NovelToon NovelToon
Ayah Apa Salahku?

Ayah Apa Salahku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"

Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.

Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.

Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.

Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUMAH YANG KEMBALI PUNYA NYAWA

Hari Minggu pagi itu menjadi momen yang paling santai bagi keluarga Bagas. Tidak ada seragam satpam yang harus disetrika, dan tidak ada tumpukan buku pelajaran yang harus diperiksa Mbak Maya. Sinar matahari pagi masuk menembus jendela ruang tengah, menciptakan suasana hangat saat mereka semua berkumpul di atas karpet bulu yang baru saja dibeli Mbak Maya.

Kanaya diletakkan di tengah-tengah karpet. Di depannya, Mbah Uti sudah menyiapkan mainan kerincingan berwarna-warni untuk memancing bayi itu bergerak.

"Ayo sayang, sini... ambil mainannya," bujuk Mbah Uti sambil menggoyangkan kerincingan itu.

Bagas, Mbah Akung, bahkan Mbak Maya yang pura-pura sibuk membaca majalah di sofa, semuanya ikut memperhatikan dengan napas tertahan. Kanaya mulai mengangkat dadanya, tangannya yang gembul bertumpu kuat pada karpet. Kakinya mulai menendang-nendang dengan semangat.

"Lihat! Lihat! Dia mau merangkak!" seru Bagas bersemangat sambil berlutut di dekat putrinya.

Kanaya mengeluarkan suara "A-ba-ba-ba" yang lucu, wajahnya tampak sangat serius berkonsentrasi. Ia menggerakkan tangannya dengan kuat, namun bukannya maju mendekati mainan, tubuhnya justru terdorong ke belakang.

Sret... sret... sret...

"Loh, loh... kok mundur?" tawa Mbah Akung pecah melihat cucunya justru menjauh dari target.

Kanaya terus berusaha, tangannya mengayun dengan semangat tinggi, tapi tubuhnya justru makin "mundur teratur" hingga kepalanya hampir menyentuh kaki kursi Mbak Maya yang sedang duduk di sofa.

"Hahaha! Kanaya, itu mainannya di depan, kok kamu malah parkir mundur?" sahut Bagas sambil tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi bingung di wajah putrinya yang seolah bertanya-tanya kenapa mainannya malah makin menjauh.

Mbak Maya yang sedari tadi berusaha menahan senyum akhirnya tak kuat lagi. Ia menurunkan majalahnya dan tertawa kecil melihat tingkah lucu keponakannya. Ia turun dari sofa dan ikut berlutut di belakang Kanaya.

"Ini bapaknya dulu pasti begini juga, makanya anaknya jalannya mundur," sindir Maya sambil tertawa geli. Ia kemudian meletakkan tangannya di belakang telapak kaki Kanaya sebagai tumpuan. "Sini, Kanaya... bukan begitu. Pakai kaki ini buat dorong ke depan, jangan tangan saja yang kerja."

Melihat Mbak Maya ikut bermain di lantai, Bagas merasa hatinya sangat hangat. Kanaya yang merasa kakinya tertahan tangan tantenya, tiba-tiba mencoba mendorong lebih kuat. Tapi tetap saja, ia justru berputar di tempat seperti baling-baling sebelum akhirnya terduduk dan tertawa sendiri, memperlihatkan gusi tanpa giginya yang lucu.

"Aduh, pinter sekali keponakan Bude," ucap Maya tanpa sadar menyebut dirinya 'Bude'. Ia langsung menggendong Kanaya dan menciumi pipinya gemas. "Biarpun jalannya mundur, yang penting sehat ya sayang. Nanti kalau sudah bisa lari, gantian kamu yang kejar Bapakmu itu biar nggak malas kerja."

Tawa memenuhi ruang tengah hari itu. Momen sederhana namun sangat berharga bagi Bagas. Ia sadar, biarpun Kanaya merangkak mundur, hidup keluarganya justru sedang melangkah maju menuju kebahagiaan yang sesungguhnya.

Malam itu, setelah tawa karena tingkah lucu Kanaya mereda, suasana di ruang tengah mendadak berubah menjadi lebih khidmat. Kanaya sudah tertidur pulas di dalam ayunan kain, meninggalkan orang-orang dewasa dalam keheningan yang nyaman. Mbak Maya menatap lekat kedua orang tuanya, lalu beralih menatap Bagas yang sedang merapikan mainan di lantai.

