Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Victor
H-3 minggu, tiba-tiba terjadi perang di perbatasan kerajaan Cyrven dan kerajaan Varkhal. Pemicunya masih dalam penyelidikan, menurut laporan bahwa Pangeran Kedua kerajaan Varkhal yang memimpin perang dari pihak Varkhal. Victor beberapa kali mengirim utusan untuk bertemu dan mencari jalan tengah bersama. Namun selalu saja berakhir dengan kepala terpenggal dari utusannya dikirimkan kembali ke Victor. Akhirnya Victor turun tangan sendiri menuju perbatasan tempat terjadinya perang. Perjalanan memakan waktu seminggu. Setibanya di sana, Pangeran Kedua kerajaan Varkhal bersedia melakukan pertemuan dengan Victor.
"Jadi apa yang akan anda ajukan? Apakah anda akan menyerahkan penculik beserta tunanganku yang disembunyikan oleh kerajaanmu pada kerajaanku?" Tanya Pangeran Kedua Varkhal.
"Sepertinya ada kesalahpahaman di sini, pihak kami sudah melakukan penyelidikan mendalam tentang penculikan tunangan anda. Namun hasilnya dari ciri-ciri penculik itu bukanlah salah satu penduduk wilayah Cyrven." Tegas Victor.
"Bohong. Anda pasti berbohong. Anda berusaha melindungi penduduk wilayah anda." Bantah Pangeran Kedua Varkhal.
"Cyrven menghukum siapapun tanpa pandang bulu. Keadilan sangat di tegakkan di sini selama semua bukti jelas dan valid. Kami hanya bisa menawarkan bantuan pencarian tunangan anda. Dan meminta untuk menghentikan perang yang jelas merugikan kedua belah pihak seperti ini." Ucap Victor dengan tekanan yang mendominasi.
Pihak Pangeran Kedua Varkhal sepakat menghentikan perang, namun akan tetap menunggu di perbatasan sampai tunangannya ditemukan. Mendengar keputusan itu membuat Victor tetap harus berjaga di perbatasan juga. Dia mengirimkan surat pada Sylvaine mengenai kondisi di perbatasan. Kemungkinan terburuk adalah acara pernikahan mereka diundur. Sylvaine pun membalas surat tersebut bahwa sebaiknya Victor kembali ke istana dan untuk sementara menugaskan komandan pasukan militer menggantikannya. Sebab Pangeran Kedua Varkhal memang terkenal impulsif dan hanya mementingkan kesenangan sendiri. Seminggu atau dua minggu palingan dia akan bosan dan meninggalkan perbatasan. Victor merasa ucapan Sylvaine ada benarnya, dia mempertimbangkan untuk kembali ke istana. Seminggu telah berlalu di perbatasan, tiba-tiba Victor mendapatkan laporan dari salah satu tim yang ditugaskan untuk melacak dan mencari penculik itu. Mereka dalam perjalanan ke perbatasan. Victor mengirimkan utusan untuk menyampaikan kabar pada pihak Varkhal. Mereka menyambut kabar itu dengan baik dan memberitahukan untuk bersiap meninggalkan perbatasan. Sebagian prajurit sudah dikirim kembali dan hanya tersisa beberapa prajurit untuk mengawal dan Panglima tinggi perang di pihak Varkhal.
Keesokan harinya, penculik dan tunangan Pangeran Kedua tiba. Tepat di perbatasan Victor menyaksikan dan berjalan di belakang mereka menuju ke arah Pangeran Kedua.
"Anda menepati ucapanmu, Pangeran Mahkota Victor. Varkhal mengucapkan terima kasih. Jadi penculik ini akan menerima hukuman dari Varkhal." Ucap Pangeran Kedua Varkhal.
"Seperti yang kuucapkan sebelumnya. Bahwa penculik ini bukanlah penduduk wilayah Cyrven, dan tunangan anda telah kembali. Jadi kasus ini sudah terselesaikan. Namun, Varkhal menyerang perbatasan Cyrven terlebih dahulu. Jadi Varkhal harus membayar kompensasi kerugian yang telah di derita perbatasan Cyrven, serta perminta maafan secara resmi pada Cyrven." Tegas Victor.
