Pria, 30 tahun. keturunan gelap dari pewaris utama klan, terpaksa menikah untuk memangkas opini keluarga tentang kehidupannya dan demi kesepakatan-kesepakatan lainnya demi menjaga kehormatan klan.
"Bagian mana dari tubuhku yang membuatmu tak pernah berselera untuk menyentuhnya," protes Dorrota sambil menanggalkan seluruh pakaiannya.
"Aku bukannya tak berselera, tapi..."
"Jadi benar kabar yang kudengar, kamu memiliki wanita lain. Ah, bukan! tapi Pria lain!"
"Aku tidak peduli apapun yang kamu pikirkan, kesepakatan tetaplah kesepakatan. Ingat batasanmu!" ucap tegas Math Male meninggalkan Dorrota yang terisak dalam kemarahan dan kekecewaannya.
mampukah Dorrota mengambil hati Math Male?
ataukah Math Male akan menemukan hati yang lainnya?
.......
Hallo reader, karya ini hanya berdasarkan imajinasi author sepenuhnya. jika ada kesamaan nama tokoh, latar atau kejadian, hanya merupakan kebetulan yang tidak disengaja.
selamat membaca,
Salam, author Yoshua,
Semoga Semua Bebahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 22
Miltus tak memiliki kesempatan lagi, ia terlambat menyadari bahwa Usstica mengandung buah cinta mereka. Pernikahan pembersihan kehormatan telah dilaksanakan, betapapun ia sangat mencintai dan menginginkan Usstica, ternyata ada hambatan lain, yaitu bahwa adik kandungnya telah sah menjadi permaisuri pewaris utama.
Tidak pantas bagi seorang saudara permaisuri harus menikahi saudara dari sang pewaris. Hal itu akan dianggap sebagai langkah pemberontakan melawan kedudukan sang pewaris, dan akan menyebabkan perpecahan diantara kedua belah klan yang berbesan.
Miltus kembali memacu kencang kuda tunggangannya, kecewa dan terluka membuatnya tak ingin segera kembali ke camp. Ia memilih menuju ke pelataran tebing, tempat yang sunyi, namun cukup untuknya bisa meluapkan kegelisahannya tanpa perlu ada siapapun yang mendengar.
Miltus duduk termenung di batu pelataran, ada penyesalan lain yang membuat dirinya bahkan tak sanggup untuk mengadu pada siapapun. Sekedar bertanya pun ia tak lagi memiliki hak istimewa itu. Tekad kuatnya yang ingin datang untuk meminang Usstica sebagai seorang pemimpin kelompok baru belum tercapai, masih membutuhkan banyak sekali pembuktian, namun satu kali kesalahan membuatnya kehilangan jalan.
"Tak ada lagi yang bisa kulakukan untukmu, bahkan untuk diriku sendiri pun tidak ada. Maafkan aku yang tidak memiliki kemampuan apa-apa untuk membawamu dalam hidupku secepat yang pernah aku janjikan."
Miltus begitu frustasi dengan semua penyesalannya sendiri, ia meremas kepalanya dengan kedua tangan, mengacak-acak rambut dan berteriak sekuat tenaga ke arah tebing dalam di depannya, sehingga hanya menyisakan gema dari suaranya sendiri.
Tak jauh dari tempatnya Miltus, di bawah sebuah pohon besar, seorang wanita muda tengah tertidur dengan mata dan pipi yang masih sangat basah dan sembab. Sayup-sayup ia mendengar suara teriakan seseorang, sampai akhirnya ia terbangun setelah mendengar teriakan Miltus yang terakhir.
Si wanita terbangun dengan wajah bingung dan kaget, ia membersihkan wajah dan sedikit merapikan rambutnya, lalu berdiri melihat ke sekeliling, memastikan pendengarannya sekali lagi.
"Aku ketiduran ternyata, ada apa ya? Apa ada perang?" gumamnya masih mencari-cari sumber suara. "Ibu, aku harus mencari suara itu, Mesh pergi dulu ya."
Mesh Mayya melangkah perlahan, mengendap-endap mencari sumber suara. Dari telinganya, ia jelas sekali mendengar suara sesenggukan seseorang yang sedang menangis.
