Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.
Di sanalah Qing Lin tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32 - darah manusia
Perjalanan pulang dari Desa Tianbei berlangsung tanpa gangguan.
Qing Lin berjalan sendirian di jalur pegunungan, langkahnya stabil, napasnya teratur. Qi di tubuhnya terasa lebih padat dibanding sebelum misi, namun tidak liar. Sutra Darah Sunyi berdenyut tenang, seolah telah menerima caranya menggunakannya.
Tidak ada bisikan.
Tidak ada dorongan berlebihan.
Itu justru yang membuat Qing Lin lebih waspada.
Sesuatu yang terlalu patuh… biasanya menunggu kesempatan.
Ia tidak lengah.
Saat matahari hampir tenggelam, Qing Lin merasakan kehadiran lain.
Langkah kaki.
Lebih dari satu.
Ia berhenti di tengah jalan setapak, menoleh sedikit ke kanan. Dari balik pepohonan, muncul tiga orang mengenakan jubah abu-abu dengan lambang Sekte Batu Awan—murid elit tingkat rendah, sama sepertinya.
Yang berjalan di depan adalah Zhao Ren.
Qing Lin mengenalnya.
Murid elit yang sudah lebih lama berada di tahap Pengumpulan Qi, terkenal licik dan tidak segan memakai cara kotor untuk naik peringkat.
Zhao Ren tersenyum saat melihat Qing Lin.
“Junior Qing,” katanya santai. “Kau cepat sekali kembali. Kudengar misi Tianbei cukup… berdarah.”
Qing Lin menatapnya datar. “Minggir.”
Senyum Zhao Ren tidak hilang.
“Kasar sekali,” katanya sambil mengangkat bahu. “Kami hanya ingin memastikan laporanmu benar. Kau tahu… murid tanpa akar spiritual sering kali dilebih-lebihkan.”
Dua murid lain bergerak sedikit, menutup jalur di belakang Qing Lin.
Formasi sederhana.
Ancaman jelas.
Qing Lin tidak menghela napas, tidak menunjukkan emosi. Ia hanya menggeser posisi kakinya sedikit.
“Apa kalian mau?” tanyanya.
Zhao Ren menatapnya lama, lalu tersenyum lebih lebar.
“Mudah,” katanya. “Serahkan giok misimu. Kami akan laporkan bahwa kami menemukan desa itu dalam kondisi sudah aman.”
“Dan aku?” tanya Qing Lin.
Zhao Ren tertawa kecil. “Kau bisa pulang. Tanpa masalah. Tanpa cedera.”
Qing Lin terdiam.
Di dalam tubuhnya, Sutra Darah Sunyi berdenyut pelan.
Bukan dorongan.
Bukan perintah.
Hanya… kesiapan.
“Aku tidak mengambil misi untuk prestasi,” kata Qing Lin akhirnya. “Aku mengambilnya karena diminta.”
Zhao Ren menghela napas seolah kecewa. “Sayang sekali. Padahal aku ingin menyelesaikan ini dengan damai.”
Tangannya terangkat.
Qi berputar.
“Ambil dia.”
Dua murid lain bergerak bersamaan.
Serangan datang cepat.
Satu dari kiri dengan pedang qi, satu dari kanan dengan teknik tinju berat.
Qing Lin bergerak.
Tidak cepat.
Tidak lambat.
Tepat.
Ia menghindari tinju pertama, memutar tubuh, dan menggunakan gagang kapak untuk menahan pedang qi. Benturan qi membuat udara bergetar, namun Qing Lin tidak terdorong mundur.
Sutra Darah Sunyi mengalir.
Qi-nya padat, stabil, dan terkendali.
Murid pertama terkejut.
“Kok keras?!”
Qing Lin menendang lututnya.
Tidak mematahkan.
Cukup untuk menjatuhkan.
Murid kedua mencoba menusuk dari belakang.
