"Mencintai bukan hanya soal memiliki, tapi soal memastikan duniamu tetap berputar saat kamu tak lagi ada di sana."
Canida punya segalanya: karir cemerlang sebagai penulis best-seller, suami suportif seperti Alfandy, dan dua anak yang menjadi pusat semestanya. Namun, sebuah amplop putih mengubah hidupnya menjadi nightmare dalam semalam. Vonis kanker serviks stadium lanjut datang tanpa permintaan maaf, merenggut semua rencana masa depannya.
Di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya, Nida tidak takut mati. Ia hanya takut akan satu hal: Kekosongan. Ia takut anak-anaknya kehilangan arah, dan suaminya kehilangan pegangan akidah.
Maka, Nida mengambil keputusan paling gila dan paling menyakitkan yang pernah dipikirkan seorang istri: Mencarikan calon istri untuk suaminya sendiri.
Di satu sisi, ada Anita, ipar ambisius dan manipulatif siap mengambil alih posisinya demi harta. Di sisi lain, ada Hana, wanita tulus yang Nida harap bisa jadi "pelindung surga" bagi keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Retakan di Dinding Karang
Setelah malam yang mencekam di Pelabuhan Sunda Kelapa, kediaman Fandy seharusnya kembali menjadi pelabuhan ketenangan. Namun, kata-kata Zaky tentang "pihak ketiga" terus berdenging di telinga Hana seperti nyanyian kematian yang belum usai. Syabila mulai pulih, namun ia menjadi lebih waspada dan sering termenung melihat ke arah kamarnya yang lama. Sementara itu, Fandy mulai melakukan audit total terhadap seluruh saham perusahaannya, mencoba mencari tahu siapa yang memberikan suntikan dana raksasa kepada Anita.
Di sudut lain rumah, Mama Rosa tampak semakin aneh. Jika sebelumnya ia tampak linglung akibat obat-obatan Anita, kini ia tampak terlalu tenang—ketenangan yang justru terasa mencekam. Ia sering terlihat duduk di ruang kerja lamanya, memandangi sebuah kotak kayu terkunci yang tidak pernah boleh disentuh oleh siapa pun.
"Ma, apa Mama merasa lebih baik hari ini?" tanya Hana sambil membawakan teh herbal ke kamar Mama Rosa.
Mama Rosa menatap Hana dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilat penyesalan, namun ada juga sesuatu yang menyerupai kebencian yang ditekan. "Hana, kamu tahu? Terkadang rahasia itu seperti kanker yang diidap mendiang Nida. Ia tumbuh diam-diam, merusak tanpa suara, dan saat kita sadar, semuanya sudah terlambat untuk diselamatkan."
Hana tertegun. "Apa maksud Mama?"
Mama Rosa hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Hanya pikiran orang tua yang hampir pikun, Sayang. Sudahlah, taruh tehnya di sana."
Malam itu, Zaky datang ke rumah dengan membawa hasil analisis forensik digital terbaru. Mereka berkumpul di ruang kerja Fandy yang tertutup rapat. Syabila ikut bergabung, karena ia kini merasa punya hak untuk tahu siapa yang mencoba menghancurkan hidupnya.
"Aku sudah melacak aliran dana *Miller Capital* milik Anita," ujar Zaky sambil membuka laptopnya. "Sebagian besar dana itu tidak datang dari luar negeri, Mas Fandy. Dana itu datang dari sebuah yayasan lokal yang bernama *Artha Mulia*."
Fandy mengernyit. "Yayasan Artha Mulia? Itu... itu yayasan keluarga kita yang dikelola oleh Mama Rosa sejak Ayah meninggal."
Suasana ruangan mendadak menjadi sangat dingin. Hana merasa jantungnya seperti berhenti berdetak. "Maksudmu, Zaky... Mama Rosa yang mendanai Anita untuk menghancurkan kita sendiri?"