"Hah?! ap-apa yang terjadi? Bukankah itu tuan Miltus? Sedang menangisi apa dia?" gumam Mesh memperhatikan Miltus dari balik pohon lain.
Miltus sedang frustasi, ia yang biasanya sangat peka dengan kehadiran orang asing disekitarnya, kali ini tak menyadari Mesh Mayya yang berjalan semakin mendekatinya.
"Tuan ...." Mesh Mayya sedikit ragu untuk menyapa Miltus.
Miltus tak menyangka ada orang lain di sana, ia terjingkat, terkejut saat Mesh menepuk punggungnya perlahan dari arah belakang. "Apa yang ... membawamu ke tempat ini?!" seru Miltus sambil menepuk pelan bagian dadanya untuk menutupi rasa terkejut.
"Aku hanya mencari tempat untuk menyimpan abu ibuku," sahut Mesh jujur. "Lalu tuan kenapa ...."
Mesh merasa canggung untuk menanyakan detail kenapa harus mendapati Miltus menangis seorang diri di dekat tebing, tubuh tinggi dan kekarnya seakan berbanding terbalik dengan situasi yang dilihatnya.
"Ah, anggap saja aku tidak ada, aku tidak melihatnya, aku tidak melihat apa yang tuan Miltus lakukan. Aku akan pergi," Mesh tergagap dan baru menyadari setelahnya, ia hanya tak ingin membuat penolongnya itu merasa malu dan canggung, lalu Mesh menarik diri untuk meninggalkan Miltus.
"Tetap di tempatmu! Tetaplah di sana!" teriak Miltus.
"Iya?! Hah?!" Mesh menghentikan langkah, berdiri mematung tak berani menatap Miltus.
Miltus bangkit setelah membersihkan wajahnya. Ia berjalan mendekati Mesh Mayya, dan entah apa yang dipikirkan Miltus, ia memeluk tubuh Mesh begitu saja. Mesh sedikit terkejut, namun naluri seorang perempuan yang begitu halus dan lembut, membuat Mesh menyadari dengan cepat.
"Luapkan Tuan, lepaskan saja. Aku tidak tahu apa yang membuatmu begitu kecewa, tapi memendam semuanya itu memang terasa sangat berat," ucap Mesh menerima pelukan dari Miltus, lalu menepuk punggung Miltus dengan lembut. "Tapi tidak baik jika hal kecil harus membuatmu memiliki niat untuk melompat ke tebing yang dalam. Itu tindakan bodoh."
"Hmm? Dasar bodoh! Siapa yang mau lompat ke jurang?" Miltus menarik diri dari pelukan Mesh Mayya.
"Oh, bukan ya?! Tapi..."
Miltus kembali duduk di batu pelataran, menghela nafas setelah merapikan rambutnya yang acak-acakan, "Pernah kah kamu merasa gagal dalam hidupmu?" Miltus menengadah menatap langit yang saat itu bertaburan banyak bintang.
"Hari ini salah satunya," sahut Mesh Mayya membaringkan badan di batu pelataran, tepat di samping Miltus.
"Hmm?"
"Sebagai anak sulung, aku gagal melindungi keluargaku. Beberapa waktu lalu aku harus merelakan ayahku ditembak mati oleh para bandit, lalu hari ini adikku bahkan terluka karena aku tidak memperhatikan langkahnya, satu lagi kegagalanku, kamu tahu kan? Akhirnya aku juga harus kehilangan ibuku."
Miltus ikut merebahkan badan, keduanya menghela napas, menatap jauh ke langit, menikmati kelip bintang. Angin sejuk membuat keduanya semakin merasa tentram dalam pemikiran masing-masing.
"Hei tuan kaya, apa kabarmu? Maafkan aku meninggalkanmu dan memilih melarikan diri, aku yakin kamu selamat hari itu. Aku bahkan lupa tak sempat mengucapkan terimakasih. Meski pada akhirnya aku tetap kehilangan semuanya." batin Mesh tak berpaling dari keindahan langit malam itu.
