Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.
Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.
Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.
Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.
Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.
Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 1
4 TAHUN YANG LALU
“BUUKK—BAAAKK—BUKKK!!”
“Aku akan membunuhmu!” Teriak Zavier kalap. “Dasar sialan! Anak haram! Kenapa kau selalu saja mendapatkan semuanya?! Aku anak sah Ketua! Aku pewarisnya!”
Tubuh Jay terjepit di bawah timbunan amarah kakaknya. Pukulan demi pukulan menghujani tubuhnya tanpa ampun. Tinju Zavier menghantam tulang rusuk, bahu, wajah, seakan ingin meluapkan seluruh kebencian yang ia pendam sejak lama.
Jay tidak melawan.
Jay hanya meringkuk, melindungi kepalanya dengan kedua tangan. Bibirnya terkunci rapat. Tak ada teriakan. Tak ada permohonan ampun. Bahkan desahan kesakitan pun tak terdengar.
Sejak kecil, Jay memang sudah terbiasa di perlakukan seperti itu oleh kakaknya.
Zavier begitu membenci Jay, bukan karena tanpa alasan. Tatapan Jay sejak awal mirip sekali dengan sang ayah, seolah benar-benar mewarisi karakter ayahnya. Sifat, dan perilaku Jay yang tenang namun dingin, membuat Zavier iri, mengapa Jay bisa menjadi seperti sosok yang ayah.
Sejak hari Jay dibawa pulang oleh Jackman Van O’Connor, hari-hari Jay penuh dengan penyiksaan oleh sang kakak.
Ayahnya yang memberikan nama pada Jay, namun tak pernah benar-benar memberinya rumah, hidup Jay dipenuhi jarak dan batas.
Helena, ibu tirinya, memperlakukannya dengan sopan, bahkan baik. Tapi Jay tahu, kebaikan itu bukan kehangatan. Ada tembok tak kasatmata yang tak pernah runtuh di antara mereka.
Jay tahu dirinya bukan anak kandung Helena. Jay juga paham bahwa kehadirannya tidak pernah di harapkan oleh siapapun terlebih anak pertama Jackman. Maka dari itu Jay harus tahu diri.
Dan Zavier. Anak pertama Jackman. Anak sah. Pewaris yang merasa tahtanya ternodai hanya karena keberadaan Jay selalu membuat masalah untuk menunjukkan pada Jay betapa bencinya dia akan kedatangan Jay.
Kepala bocor, tulang retak, kaki patah, semua itu bukan hal baru bagi Jay. Luka-luka itu sudah menjadi bahasa sehari-hari yang digunakan Zavier untuk menegaskan posisinya.
Namun ada satu hal yang selalu membuat Zavier semakin gila.
Tatapan Jay.
Tatapan dingin, hening, kosong, seolah semua siksaan itu tak berarti apa-apa. Seolah setiap pukulan hanya memantul kembali ke kehampaan.
Semua itu jelas menyulut emosi Zavier yang kali ini benar-benar murka, dan selama bertahun-tahun ia menyiksa Jay, adik tirinya itu tetap memilih diam.
Tak ada jerit. Tak ada permohonan. Hanya tatapan dingin yang menancap lurus ke arah Zavier.
Tatapan mata Jay seolah berkata bahwa semua kekerasan itu tidak pernah berarti apa-apa. Bahwa pukulan, patah tulang, darah, bahkan kaki dan tangan yang Zavier hancurkan, semuanya sia-sia.
Diam Jay adalah penyangkalan. Dan tatapannya adalah penghinaan yang paling kejam bagi Zavier.
Mulut Jay tetap membisu.
Diamnya bukan karena takut, melainkan karena ia telah terlalu lama belajar bahwa setiap kata hanya akan memuaskan kebencian Zavier.
Dan itu adalah satu-satunya hal yang tak akan pernah ia berikan.
Dan di hari usia Jay sudah menginjak 24 tahun, sang kakak, Zavier masih melampiaskan amarahnya seperti bocah kekanakan, Jay yang tetap diam selama 24 tahun. Sampai akhirnya, Jay bangkit.
Gerakannya cepat. Presisi. Tubuh Zavier terpelanting ke samping sebelum sempat menyadari apa yang terjadi. Jay meraih sebuah batu besar di tanah, jari-jarinya mencengkeram erat.
Batu itu terangkat tinggi di atas kepalanya.
Untuk sesaat, waktu seperti membeku.
