💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️
"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"
Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:
"Humanity Coaching".
Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.
Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.
🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 — ALMOST KISS
Ballroom hotel itu kosong dari tamu, tapi terasa penuh oleh gema.
Lampu kristal yang menyala setengah daya menjatuhkan cahaya keemasan ke lantai marmer, memantulkan bayangan dua orang yang berdiri kaku di tengah panggung utama. Gladi bersih terakhir sebelum Gala yang sesungguhnya.
Alinea berdiri tepat di atas tanda selotip transparan. Hanya mengenakan gaun hitam latihan dengan rambut yang digerai bebas, ia tampak kontras dengan kemegahan ruangan itu. Jari-jarinya yang memegang cue card tipis terus bergetar, berusaha mencari kestabilan yang hilang.
Di depannya, Arsenio berdiri seperti tugu. Jas abu-abu gelap, postur tegak, dan tatapan yang terlalu fokus. Seolah-olah jika ia lengah sedetik saja, sandiwara yang ia bangun dengan susah payah ini akan runtuh seketika.
“Mulai dari opening,” katanya.
Nada seorang CEO. Bukan nada pria yang dua hari belakangan nyaris kehilangan kewarasannya.
Alinea menarik napas.
“Selamat malam, para tamu undangan. Merupakan kehormatan bagi kami—”
“Kontak mata.”
Ia berhenti.
Arsenio mendekat dua langkah.
“Jangan lihat teks terlalu lama.”
“Aku hafal,” balasnya pelan.
“Buktikan.”
Alinea menatapnya. Lurus.
Detik pertama, mereka masih profesional.
Detik kedua, batas itu mengabur menjadi sesuatu yang pribadi.
Detik ketiga… terlalu lama.
Detak jantung Alinea mulai memacu, beradu dengan riuh di kepalanya: cemoohan netizen, bisikan tajam Nadia, hingga tuntutan Mama yang tak henti menekan. Semuanya bermuara pada satu kata yang menghantui adalah Kontrak.
Kini ia berdiri di sini, berlatih sedekat ini dengan pria yang tak pernah sekali pun mengucapkan kata "pilih". Pria yang kehadirannya terasa nyata, namun tujuannya tetap menjadi misteri yang paling sunyi.
“Alinea,” suara Arsenio lebih rendah sekarang. “Fokus.”
“Aku fokus.”
“Kamu goyah.”
“Tidak.”
“Tatapanmu berubah.”
Ia mendengus kecil. “Kamu analis data sekarang analisa mata juga?”
“Semua bisa dianalisis.”
Kalimat itu keluar refleks.
Dan entah kenapa, itu membuat Alinea tersenyum miring.
“Termasuk perasaan?”
Arsenio terdiam sepersekian detik.
Kesalahan kecil.
Tapi cukup untuk Alinea melihat celah.
“Lanjut,” katanya cepat, seperti ingin menutup topik.
Mereka kembali ke posisi.
Kali ini Arsenio berdiri lebih dekat. Terlalu dekat untuk sekadar blocking panggung.
“Aku akan berdiri di sini,” katanya, menggeser sedikit tubuh Alinea dengan sentuhan di pinggangnya.
Hanya sentuhan ringan.
Tapi cukup untuk memicu arus listrik yang menyentak hingga ke dada.
Alinea terpaku di tempatnya. Tangan Arsenio tak kunjung beranjak, seolah sengaja membiarkan sisa hangatnya merayap lebih lama di kulit Alinea.
“Jaraknya harus natural,” ucapnya pelan.
“Nggak perlu sedekat ini,” balas Alinea.
“Di depan publik, kita harus terlihat solid.”
Solid.
Kata itu lagi. Arsenio mengucapkannya seolah hubungan mereka hanyalah sebuah proyek konstruksi yang butuh fondasi beton—baku dan tanpa nyawa.
Namun, jarak di antara mereka saat ini sama sekali tidak logis.
Napas Arsenio menyapu pelipisnya, mengirimkan getaran halus yang tak diinginkan. Aroma parfum pria itu—bersih, maskulin, dan sangat familiar—mulai menginvasi sisa-sisa pertahanan Alinea, mengacak-acak konsentrasi yang susah payah ia bangun.
“Ulang dari bagian charity announcement,” katanya.
Alinea mencoba bicara.
Suaranya sedikit serak.
“Dana yang terkumpul malam ini akan—”
“Lihat saya.”
“Kenapa harus lihat kamu terus?”
“Karena kamu berdiri di samping saya.”
Jawaban itu terdengar sederhana, namun maknanya jatuh seberat beton di dada Alinea.
Ia menoleh.
Tatapan mereka kembali bertabrakan di udara yang mendadak tipis. Di sana, di bawah pendar lampu kristal yang memantul di netra Arsenio, ada kilau yang berbeda. Untuk pertama kalinya, sorot itu tidak sepenuhnya membeku.