Pangeran Kedua menoleh ke arah panglima tingginya. Panglima tinggi tersebut mengangguk. "Baik. Varkhal akan melakukan itu." Jawab Pangeran Kedua Varkhal pada Victor.
Dia berjalan kearah penculik itu dan tanpa aba-aba langsung memenggal kepalanya. Tunangannya lalu berteriak histeris, "Kau membunuhnya! Maka kau juga tak akan mendapatkanku!" Tiba-tiba tunangan itu mengeluarkan belati yang entah bagaimana dia berhasil menyembunyikannya dari pemeriksaan. Menancapkan belati itu tepat jantungnya. Dan langsung terjatuh.
Saat menyaksikan itu Victor cukup terkejut, dalam hatinya berkata, 'Sial drama apa lagi ini?'
"Tidakkkkkkk!" Teriak Pangeran Kedua Varkhal. Melihat tunangannya tak bernapas lagi, tiba-tiba dia mengarahkan pedangnya ke arah Victor. "Ini salahmu! Kau harus bertanggung jawab!"
Disaat yang sama Victor berhasil menangkis serangannya dengan pedang. Dan Panglima tertinggi Varkhal berkata, "Hentikan Pangeran Kedua! Jangan memperkeruh keadaan lebih dari ini!"
Tapi ucapan panglima tertinggi itu tak dihiraukan oleh Pangeran Kedua Varkhal. "Aku menantangmu duel satu lawan satu sekarang juga!" Teriaknya pada Victor.
Dengan ekspresi dingin dan datar Victor menjawab, "Ku terima tantanganmu."
Tanpa aba-aba Pangeran Kedua menyerang dengan membabi buta. Victor menangkis semua serangannya dengan santai.
Dalam hati panglima tertinggi, 'Sial! Pangeran temperamen ini benar-benar berpikiran sempit. Melawan Pangeran Mahkota Victor yang kemampuan berpedangnya tak bisa diremehkan itu tanpa berpikir panjang seperti ini. Jelas-jelas dia pasti kalah. Dia benar-benar bodoh. Nyawanya pasti melayang. Aku tak bisa melakukan apapun untuk menghentikannya. Duel ini bisa berhenti jika salah satu kehilangan nyawa.'
Pangeran Kedua terengah-engah, membuang energi sia-sia dengan menyerang tanpa perhitungan matang. Victor tak berkeringat sama sekali dan tetap bersikap dingin. Tak lama kemudian karena lengah, kepala Pangeran Kedua melayang. Victor memenangkan duel tersebut dan berkata, "Panglima tertinggi telah menjadi saksi. Kurasa anda akan bersikap netral, siapa di sini yang memulai duluan. Silakan bawa mayat Pangeran Kedua Varkhal kembali dan ingat kesepakatan sebelumnya! Saya permisi." Victor kembali menuju ke istana.
***
Di kerajaan Varkhal, panglima tertinggi menghadap Raja Varkhal dan menceritakan segalanya. Raja Varkhal cukup bijak jadi menerima kesepakatan sebelumnya. Namun selirnya yang merupakan ibu dari Pangeran Kedua tak menerimanya, "Yang Mulia! Bagaimana bisa anda menerima kesepakatan itu? putra kita meninggal di tangannya. Anda harus meminta pertanggungjawaban Cyrven."
"Putramu meninggal sebab kebodohannya. Apa kau juga akan melakukan kebodohan yang sama seperti yang putramu telah lakukan?" Ucap Raja dengan nada tinggi yang membuat selir menangis.
"Putraku yang meninggal itu juga putra Yang Mulia. Jika akhirnya terjadi perang. Jelas Varkhal akan menang, sebab kekuatan militer Varkhal paling kuat dan tak tertandingi." Kata selir.