Maya menarik napas panjang, raut wajahnya yang biasanya keras kini tampak lebih tenang dan dewasa. "Bapak, Ibu... Maya mau ngomong sesuatu," ucapnya pelan, membuat semua perhatian tertuju padanya.

"Maya tahu, selama ini mungkin orang bertanya-tanya kenapa Maya memilih untuk tetap sendiri, tidak menikah. Jujur, sejak awal Maya memang sudah niat mau menjaga Bapak dan Ibu sampai tua di rumah ini. Maya nggak mau meninggalkan rumah ini dalam keadaan sepi," ungkap Maya dengan suara yang sedikit bergetar.

Ia berhenti sejenak, matanya menatap lembut ke arah ayunan Kanaya. "Tapi sekarang ada Kanaya. Bagas, aku sudah pikirkan ini matang-matang. Nanti kalau anak itu sudah agak besar, biar Maya yang adopsi secara resmi. Biar statusnya jelas di atas kertas sebagai anakku."

Bagas tertegun, tangannya yang sedang memegang robot mainan terhenti di udara. Ia ingin memprotes, namun kata-kata Maya selanjutnya membuat hatinya luluh.

"Bukan karena aku mau merebut dia darimu, Gas," lanjut Maya seolah bisa membaca pikiran adiknya. "Tapi supaya dia bisa dapat fasilitas pendidikan yang paling layak. Dengan status sebagai anakku, dia bisa masuk ke sekolah-sekolah terbaik, urusan asuransi kesehatannya terjamin, dan masa depannya ada yang mengawal secara hukum. Kamu tetap ayahnya, itu nggak akan berubah. Tapi biarkan aku jadi 'benteng' hukumnya."

Ibu Bagas menyeka air matanya, terharu mendengar pengorbanan putri sulungnya yang begitu besar. Sementara Ayah Bagas mengangguk pelan, memahami bahwa ini adalah cara Maya menebus rasa bersalahnya atas sikap ketusnya selama ini, sekaligus cara dia memberikan kasih sayang yang paling konkret.

"Maya mau Kanaya punya masa depan yang pasti, nggak perlu ngerasain luntang-lantung lagi," tambah Maya lagi sambil menatap Bagas. "Gimana, Gas? Aku melakukan ini karena aku sayang sama anak itu, dan aku sayang sama kamu."

Bagas menunduk dalam, air matanya jatuh ke atas karpet. Ia menyadari bahwa kakaknya tidak hanya memberikan tumpangan hidup, tapi juga merelakan hidupnya sendiri demi keponakannya. "Terima kasih, Mbak. Aku nggak tahu harus bilang apa. Mbak benar-benar pengganti Ibu buat Kanaya."

Beberapa bulan berlalu, dan rumah itu kini dipenuhi dengan celoteh-celoteh kecil Kanaya yang mulai belajar mengenali suara. Setiap hari, saat Mbak Maya sedang mengajar di sekolah, Mbah Akung, Mbah Uti, dan Mbok Darmi seolah memiliki misi rahasia. Mereka ingin memberikan kejutan manis untuk Maya yang sudah begitu banyak berkorban.

"Ayo, Naya sayang... ikuti Mbok ya. Bu-de... Bu-de..." bisik Mbok Darmi sambil menyuapi Kanaya biskuit bayi.

Mbah Akung yang duduk di sampingnya ikut menimpali dengan semangat. "Iya, panggil Bude Maya. Bu-de..."

Kanaya hanya mengerjap-erjap, mulut mungilnya bergerak-gerak lucu mencoba meniru suara-suara di sekitarnya. Mereka semua berharap, saat Maya pulang sekolah nanti, Kanaya bisa menyambutnya dengan panggilan "Bude" yang jelas.

Sore harinya, saat pintu depan terbuka dan suara motor Mbak Maya terdengar berhenti di halaman, semua orang sudah bersiap di ruang tengah. Maya masuk dengan wajah yang tampak sangat lelah, rambutnya sedikit berantakan karena angin jalanan. Ia meletakkan tasnya dan langsung menghampiri Kanaya yang sedang duduk di karpet.

"Cucu cantik, lihat siapa yang datang? Ayo panggil," pancing Mbah Uti dengan wajah sumringah.

