Syra Aliyah Farhana, seorang gadis kota yang hidup bebas dengan deru mesin motor, mendapati dunianya jungkir balik saat dipaksa "mondok" dan dijodohkan dengan putra mahkota Pesantren Al-Fathan. Ia datang dengan jaket denim robek dan knalpot bising, siap untuk memberontak.
Namun, ia harus berhadapan dengan Arkanza Farras Zavian, Gus muda yang berwibawa, dingin, dan tak mudah goyah oleh gertakan. Di tengah aroma kopi dan lantunan kitab kuning, Syra terjebak dalam perjanjian yang merampas fasilitas mewahnya. Di balik tembok pesantren, ia tidak hanya harus berhadapan dengan aturan yang mencekik, tapi juga rahasia hati, kecemburuan, dan masa lalu yang mengejarnya dari Jakarta.
Ini bukan sekadar tentang perjodohan, tapi tentang perjalanan mencari arah pulang di tempat yang Syra sebut sebagai "Neraka Suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror terakhir sang pecundang
Ketenangan di Pesantren Al-Fathan ternyata hanyalah ilusi tipis, bagaikan embun pagi yang langsung menguap saat api dendam dinyalakan. Pagi itu, suasana pasar desa yang biasanya damai mendadak riuh. Bukan oleh suara tawar-menawar sayuran, melainkan oleh keresahan yang disebarkan lewat selebaran-selebaran kertas yang disebar dari sebuah mobil hitam misterius tanpa plat nomor.
Bukan selebaran jadwal pengajian atau undangan Haul, melainkan kolase foto masa lalu Arkanza yang sangat provokatif dan dikontekstualisasikan secara jahat. Foto-foto itu memperlihatkan Arkan saat masih menjadi "Alpha" di jalanan Jakarta—sedang terlibat perkelahian massal dengan wajah penuh noda darah, berdiri di atas tangki motor sport yang melaju, hingga foto-foto di klub malam bersama teman-temannya dulu dengan botol-botol minuman di latar belakang.
Di bawah kolase foto tersebut tertulis kalimat yang menusuk:
"Apakah kalian sudi menyerahkan masa depan anak-anak kalian kepada mantan kriminal? Akankah kalian membiarkan pesantren suci ini dipimpin oleh preman yang hanya berganti kostum menjadi sarung? Waspadalah, serigala berbulu domba sedang mengintai dhalem!"
Syra, yang baru saja keluar dari studio kreatifnya untuk membeli kopi di warung depan, melihat seorang ibu pengajian memegang selebaran itu dengan tangan gemetar dan tatapan ngeri. Syra segera merampas kertas itu. Jantungnya berdegup kencang, amarahnya naik hingga ke ubun-ubun.
"Ini fitnah, Bu! Ini foto sepuluh tahun yang lalu!" teriak Syra. Namun, benih keraguan sudah tertanam di mata ibu-ibu itu. Prasangka di desa lebih cepat menjalar daripada kebenaran.
Tidak berhenti di situ, sebuah spanduk raksasa tiba-tiba terpasang di persimpangan jalan menuju gerbang utama pesantren. Isinya menuntut transparansi dana yayasan dan mendesak Kyai Sepuh untuk mencopot Arkanza dari jabatan Wakil Ketua Yayasan. Sekelompok orang—yang jelas-jelas bukan warga asli desa, melainkan orang-orang bayaran berbadan tegap—mulai berkumpul di depan gerbang, berteriak-teriak menggunakan pengeras suara, memprovokasi santri dan warga sekitar.
Syra mendobrak pintu kantor Arkanza dengan napas tersengal. "Arkan! Lo harus lihat ini! Fariz bener-bener udah gila!"
Arkanza sedang duduk di balik mejanya, menatap selebaran yang sama yang rupanya sudah sampai ke mejanya lebih dulu lewat Omar. Wajah Arkanza tidak menunjukkan kemarahan yang meledak-ledak. Ia justru tampak sangat tenang, namun matanya memancarkan keletihan yang mendalam—keletihan seorang pria yang merasa masa lalunya akan selalu menjadi bayang-bayang yang siap menerkam kapan saja.