"Secara teknis, iya," jawab Zaky berat. "Tapi ada yang lebih aneh. Ada satu nama yang terus muncul sebagai 'Konsultan Strategis' di yayasan itu selama sepuluh tahun terakhir. Namanya adalah **Hendrawan**. Mas Fandy, apakah nama itu terdengar akrab?"
Fandy bangkit dari kursinya dengan wajah yang mendadak sangat pucat. "Hendrawan... dia adalah adik kandung Ayah. Paman yang diasingkan dari keluarga karena kasus penggelapan dana puluhan tahun lalu. Aku pikir dia sudah meninggal di pengasingan."
"Dia masih hidup," sela Syabila, suaranya bergetar. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto yang ia ambil secara diam-diam tadi sore. "Tadi sore, saat Ayah dan Ibu Hana tidak ada, aku melihat orang ini masuk melalui pintu belakang dan berbicara sangat lama dengan Nenek Rosa di taman. Nenek memberikan kotak kayu kecil yang selalu ia jaga itu kepada pria ini."
Fandy menatap foto itu. Pria di foto itu tampak tua namun tetap memiliki aura kekuasaan yang sama dengan ayahnya. Ini adalah ancaman yang jauh lebih besar dari Anita. Jika Anita adalah badai, maka Hendrawan adalah gempa yang bisa meruntuhkan seluruh silsilah keluarga mereka.
"Jadi... selama ini Mama Rosa berkomplot dengan Hendrawan?" tanya Hana dengan suara parau. "Tapi kenapa? Kenapa Mama ingin menghancurkan Fandy, anak kandungnya sendiri?"
"Mungkin bukan menghancurkan Fandy," gumam Zaky. "Mungkin target utamanya adalah menghapus jejak Nida dan kamu, Hana. Hendrawan dikenal sebagai penganut fanatik garis keturunan murni. Baginya, Nida yang berasal dari keluarga biasa dan kamu yang memiliki masa lalu jalanan adalah aib bagi marga mereka. Dia ingin Fandy kembali ke jalurnya, dan Anita hanyalah alat untuk menyingkirkan kalian."
Namun, di tengah diskusi itu, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu. Mama Rosa berdiri di sana, tanpa kursi roda, tampak tegak dan sangat berbeda dari sosok wanita tua yang lemah selama ini. Di tangannya, ia memegang sebuah dokumen tua yang tampak menguning.
"Kalian tidak akan pernah mengerti," suara Mama Rosa terdengar bergetar namun kuat. "Ada sebuah 'bom' yang sengaja dikubur oleh Ayah Fandy sebelum dia meninggal. Sebuah rahasia tentang siapa Fandy sebenarnya, yang jika meledak, akan membuat seluruh kekayaan dan nama baik ini hangus dalam sekejap. Aku melakukannya untuk melindungimu, Fandy! Aku bekerja sama dengan Hendrawan agar rahasia ini tidak jatuh ke tangan publik!"
"Rahasia apa, Ma?" tanya Fandy, suaranya meninggi karena frustrasi.
Mama Rosa menatap Hana dengan kebencian yang kini meledak. "Rahasia yang membuat pernikahanmu dengan Nida, dan sekarang dengan Hana, menjadi ilegal di mata hukum warisan keluarga kita! Jika rahasia ini terbongkar di Bab-bab selanjutnya, kalian semua akan diusir dari rumah ini dengan status sebagai orang asing!"
Mama Rosa melempar dokumen itu ke meja. Sebelum Fandy sempat membukanya, Mama Rosa berbalik dan berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang sangat tegap, meninggalkan mereka dalam ketakutan yang baru.
Fandy perlahan membuka dokumen tersebut. Hana memegang bahu Fandy, sementara Syabila menahan napas. Di luar, petir menyambar, menerangi wajah mereka yang kini menyadari bahwa musuh yang sesungguhnya bukanlah Anita yang licik, melainkan rahasia yang disimpan oleh ibu mereka sendiri.
---