Qing Lin berputar, kapaknya terangkat—
dan berhenti satu jari dari leher lawan.
Mata mereka bertemu.
Wajah murid itu pucat.
Ia bisa merasakan—jika kapak itu turun, ia akan mati.
Qing Lin mendorongnya menjauh.
Murid itu jatuh terhuyung, napasnya kacau.
Dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas, dua murid sudah tak mampu bertarung.
Zhao Ren akhirnya berubah ekspresi.
“Aku meremehkanmu,” katanya dingin. “Kalau begitu—aku sendiri.”
Zhao Ren menyerang dengan teknik rahasia.
Qi hitam kehijauan menyelimuti tangannya—teknik korosif yang bisa melumpuhkan meridian jika terkena langsung.
Qing Lin tidak mundur.
Ia maju.
Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, ia membuka aliran Sutra Darah Sunyi lebih lebar.
Qi di tubuhnya berputar cepat.
Zhao Ren tersenyum kejam. “Bagus. Perlihatkan kekuatanmu. Aku ingin melihat seberapa jauh monster tanpa akar bisa melangkah.”
Serangan mereka bertemu.
Benturan qi meledak.
Tanah retak.
Pepohonan di sekitar berguncang.
Qing Lin terdorong satu langkah.
Zhao Ren dua langkah.
Mata Zhao Ren membelalak.
“Apa—?”
Qing Lin tidak memberinya waktu.
Ia melangkah masuk, kapaknya menyilang, menghantam bahu Zhao Ren dengan sisi tumpul.
Retak.
Tulang bahu Zhao Ren patah.
Ia menjerit, terlempar ke tanah.
Qing Lin berdiri di atasnya, kapak mengarah ke dada Zhao Ren.
Sutra Darah Sunyi berdenyut kuat.
Untuk pertama kalinya—
dorongannya jelas.
Bunuh. Serap. Ini lebih kuat.
Darah manusia.
Lebih murni.
Lebih kaya.
Lebih menggoda.
Zhao Ren menatap Qing Lin dengan mata penuh ketakutan. “T-tunggu… kita satu sekte…”
Qing Lin menatapnya lama.
Wajahnya dingin.
Namun matanya… jernih.
“Aku bisa membunuhmu,” kata Qing Lin pelan. “Dan aku akan jadi lebih kuat.”
Zhao Ren gemetar.
“Tapi,” lanjut Qing Lin, “kalau aku melakukannya sekarang—aku tidak akan pernah bisa mundur.”
Ia menarik napas.
Menekan Sutra Darah Sunyi.
Untuk pertama kalinya, ia menolak darah manusia secara sadar.
Kapak diturunkan.
Namun tidak disarungkan.
“Kalian akan hidup,” kata Qing Lin. “Tapi ingat ini.”
Ia menatap Zhao Ren dengan tajam.
“Kalau lain kali kalian menyerangku—aku tidak akan berhenti.”
Ia berbalik.
Melangkah pergi.
Meninggalkan tiga murid yang terdiam, ketakutan, dan dipermalukan.
Malam itu, Qing Lin tidak langsung kembali ke sekte.
Ia duduk di tebing, menatap lembah yang gelap.
Tangannya sedikit gemetar.
Bukan karena takut.
Bukan karena lelah.
Melainkan karena ia sadar—
Menahan diri dari darah manusia
lebih sulit daripada membunuh binatang iblis.
Sutra Darah Sunyi berdenyut pelan.
Tidak marah.
Tidak memberontak.
Seolah… mengamati.
“Jangan salah paham,” bisik Qing Lin dingin.
“Aku tidak menolakmu.”
“Aku hanya belum siap.”
Angin malam bertiup.
Tidak ada jawaban.
Namun untuk pertama kalinya, Qing Lin tahu satu hal pasti—
Hari ketika ia harus memilih antara kemanusiaan dan puncak kekuatan…
akan datang.
Dan saat itu tiba,
ia tidak yakin jawabannya masih sama.