Ada sesuatu yang asing di sana. Sesuatu yang tidak bisa Alinea klasifikasikan, tidak bisa ia beri label, dan sialnya—tidak bisa ia abaikan.
Dan itu membuatnya gelisah.
“Apa?” tanya Alinea pelan.
“Kamu takut?”
“Takut apa?”
“Besok.”
Ia ingin menjawab tidak. Ingin menyangkal segalanya dengan satu kata yang lugas.
Namun, kebohongan terasa sia-sia di jarak sedekat ini. Napas yang memburu dan binar di matanya adalah pengkhianat yang paling nyata. Di bawah tatapan Arsenio, seluruh pertahanannya meluruh—meninggalkan kejujuran yang telanjang di antara mereka.
“Sedikit,” akunya.
Arsenio tidak mengejek.
Tidak mengoreksi.
Ia hanya menatapnya lebih lama.
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menjatuhkanmu.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tanpa persiapan matang di balik slide presentasi. Tanpa perhitungan dingin strategi komunikasi.
Murni. Telanjang. Sebuah kejujuran yang meluncur tanpa sempat ia saring, menghantam ruang sempit di antara mereka dengan gravitasi yang tak tertahankan.
Alinea terdiam.
“Termasuk keluargamu?” tanyanya lirih.
Rahang Arsenio mengeras.
“Termasuk.”
Satu kata.
Tegas.
Dada Alinea menghangat—sebuah sensasi asing yang menyusup pelan. Untuk pertama kalinya sejak isu itu meledak dan memporak-porandakan dunianya, ia merasa tidak lagi berdiri sendirian di tengah badai.
Sunyi jatuh di antara mereka.
Bukan sunyi yang canggung atau menuntut, melainkan sunyi yang penuh. Padat dengan segala hal yang tak sempat terucap. Tangan Arsenio masih menetap di pinggangnya, seolah mengunci keberadaan Alinea di sana, dan Alinea sendiri belum berniat untuk bergerak menjauh.
Perlahan, tatapan mereka meluncur turun. Dari mata, ke hidung, lalu berhenti di bibir. Jarak mereka kini hanya tersisa beberapa senti—begitu tipis hingga Alinea bisa merasakan ritme napas Arsenio yang mulai patah.
Tidak stabil. Berantakan. Sama seperti pertahanan yang selama ini mereka agungkan.
“Arsenio…”
Namanya terdengar berbeda ketika diucapkan dalam jarak seperti ini.
Bukan “Pak”.
Bukan nada bercanda.
Hanya namanya.
Tangan Arsenio yang semula di pinggang, bergeser naik—mengunci punggung bawah Alinea dengan tarikan yang halus namun posesif.
Refleks.
Bukan bagian dari rencana, apalagi strategi.
Arsenio menunduk sedikit. Hanya sedikit. Sebuah gerakan kecil yang memangkas jarak yang sudah hampir tidak ada. Alinea tidak mundur. Belum. Pikirannya mendesak untuk lari, namun tubuhnya justru menetap.
Jantungnya berdetak terlalu keras—begitu riuh hingga Alinea yakin suaranya memenuhi keheningan di antara mereka.
Ini salah.
Ini latihan.
Ini… terlalu nyata.
“Kalau ini cuma kontrak,” bisik Alinea, hampir tanpa sadar, “kenapa rasanya begini?”
Pertanyaan itu menggantung di udara, tak terjawab dan menyesakkan.
Arsenio menatapnya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup yang penuh perhitungan, ia tidak memiliki jawaban logis. Ia tidak sedang melakukan analisis pasar. Ia tidak sedang menghitung risiko kerugian.
Ia hanya merasakan.
Dan bagi pria seperti Arsenio, perasaan adalah hal yang menakutkan—sebuah variabel yang tak bisa ia kendalikan.
Tangannya naik, perlahan memerangkap sisi wajah Alinea. Lembut, seolah Alinea adalah sesuatu yang rapuh sekaligus berharga. Ibu jarinya bergerak, mengusap tulang pipi itu dengan gerakan pelan yang menghancurkan sisa-sisa jarak di antara mereka.
“Alinea…”
Suara itu bukan lagi milik sang CEO yang angkuh. Itu adalah suara pria yang baru saja kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Arsenio mendekat. Begitu dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan dan napas mereka melebur menjadi satu. Detik melambat, seolah waktu pun enggan merusak momen ini. Lampu kristal di atas mereka seakan menjauh, memudar, hingga dunia menyempit hanya menjadi jarak dua bibir yang tinggal sejengkal.
Alinea menutup mata. Refleks. Dan itu terasa seperti sebuah izin yang tak terucapkan.
Arsenio menunduk lebih jauh. Satu detik lagi. Satu detik…
Dan—
Alinea membuka mata tiba-tiba.
Kesadaran menghantamnya telak, seperti tamparan dingin di tengah kehangatan. Nama-nama itu berhamburan di kepalanya: Nadia. Mama. Komentar pedas publik. Dan kata yang paling beracun adalah Kontrak.
