Dylan adalah seorang dokter bedah ilegal. Banyak orang di dunia bawah tanah mengandalkannya ketika ada anggota kelompok mereka yang terluka.
Masa kecilnya begitu kelam, seluruh harta kekayaan ibunya dijual oleh ayahnya untuk membangun sebuah perusahaan. Tapi ternyata, pengorbanan ibunya dibalas dengan pengkhianatan yang sangat menyakitkan.
Setelah ibunya meninggal, ayahnya terpaksa harus membuang Dylan, karena selingkuhannya tidak mau menerima kehadirannya.
Dylan berjanji, suatu hari nanti dia akan membalas perbuatan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Andaikan saja Bobby tahu bahwa saat ini putra kandungnya telah berada di kota yang sama. Dylan bersama orang tua angkatnya pindah rumah ke kota Jakarta saat dia memasuki usia remaja.
Saat ini pemuda berusia 26 tahun itu sedang menyetir truk menuju Barack Mal. Dia menghela napas dalam-dalam saat mengingat kembali kejadian menyakitkan yang pernah dia alami di masa lalu. Disaat dia yang masih kecil ditinggalkan oleh ayahnya.
Tak dapat dipungkiri, sampai kini dia masih sangat membenci ayah kandungnya itu. Meskipun selama ini dia selalu pura-pura ceria dan terlihat tegar, di dalam hatinya masih menyimpan luka yang cukup dalam.
Dia juga teringat dengan kenangan masa kecilnya saat dia diculik oleh tiga orang preman, disana dia bertemu dengan anak perempuan yang sangat cantik.
Dia rela terluka menahan seorang penculik, agar anak perempuan itu bisa melarikan diri. Sampai kini, dia tidak tahu bagaimana kabar anak perempuan itu. Dengan keterbatasan uang yang dia miliki, dia tidak akan mampu menyewa seorang detektif untuk mencarinya. Apalagi saat ini dia telah menjadi tulang punggung keluarga, yang memiliki hutang yang cukup besar.
"Bagaimana kabar gadis kecil itu sekarang? Aku harap dia selamat," gumam hatinya, penasaran.
Dylan pun tersenyum membayangkan jika gadis itu selamat, dia pasti akan tumbuh dewasa menjadi seorang gadis yang sangat cantik, ceria, dan lemah lembut.
Dylan segera menghentikan truk di basement Barack Mal. Dia bergegas turun dari kendaraannya sambil bersiul dengan santai.
Namun, dia tiba-tiba terdiam saat merasakan seolah-olah ada orang yang sedang mengawasinya.
Dylan pura-pura terlihat tenang, sambil melirik ke arah spion mobil yang ada disana. Dia sangat terkejut saat melihat ada enam orang gangster yang sedang berjalan ke arahnya.
Beberapa hari yang lalu, Dylan dipanggil ke markas kelompok gangster itu, karena ada salah satu anggotanya yang terluka.
Saat Dylan mengobatinya, dia merasa curiga saat mendengar tangisan anak-anak di ruang bawah tanah. Dia yakin anak-anak itu adalah korban penculikan.
Dylan pernah merasakan betapa ketakutannya saat menjadi korban penculikan. Karena itu, dia melaporkan mereka ke polisi, hingga akhirnya anak-anak itu bisa selamat.
Mungkin sebagian dari kelompok gangster itu ada yang berhasil melarikan diri. Kini mereka memiliki dendam padanya.
"Sial!" Dylan mengumpat.
Dylan tidak ingin membuat keributan di wilayah orang lain. Apalagi melawan enam orang rasanya sangat mustahil untuk menang. Dia tidak ingin mati muda, apalagi dalam keadaan perjaka.
Tak ada pilihan lain, Dylan memilih untuk melarikan diri. Dia segera masuk ke dalam lift.
Keenam gangster itu segera berlarian, "Berhenti kau dokter gadungan!"
Mereka memutuskan untuk mengejar Dylan menggunakan tangga darurat. Mereka terpaksa harus terlihat santai dengan mengenakan pakaian formal, agar tidak membuat orang-orang curiga bahwa mereka adalah gangster.
...****************...
