NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:22.8k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.

Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.

Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Pelarian singkat itu berakhir terlalu cepat, seperti mimpi indah yang dipaksa bangun oleh alarm kebakaran.

Setelah semalam tidur nyenyak tanpa gangguan di kasur kapuk ibunya dan memakan bubur hangat yang penuh cinta, Citra harus kembali menghadapi realita pahit. Pagi-pagi buta, saat ayam jantan baru berkokok, ia sudah berpamitan pada Bu Sari. Ia beralasan bahwa "Mas Putra sudah menjemput di depan gang" sebuah kebohongan putih agar ibunya tidak perlu melihat air mata anaknya yang enggan pulang.

Citra kembali bekerja di restoran dengan tubuh yang sudah agak mendingan, meski sisa-sisa demam masih membuat kepalanya berdenyut setiap kali ia menunduk. Seharian itu, ia bekerja dengan hati was-was. Bayangan wajah marah Putra terus menghantuinya. Ia tahu, melangkah kembali ke Mansion Aditama nanti malam sama saja dengan menyerahkan diri secara sukarela ke mulut buaya yang sedang kelaparan.

Ponselnya yang baru ia nyalakan saat jam istirahat siang langsung memanas. Layarnya penuh dengan notifikasi panggilan tak terjawab dari nomor telepon rumah, tapi anehnya, tidak ada satu pun pesan atau panggilan dari ponsel pribadi Putra. Keheningan suaminya itu justru jauh lebih menakutkan daripada amukan yang meledak-ledak. Seperti laut yang surut sebelum tsunami datang.

Pukul delapan malam.

Langkah kaki Citra terasa berat, seolah ada rantai besi yang mengikat pergelangan kakinya saat ia memasuki pintu utama mansion yang megah itu. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya. Ia berharap bisa menyelinap masuk, langsung lari ke kamar, mengunci pintu, dan pura-pura tidur sebelum siapa pun melihatnya.

Namun, harapan tinggal harapan.

Baru saja Citra menutup pintu jati yang berat itu, lampu ruang tamu yang tadinya redup tiba-tiba menyala terang benderang, menyilaukan matanya.

Di sofa tengah yang berlapis kulit impor, Putri dan Kinan sudah duduk tegak dengan tangan terlipat di dada. Wajah mereka bukan hanya masam, tapi merah padam menahan amarah. Riasan flawless mereka tidak bisa menutupi ekspresi bengis yang kini terarah pada Citra. Mereka tampak seperti sipir penjara yang menunggu tahanan kabur kembali ke sel isolasi.

"Wah... lihat siapa yang akhirnya pulang," suara Kinan memecah keheningan, nadanya tinggi, melengking, dan penuh sarkasme. "Nyonya besar yang hobi keluyuran akhirnya ingat jalan pulang juga rupanya."

Citra menelan ludah yang terasa pahit, mencengkeram tali tas selempangnya erat-erat sebagai pegangan. Ia menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya.

"Selamat malam, Putri, Kinan," sapanya, suaranya sedikit serak.

"Jangan sok sopan!" bentak Putri tiba-tiba, suaranya menggelegar membuat Citra terlonjak kaget.

Putri berdiri, langkah kakinya menghentak lantai marmer dengan keras saat mendekati Citra. Tatapan matanya dingin dan penuh kebencian.

"Kamu pikir rumah ini hotel?" desis Putri tajam, jari telunjuknya menuding tepat di depan hidung Citra, nyaris menyentuh kulit. "Datang dan pergi seenak jidat kamu tanpa izin? Kamu sadar nggak sih status kamu di sini itu siapa? Kamu itu cuma orang numpang!"

Biasanya Citra akan diam dan menunduk. Tapi malam ini, rasa lelah dan sakit hati membuatnya sedikit berbeda. Ia mengangkat wajahnya, menatap mata Putri.

"Saya bukan orang numpang, Putri," jawab Citra, suaranya bergetar namun tegas. "Saya istri sah kakak kamu. Dan kemarin saya sakit parah. Saya demam tinggi. Apa saya harus mati dulu di kamar baru kalian peduli?"

Kinan melongo sejenak, kaget karena Citra berani menjawab. Namun sedetik kemudian, ia tertawa meremehkan. Ia ikut berdiri dan berkacak pinggang.

"Sakit? Halah, drama!" potong Kinan kasar. "Kalau sakit itu ke dokter, bukan keluyuran nggak jelas ke kampung kumuh itu! Kamu tahu nggak gara-gara kamu nggak pulang semalam, seisi rumah ini jadi neraka?! Mas Putra ngamuk tadi pagi!"

"Mas Putra marah karena kemejanya belum disetrika! Dia marah karena kopinya nggak enak buatan Bibi! Dan kita yang kena imbasnya!" lanjut Kinan berapi-api, wajahnya memerah. "Kita dimaki-maki pas sarapan cuma gara-gara kamu malas dan kabur! Kamu tuh bener-bener pembawa sial ya! Nggak guna banget jadi orang!"

"Cukup, Kinan!" Citra menyela, air matanya mulai menggenang tapi ia tahan. "Kalian marah cuma karena Mas Putra marah sama kalian? Bukan karena khawatir sama saya? Saya ini manusia, Kinan. Bukan robot yang bisa disuruh-suruh 24 jam. Saya butuh istirahat!"

"Manusia?" Putri tertawa sinis, tawa yang menyakitkan telinga. Ia maju selangkah lagi, mengintimidasi Citra dengan tubuhnya yang lebih tinggi. "Jangan samain derajat kita. Kamu itu di sini cuma karena utang budi. Harusnya kamu bersyukur Mas Putra mau mungut kamu dari comberan."

