Cahaya Ditengah Hujan
Malam itu, hujan turun deras mengguyur kota kecil di pinggiran Jawa Tengah. Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita duduk termenung di meja makan. Namanya Rini Ardianti, 32 tahun, seorang ibu dari dua anak yang baru saja menghadapi kenyataan pahit hidupnya.
Hujan di luar seperti menggambarkan kekacauan dalam pikirannya. Atap seng rumahnya berisik oleh tetesan air yang deras, dan angin dingin merembes masuk melalui celah jendela tua yang sudah lama tidak diperbaiki. Namun, suara itu nyaris tak terdengar oleh Rini. Ia terlalu sibuk memandangi surat kusut yang tergeletak di meja, surat yang mengakhiri pernikahannya.
Bayu Prasetyo, suami yang pernah ia cintai lebih dari apapun, telah pergi. Tidak ada perdebatan, tidak ada tangisan perpisahan—hanya sebuah surat pendek yang ditulis dengan tinta hitam.
"Maaf, aku tidak bisa melanjutkan ini. Aku harap kamu mengerti."
Kata-kata itu terasa seperti belati yang menusuk hati Rini. Selama bertahun-tahun, ia telah mendampingi Bayu melalui berbagai kesulitan hidup. Ia ada di sana ketika Bayu kehilangan pekerjaannya dua tahun lalu, memberikan dukungan dan bekerja sebagai penjahit untuk membantu keluarga bertahan. Tapi ternyata, cinta dan pengorbanannya tidak cukup. Bayu memilih wanita lain, seseorang yang ia sebut sebagai “kesempatan baru.”
Rini menyeka air mata yang mulai menggenang. Dia tidak ingin terlihat lemah, terutama di depan anak-anaknya. Di ruangan sebelah, terdengar suara tawa kecil. Aditya, 8 tahun, sedang bermain boneka kertas bersama adiknya, Nayla, 5 tahun. Mereka tidak tahu bahwa ayah mereka tidak akan pernah pulang lagi.
“Bu, aku lapar,” suara kecil Nayla memanggil dari ruang tamu, membuat Rini tersentak keluar dari pikirannya.
Rini buru-buru berdiri dan memasang senyum, meskipun hatinya terasa berat.
“Sebentar, Sayang. Ibu sedang masak mi untuk kalian,” jawabnya lembut.
Di dapur kecil yang remang-remang, Rini menyalakan kompor minyak tanah. Tangannya gemetar saat membuka bungkus mi instan terakhir di rak. Hanya ini yang tersisa. Simpanan uang dari Bayu sudah hampir habis, dan ia belum tahu bagaimana cara mendapatkan penghasilan.
Saat mi mendidih, pikirannya melayang ke kejadian pagi tadi. Rini mencoba melamar pekerjaan di sebuah toko kelontong dekat pasar. Pemilik toko, seorang pria tua dengan wajah ramah, menolak dengan halus.
“Maaf, Mbak Rini, kami butuh anak muda yang bisa angkat-angkat barang,” katanya.
Rini hanya bisa tersenyum pahit dan mengucapkan terima kasih. Penolakan itu bukan yang pertama, dan mungkin bukan yang terakhir.
Setelah mi matang, Rini membaginya menjadi tiga porsi kecil. Ia menyendokkan sebagian besar untuk Aditya dan Nayla, sementara dirinya hanya mengambil beberapa suap.
“Makan yang banyak, ya. Besok kalian harus tetap semangat sekolah,” ucapnya sambil mengelus rambut Nayla.
“Bu, besok aku bawa bekal apa?” tanya Aditya polos, sambil mengunyah makanannya.
Rini terdiam sejenak, mencoba menyembunyikan rasa sesak di dadanya.
“Ibu akan siapkan nasi dan telur dadar, seperti biasa,” jawabnya dengan senyum. Padahal, ia tahu bahwa telur di dapur sudah habis sejak dua hari lalu.
Setelah anak-anak tidur, Rini duduk di ruang tamu dengan segelas teh hangat di tangannya. Tatapannya kosong, namun pikirannya penuh. Hujan di luar belum berhenti, seolah mencerminkan perasaannya yang kacau.
“Aku harus kuat,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Kalau aku jatuh, anak-anakku tidak punya siapa-siapa.”
Rini memandang foto keluarga yang tergantung di dinding. Foto itu diambil lima tahun lalu, saat semuanya masih terasa bahagia. Bayu berdiri di tengah, memeluk Rini dan kedua anak mereka dengan senyum lebar. Kini, hanya Rini yang tersisa untuk memeluk mereka.
Keesokan harinya, matahari muncul malu-malu di balik awan. Dengan hati yang berat tapi tekad yang kuat, Rini memulai hari barunya. Ia memutuskan untuk pergi ke pasar, bukan untuk berbelanja, tetapi untuk mencari pekerjaan. Ia mendengar bahwa ada seorang penjual sayur yang sedang mencari asisten.
“Semua orang harus mulai dari suatu tempat,” pikir Rini.
Ketika ia berangkat, Aditya yang baru bangun menatap ibunya dengan rasa ingin tahu.
“Bu, mau ke mana pagi-pagi?” tanyanya.
“Ibu mau cari kerja, Sayang. Kamu jaga adikmu, ya,” jawab Rini sambil mengecup kening putranya.
Aditya mengangguk patuh, meskipun ia belum sepenuhnya mengerti situasi yang mereka hadapi.
Di pasar, Rini berjalan menyusuri lorong-lorong sempit yang dipenuhi pedagang. Ia menahan rasa malu saat bertanya kepada penjual satu per satu, menawarkan dirinya sebagai pekerja. Namun, jawaban yang diterimanya selalu sama: tidak ada lowongan.
Saat hari mulai siang dan terik matahari semakin menyengat, Rini akhirnya menemukan seorang wanita tua yang terlihat kelelahan di lapaknya.
“Bu, apakah Anda butuh bantuan?” tanya Rini dengan suara lirih.
Wanita tua itu, yang bernama Bu Lastri, memandang Rini dari ujung kepala hingga kaki.
“Kamu bisa bantu angkat-angkat dan melayani pembeli?” tanyanya.
Rini mengangguk cepat.
“Saya bisa, Bu. Saya akan bekerja keras,” jawabnya dengan penuh semangat.
Bu Lastri akhirnya setuju untuk memberi Rini pekerjaan dengan upah harian. Meski kecil, itu sudah cukup bagi Rini untuk memulai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments