Ziva Putri Willson, putri bungsu keluarga Willson, adalah perpaduan sempurna antara kecantikan, kecerdasan, dan kepercayaan diri setinggi langit. Di usianya yang masih muda, dia telah menjadi desainer ternama yg namanya menggema hingga ke mancanegara.
Damian Alexander, CEO muda yang dikenal kejam dan dingin. Baginya, hidup hanyalah deretan angka dan nilai saham. Dia sangat anti pada wanita karena menganggap mereka makhluk paling merepotkan di dunia.
"Dengar, Tuan CEO, kamu mungkin bisa membeli saham dunia, tapi kamu tidak bisa membeli hak untuk mengatur kapan aku harus bernapas. Jadi, simpan wajah sok kuasamu itu untuk rapat, bukan untukku." -Ziva.
"Aku sudah menghadapi ribuan musuh bisnis yang licin, tapi menghadapi satu wanita bermulut tajam seperti dia jauh lebih menguras energi daripada akuisisi perusahaan. Tapi justru itu yang membuatnya berbeda." — Damian.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Si Tuan Dingin yang mulai kehilangan akal sehatnya, atau Nona cerewet berwajah manis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CIUMAN TAK TERDUGA
Namun, Damian tidak memedulikan kedua kakak Ziva. Ia justru menarik Ziva menuju lantai dansa saat musik berganti menjadi melodi waltz yang romantis.
"Tunggu, aku tidak bilang mau dansa!" bisik Ziva panik saat Damian meletakkan tangannya di pinggangnya yang terbuka.
"Tadi itu akting yang bagus, tapi sekarang saatnya membayar hutang karena aku sudah membiarkanmu memamerkan kekuasaanmu tadi," jawab Damian rendah.
Mereka berdansa di tengah lantai ballroom yang megah. Gerakan Damian sangat presisi dan tenang, sementara Ziva mencoba mengikuti irama jantungnya yang berdebar kencang. Posisi mereka sangat dekat, hingga hidung Ziva bersentuhan dengan dada bidang Damian.
"Damian..." panggil Ziva pelan.
"Hm?"
"Soal ucapanmu tadi di depan abang-abangku... tentang masa depan di mana aku tidak perlu kuat sendirian... itu bagian dari akting juga?" tanya Ziva, menatap mata gelap Damian yang kini tampak lebih hangat terkena pantulan lampu kristal.
Damian menghentikan langkah dansanya sejenak, membuat mereka menjadi pusat perhatian di tengah lantai dansa. Ia menunduk, bibirnya berada tepat di depan dahi Ziva.
"Ziva, dalam bisnis aku tidak pernah memberikan janji yang tidak bisa ku tepati. Dan dalam hidup... aku tidak pernah mengizinkan orang lain masuk sejauh ini ke dalam jadwalku jika aku tidak benar-benar menginginkannya," jawab Damian, menatap Ziva intens.
Cup
Untuk pertama kali nya, Damian mencium kening Ziva dengan lembut dan lama, sebuah tindakan yang membuat seluruh tamu undangan, termasuk Kenzo dan Arkan, terdiam terpaku. Itu bukan sekadar perjodohan antar dua keluarga besar, ini adalah pengakuan dan Klain kepemilikan.
"K-kau-"
Ucap Ziva melotot kan matanya, karena Damian berani mencium nya.
"Tidak perlu marah seperti itu," ucap Damian terkekeh kecil.
"Malam ini memang panjang, tapi aku mulai menyukainya," bisik Damian, semakin membuat pipi Ziva memerah.
Ziva hanya bisa terdiam dengan pipi se-merah gaunnya.
Untuk pertama kalinya, si desainer bermulut tajam itu kehilangan kata-kata.
"Vio, Tiara, tolong aku!" batin Ziva, menjerit.
Tiba-tiba tangan Ziva ditarik Damian menjauh dari kerumunan, menuju area yang agak sepi di dekat stand makanan penutup.
"K-kamu barusan ngapain?!" bisik Ziva sengit, matanya melotot.
"Mamang nya apa yang aku lakukan?" jawab Damian, tanpa dosa.
"Kamu baru saja melakukan pelecehan terhadap martabat jidatku!" ucap Ziva mendengus, meski pipinya nggak bisa diajak kompromi karena masih panas.
"Dan apa-apaan tadi bilang soal masa depan di depan abang-abangku? Kamu mau mati muda ya?" tanya Ziva, mempertahankan sifat galak nya.
Glek
Damian meneguk air mineralnya, lalu menatap Ziva dengan tatapan 'bisnis' yang kaku.
"Aku cuma bilang fakta. Kakak-kakakmu itu berisik, dan satu-satunya cara bikin mereka diam ya cuma dengan menunjukkan kalau aku lebih segalanya. Lagian, jas yang kamu buat ini sempit di bagian ketiak kalau aku harus banyak gerak buat berdebat sama mereka," jawab Damian, sedikit mengeluh soal penampilan baru nya.
"Sempit?! Itu namanya slim fit, Damian! Kamu aja yang badannya kayak raksasa!" jawab Ziva tidak terima.
Belum selesai mereka berdebat soal ketiak jas, tiba-tiba Kenzo dan Arkan sudah berdiri di belakang mereka dengan muka yang tidak santai.
"Woi, Damian Alexander"
Arkan memanggil Damian dengan nama lengkap nya.
"Berani juga kamu main cium-cium kening adik kami, sudah bosan hidup hah!?" ucap Arkan, kesal.
