap langkah para penjaga berseragam hitam yang berdiri tegak di setiap sudut seperti patung-patung kematian.

​Dermaga pribadi Moretti terbuat dari kayu jati tua yang mengilap, menjorok ke air danau yang tenang namun dalam. Dante berdiri di sana, membelakangi vila. Ia mengenakan kaos hitam ketat yang menonjolkan otot-otot punggungnya yang kuat, sedang memeriksa sebuah pistol semi-otomatis dengan gerakan yang sangat mekanis.

​"Sembilan menit empat puluh detik," ucap Dante tanpa menoleh. "Hampir saja kau menjadi sejarah, Aria."

​Aria berjalan mendekat, dagunya terangkat. "Aku tidak punya kebiasaan membuat orang menunggu."

​Dante berbalik. Matanya yang abu-abu menyapu penampilan Aria. Sedikit kilatan kepuasan muncul di sana, namun segera hilang. Ia menyodorkan pistol itu kepada Aria—bagian pegangannya lebih dulu.

​"Pegang ini."

​Aria menerima senjata itu. Beratnya mengejutkan, dingin dan mengintimidasi. Walaupun ia tahu dasar-dasar pertahanan diri, memegang senjata api asli adalah hal yang berbeda.

​"Lepaskan pengamannya, bidik sasaran di ujung dermaga itu, dan tarik pelatuknya," perintah Dante datar.

​Aria mengatur napasnya. Ia melihat sebuah botol kaca yang diletakkan di atas pilar kayu sekitar dua puluh meter jauhnya. Ia mengangkat tangannya, mencoba meniru posisi penembak yang pernah ia lihat di film. Tangannya sedikit gemetar.

​DOOR!

​Suara ledakan itu memekakkan telinga. Peluru itu meleset jauh, menghantam air dan menciptakan riak kecil. Hentakan senjata itu hampir membuat Aria terjatuh jika Dante tidak tiba-tiba berada di belakangnya, menahan bahunya dengan satu tangan yang keras seperti batu.

​"Kau menembak seperti seorang amatir yang sedang ketakutan," bisik Dante di dekat telinganya. Aroma sandalwood dan mesiu menyengat indra penciuman Aria.

"Jika musuhmu ada di depanmu, kau sudah mati tiga kali sebelum peluru itu keluar."

​Dante tidak melepaskan Aria. Ia justru merapat, menyelimuti tubuh Aria dengan kehadirannya. Tangan besarnya membungkus tangan Aria yang sedang memegang pistol, memperbaiki posisi jarinya.

​"Jangan melawan hentakannya. Jadilah bagian darinya," perintah Dante. Suaranya kini lebih rendah, lebih fokus.

"Rasakan beratnya. Mata pada sasaran, bukan pada senjata. Bayangkan botol itu adalah kepala seseorang yang ingin menghancurkanmu. Bayangkan itu adalah Julian Vane."

​Mendengar nama ayahnya, rahang Aria mengeras. Matanya menyipit. Kemarahan yang selama ini ia pendam mulai membakar rasa takutnya.

​"Tarik napas... buang setengah... sekarang."

​DOOR!

​Botol itu hancur berkeping-keping. Serpihan kacanya berkilau sebelum jatuh ke danau.

​Aria terengah, jantungnya berpacu kencang. Ada sensasi aneh yang menjalar di pembuluhnya—sebuah rasa berkuasa yang memabukkan. Ia menoleh ke arah Dante, yang jaraknya masih sangat dekat.

​"Bagus," gumam Dante. Ia menatap mata Aria, dan untuk sesaat, ketegangan di antara mereka bukan lagi tentang kebencian, melainkan sesuatu yang lebih primitif.

"Kemarahan adalah bahan bakar yang baik, tapi jika kau tidak bisa mengendalikannya, kau akan terbakar sendiri."

​Dante menjauh, mengambil kembali pistol dari tangan Aria dengan gerakan cepat.

"Mulai hari ini, setiap pagi kau akan berada di sini. Kau tidak akan makan sebelum kau bisa menghancurkan sepuluh sasaran tanpa meleset. Dan jangan berpikir kau bisa mengarahkan senjata itu padaku saat aku lengah."

​Aria tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh tantangan. "Kenapa? Kau takut, Dante?"

​Dante mendekat lagi, kali ini dengan aura yang lebih gelap. Ia menyelipkan pisau lipat yang tadi ada di kotak ke ikat pinggang olahraga Aria, jarinya sengaja menyentuh kulit pinggang Aria dengan tekanan yang membuat wanita itu menahan napas.

