Sebuah kisah cinta yang berakhir sia-sia, dimana ketulusan cinta Reina yang awalnya begitu penuh kebahagiaan bersama dengan Kevin yang diawali dari kisah LDR hingga pada tahun ketiga, tiba-tiba Kevin lost contact yang membuat Reina begitu kecewa dan sakit hati sehingga tak lagi bisa membuka hati untuk siapapun. Cinta Reina serasa habis dikisah cinta yang dia anggap akan berakhir bahagia. Apakah Reina bisa melupakan Kevin? Apakah Reina bisa membuka hati lagi? atau cintanya benar-benar habis dikisah 3 tahun yang sia-sia itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmawati18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bandara
Waktu menunjukkan pukul 05.00 pagi. Reina masih terlelap. Cahaya matahari pagi masuk menembus selah-selat tirai pagi itu. Cahaya matahari pagi yang menerpa wajah Reina dari balik tirai kamarnya membuatnya terbangun dari tidur lelapnya itu.
Tok tok
Suara ketukan pintu terdengar jelas.
"Masuk" ucap Reina.
Dea melangkah masuk ke kamar sahabatnya itu. Reina masih rebahan di kasur empuknya. Sementara Dea sudah berpakaian rapih dan siap untuk pergi.
"Ya ampun Reina, ayo cepetan siap-siap. Abang Bara dan yang lainnya sudah menunggu di meja makan" ucap Dea menghela nafas panjang melihat Reina yang begitu lamban.
Reina segera bergegas dari tempat tidur. Dea pun berjalan kembali ke ruang makan.
beberapa menit kemudian Reina telah siap dan turun untuk sarapan pagi bersama sebelum berangkat ke bandara.
"Udah kayak tuan putri aja loh" Ketus Bara.
"Kok sewot si Bang?" Pekik Reina dengan bibirnya yang sudah mengerucut dari tadi.
"Udah-udah, semuanya sudah ngumpul. Ayo kita sarapan sebelum berangkat. Nanti keburu Devan datang loh" ucap Seila sambil mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya.
UHUKkkkk
Mendengar Nama Devan disebut Reina langsung kesambet. "ternyata dia beneran ikut" Batin Reina.
"Eeee ,,,Kenapa Reina?" Tanya Wiwi sambil menuangkan air untuk Reina.
"Nggak kenapa-napa Wi" ucap Reina.
Mereka pun menikmati sarapan pagi terakhir di kediaman Bara. Entah kapan mereka bisa berkunjung lagi kesini.
"Oiya, kita ke bandara pake dua mobil, mobil aku dan mobil Devan. Sebentar lagi ia sampai kesini. Jadi ntar Reina dan teman-temannya naik di mobilnya Devan aja. Mama sama papa bareng aku" Ucap Bara yang sudah kenyang.
Sarapan pagi pun telah selesai, semua barang-barangnya juga sudah masuk ke dalam mobil. Tinggal menunggu kedatangan Devan untuk menjemput.
Akhirnya Devan pun telah sampai. Reina dan teman-temannya segerah masuk ke dalam mobil. Begitupun Seila dan Robi. Sebelum itu mereka tidak lupa untuk berpamitan terlebih dahulu kepada Bu Siti dan Pak Dani.
Mobil mereka pun sudah menuju bandara. Reina duduk di kursi depan dekat dengan Devan. Sementara itu Dea, Wiwi dan Lala duduk di kursi belakang. Mereka menikmati pemandangan disepanjang jalan. Tak ada pembicaraan antar Devan Reina. Mereka hanya duduk sembari memperhatikan jalan sekitar.
Reina merasa begitu canggung duduk di samping mantannya itu. "Harusnya yang duduk di samping aku itu Kevin. tapi kenapa sih Vin, kamu selalu saja sibuk" Batin Reina sambil memainkan jarinya.
Dari sejak pacaran sampai sekarang Devan selalu ada buat Reina. Berbeda dengan Kevin, ia selalu sibuk dengan urusan kantornya dan mengurus Yeni di rumah sakit. Sudah 2 Minggu Yeni belum sadar dari komanya.
sudah 2 tahun lebih mereka menjalin hubungan, namun akhir-akhir ini, Reina merasa kalau Kevin tidak seperti biasanya. Entah kapan lagi mereka bisa ketemu.
"Na, rencana kamu apa setelah lulus kuliah nanti?" tanya Devan memecah suasana.
"Ee_ee aku juga belum tau Van" Jawab Reina singkat.
Devan hanya mengangguk dan tetap melakukan mobilnya. Tatapan Reina tak pernah teralihkan dari ponsel yang di genggamannya itu. Seakan ia menunggu kabar dari seseorang.