"Nona, suasana mal ini sedang ramai. Apa kita akan melakukan audit hari ini?" tanya Asisten Fara yang sedang berjalan di belakang Bianca.
"Saya adalah orang yang tidak suka membuang-buang waktu. Kamu panggil saja semua staf yang bertanggung jawab di mal ini," jawab Bianca dengan tegas.
Asisten Fara mengangguk patuh. "Baik, Nona."
Bianca segera menghentikan langkahnya. Dia menatap dingin pada sang asisten. "Saya ke kamar mandi dulu. Lebih baik kamu segera suruh mereka untuk berkumpul di meeting room."
Asisten Fara menganggukkan kepala lagi. "Baik, Nona." Dia pun bergegas pergi untuk melaksanakan perintah dari sang nona muda.
...****************...
Tak ada satu orang pun yang tahu bahwa saat ini sedang ada aksi pengejaran antara Dylan dengan keenam gangster itu. Karena mereka terlihat pura-pura bersikap tenang, agar tidak menimbulkan kericuhan di dalam mal sana.
Dylan yang sedang berjalan cepat. Dia menyadari bahwa keenam gangster itu sedang mengikutinya dari kejauhan. Dia harus segera mencari tempat persembunyian.
Dylan semakin mempercepat langkahnya. Dia bergegas masuk ke dalam lift kembali, menuju lantai kelima.
Para gangster itu tak menyerah begitu saja, mereka segera masuk ke dalam lift yang lain.
Begitu Dylan keluar dari lift, dia melihat suasana disana sedikit sepi. Dia segera mencari tempat untuk bersembunyi.
Dylan sangat panik saat melihat pintu lift yang digunakan oleh para gangster itu terbuka. Tanpa berpikir panjang, dia asal masuk ke sebuah ruangan yang menurutnya aman. Ternyata ruangan itu adalah kamar mandi khusus direktur.
Rupanya di dalam kamar mandi tersebut ada Bianca. Begitu gadis itu membuka pintu dan hendak keluar, dia dikejutkan dengan seorang pria yang tiba-tiba menyerobot masuk ke dalam.
Dengan panik, pria itu langsung menutup pintu, membuat keduanya berada di dalam kamar mandi yang sama.
Bianca langsung memaki, "Apa yang kamu la... mmhh!"
Bianca berhenti bicara saat Dylan menutup mulutnya dengan tangan.
"Stttt! Aku bukan pria jahat. Aku sedang dikejar..."
Dylan berhenti bicara saat menyadari gadis yang ada dihadapannya itu sangat cantik, membuat matanya tak berkedip.
Gadis itu sungguh sangat cantik. Seperti bidadari.
ahh author nya pasti riset dl ini👍👍👍@DF_14 ᴶᵘʳᵃᵍᵃⁿ ᴱˢ ᴮᵃᵗᵘ good job thor👍
I know you gonna make it, Dy 👏...
Biancaaaa kasih reward special untuk Dylan yaakkk /Drool/....
Awass ditagih lho janjinya wkwkwkwk...
Selalu melarikan diri dari kenyataan dan lari dari tanggu gjawab 😡👊✊...
Mental pecundang telah mendarah daging ☹️....
Luar biasa, nasib baik masih menyertaimu Miler...
Biarkan yang berkompeten saja yang turun tangan menangani pasien....
Jangan berisik dan nyrimpeti...
Cukup diam, anteng, dan renungi kesalahan yang seringkali terjadi ketika menangani pasien..
Siap2 menerima konsekuensi..
Karena kecerobohan dan kelalaianmu...
Yang sudah berada di level yang sangat membahayakan pasien 😱😡...
Meski ada yang sedang meregang nyawa di depan mata /Panic/...
Lakukan sesuatu semaksimal mungkin papa, semampu yang Anda bisa..
Langkah awal ini akan sangat berarti sebagai salah satu dukungan moral untuk Dylan...
Percayalah papa itu akan menjadi hal luar biasa yang akan selalu diingat oleh Dylan sepanjang hidup..
Bobby sebentar lagi keangkuhanmu akan digantikan dengan penyesalan seumur hidupmu😩