​"Aku tidak takut pada kematian, Aria. Aku adalah kematian," ucapnya pelan. "Tapi aku ingin kau tahu, jika kau mencoba membunuhku dan gagal... aku tidak akan memberimu kematian yang cepat. Aku akan membuatmu memohon agar aku tidak pernah melahirkanmu ke dunia ini."

​Dante kemudian berbalik dan berjalan menuju vila, meninggalkan Aria yang berdiri sendirian di dermaga dengan tangan yang masih bergetar—bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang baru saja ia rasakan.

​Sore harinya, Aria menyadari bahwa menjadi istri seorang Moretti bukan hanya tentang belajar menembak. Ia diminta untuk turun ke ruang makan untuk acara makan malam formal. Namun, ini bukan sekadar makan malam keluarga.

​Dua pria bertubuh besar dengan luka parut di wajah mereka duduk di meja panjang. Di ujung meja, Dante duduk seperti seorang raja di atas singgasananya.

​"Ini adalah Aria," ucap Dante singkat saat Aria masuk ke ruangan dengan gaun hitam yang elegan namun tertutup. "Mulai sekarang, dia adalah bagian dari operasional logistik di pelabuhan."

​Salah satu pria, yang dipanggil Marco, tertawa meremehkan.

"Bos, dengan segala hormat... dia adalah seorang Vane. Ayahnya adalah tikus yang sedang kita buru. Bagaimana kita bisa percaya pada wanita ini di dermaga kita?"

​Dante menyesap anggur merahnya perlahan. Suasana di ruangan itu mendadak menjadi sangat dingin.

"Apakah aku meminta pendapatmu, Marco?"

​Marco tersedak tawa. "Bukan begitu, Bos. Tapi para anak buah... mereka tidak akan suka dipimpin oleh seorang wanita, apalagi wanita dari keluarga musuh."

​Dante meletakkan gelasnya dengan denting pelan yang terasa seperti dentang lonceng kematian.

"Aria adalah istriku. Menghinanya berarti menghinaku. Dan kau tahu apa yang kulakukan pada orang yang menghinaku?"

​Dante memberi isyarat kecil dengan tangannya. Tiba-tiba, dua penjaga di belakang Marco mencengkeram bahu pria itu dan menekankan kepalanya ke atas meja makan.

​"Dante! Aku hanya bicara!" teriak Marco panik.

​Dante berdiri, berjalan memutari meja dengan langkah yang tenang namun mematikan. Ia mengambil sebilah pisau makan yang tajam. Aria terpaku di tempatnya, matanya membelalak. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tertahan di tenggorokan.

​Dante berhenti di samping Marco. Ia tidak menggunakan pisau itu untuk melukai Marco, melainkan untuk memotong sepotong daging steak di piring Marco dengan presisi yang mengerikan.

​"Aria adalah lulusan hukum terbaik," ucap Dante sambil menyuapkan daging itu ke mulutnya sendiri.

"Dia tahu cara memanipulasi kontrak, cara mencari celah hukum yang bahkan pengacara kita tidak bisa temukan. Dia lebih berguna bagiku daripada sepuluh pria sepertimu yang hanya tahu cara menarik pelatuk."

​Dante menatap Marco dengan mata abu-abunya yang tak berperasaan.

"Minta maaf padanya. Sekarang."

​"Ma-maafkan saya, Nyonya Moretti," ucap Marco dengan suara gemetar, wajahnya memerah karena tertekan ke meja.

​Dante memberi isyarat agar pengawalnya melepaskan Marco.

"Keluar. Dan pastikan rute pengiriman besok malam aman. Jika ada satu kotak yang hilang, kepalamu yang akan menjadi penggantinya."

​Marco dan rekannya segera pergi tanpa menoleh lagi. Ruang makan itu kembali sunyi, hanya menyisakan Dante dan Aria.

​Aria melangkah maju, tangannya mengepal di samping tubuhnya.

"Kau tidak perlu melakukan itu. Aku bisa membela diriku sendiri."

​"Benarkah?" Dante menoleh padanya, seringai dingin menghiasi wajahnya. "Di dunia ini, Aria, kau tidak membela diri dengan kata-kata. Kau membela diri dengan rasa takut. Jika mereka tidak takut padamu, mereka akan memangsamu."

​"Dan kau ingin aku menjadi seperti kau? Menjadi monster yang ditakuti semua orang?"

