NovelToon NovelToon
Cahaya Ditengah Hujan

Cahaya Ditengah Hujan

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: 1337Creation's

"Cahaya di Tengah Hujan"
Rini, seorang ibu yang ditinggalkan suaminya demi wanita lain, berjuang sendirian menghidupi dua anaknya yang masih kecil. Dengan cinta yang besar dan tekad yang kuat, ia menghadapi kerasnya hidup di tengah pengkhianatan dan kesulitan ekonomi.

Di balik luka dan air mata, Rini menemukan kekuatan yang tak pernah ia duga. Apakah ia mampu bangkit dan memberi kehidupan yang layak bagi anak-anaknya?

Sebuah kisah tentang cinta seorang ibu, perjuangan, dan harapan di tengah badai kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1337Creation's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah yang berbeda

Bab 22: Rumah yang Berbeda

Aditya berdiri terpaku di depan gerbang besar rumah Bu Lastri. Ia menelan ludah. Rumah ini… besar sekali.

Tidak seperti rumahnya yang sempit dan sederhana, rumah Bu Lastri memiliki halaman luas dengan tanaman hias yang tertata rapi. Pagar besinya menjulang tinggi, terlihat kokoh dan berkelas. Di samping rumah, ada garasi yang menampung mobil hitam yang tadi membawa Ibu dan adiknya ke Jakarta.

Pintu rumah itu terbuka, memperlihatkan bagian dalam yang lebih mengejutkan. Lantai rumah itu mengilap seperti kaca, dindingnya dihiasi berbagai lukisan yang tampak mahal. Sofa di ruang tamu tampak empuk, dengan bantal-bantal berwarna krem yang tersusun rapi.

Aditya menoleh ke belakang, masih tak percaya ia akan tinggal di tempat ini untuk sementara waktu. Apakah ia benar-benar diizinkan tinggal di rumah sebagus ini?

Di tengah kebingungannya, suara langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Seorang wanita yang tampak ramah berjalan mendekat dengan senyum hangat.

"Aditya, ya?" Wanita itu bertanya dengan lembut.

Aditya mengangguk pelan.

"Aku Tante Lita, anak Bu Lastri. Mulai sekarang, kamu bisa anggap rumah ini seperti rumahmu sendiri, ya."

Wanita itu berjongkok sedikit agar bisa menatap Aditya lebih dekat. "Kamu pasti lapar, kan? Tante sudah siapkan makanan di meja makan. Nanti kita makan bersama, ya?"

Aditya hanya bisa mengangguk lagi. Ia masih merasa sedikit canggung berada di tempat yang begitu asing baginya.

Dari dalam rumah, muncul dua anak laki-laki yang kira-kira seusianya. Mereka cucu Bu Lastri. Salah satu dari mereka memiliki rambut ikal dan memakai kaus biru, sementara yang satunya berambut lurus dan lebih tinggi sedikit.

Keduanya menatap Aditya dengan penasaran.

"Kamu Aditya?" salah satu dari mereka bertanya.

Aditya mengangguk, agak waspada.

Namun, wajah mereka justru berubah cerah. "Wah, asyik! Sekarang kita punya teman baru!"

Anak yang lebih tinggi menyodorkan tangannya. "Namaku Rian. Ini adikku, Aldi."

Aditya terkejut. Ia tidak menyangka akan disambut sehangat ini. Perlahan, ia menerima uluran tangan Rian.

Aldi tersenyum lebar. "Ayo, masuk! Kita main di dalam!"

Aditya menoleh ke Tante Lita, memastikan apakah ia boleh masuk ke dalam rumah. Wanita itu mengangguk sambil tersenyum. "Pergilah bermain dengan mereka. Kalau butuh apa-apa, bilang saja, ya?"

Aditya mulai merasa lebih nyaman. Ia melangkah masuk ke dalam rumah, mengikuti Rian dan Aldi yang tampak bersemangat ingin menunjukkan sesuatu padanya.

Gangguan di Depan Gerbang

Namun, sebelum mereka benar-benar masuk ke dalam rumah, terdengar suara tawa yang begitu familiar di luar gerbang.