Mbak Maya berjongkok di depan Kanaya, mengelus pipinya lembut. "Capek banget hari ini, Naya..." gumamnya pelan.

Tiba-tiba, Kanaya meraih ujung jilbab Maya dengan tangan mungilnya. Ia menatap lekat mata tantenya itu, lalu dengan suara yang sangat jernih dan polos, ia berucap, "I-bu... Bu..."

Seketika, seluruh ruangan menjadi sunyi senyap. Mbok Darmi menutup mulutnya karena kaget, Mbah Uti dan Mbah Akung saling pandang dengan mata berkaca-kaca. Rencana mereka mengajarkan kata "Bude" gagal total karena insting kecil Kanaya berkata lain.

Mbak Maya membeku. Tubuhnya gemetar hebat. Kata "Ibu" yang keluar dari mulut Kanaya seolah meruntuhkan seluruh tembok pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia yang selama ini memilih tidak menikah, kini mendengar panggilan yang paling ia rindukan namun tidak pernah ia bayangkan akan dialamatkan kepadanya.

Tanpa berkata apa-apa, Maya langsung merengkuh Kanaya ke dalam pelukannya. Ia menangis sesenggukan di bahu kecil bayi itu. Tidak ada lagi Mbak Maya yang galak atau ketus. Yang ada hanyalah seorang wanita yang hatinya baru saja lahir kembali sebagai seorang ibu.

"Iya, Nak... ini Ibu," bisik Maya parau di sela tangisnya.

Bagas yang baru saja keluar dari kamar mandi dan menyaksikan kejadian itu hanya bisa berdiri mematung di ambang pintu. Ia tidak marah, justru ia merasa sangat bersyukur. Ia tahu, di tangan "Ibu" Maya, masa depan Kanaya bukan hanya akan aman, tapi juga penuh dengan cinta yang luar biasa besar.

Suasana haru yang baru saja menyelimuti ruangan itu mendadak berubah menjadi canggung sekaligus menggelitik saat Bagas melangkah mendekat. Bagas, dengan wajah yang masih basah sehabis wudhu dan senyum lebar yang tulus, berjongkok di samping kakaknya. Ia berniat ingin ikut merasakan kebahagiaan itu.

"Naya... ini Ayah, sayang. Coba panggil, A-yah," ucap Bagas lembut sambil mengulurkan tangannya, berharap ia juga akan mendapatkan kejutan yang sama manisnya.

Kanaya berhenti menangis, ia menatap wajah Bagas lekat-lekat. Matanya yang bulat berkedip pelan, lalu dengan polosnya ia menunjuk ke arah Bagas dan berucap pelan namun jelas, "Om... Om..."

Seketika, tawa Mbah Akung yang sedari tadi ditahan langsung meledak. Mbok Darmi sampai harus menutupi wajahnya dengan serbet saking tidak kuat menahan geli. Mbah Uti hanya bisa beristighfar sambil tertawa kecil melihat ekspresi Bagas yang langsung shock, wajahnya berubah dari sumringah menjadi melongo tidak percaya.

"Loh? Naya, ini Ayah! Masa dipanggil Om?" seru Bagas dengan nada protes yang lucu. "Mbak, ini pasti kerjaan Mbak ya? Ngajarin dia panggil aku Om?"

Mbak Maya, yang masih menyeka air mata sisa tangis harunya tadi, perlahan mulai tersenyum sinis—senyum khasnya yang galak tapi kini terlihat lebih jenaka. Ia memeluk Kanaya lebih erat, seolah menegaskan kepemilikannya.

"Makanya, kalau kerja jangan terlalu rajin sampai jarang main sama anak," sindir Maya sambil mengusap kepala Kanaya. "Anak kecil itu jujur, Gas. Dia tahu mana yang tiap hari telaten ganti popoknya, kasih makan, sama nyanyiin dia sampai tidur. Lagian, kamu pakai seragam satpam terus, mungkin dia pikir kamu itu Om penjaga komplek."

"Aduh, perih banget ini hati, Mbak," keluh Bagas sambil memegangi dadanya, pura-pura terluka. "Masa bapak kandung sendiri jadi 'Om'. Naya, Ayah ini yang jalan kaki lima belas kilo buat kamu, Nak!"