​Dante mendekati Aria, berdiri begitu dekat sehingga Aria bisa merasakan panas dari tubuh pria itu. Ia mengangkat tangan, merapikan sehelai rambut yang jatuh di dahi Aria.

​"Kau sudah menjadi monster sejak kau memutuskan untuk mengkhianati ayahmu sendiri, cara mia," bisik Dante. "Aku hanya memberimu panggung untuk menunjukkannya."

​Aria menatap mata Dante, mencoba mencari celah kemanusiaan di sana, namun ia hanya menemukan kegelapan yang tak berdasar. Tapi anehnya, di dalam kegelapan itu, ia merasa lebih aman daripada saat ia berada di bawah atap ayahnya.

​"Besok malam, kau akan ikut denganku ke pelabuhan," ucap Dante. "Kita akan melihat seberapa banyak yang kau pelajari tentang hukum dan pengkhianatan."

​Dante berbalik pergi, namun Aria memanggilnya.

​"Dante!"

​Pria itu berhenti di ambang pintu, tanpa berbalik.

​"Kenapa kau memberitahuku bahwa ayahku ingin membunuhku? Kau bisa saja menyimpannya sebagai rahasia untuk mengontrolku."

​Dante terdiam sejenak. Suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. "Karena aku tidak suka bekerja dengan senjata yang tidak tahu ke arah mana ia harus ditembakkan.

Sekarang kau tahu siapa musuhmu yang sebenarnya. Jangan mengecewakanku besok malam."

​Setelah Dante pergi, Aria jatuh terduduk di kursinya. Ia menatap piring perak di depannya, melihat pantulan dirinya yang kini terlihat berbeda. Ada sesuatu yang patah di dalam dirinya semalam, dan di tempat yang patah itu, sesuatu yang baru dan lebih tajam mulai tumbuh.

​Ia bukan lagi Aria Vane yang malang. Ia adalah Nyonya Moretti. Dan jika dunia ini hanya mengenal bahasa darah, maka ia akan belajar untuk berteriak dalam bahasa itu.

​Malam itu, Aria tidak bisa tidur. Ia pergi ke perpustakaan vila yang luas, mencari dokumen atau apapun yang bisa memberinya keunggulan. Saat ia sedang memeriksa beberapa map tua, ia menemukan sebuah foto kecil yang terselip di balik buku tebal tentang sejarah Italia.

​Foto itu sudah kusam. Di sana terlihat seorang wanita cantik dengan mata yang sangat mirip dengan Dante, sedang menggendong seorang anak laki-laki kecil yang tidak tersenyum. Di belakang mereka, berdiri seorang pria dengan wajah yang dipenuhi kebencian, tangannya mencengkeram bahu si wanita dengan sangat keras hingga kain bajunya kusut.

​Aria menyadari satu hal. Dante tidak lahir sebagai monster. Dia diciptakan.

​Tiba-tiba, lampu perpustakaan meredup. Suara langkah kaki terdengar dari koridor. Bukan langkah kaki Dante yang berat dan mantap, melainkan langkah kaki yang cepat dan ringan.

​Aria segera menyembunyikan foto itu di balik bajunya. Pintu perpustakaan terbuka, dan seorang pelayan tua masuk dengan wajah pucat pasi.

​"Nyonya... anda harus ikut saya sekarang," bisik pelayan itu, suaranya gemetar ketakutan. "Tuan Dante... dia... sedang dalam salah satu 'episodenya'. Anda tidak aman di sini."

​Belum sempat Aria bertanya, suara teriakan kemarahan dan bunyi barang pecah terdengar dari arah kamar utama. Suaranya begitu menyayat, seolah-olah berasal dari jiwa yang sedang disiksa di neraka paling dalam.

​Aria teringat ucapan Dante: Jangan melewati garis tengah jika kau masih ingin bangun dengan tubuh lengkap.

​Rasa ingin tahu mengalahkan rasa takutnya. Aria tidak mengikuti pelayan itu menuju tempat aman. Sebaliknya, ia berlari menuju kamar utama, menuju pusat badai yang disebut Dante Moretti.

1
Nida Saefullah
kerenn....
awesome moment
tekad yg 👍👍👍
awesome moment
👍👍👍
Nida Saefullah
👍💪
fitri ani
luar biasa
Coldmaniac: terima kasihhh
total 1 replies
awesome moment
blm slesekan? kpn lanjutnya?
Coldmaniac: ditunggu yaaaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!