Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hari kepergian moses
Pagi itu aku bangun lebih awal. Aku tahu hari ini adalah hari Moses harus kembali ke Australia. Hatinya pasti campur aduk, begitu juga denganku. Sebelum dia bangun, aku memutuskan untuk membersihkan kopernya.
Baju-bajunya berserakan di lantai kamar, tas dan sepatu belum rapi. Aku mulai melipat bajunya satu per satu, menata sepatu, dan menempatkan beberapa barang kecil ke dalam koper. Sambil melakukan itu, aku tersenyum sendiri, memikirkan semua momen kami selama seminggu terakhir.
Di antara pakaian dan koper, aku menemukan foto yang dulu kami ambil di photobooth klub. Satu foto sudah kusimpan dengan baik, tapi satu lagi sempat hilang dan aku lupa di mana menyimpannya.
Aku memasukannya ke dalam koper sambil berkata, “Ya, kamu akan foto ini ya, jangan dibuang.” Rasanya lucu dan hangat sekaligus. Foto itu menjadi simbol kenangan kecil tapi berarti di minggu terakhir kami.
Sekitar sore, Moses harus bertemu dengan teman-temannya karena mereka akan pulang bersama. Aku tidak ikut, jadi aku memutuskan kembali lebih dulu ke kamar untuk menenangkan diri. Sesaat setelah dia pergi bersama teman-temannya, ponselku bergetar. Moses mengirim pesan.
Moses: “I miss you… and it’s only been a few minutes.”
Aku tersenyum tipis, merasakan jantungku sedikit berdebar. Aku membalas:
Nanas: “I miss you too… can’t believe you’re leaving so soon.”
Pesan itu membuatku tersadar bahwa jarak akan memisahkan kami dalam hitungan jam, tapi perhatian kecil seperti ini bisa membuat hati tetap hangat.
Hari itu, aku sibuk bekerja, mencoba mengalihkan perhatian dari rasa rindu. Tapi teleponku terus berbunyi dengan pesan dan foto darinya. Moses selalu mengirim gambar makanan, jalanan di bandara, bahkan foto dirinya di mobil menuju bandara. Setiap pesan membuatku tersenyum, meski sekaligus merasa sedih karena kami harus berpisah.
Moses: “Here’s my breakfast… trying to eat something before the flight.”
Aku membalas dengan cepat:
Nanas: “Looks good! Don’t forget to take care of yourself.”
Setiap pesan dan foto yang dikirimnya terasa seperti sapaan hangat, seperti dia masih di sini, meski jarak memisahkan kami ribuan kilometer. Aku mulai menuliskan dalam hati, menyadari bahwa jarak bukan hanya soal fisik, tapi juga soal bagaimana kita menjaga perhatian dan komunikasi.
Sambil bekerja, aku terus memikirkan momen-momen kecil kami: malam nonton Netflix, bercanda di sofa, memasak bersama, dan bahkan adegan nakal ringan yang membuat kami lebih dekat. Semua itu terasa begitu nyata sekarang, seolah hadir kembali setiap kali Moses mengirim pesan atau foto.
Menjelang malam, aku akhirnya berhenti bekerja sebentar dan duduk di tepi tempat tidur, menatap foto-foto yang kami ambil bersama. Aku membayangkan Moses sedang di pesawat, menatap jendela, mungkin merindukanku sama seperti aku merindukannya sekarang.
Aku mengirim satu pesan terakhir sebelum dia benar-benar pergi:
Nanas: “Safe flight, Moses… I’ll be waiting for your messages.”
Tidak lama, dia membalas:
Moses: “I will… every day. You’ll hear from me soon.”
Aku menutup telepon dan tersenyum, menahan campuran emosi—senang karena perhatian dan cinta yang dia tunjukkan tetap ada, sedih karena harus berpisah, dan rindu yang mulai terasa. Hari itu, aku belajar bahwa jarak tidak bisa mengurangi kedekatan yang sudah terbangun.
Bahkan hal-hal kecil, seperti pesan, foto, atau kata “I miss you,” bisa membuat hati tetap hangat dan dekat, meski terpisah ribuan kilometer.
Aku menarik napas panjang, Minggu terakhir Moses meninggalkan kenangan yang tak terlupakan, dan meski hari ini menjadi titik awal jarak, aku merasa optimis bahwa hubungan ini akan tetap bertahan karena perhatian kecil, komunikasi, dan ketulusan yang kami bagi.