🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 | Panggung Dunia, Musuh Dunia
...----------------🍁----------------🍁----------------...
Lampu kilat kamera di red carpet Dolby Theatre, Los Angeles, terasa seperti rentetan tembakan artileri yang mencoba membutakan ku. Aku menarik napas dalam, membiarkan gaun sutra haute couture berwarna perak metálik yang dirancang khusus oleh perancang terbaik Paris memeluk tubuh ku dengan sempurna. Di dada ku, bros Mata Naga bertahtakan rubi merah, simbol Samantha Holdings, berkilau menantang matahari California yang mulai tenggelam.
"Ini dia, Wei," gumam ku, bibir ku mempertahankan senyum porselen yang sudah ku latih ribuan kali di depan cermin. "Kau bukan lagi sekadar idola nasional Tiongkok. Malam ini, kau adalah duta dari penguasa baru. Kau adalah wajah dari kekuatan yang sedang menelan ekonomi dunia. Jangan biarkan mereka melihat gemetar di jemari mu."
Di samping ku, para jurnalis Hollywood berteriak histeris, menyodorkan mikrofon seolah-olah mereka sedang mencoba meraih potongan daging dari predator.
"Zhao Wei! Benarkah Samantha Holdings mendanai film ini hanya untuk mencuci citra Satya Samantha di Barat?"
"Nona Zhao, bagaimana perasaan Anda menjadi orang paling berharga bagi pria paling misterius di Asia?"
Aku berhenti sejenak, memutar tubuh ku dengan keanggunan yang dramatis, membiarkan para fotografer mendapatkan sudut terbaik mereka. Aku mendekat ke salah satu mikrofon dengan tatapan yang tajam namun memikat.
"Tuan Satya tidak butuh mencuci citra," suara ku terdengar merdu namun dingin, persis seperti yang dia ajarkan pada ku. "Dia hanya sedang menunjukkan pada dunia bahwa masa depan tidak lagi diproduksi di Silicon Valley, melainkan di dalam visi Samantha Holdings. Dan film ini? Ini hanyalah pembuka dari simfoni yang akan kami mainkan secara global."
Aku melangkah masuk ke dalam lobi teater yang megah, meninggalkan keriuhan di luar. Namun, di balik senyum ku, hati ku berdenyut kencang. Satya tidak ada di sini. Dia sedang berada di New York, bertarung di medan perang yang tidak bisa aku lihat. Dia menjanjikan keselamatan pada ku, namun di kota yang penuh dengan bayang-bayang ini, aku merasa telanjang tanpa kehadiran nya.
Pemutaran perdana film The Rise of the Dragon dimulai. Aula teater penuh sesak dengan elit Hollywood, politisi, dan taipan bisnis. Namun, saat adegan puncak di mana karakter ku berdiri di puncak gedung pencakar langit Shanghai muncul di layar, sesuatu yang salah terjadi.
Audio film mendadak berubah menjadi dengung statis yang menyakitkan telinga. Layar raksasa itu bergetar, lalu gambar film menghilang, digantikan oleh simbol yang membuat bulu kuduk ku berdiri: mahkota berduri yang terbungkus ular. The Sovereign.
"Apa ini bagian dari pertunjukan?" bisik seorang aktor di samping ku.
Tiba-tiba, ledakan keras menghantam pintu utama teater. Asap tebal berwarna abu-abu mulai memenuhi ruangan. Teriakan histeris pecah seketika. Dari balkon atas, sepuluh pria berpakaian taktis hitam meluncur turun menggunakan tali rappel, menenteng senapan mesin pendek.
"JANGAN ADA YANG BERGERAK!" teriak salah satu dari mereka melalui pengeras suara. "Kami adalah The Arbiters! Kami di sini untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kami!"
Dunia ku runtuh. Aku terjepit di antara kursi-kursi mewah, sementara orang-orang di sekitar ku mulai merangkak ketakutan. Pemimpin teroris itu berjalan ke tengah panggung, mata nya menyapu kerumunan hingga ia berhenti tepat pada arah ku.
