Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan Maut Patrick dan Clark
Suasana apartemen yang tadinya romantis dan penuh haru mendadak berubah menjadi pasar malam saat pintu terbuka lebar dan sosok Henry masuk dengan gaya khasnya, diikuti oleh Patrick yang membawa sekotak pizza dan beberapa botol minuman.
"YUHUUU! The Beast sudah bangun dari tidurnya!" teriak Henry tanpa tahu malu. Ia langsung melompat ke sofa, lalu matanya tertuju pada Julius yang hanya memakai kaos santai namun terlihat sangat segar.
Henry mulai memutari Julius seperti sedang menginspeksi barang antik. "Gila, muka lo, Jules! Lebih cerah dari lampu stadion. Gue tahu itu bukan karena udara New Zealand, tapi karena olahraga malam yang sangat intens, kan?" Henry menyenggol lengan Julius sambil menaik-turunkan alisnya.
"Diam kau, Hen," ucap Julius datar, tapi ada kilat puas di matanya yang tak bisa ia sembunyikan.
Patrick meletakkan pizza di meja bar, lalu matanya melirik ke arah kamar di mana Jane masih bersembunyi karena malu. "Jules, jujur deh," Patrick memelankan suaranya tapi cukup keras untuk didengar sampai ke dalam kamar. "Berapa ronde semalam? Gue liat tadi Jane pas mau ke arah dapur jalannya agak gemetar gitu. Gue khawatir dia langsung hamil dalam semalam, gila! Kekuatan lo kayaknya setara sama Hulk kalau urusan begini."
Clark yang sedang sibuk dengan laptopnya ikut menyahut tanpa menoleh, "Gue tadi cek statistik kesehatan di jam tangan pintar Julius yang ketinggalan di meja. Detak jantungnya semalam stabil di angka 140 bpm selama tiga jam. Itu setara lari maraton, Rick. Jadi jangan tanya berapa ronde, tanya aja Jane masih bisa ngerasain kakinya atau nggak."
Wajah Jane yang sedang mengintip dari balik pintu kamar seketika berubah merah padam seperti tomat rebus. Ia ingin sekali menghilang dari muka bumi saat itu juga.
Julius, yang melihat Jane semakin terpojok karena malu, akhirnya bergerak. Ia berjalan menuju pintu kamar, menarik Jane keluar dari persembunyiannya dengan lembut, dan merangkul pinggangnya dengan posesif di depan teman-temannya.
"Berhenti menggodanya," ucap Julius dengan nada mengancam yang bercampur tawa kecil. "Kalau dia sampai hamil sekarang, itu artinya aku memang lebih hebat dari ramalan Mr. A. Dan soal dia tidak bisa berjalan... itu urusanku untuk menggendongnya kemana pun dia mau."
"WADUH! GULA! GULA MANA GULA?! MANIS BANGET!" teriak Henry sambil pura-pura pingsan di sofa. "Lucia, tolong gue! Bos kita sudah berubah jadi budak cinta yang sangat agresif!"
Lucia hanya memutar bola matanya sambil melempar bantal ke wajah Henry. "Kalian semua berisik. Biarkan mereka sarapan dulu. Jane butuh banyak energi setelah menghadapi monster ini semalaman."
Sambil mereka menikmati sarapan di meja bar, Henry tiba-tiba menjentikkan jarinya.
"Eh, karena foto kalian sudah viral dan Grace sudah resmi jadi buronan publik, gimana kalau kita rayakan ini? Kita bikin pesta privat di kapal pesiar milik keluarga gue besok? Cuma kita berdua, eh, kita berenam! Kita kasih Jane udara laut supaya dia bisa jalan normal lagi sebelum masuk kampus hari Senin nanti."
Julius menatap Jane, seolah meminta persetujuan. "Kau mau, Jane? Pergi menjauh dari hiruk-pikuk kota sebentar?"
Jane tersenyum tipis, merasa aman dalam pelukan Julius. "Asalkan Henry tidak membahas ronde lagi sepanjang perjalanan."
"Janji!" seru Henry sambil menyilangkan jari di belakang punggungnya. "Tapi kalau soal ponakan baru, itu wajib dibahas!"
Satu bulan yang penuh tangis dan kedinginan akhirnya dibayar tuntas dengan tawa sahabat dan pelukan hangat sang Matahari.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading dear 😍😍😍