"Meiji....!" Teriaknya memeluk jenazah putranya.
Pada akhir hidupnya Lily menyadari, semua orang yang ada di sekitarnya adalah pengkhianat. Cinta mereka palsu!
Berakhir dengan kematian tragis.
Karena itu kala mengulangi waktu, dendam seorang ibu yang kehilangan putranya, membuatnya tertawa arogan dan berucap...
"Bukan kamu, tapi aku yang membuangmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Dua
Kawin lari? Hanya itu ide yang tercetus di otaknya. Bagaimana caranya menghentikan pernikahan yang akan terjadi dalam 3 hari jika tidak kawin lari.
Tapi Neiji malah tertawa kecil, kemudian memeluknya."Jika melarikan diri apa yang akan didapat? Kita memiliki perkejaan tetap disini, sebuah kehidupan yang terjamin. Melarikan diri itu artinya mencari pekerjaan baru di lingkungan baru. Jaminan sosial bagi anak kita nanti juga akan sulit. Aku tidak akan membawamu hidup susah."
Untuk pertama kalinya ada pemuda yang mau berkata melindunginya. Sebelum waktu terulang saat semua orang menjauhinya, memang hanya Neiji yang mendekat, hanya mengatakan untuk bercerai dengan Dilan. Kemudian menikah dengannya dirinya akan bertanggung jawab.
Tapi kalimat sungguh-sungguh itu diabaikan olehnya karena bisikan Rini. Karena bujukan Dilan yang masih menginginkan dukungan kakeknya. Karena dorongan Sari, untuk kepentingan perusahaan. Saat itu dirinya mengabaikan uluran tangan Neiji.
"Lalu bagaimana caranya? Aku tidak ingin menikah dengan Dilan." Ucap Lily terus terang.
"Lakukan fitting gaun pengantin seperti biasanya, pilih cincin. Lakukan semua persiapan, karena aku juga yang akan mengatur masalah teknis nanti." Neiji menyakinkan.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku---" Kalimat Lily terhenti kala Neiji berbisik padanya. Perlahan wajah Lily tersenyum, membatalkan perjodohan dalam tiga hari bukan hal yang tidak mungkin. Jika semuanya dilakukan pada hari H. Maka tidak ada cara lain, selain mencari pengantin pengganti.
Tidak diduga, Neiji memiliki teknik ini. Apa dia keturunan penjajah? Politik Devide et Ampera (politik adu domba). Pria ini benar-benar menyembunyikan banyak sisi salam dirinya.
"Kenakan pakaianmu!" Perintah Lily. Mengingat pemuda ini hanya menggunakan jubah mandi. Fokusnya teralih dengan cepat.
Neiji menghela napas merapikan pakaiannya."Sudah! Sekarang percaya padaku?" Tanyanya membawa Lily ke dalam pangkuannya. Menyenangkan untuk memeluknya, menyenangkan untuk memilikinya. Satu-satunya wanita impian seorang Neiji.
"Percaya! Percaya! Aku percaya padamu. Biarkan aku turun!" Perintah Lily.
"Tidak mau..." Kalimat penuh senyuman dari Neiji mengecup pipinya berkali-kali. Sebuah kecupan yang pada akhirnya bermuara pada ciuman panas.
***
Perlahan dirinya membuka mata. Merasakan ada sesuatu yang memeluknya dari belakang. Sinar matahari belum terasa, matahari belum terbit sama sekali. Tapi benar-benar terasa dingin memang.
Menatap ke arah sampingnya. Tidak diduga dirinya berhasil naik ke atas ranjang Neiji dengan begitu mudah. Tapi hanya naik ke atas ranjang. Karena mereka sepakat tidak akan menyemai benih sebelum pernikahan.
Dalam artian semalam Neiji hanya tidur sembari memeluknya tidak melakukan apapun. Begitu tampan, keindahan mana yang engkau dustakan?
Mata pemuda itu juga perlahan terbuka, mengelus pucuk kepalanya."Mau berselingkuh?" tanyanya.
Dengan cepat wanita itu mengangguk.
"Hari ini kalian akan fitting gaun pengantin. Silvia akan ikut... begitu juga denganku. Dengan dalih agar kamu tidak melarikan diri." Bisik Neiji mengigit pelan telinga wanita ini.
"Boleh aku membawa Rini?" Tanyanya.
"Itu bagus... adikku akan sibuk dengan kedua selirnya. Hingga permaisurinya untukku." Gila! Pemuda ini memang pandai memainkan kata-kata.
Jujur saja, selama ini dirinya adalah tunangan tanpa status. Terikat untuk menjadi tunangan Dilan, tapi Dilan bahkan tidak menganggapnya sebagai kekasih apalagi tunangan. Terkadang ada hal yang diperjuangkan mati-matian, tapi hasilnya mengkhianatimu. Seperti perjuangannya pada Dilan sebelum waktu terulang.
Kini dirinya berhenti berjuang. Bukan karena kalah, tapi karena memang sesuatu itu tidak pantas untuk diperjuangkan.
"Ingat! Yang akan menikah kita...aku tidak ingin menikah dengan Dilan!" Tegasnya.