"Nona Zhao Wei," suara nya terdengar seperti gesekan pisau pada kaca. "Pialang cantik milik Tuan Samantha. Kau akan menjadi pesan yang sempurna untuk orang itu."
Dia melangkah maju, tangannya yang bersarung tangan hitam merenggut lengan ku, menarik ku berdiri ke atas panggung di bawah sorotan lampu sorot yang kini berwarna merah darah.
"Satya... tolong aku," batin gila di dalam kepala ku terus memanggil nama nya. "Kau bilang kau bisa melihat masa depan. Apakah kau melihat ini? Apakah kau melihat ku mati di sini?"
"Lepaskan dia."
Suara itu tidak datang dari dalam gedung. Suara itu bergema dari sistem audio teater, jernih, berat, dan mengandung otoritas yang mampu menghentikan detak jantung.
Layar raksasa di belakang ku kembali menyala. Namun kali ini, tidak ada simbol The Sovereign. Yang ada hanyalah wajah seorang pria yang duduk di dalam sebuah jet pribadi, menatap kamera dengan mata yang bersinar merah-emas. Satya.
"Satya!" teriak ku, air mata mulai mengalir menghancurkan riasan wajah ku.
"Tuan Samantha," pemimpin teroris itu tertawa, menodongkan moncong senjata nya ke pelipis ku. "Kau terlambat. Kau berada di ribuan mil jauh nya. Apa kau akan mengirimkan saham mu untuk menyelamatkan nya?"
"Aku tidak butuh berada di sana untuk menghancurkan mu," jawab Satya di layar. Pola emas di mata nya mulai berputar dengan kecepatan yang menakutkan. "Aku sudah memetakan setiap probabilitas dalam ruangan itu sejak kau melangkah masuk. Kau pikir kau sedang menyandera Zhao Wei? Tidak. Kau sedang masuk ke dalam sangkar yang aku bangun."
"Bicara omong kosong!" Teroris itu menarik pelatuk nya.
KLIK.
Senjata itu macet. Dia mencoba lagi. KLIK. Semua senjata teroris di dalam ruangan itu mendadak mengalami kegagalan mekanis secara bersamaan.
"Bagaimana mungkin?!"
"Dalam dunia yang ku pimpin, probabilitas adalah pelayan ku," suara Satya mendingin. "Aku baru saja mengubah konstanta gesekan pada pin pemicu senjata kalian. Kalian tidak lagi memegang senjata, kalian hanya memegang potongan besi yang tidak berguna."
Tiba-tiba, lampu-lampu di dalam teater mulai berkedip dalam pola yang aneh. Beberapa penonton mulai berteriak saat melihat bayangan Satya seolah-olah keluar dari layar, mewujud dalam bentuk cahaya holografik padat di tengah panggung.
Satya (atau proyeksi energinya) berdiri di depan ku. Dia tampak megah, dikelilingi oleh aura emas yang menyilaukan. Dia mengulurkan tangan nya, dan setiap teroris yang mencoba mendekat terpental oleh gelombang tekanan udara yang dahsyat.
"Wei," bisik nya, suara nya kini terdengar tepat di telinga ku, bukan lagi lewat speaker. "Tutup mata mu. Masa depan ini sedikit terlalu kasar untuk kau lihat."
Aku memejamkan mata. Yang ku dengar hanyalah suara tulang yang patah, dentuman energi, dan jeritan para pria yang tadi merasa begitu berkuasa. Aku merasakan hawa panas yang luar biasa, diikuti oleh keheningan yang mendadak.
Saat aku membuka mata, ruangan itu sunyi. Para teroris itu tergeletak tidak berdaya, terbungkus oleh kabel-kabel lampu yang melilit mereka seolah-olah memiliki nyawa sendiri. Penonton di bawah menatap ke panggung dengan wajah yang dipenuhi kengerian dan pemujaan yang sama besar nya.
Proyeksi Satya menatap ke arah kamera jurnalis yang masih menyala, yang kini sedang menyiarkan kejadian ini secara langsung ke seluruh dunia.