"Fariz tahu titik lemah masyarakat sini," bisik Syra, tangannya mengepal di atas meja. "Dia nggak nyerang lo pake fisik karena dia tahu dia bakal kalah. Dia nyerang lo pake stigma. Dia mau ngebenturin lo sama warga dan para Kyai sepuh."
Arkanza berdiri, berjalan menuju jendela yang menghadap langsung ke arah kerumunan di depan gerbang. Suara teriakan "Turunkan Gus Preman!" terdengar lamat-lamat sampai ke ruangan itu.
"Syra, kamu tahu apa yang paling ditakuti oleh orang yang menebar kegelapan?" Arkanza berbalik, menatap Syra dengan sorot mata yang kini tajam dan fokus.
"Apa?"
"Cahaya yang berani mengakui noda di masa lalunya." Arkanza meraih jaket kulit Black Hawk-nya yang tersampir di kursi jati. "Fariz pikir saya akan bersembunyi di balik jubah dan sarung saya karena malu. Dia pikir saya akan memohon-mohon agar foto itu tidak disebar."
"Terus lo mau ngapain?"
"Saya akan menghadapi mereka sebagai Arkanza yang utuh. Bukan cuma sebagai Gus, tapi juga sebagai mantan ketua geng motor yang sudah bertaubat." Arkanza memakai jaket kulitnya di atas baju koko putihnya. "Siapkan dronemu, Syra. Saya mau kamu terbang setinggi mungkin. Cari mobil SUV hitam yang pasti parkir tidak jauh dari kerumunan itu. Saya yakin Fariz ada di sana, sedang menikmati pertunjukannya."
Syra mengangguk mantap. Ia merasa adrenalinnya kembali terpompa. "Gue bakal cari sudut pandang yang paling jelas buat nangkep muka brengsek itu."
Di luar gerbang, massa semakin beringas. Beberapa provokator mulai melempari pintu gerbang kayu pesantren dengan telur busuk dan botol plastik. Para santri di dalam mulai terpancing emosinya, mereka berkumpul di balik gerbang, siap untuk membela kehormatan pesantren.
"Jangan buka gerbangnya!" teriak salah satu pengurus senior.
Namun, suara kunci gerbang yang dibuka terdengar nyaring. Gerbang besar Al-Fathan terbuka perlahan, menciptakan keheningan mendadak di kerumunan massa.
Bukannya barisan santri yang keluar dengan bambu, melainkan hanya satu orang pria. Arkanza Farras Zavian. Ia melangkah keluar sendirian, tanpa pengawalan. Ia tidak memakai peci, membiarkan rambutnya berantakan tertiup angin. Jaket kulit hitamnya tampak kontras dengan baju kokonya, menciptakan aura yang mengintimidasi sekaligus berwibawa.
Arkanza berhenti tepat tiga meter di depan pemimpin demonstran. Ia mengambil pelantang suara dengan gerakan tenang, lalu menatap kerumunan itu satu per satu dengan tatapan yang membuat para provokator bayaran itu mendadak salah tingkah.
"SAYA MEMANG MANTAN KRIMINAL!" suara Arkanza menggelegar, bergetar penuh kekuatan, membungkam seluruh lapangan seketika.
Di balik pohon besar di seberang jalan, Syra menerbangkan dronenya dengan presisi tinggi. Kamera drone itu menyisir deretan kendaraan yang terparkir, hingga akhirnya lensa zoom-nya menangkap sebuah SUV hitam dengan kaca film gelap yang terbuka sedikit. Di sana, Fariz Haidar duduk sambil memegang handycam, tersenyum licik, tidak menyadari bahwa di atas kepalanya, sebuah drone sedang merekam setiap gerak-geriknya.
"Dapet lo, sampah!" gumam Syra sambil menekan tombol rekam.
Di depan gerbang, Arkanza melanjutkan pidatonya yang akan mengubah sejarah Al-Fathan selamanya. Ia tidak lagi membela diri; ia sedang melakukan pengakuan dosa terbuka yang paling berani yang pernah disaksikan oleh warga desa itu.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...