Mbah Akung menepuk bahu Bagas sambil terkekeh. "Sabar, Gas. Itu tandanya Kanaya sudah benar-benar merasa Maya itu ibunya. Lagipula, panggilan 'Om' itu mungkin karena dia sering dengar Mbok Darmi atau orang lewat panggil kamu 'Mas' atau 'Pak', jadi dia ambil tengahnya."

Meskipun hatinya sedikit "teriris" karena dipanggil Om oleh anak sendiri, Bagas tidak bisa menahan senyumnya saat melihat Kanaya tertawa senang di pelukan Maya. Baginya, dipanggil apa pun tidak masalah, asalkan ia bisa melihat kakaknya bahagia dan putrinya mendapatkan limpahan kasih sayang yang begitu besar dari seorang wanita yang kini dipanggilnya "Ibu".

Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa, ini adalah tahun kedua Kanaya tinggal di rumah kakek dan neneknya, sekaligus hari ulang tahunnya yang pertama sejak kepulangannya dari Tegal. Rumah yang dulunya kaku dan dingin itu kini berubah total menjadi penuh warna. Balon-balon berwarna merah muda menghiasi ruang tengah, dan sebuah spanduk bertuliskan "Selamat Ulang Tahun Kanaya" terpasang rapi—hasil kerja keras Mbak Maya yang begadang semalaman.

Bagas pulang lebih awal dari pabrik laundry. Ia membawa kado kecil: sepasang sepatu mungil hasil tabungannya dari uang lembur bulan ini. Namun, setibanya di rumah, ia kembali mendapati pemandangan yang membuatnya mengelus dada sekaligus tersenyum.

Kanaya sedang duduk di kursi tinggi, mengenakan gaun cantik yang dibelikan Mbak Maya. Di depannya ada kue ulang tahun besar. Saat Bagas mendekat untuk mencium keningnya, Kanaya justru menoleh ke arah Mbak Maya yang sedang sibuk menyalakan lilin.

"Bu... Bu... Mam!" celoteh Kanaya sambil menunjuk kue, meminta makan pada Maya.

Bagas berdehem keras, mencoba mencuri perhatian. "Naya, lihat ini Ayah bawa apa? Sepatu baru buat Naya. Panggil dulu... A-yah."

Kanaya menoleh sebentar ke arah Bagas, matanya berbinar melihat sepatu itu, tapi mulutnya tetap berucap, "Makasii... Om..."

Tawa Mbah Akung dan Mbah Uti kembali pecah di ruang tamu. "Sabar, Gas. Sudah setahun masih saja dipanggil Om," goda Mbah Akung sambil menikmati tehnya.

Mbak Maya mendekat, membawa piring kecil. Ia menatap Bagas dengan tatapan yang kini jauh lebih lembut, meski bicaranya masih sedikit ketus. "Sudah, jangan dipaksa. Yang penting dia tahu kamu itu orang yang selalu ada buat dia. Sini sepatunya, biar Ibu pakaikan ke anaknya."

Saat momen tiup lilin, suasana menjadi sangat haru. Mbak Maya memegang tangan Kanaya, sementara Bagas berdiri di samping mereka. Mbah Uti dan Mbah Akung berdiri di belakang, melengkapi potret keluarga yang sempat retak namun kini pulih lebih kuat dari sebelumnya.

"Bapak, Ibu, Mbak Maya," ucap Bagas di sela-sela acara makan kue. "Terima kasih sudah menjaga Kanaya sampai dia sebesar ini. Tanpa bantuan kalian, aku nggak tahu jadi apa Kanaya sekarang."

Mbak Maya menatap Kanaya yang sedang asyik memakan krim kue, lalu menatap Bagas. "Aku yang terima kasih, Gas. Lewat anak ini, aku jadi tahu rasanya jadi ibu. Rumah ini jadi punya nyawa lagi. Sekarang fokusmu tinggal satu: kerja yang bener, jangan pernah lari dari tanggung jawab lagi. Biar Kanaya bangga punya 'Om' sehebat kamu," godanya sambil tertawa kecil, yang diikuti tawa haru seisi rumah.

Hari itu, di ulang tahun pertamanya, Kanaya mungkin belum paham arti perjuangan ayahnya atau pengorbanan budenya. Namun, ia tumbuh di tengah cinta yang melimpah, di sebuah rumah di mana setiap sudutnya kini bercerita tentang pengampunan dan harapan baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!