Ketakutan terdalamnya merayap naik, mencekik: Bagaimana kalau semua ini cuma reaksi sesaat? Bagaimana kalau besok, di depan kamera dan dunia, ia tetap hanya sebuah posisi sementara?
Tangannya terangkat, mendarat di dada Arsenio. Sebuah penolakan halus yang terasa berat, menahan pria itu agar tidak melangkah lebih jauh.
“Jangan,” bisiknya.
Arsenio berhenti.
Hanya beberapa milimeter dari bibirnya.
“Kenapa?” suaranya rendah, napas masih berat.
Alinea menelan ludah.
“Karena aku nggak mau jadi bagian dari latihan.”
Kalimat itu menampar realitas.
Arsenio terdiam.
Tangannya masih di wajah Alinea.
Namun perlahan, ia menjauh sedikit.
“Aku bukan simulasi,” lanjut Alinea pelan. “Kalau kamu cium aku sekarang… pastikan itu bukan karena situasi. Bukan karena tekanan. Bukan karena besok kita harus terlihat meyakinkan.”
Sunyi.
Kata-kata Alinea masuk, menghunjam jauh ke dalam sela-sela pertahanan Arsenio yang tersisa.
Arsenio menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa berat dan menyesakkan. Ia ingin sekali menyangkal. Ingin sekali menepis segala keraguan itu dan meyakinkan Alinea dengan kata-kata yang mantap.
Namun, kejujuran—hal yang selalu ia agungkan dalam bisnis—kini justru menahannya.
Faktanya, ia memang belum mendefinisikan apa pun. Ia belum membongkar kontrak itu, apalagi menghancurkannya. Ia belum berdiri di depan dunia, di bawah sorot kamera yang kejam, untuk menyatakan bahwa Alinea adalah pilihannya.
Dan Alinea... perempuan ini layak mendapatkan lebih dari sekadar impuls sesaat di tengah kesunyian ballroom yang kosong.
Tangannya jatuh perlahan dari wajah Alinea. Sebuah gerakan yang terasa seperti pengakuan akan kekalahannya sendiri.
“Aku tidak mau kamu merasa seperti strategi,” katanya akhirnya.
Alinea tersenyum tipis.
“Aku sudah merasa begitu cukup lama.”
Kalimat itu meluncur lembut—bukan sebagai tuduhan yang tajam, melainkan sebuah pengakuan yang jujur. Sebuah penerimaan akan realitas yang pahit.
Kini, mereka berdiri dengan jarak beberapa langkah. Jarak yang terasa jauh lebih lebar dari sekadar jangkauan tangan. Udara di ballroom yang megah itu mendadak mendingin, seolah kehangatan yang baru saja mereka bagi telah lenyap ditelan bayangan.
Gladi resik belum selesai. Masih ada langkah-langkah yang harus mereka lalui di bawah lampu kristal itu. Namun, di antara mereka, sesuatu sudah berubah secara permanen.
Sesuatu yang tidak lagi bisa diperbaiki hanya dengan mengikuti naskah.
“Apa kita lanjut?” tanya Arsenio,
suaranya kembali lebih stabil—meski tidak sepenuhnya.
Alinea mengangguk.
Mereka kembali ke posisi semula.
Kini lebih formal, lebih terkendali—kembali menjadi dua sosok yang pandai memakai topeng profesional masing-masing. Namun, di antara sela-sela jarak yang tercipta, masih ada sisa panas yang belum sepenuhnya padam.
Sebuah bara yang tertinggal, menunggu waktu yang tepat untuk kembali menyala, atau perlahan menjadi abu dalam keheningan yang dipaksakan.
“Selamat malam, para tamu undangan…” Alinea memulai lagi.
Kali ini suaranya terdengar mantap, melapisi keraguan yang masih berdenyut di dalam. Namun, setiap kali ia menoleh pada Arsenio, ingatan tentang jarak beberapa milimeter tadi kembali menghantam.
Ia ingat fakta bahwa ia yang mundur. Bukan karena ia tidak menginginkannya. Justru sebaliknya—karena ia menginginkan lebih dari sekadar "hampir".
Gladi selesai satu jam kemudian. Ballroom kembali ke pangkuan sunyi.
Saat mereka berjalan keluar berdampingan, tangan mereka sempat bersentuhan. Refleks yang tidak terduga. Tak satu pun dari mereka langsung menjauh, seolah kulit mereka masih merindukan kontak yang tadi terputus. Namun, tak satu pun juga yang berani menggenggam.
Gala tinggal beberapa jam lagi. Dan di antara mereka, ada sebuah pertanyaan besar yang belum terjawab:
Jika besok bukan lagi tentang citra... apakah mereka masih akan berdiri sedekat tadi? Atau justru, mereka akan saling menjauh—lebih jauh dari yang pernah mereka bayangkan?
Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