"Kevin nggak ikut nganterin kamu, Na?" Tanya Devan lagi.
"Katanya dia masih ada urusan di kantor" ucap Reina.
Dea, Wiwi dan Lala hanya terdiam di belakang, tidak ad yang berani membuka suara. Ketiga sahabatnya itu paham betulan bagaimana Reina dan Devan dulu. Menurut mereka bertiga, Devan orangnya lebih perhatian dari pada Kevin. Akan tetapi tidak ad yang tahu, mungkin saja Kevin menunjukkan perhatiannya dengan cara yang berbeda.
_
_
_
Akhirnya mereka sudah tibah di Bandara. Jam keberangkatan mereka sebentar lagi. Suasana begitu sangat ramai.
"Bang, Kenapa kak Viona tidak ikut?" Tanya Reina
"Katanya dia ada banyak pasien di rumah sakit, makanya tidak bisa ikut nganterin kamu" jelas Bara.
Bara memperhatikan setiap gerak gerik Devan ketika berada bersama Reina. Devan kelihatan begitu sangat perhatian kepada adiknya itu.
"Van, Apa kamu punya pacar?" tanya Bara.
Devan tersenyum.
"Belum bang" jawabnya singkat sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Sayang banget Laki-laki setampan kamu nggak punya pacar. Apa kamu sibuk bekerja Sehingga tidak sempat untuk mencari pacar. Apa perlu aku carikan?" Ucap Bara asal.
"Nggak perlu bang, Devan sudah punya pilihan sendiri" jelas Devan. Tatapan matanya tertuju kepada Reina yang sedang berdiri bersama ketiga sahabatnya itu.
Bara hanya mengangguk mendengar penjelasan Devan. Namun ia paham dengan tatapan Devan ke Reina.
"Sepertinya Devan lebih perhatian kepada Reina dibanding Kevin, lihat saja disaat acara kemarin Kevin tidak hadir. Hari ini hari terakhir Reina disini pun ia tidak hadir" Batin Bara.
Jam keberangkatan mereka sudah tiba. Reina mengenakan ranselnya begitu pun ketiga sahabatnya itu. Ia berpamitan dengan Bara dan Devan.
"Bang, Reina dan teman-teman berangkat dulu. Van aku berangkat dulu" ucap Reina.
"Iya Hati-hati, jangan bandel. Jangan suka buat mama dan papa repot" Ucap Bara sambil mengelus acak rambut adiknya itu.
"Abangg,,, Rusak ini rambut Reina" Desis Reina merapikan rambutnya.
Seila dan Roby yang mendengar itu pun hanya tertawa.
"Reina, Hati-hati. Kabarin kalau mau wisuda ya" Ucap Devan melambaikan tangannya.
Mereka pun berjalan memasuki pintu keberangkatan. Bara dan Devan melihat dari kejauhan sambil melambaikan tangannya, hingga mereka pun hilang dari pandangannya.
"Makasih Bro, udah nganterin keluarga gue" Ucap Bara menepuk pundak Devan.
"Nggak usah sungkan sama aku bang" Devan tersenyum
Mereka pun menuju parkiran, dan kembali ke rumah masing-masing.
_
_
_
Dilain tempat, Yeni masih terbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit. Takur masih duduk di samping tempat tidur putrinya itu dengan wajah yang penuh harap menanti putrinya tersadar dari komanya
CEKLEKKK
Pintu ruangan terbuka. Kevin masuk dengan membawa makanan untuk Takut. Ia pasti belum makan karena menjaga Yeni sejak dari tadi pagi.
"Om makan dulu, biar Kevin yang jagain Yeni" Ucap Kevin dan menyodorkan tentengan makanan yang ia bawa.
Takur pun berdiri dan meraih makanan yang diberikan Kevin kepadanya.
"Om titip Yeni sebentar ya Kevin" Ucap Takur dan melangkah keluar untuk makan.
Kevin duduk di kursi dekat dengan Branker Yeni. Ia menatap Yeni dalam.
"Kasihan kamu Yen," Gumam Kevin.
Seketika air mata Yeni tiba-tiba keluar. Kevin yang melihat itu pun sontak berdiri.
"Yen, apa kamu dengar aku?, Yeni ayo sadar, ayahmu sangat merindukan mu" ucap Kevin, namun tak ada lagi respon dari Yeni.
CEKLEKK
Pintu ruangan pun kembali terbuka dengan keras, Kevin tiba-tiba kaget dengan suara itu, ia pun sontak berbalik melihat siapa yang tiba-tiba masuk dengan dorongan pintu yang begitu keras.