Zavier membeku di tanah, matanya membelalak. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang asing di wajah adiknya, bukan ketakutan, bukan kepasrahan. Ekspresi yang siap membunuh tanpa rasa berdosa atau perasaaan kasihan.
Adik tirinya yang selama ini diam, kini bereaksi tanpa ekspresi dengan mengangkat batu besar di atas kepalanya. Namun tangan Jay berhenti di udara.
Zavier mendadak takut dengan wajah itu. Mengingatkannya pada wajah Ketua, Jackman.
Pengawal berhamburan datang, menarik keduanya menjauh sebelum sesuatu yang tak bisa ditarik kembali, terjadi.
Zavier sudah merasa ketakutan, melihat Jay yang tidak pernah membalas sekarang tiba-tiba adik nya mengangkat batu sebesar kepalanya di atas kepala sang adik.
Untung saja para pengawal datang tepat waktu dan langsung memisahkan mereka berdua.
“Kalian sudah sebesar ini masih saja bersikap kekanakan.” Suara itu datang dengan langkah tenang namun berwibawa.
Helena berdiri di sana, tangan berkacak pinggang, sorot matanya tajam dan dingin.
“Nyonya, maafkan saya. Saya gagal menjaga Tuan Muda pertama dan kedua.” Ujar salah satu pengawal menunduk.
“Syukurlah kalau kau tahu diri.” Jawab Helena singkat.
Helena menatap kedua putranya bergantian.
“Hentikan semua ini. Kalian bukan anak 7 tahun yang setiap bertemu harus saling melukai. Jika ayah kalian datang dan melihat ini, dia akan membunuh kalian di tempat.”
Nada suara Helena datar. Tanpa emosi.
“Bersihkan diri kalian. Sebentar lagi ayah kalian akan tiba.” Helena berbalik pergi.
Melihat kedua putra itu sudah semakin menurunkan emosi, Helena berlenggang pergi.
Meski usia Helena sudah 45 tahun, namun wanita elegan itu tidak sedikitpun menunjukkan tanda-tanda guratan penuaan. Justru tubuh rampingnya yang di balut dengan gaun sutra yang mewah memperlihatkan betapa uang yang dia miliki mampu membuatnya tetap awet muda dan masih sangat memikat bagi kaum laki-laki, dan semua yang melekat pada tubuh Helena memancarkan kemewahan serta kekuasaan, uang memang sangat menghentikan penuaan.
Suaranya kembali terdengar, tanpa menoleh.
“Jay, usiamu 24 tahun. Seharusnya kau fokus belajar memimpin anak perusahaan. Apa kau tidak takut saat ayahmu datang hari ini dan menilai kemampuanmu?”
Lalu pada Zavier, lebih dingin dari sebelumnya.
“Dan kau, sudah 26 tahun. Ibu sudah muak menutup semua kelakuanmu pada adikmu. Jika hari ini ayahmu tahu apa yang kau lakukan, ibu tak akan, dan tak bisa, melindungimu lagi.”
Jay melepaskan batu itu. Benda keras itu jatuh ke rumput dengan suara tumpul. Jay berdiri, lalu melangkah terpincang-pincang, meninggalkan Zavier tanpa sepatah kata pun.
Tubuh Jay babak belur, lebam lama belum sembuh, datang lebam baru. Darah, memar, dan retakan tulang, semuanya ia bawa pergi dalam diam.
Sementara Zavier tetap tertinggal, napasnya berat, dadanya penuh amarah yang belum padam.
Dendamnya pada Jay semakin membusuk.
Terlebih setelah ia tahu satu hal yang tak bisa ia terima. Jackman Van O’Connor telah menyerahkan anak perusahaan kepada anak haram itu.Anak perusahaan yang sangat Zavier inginkan.
Zavier menatap punggung Jay yang berjalan terpincang menjauh.
“Dia hanya anak haram.” Batin Zavier berdesis.
“Tidak pantas menyentuh apa pun yang seharusnya menjadi milikku. Dia tidak pantas menerimanya.”
Rahang Zavier mengeras, kebencian mengental di dadanya.
“Semua itu seharusnya milikku.” Tangannya mengepal.”
“Akan kurampas satu per satu miliknya dan pada akhirnya, akan kubunuh dia.”
Bersambung
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....
awas ya zavier jgn jtuh cnta am anna klo kmi udh liat dia
udh masuk part dar der dorrr