"Itu bagian dari paket pertunangan. Kenapa? Kalian mau minta royalti?" jawab Damian santai, berbalik, memasukkan satu tangannya ke saku celana.
"Jangan sok keren. Ingat ya, Ziva ini biayanya mahal, makanannya harus organik, tidurnya harus cukup, dan dia kalau marah bisa gigit. Kamu yakin sanggup?" tanya Kenzo menyipitkan mata.
"Aku sudah biasa menangani proyek gagal yang lebih rumit dari sekadar desainer cerewet. Jadi, jawabannya, sanggup!" jawab Damian melirik Ziva yang sedang asyik mengambil cheesecake seolah tidak terjadi apa-apa.
"Proyek gagal?! Kamu bilang aku proyek gagal?!" teriak Ziva hampir saja melempar garpu kecilnya kalau Damian tidak segera menahan tangannya.
"Diam, Ziva. Makan saja kue mu," ucap Damian pendek.
Dari kejauhan ada sepasang mata yang sedang menatap mereka penuh kebencian, seorang wanita yang sedang berdiri di sudut ruangan, wanita itu tidak sendirian, tapi dia sedang mengandeng gadis kecil.
"M-mama tangan Alsil sakit..." ucap gadis kecil itu, lirih.
"Diam!" ucap wanita itu, semakin mengeratkan genggamannya pada tangan gadis kecil itu.
Wanita itu pergi dari sana, dengan wajah memerah padam, sambil menyeret gadis kecil itu.
Sementara di tempat Ziva, Damian dan kedua kakak Ziva masih saja berdebat dan gak ada yang mau kalah.
"Ingat! Aku belum memberikan mu restu!" ucap Kenzo, sengit.
"Aku tidak perduli," jawab Damian, mengangkat bahunya acuh.
"K-kau-"
Tiba-tiba, Riko datang dengan langkah terburu-buru, wajahnya nahan tawa tapi juga tegang.
"Tuan Muda... gawat," lapor Riko, dengan wajah pucat pasi.
"Apa?" tanya Damian malas.
"Nona Clarissa tadi mau balas dendam, dia mau menyiram mobil Anda menggunakan wine merah, tapi dia salah lihat. Dia malah menyiram mobil Porsche-nya Tuan Kenzo karena warnanya sama-sama gelap," lapor Riko sambil menunduk.
"APA?! MOBIL GUE?!"
Tanpa babibu, Kenzo langsung lari keluar ballroom, diikuti Arkan yang malah tertawa keras di belakangnya.
"Mampus lo Clarissa! Cari masalah sama singa bangun!"
"Hahahaha! Mampus! Bang Kenzo itu kalau mobilnya lecet dikit aja, sedihnya kayak putus cinta. Clarissa benar-benar cari mati!" ucap Ziva tertawa ngakak sampai hampir tersedak kue.
Damian hanya menggelengkan kepala melihat tingkah keluarga Willson yang ajaib ini, lalu dia melirik jam tangannya.
"Sudah jam 10 lewat 15. Sesuai kesepakatan, kamu harus pulang," ucap Damian, mengehentikan tawa Ziva.
"Dih, siapa yang sepakat?" jawab Ziva mencibir.
"Aku masih mau di sini, mau lihat Clarissa kena omel Bang Kenzo," lanjut Ziva, hendak menyusul abang-abang nya.
Damian tidak menjawab, dia langsung menarik kerah belakang gaun Ziva pelan, seperti mengangkat anak kucing, lalu membawanya jalan menuju pintu keluar.
"Damian! Lepas! Malu dilihat orang!" protes Ziva sambil meronta-ronta kecil.
"Tadi kamu minta aku buat nggak jadi robot, kan? Ya sudah, robot nggak akan maksa kamu pulang. Tapi manusia normal yang punya jam tidur teratur bakal seret kamu ke mobil sekarang juga," ucap Damian dingin tapi tangannya tetap menggandeng tangan Ziva supaya tidak kabur.
"Kamu tuh ya, benar-benar nggak ada romantis-romantisnya!" gerutu Ziva saat mereka masuk ke dalam lift VIP.
Damian berdiri di sampingnya, menatap pantulan mereka di dinding lift yang mengkilap.
"Romantis itu nggak bikin kenyang, Ziva. Yang penting itu kejelasan. Dan tadi di depan kakakmu, aku sudah cukup jelas, kan?" jawab Damian, datar.
"Ya... lumayan sih, tapi tetap saja, kamu berutang penjelasan soal cium kening tadi," jawab Ziva, bergumam lirih.
"Itu bunga investasi, ayo jalan, jangan sampai aku harus menggendong mu ke mobil," ucap Damian saat pintu lift terbuka
"Coba saja kalau berani! Aku teriak penculikan ya!" ancam Ziva, padahal dalam hati dia sudah cenat-cenut nggak karuan.
pgn bgt jd ziva,d cntai tlus sm dami..plus cnta dr kluarganya jg...
playboy udh saatnya tobat..biar dia tau gmna rsanya brjuang mngejar prmpuan yg ga mmpan sm psonanya...smnggttt......😘😘😘
OMG bisa nahan rasa selama itu....
its true love ❤️❤️❤️
OMG bisa nahan rasa selama itu....
its true love ❤️❤️❤️
biasanya kn bnyk drama,trs acuh....
Laahh....ni mlah mkin hri mkin bucin....
tar kl ziva hmil,psti anknya jd rival....🤣🤣🤣
sweet banget sih.....
curiga nih... keknya kak oThor orangnya jg romantis nih..... cieeeee
maniss bgt loh, sll bikin baper🥰🥰🥰