"Hanya tangisan itu yang bisa kau lakukan. Sudah kubilang dari dulu didik yang benar anak bodoh itu supaya bisa menggunakan otaknya. Tapi kau bukannya mendidik dengan benar malah memanjakannya! Hentikan tangisanmu itu. Hanya kepentinganmu saja yang ada di dalam kepalamu itu!" Mendengar perkataan Raja itu, selir pergi meninggalkan ruangan dan menuju ke kediamannya.
"Bisa-bisa yang mulia memperlakukanku dan putraku seperti ini. Jika seperti ini aku tak bisa mengisi kekosongan posisi Ratu. Sialan! Apa yang harus kulakukan." Selir merasa cemas. Tiap kali dia membahas posisi Ratu yang kosong, Raja selalu mengalihkan pembicaraan. Selir tau bahwa Raja tak akan membuatnya menjadi Ratu. Karena dia tak sekompeten mendiang Ratu, jelas akan membuat malu Raja. Namun sekarang hubungannya dengan Raja cukup tidak baik.
"Pasti Putra Mahkota sekarang berpesta karena mendengar saingannya meninggal seperti ini. Sial! Apa yang harus kulakukan sekarang."
***
Di sisi Putra Mahkota Varkhal, mendengar adiknya meninggal tentu saja dia senang, "Bocah bodoh. Tanpa repot-repot kusingkirkan, dia malah menyingkirkan nyawanya sendiri. Sekarang tak ada lagi gangguan untukku menjadi Raja. Jadi aku tak perlu buru-buru untuk segera naik tahta. Sebab sudah jelas akulah yang pasti naik tahta menjadi Raja."
Dia memerintahkan pengawalnya untuk mencarikan gadis-gadis untuk menghabiskan malam dengannya. Dia selalu bergonta-ganti pasangan tiap malam. Kelakuan Putra Mahkota Varkhal yang seperti ini, tak begitu berbeda jauh dengan adiknya. Namun Putra Mahkota lebih bengis dan cukup cerdik serta kompeten.
***
Di Kerajaan Cyrven, utusan Varkhal tiba. Varkhal mengirimkan Putra Mahkota Varkhal. Acara berlangsung lancar tanpa hambatan. Dan tak lama rombongan Varkhal kembali. Setibanya di Varkhal, Raja memerintahkan Putra Mahkota segera menikah dan memiliki keturuan. Raja tahu betul pola pikir putranya itu. Karena sudah tak memiliki gangguan, dia pasti akan makin menjadi-jadi. Rumor tentangnya yang mandul sangat mengganggu Raja. Sebab dari sekian banyak wanita yang ditidurinya sejak dia dewasa, tak ada satupun yang hamil. Raja diam-diam mengawasi semua wanita yang sudah menghabiskan malam dengan kedua putranya.
"Kau harus segera menikah dan memiliki keturunan." Kata Raja pada Putra Mahkota Varkhal.
"Belum ada satupun wanita yang membuatku jatuh cinta, Ayah." Jawabnya.
"Kau tak perlu memikirkan cinta, kau hanya perlu memikirkan memiliki keturunan. Lagipula aku sudah mendapatkan gadis yang tepat untukmu, dokter sudah memeriksa kesehatannya dan memastikan bahwa dia bisa melahirkan anak. Kau bisa ambil selir suatu hari nanti jika ada yang membuatmu jatuh cinta." Ucap Raja dengan tegas.
"Dua hari lagi, pernikahan kalian akan dilangsungkan." Imbuh Raja.
"Bukankah sebaiknya kuhamili dia terlebih dahulu, ayah? Untuk memastikan ucapan dokter." Jawabnya dengan santai.
"Cukup Simon! Kau pikir dia gadis penghibur? Dia putri dari Kepala Keuangan! Jaga perilakumu itu!" Bentak Raja.
"Baiklah, terserah ayah. Saya cukup datang saat hari pernikahan dan setelah itu membuatnya hamil. Saya undur diri untuk beristirahat. Permisi." Simon meninggalkan ruangan.
"Dasar anak kurang ajar." Ucap Raja dengan kesal.
***
Sementara itu di Cyrven, pernikahan dan pelantikan Victor menjadi Raja baru dijadwalkan ulang. Dan akan dilaksanakan dua minggu lagi
Bersambung...