"Dunia," kata Satya, mata nya yang merah-emas seolah menembus lensa kamera, menatap setiap penonton di rumah. "The Sovereign mengira mereka bisa bersembunyi di balik kekacauan. Mereka pikir mereka bisa menyentuh apa yang ku miliki tanpa konsekuensi. Hari ini, Los Angeles menjadi saksi. Aku bukan lagi sekadar pengusaha. Aku adalah batas antara ketertiban dan kehancuran kalian. Jika kalian mencari perlindungan, datanglah pada Samantha Holdings. Jika kalian mencari perang, kalian sudah menemukan nya."
Proyeksi itu perlahan menghilang. Teater itu meledak dalam sorak-sorai yang histeris, sebuah campuran antara rasa syukur dan ketakutan massal. Aku jatuh terduduk di atas panggung, tubuhku gemetar hebat.
Satu jam kemudian, di dalam ruang ganti yang dijaga ketat oleh tim keamanan Satya yang baru tiba, aku duduk sendirian. Pintu terbuka, dan kali ini, itu bukan proyeksi. Itu adalah Satya yang sebenarnya, masih mengenakan jas yang sama, namun wajah nya tampak sedikit pucat.
Aku berlari dan menabrakkan diri ku ke dalam pelukan nya. "Kau datang... kau benar-benar datang."
Satya memeluk ku, tangan nya yang kuat mengusap punggung ku. "Aku tidak akan membiarkan mawar tercantik ku dihancurkan oleh tangan kotor mereka, Wei."
Aku mendongak, menatap mata nya yang kini sudah kembali normal, namun sisa-sisa pola emas masih terlihat di kedalaman nya. "Kau baru saja melakukan nya di depan seluruh dunia, Satya. Kau menunjukkan kekuatan mu. Sekarang mereka semua tahu kau bukan manusia biasa."
"Bagus," jawab nya pendek. "Ketakutan adalah mata uang yang lebih stabil daripada Dollar. Dengan menunjukkan sebagian kecil dari apa yang bisa ku lakukan, aku baru saja memenangkan perang psikologis melawan The Sovereign di tanah mereka sendiri."
Dia melepaskan pelukan nya dan berjalan menuju jendela, menatap lampu-lampu Los Angeles yang berkilauan. "Mulai besok, bursa saham Amerika akan meroket untuk Samantha Holdings, bukan karena keuntungan kita, tapi karena mereka terlalu takut untuk bertaruh melawan dewa yang bisa memacetkan senjata dari benua lain."
"Dia menggunakan ketakutan ku," gumam ku sambil memperhatikan punggung nya yang kokoh. "Dia menggunakan nyawa ku sebagai panggung untuk menunjukkan kekuasaan nya. Dia menyelamatkan ku, ya... tapi di saat yang sama, dia baru saja menjadikan aku umpan permanen dalam permainan nya."
Aku mendekati nya, menyandarkan kepala ku di bahu nya. "Apakah ini harga yang harus ku bayar untuk tetap berada di samping mu? Menjadi target bagi seluruh dunia?"
Satya menoleh, mencium kening ku dengan kelembutan yang terasa seperti es. "Dunia adalah panggung mu, Wei. Dan aku adalah sutradara nya. Selama kau mengikuti naskah ku, tak seorang pun akan bisa menyentuh mu lagi."
Di luar sana, sirine polisi dan helikopter berita memenuhi udara. Zhao Wei, sang artis internasional, baru saja mati malam ini. Yang lahir adalah Zhao Wei, sang permaisuri bayangan dari kekaisaran Satya Samantha. Dan saat aku menatap pantulan kami di jendela, aku menyadari bahwa di mata dunia, kami bukan lagi manusia. Kami adalah mitos yang sedang menulis sejarah dengan tinta emas dan darah.
"Selamat datang di panggung dunia, Wei," suara aneh di dalam diri Satya seolah berbisik di kepala ku. "Dan selamat datang di antara musuh-musuh dunia."
...----------------🍁----------------🍁----------------...
inspirasi yeee