"Aku tau..." Bisik Neiji mengecup bibirnya. Bagaikan menemukan sesuatu yang disukainya. Pemuda ini sama sekali tidak bosan, bahkan dari yang awalnya sedikit kaku. Kini lebih halus dan menuntut membuatnya lebih nyaman.
***
Tapi.
Pagi ini memang fitting gaun pengantin. Bagaimana sebuah gaun hanya menyesuaikan ukuran saja sejatinya.
Seperti sudah diduga, Sari tidak peduli. Sedangkan Rini mengikutinya dengan senang hati. Silvia? Tentu saja, dimana ada Dilan, Silvia akan mengikuti.
"Aku yang duduk disini!" Tegas Silvia duduk di samping Dilan. Lebih tepatnya di kursi penumpang bagian belakang. Mengingat adanya supir di kursi kemudi.
Sedangkan kala akan memasuki kursi penumpang bagian depan di sebelah supir, Rini menyerobot duluan.
"Aku disini ya... Lily?" tanya Rini tersenyum mengejek.
Sudah diduga olehnya Rini tidak akan tahan berada di mobil yang berbeda dengan Dilan. Karena rasa cemburu tegangan tingginya.
Sejatinya Lily masa bodoh! Yang penting sampai. Itulah prinsipnya. Tapi karena mereka yang mau, bukankah ini salah satu kesempatan untuk bersama dengan mempelai pria yang sebenarnya?
"Lily...kamu boleh menumpang di mobilku." Tawaran Neiji tiba-tiba, tersenyum kaku seperti biasanya.
Sedangkan Dilan sendiri yang berucap."Pak! Kunci pintunya! Aku tidak ingin dia ikut-ikutan duduk di belakang satu bertiga. Aromanya seperti kambing." Sebuah kalimat hina disambut dengan tawa dari Silvia dan Rini.
Tapi ya sudahlah...
Dirinya tinggal menjadi penonton persaingan antara dua orang selir memperebutkan kasih sayang kaisar. Sementara dirinya berada dalam pelukan Neiji. Sungguh hidup ini indah.
Menerima jemari tangan Neiji. Melangkah seperti tuan putri yang bahagia. Apa ini rasanya jatuh cinta lagi? Pada akhirnya move on dan mendapatkan pangeran? Tidak! Ini malaikat yang nyemplung ke Empang.
Menaiki mobil seharga puluhan juta. Tidak mewah, yang penting tidak perlu saling bunuh dengan beberapa wanita.
Rini menatap ke arah Lily yang menumpang pada mobil Neiji. Bekas luka di wajahnya, ditambah kacamata tebalnya. Gila! Pada akhirnya Lily kena batunya."Memang orang jelek pantas dengan orang jelek... merusak pemandangan saja."
"Ya, hanya membuat sakit mata." Gumam Silvia melekat pada Dilan.
Antara Silvia dan Rini, keduanya cantik dan menarik. Dirinya pria tampan dan sempurna. Pantas mendapatkan yang terbaik, atau mendapatkan keduanya?
"Dilan...aku kangen kamu. Kita nanti menikah di Maldives ya?" Pinta Silvia.
"Ada ya wanita boros sepertimu." Celetuk Rini tiba-tiba penuh senyuman. Otaknya terasa panas melihat kedua orang ini terlalu mesra.
"Memangnya kenapa? Aku adalah kekasihnya minta apapun tentu saja boleh!" Tegas Silvia.
"Cinta itu tidak dinilai dari harta, tapi dari perasaan. Kalau kamu benar-benar mencintainya kamu akan menerima dia apa adanya. Bukan ada apanya..." Sindiran dari Rini.
"Halah! Munafik! Paling kalau kamu punya pacar kaya, kamu akan minta macam-macam. Dasar wanita gatal! Nempel ke pacar orang. Seperti orang hutan." Silvia ikut menyindir.
"Kalian jangan bertengkar---" Kalimat Dilan terhenti kala mereka saling menyindir lebih ekstrim lagi.
"Eh! Marmut! Bagian depanmu kecil! Tidak mungkin pria akan puas!" Celetuk Rini.
"Eh! Biji melon! Memang punyamu besar alami? Paling botox, ujung-ujungnya tidak bisa masuk kubur dengan damai. Jenazah nyemplung di adukan semen! Kuburan kejatuhan meteor." Silvia tidak mau kalah.
Sementara Dolan menutup kedua telinganya menggunakan tangan. Inilah resiko dari punya istri dua.
***
Di tempat lain... lebih tepatnya dalam mobil yang dikendarai Neiji. Mereka sedang berencana untuk...
dasar Lisa bikin geram aja, setelah semua terbongkar bahwa Neiji bukan anak kandung gmn ya
ervan ati2 mulutmu kelak bakal kena slepet kembaran istrimu....
tp masa sihhh si raja iblis g ngerasa tu muka jelek anakny
masa baktinya udah selesai saat kau melukai Lily
selamat menikmati hari hari sedih mu yaa
jadi bayangin lagi muka nelangsa nya
kasiaaan 😜🤣🤣
lepaskan lah...yg harus dilepaskan 😜🤣🤣