"Hahaha! Wah, si miskin sekarang tinggal di rumah orang kaya! Aku nggak sabar lihat dia diperlakukan seperti pembantu di sana!"

Aditya terkejut. Ia mengenali suara itu.

Ketika ia berbalik, di depan gerbang berdiri Aris, anak berandalan di sekolahnya.

Aris bersandar santai di pagar, menatap Aditya dengan tatapan penuh ejekan.

"Pasti nanti kamu diperlakukan kejam! Hahaha!"

Aditya mengepalkan tangannya, dadanya mulai terasa sesak. Kenapa Aris selalu muncul di saat-saat seperti ini?

"Kamu pikir orang kaya mau baik sama orang miskin? Nanti kamu pasti disuruh nyuci piring, bersihin lantai, atau bahkan tidur di gudang! Hahaha! Dasar pengemis!"

Perkataan itu menusuk hati Aditya. Bayangan buruk mulai mengisi kepalanya. Apakah benar ia hanya akan dianggap sebagai beban di rumah ini?

Melihat Aditya yang mulai ragu, Rian tiba-tiba melangkah maju dan berdiri di depan Aris.

"Hei, kalau cuma mau menghina, pergi saja!" kata Rian dengan tegas.

Aris tertawa sinis. "Kenapa? Kamu membela dia?"

Aldi ikut maju. "Tentu saja! Dia teman kami sekarang!"

Aditya menatap mereka dengan terkejut. Tidak ada yang pernah membelanya dari ejekan Aris sebelumnya.

Aris mendengus, jelas tidak suka melihat Aditya mendapat dukungan. "Tch! Lihat saja nanti, pasti dia bakal diusir juga! Orang miskin itu nggak cocok tinggal di rumah orang kaya!"

Dengan wajah kesal, Aris akhirnya pergi.

Aditya menundukkan kepala, masih merasa ragu dengan dirinya sendiri. Namun, Rian menepuk bahunya.

"Jangan dengarkan dia. Kamu bukan beban, Aditya."

Aldi ikut mengangguk. "Ayo, kita masuk. Kita mau main game, kamu suka nggak?"

Aditya menatap mereka dengan sedikit harapan. Mungkin… mungkin di rumah ini, ia benar-benar bisa diterima.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa tidak sendirian.

1
Ana Akhwat
Terlalu banyak dramanya Thor akhirnya pembacanya banyak yang eneg/Pray//Pray//Pray/
♪Ace kei jett♪: Halo para pembaca setia,

Terima kasih banyak sudah mengikuti cerita ini hingga sejauh ini. Aku sangat menghargai setiap masukan dan komentar kalian, termasuk kritik yang membangun. Aku sadar bahwa beberapa dari kalian merasa bahwa dramanya terlalu banyak sehingga agak melelahkan untuk dibaca.

Aku ingin meminta maaf jika bagian itu membuat pengalaman membaca kalian kurang nyaman. Di bab-bab selanjutnya, aku akan berusaha mengurangi unsur drama yang berlebihan dan lebih fokus pada inti cerita utama agar alurnya lebih mengalir dan tetap menarik untuk dinikmati.

Sekali lagi, terima kasih atas dukungan dan kesabaran kalian. Kritik dan saran kalian sangat berarti untuk perkembangan cerita ini. Semoga kalian tetap menikmati kelanjutannya!

Salam,
[Penulis]
total 1 replies
Hennyda Wati Gmanik
Biasa
Hennyda Wati Gmanik
Buruk
Yati Syahira
cape bacanya
♪Ace kei jett♪: "Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan komentar! Maaf kalau bab ini terasa panjang dan bikin capek bacanya. Aku bakal jadikan ini sebagai masukan supaya ceritanya tetap enak diikuti tanpa kehilangan esensinya. Tapi aku tetap apresiasi banget kamu sudah sampai di sini. Semoga bab-bab selanjutnya lebih nyaman dibaca. Makasih lagi!"
total 1 replies
Yati Syahira
aduuh masa bodoh diem saja di injak injak begitu bisa panggil bosya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!