"Tolong jaga bicara kamu, Putri," Citra mengepalkan tangannya. "Bagaimanapun juga saya kakak ipar kamu."

"Kakak ipar?" Putri mendengus jijik. "Ngaca dong! Nggak ada kakak ipar yang levelnya kayak pembantu. Mas Putra nikahin kamu itu terpaksa. Dia jijik sama kamu. Asal kamu tahu ya, Mas Putra tadi pagi bilang dia nyesel banget bawa kamu masuk ke rumah ini. Katanya kamu cuma bikin semak pemandangan."

Kalimat itu menohok ulu hati Citra lebih tajam daripada pisau mana pun. Pertahanannya runtuh.

"Mas Putra... bilang begitu?" tanyanya lirih, suaranya pecah.

"Iya!" seru Kinan penuh kemenangan. "Dia bilang kamu itu beban. Useless. Jadi jangan harap kamu bisa berlindung di balik status 'istri'. Di mata Mas Putra, dan di mata kita semua, kamu itu cuma benalu kampung yang bikin malu keluarga Aditama!"

"Dengar baik-baik," tambah Putri dengan suara rendah yang mengancam, mendekatkan wajahnya ke telinga Citra. "Mas Putra belum pulang. Tapi asal kamu tahu, dia sudah nyiapin hukuman buat kamu. Kalau aku jadi kamu, aku bakal gemetaran sekarang. Dia benci banget sama orang yang nggak disiplin dan pembangkang kayak kamu."

Kinan tersenyum puas melihat wajah Citra yang kini pucat pasi dan kehilangan daya untuk melawan. "Mampus lo. Siap-siap aja diusir atau dimaki-maki sampai lo nangis darah. Jangan harap kita bakal bantuin lo. Kita justru bakal nonton sambil makan popcorn."

Setelah puas memuntahkan racun dari mulut mereka dan melihat Citra hancur, kedua kakak beradik itu kembali duduk di sofa, menyalakan TV dengan volume keras, seolah Citra adalah sampah yang sudah selesai mereka buang ke tempatnya.

Citra berdiri mematung di dekat pintu dengan air mata yang deras membasahi pipi. Bahunya berguncang menahan isak. Keberanian kecilnya tadi langsung padam disiram air keras kenyataan.

Benalu. Pembawa sial. Beban. Jijik.

Kata-kata itu berputar di kepalanya. Dengan langkah gontai dan menyeret kaki, Citra berjalan menaiki tangga menuju kamarnya atau lebih tepatnya, menuju ruang eksekusi di mana Putra mungkin akan segera datang dan memberikan vonisnya.

Mansion mewah itu terasa semakin dingin dan asing, seolah dinding-dindingnya pun ikut memusuhi kehadiran Citra, menertawakan nasibnya yang terjebak dalam sangkar emas tanpa kunci.

1
merry
citra Mau cerai tnp minta uang yg bnyk cm minta rumah sederhana ajj,,, Krj cit jdi cwe mandiri dan bljr ilmu Bela diri gt kek bukti iin pd lkimu Dan ipar mu kmu bukn cwe matre
Emily
kenapa hanya ancaman saja putra...seharusnya 2 adik iblismu harus di cambuk bukan cuma gertak sambal aja...pak Adhitama dan putra 11 12 omon omon doang ngancam nya..berharap ada keajaiban dari supaya 2 anak iblisnya lepas dari hukuman yg semestinya..preetlah
Salfarina Hasimu
lanjut Thor,,,
Reni Anjarwani
lanjut lagi thor
partini
jangan cerai cit hukum aja hukum batin itu luar biasa dampak nya loh biarpun sekarang udah sedikit tapi dia masih menyalakan adik"nya ga ngaca si putra
Reni Anjarwani
lanjut thor
Nesya
nikmati aja penyesalanmu putra, lanjut thor
partini
dihhh put put adekmu ga 💯 salah lah kamu tuh biang kerok nya kalau kamu ga jahat merek juga ga bakal jahat
ga sadar diri, semogaa kamu bucin sama citra untuk sekarang nikmati saja rasa bersalah mu sampai cinta kembali ke pelukan mu
merry
pnjarinn ajj biar kapok tp hidup dlm Kemiskinn juga bgss itu juga ud ksh pljrnnn biar tau gmn rasa ya jdi org miskinn,, biar tau gmn Ngehargai org miskin🙏🙏🙏
Reni Anjarwani
lanjut trs
merry
citra kmu lepsainn juga msh bnyk yg Mau tu con toh tmn mu si Morgan 🤭🤭🤭yakin mau ceraiin citra
Nesya
nyeseek bgt citra
partini
ga usah over deh put,citra cuma butuh waktu ko ga akan kemana mana dia
Nesya
maaf ? preeetlah…
efa herlina
lanjut thor , punya double ya thor. kerennn sekali ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut
partini
berapa lama dinding tembok hati yg di bangunan citra akan runtuh
sorry" to say cit ga yakin deh bakal lama apa lagi move on putra terlalu keren untuk di lupakan 🤭
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
partini
citra hatinya selimut sutra susah kalau di marah atau benci,,putra pantas dapat Shok tetapi dulu biar otaknya berfungsi dengan baik orang ga pernah kehilangan semua yg di mau selalu terkabul jadinya arogan
Novi Kuswarini
lanjut thor.... seru banget ya ampun
......
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!