"Hmm ... Ibu, maafkan aku yang belum bisa membuktikan apapun, tapi aku turut bahagia dengan kabar baik hari ini. Setidaknya Dorrota akan menjadi permaisuri dari klan besar, dan ayah tidak perlu lagi khawatir untuk mendapatkan pasokan makanan dan bahan obat-obatan untuk semua warga Codi." Miltus pun sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Tapi bintang tak pernah merasa gagal menunjukkan keindahannya, walaupun jika dilihat dari tempat kita, mereka hanya berupa titik-titik kecil," ucap Mesh.
"Hmm, benar. Tapi jika dipikir ulang, rasanya mereka pun tak punya pilihan, karena memang hanya itu yang bisa mereka lakukan."
"Salah! Mereka juga suka berpindah tempat. Bahkan dari yang aku dengar, jika kita melihat ada bintang yang sedang berpindah tempat, satu doa kita akan terkabulkan."
"Takhayul dari mana itu!" sanggah Miltus.
"Aku rasa aku pernah mengalaminya. Mereka adalah alam, dan alam akan menjawab semua yang kita mau."
"Benarkah keinginanmu pernah dikabulkan?" Miltus memiringkan badannya, menatap ke arah Mesh, sambil menekuk tangan kirinya sebagai bantalan kepala.
"Hmm, aku rasa waktu aku bingung harus mencari uang kemana untuk membayar hutang keluargaku. Uangnya terlalu banyak, dan aku hanya punya sedikit tabungan." Mesh menceritakan sedikit hal pahit yang selama ini ia sembunyikan sendiri.
"Lalu?" Miltus semakin penasaran dengan kisah Mesh.
"Ya begitu, saat aku sangat putus asa, aku hanya bisa mengadu pada langit, saat itu juga aku melihat bintang berpindah tempat begitu cantik. Di hari selanjutnya, aku dipertemukan dengan seseorang yang bisa membantuku menyelesaikan semuanya."
"Secepat itu?" Miltus masih tak mempercayai kisah Mesh.
"Begitu kenyataannya, dan aku percaya itu jawaban dari langit. Meski pada akhirnya langit harus mengambil semua yang aku miliki, mungkin itu harga yang harus aku bayar juga."
Miltus menghela napas, kembali menatap langit dengan kedua tangannya sebagai bantalan kepala. "Terkadang semua yang menurut kita benar, langit tak merestuinya dengan segera. Tapi hal lain yang tak seharusnya terjadi, justru dengan mudah dikabulkan."
"Hmm, memang tak adil rasanya, tapi aku percaya suatu saat ada waktu yang tepat untuk semua hal."
"Hari ini, wanitaku dinikahi oleh pria lain, tapi ada anakku dalam dirinya." Miltus seperti orang mabuk, yang tiba-tiba membuka hal yang tak biasa dilakukan oleh seorang pria.
"Hah?!" Mesh berjingkat, duduk saking terkejutnya. "Eh, maksudku, kenapa kamu membiarkan dia, jika kalian...." Mesh begitu ragu melanjutkan kalimatnya.
"Dia tidak mengatakan padaku mengenai kehidupan itu, sepertinya keluarganya terlanjur mengetahui hal itu, dan tidak merestui hubungan kami," jawab Miltus dengan senyum kecut.
"Kamu kan laki-laki, kenapa tidak mengusahakannya?"
"Percuma, aku bahkan tidak kan dipandang oleh mereka."
"Baru kali ini aku melihat ada seorang pria yang pesimis. Lihatlah fisikmu tidak mengijinkanmu menjadi lemah." Mesh Mayya mengejek Miltus dengan santai, seakan mereka adalah teman yang telah lama akrab.
"Ah, diam kau! Masalahnya bukan hanya itu saja, tapi aku tidak bisa menceritakannya dengan mudah."
"Kenapa? Pintu sudah terlanjur kamu buka, dan aku sudah masuk setengahnya, apakah kamu akan membiarkan aku terjepit diantara pintu itu?"
Miltus bangun, duduk bersebelahan dengan Mesh. "Malam semakin dingin, kita pulang saja ke camp, adikmu pasti juga mengkhawatirkan mu."
"Ah, benar juga." Mesh bangkit dari duduknya, mengikuti langkah Miltus.
Namun karena malam hanya ada cahaya bintang yang begitu remang, membuat pijakan Mesh tak seimbang. Kaki Mesh terantuk gundukan tanah kecil dan membuatnya hampir terjatuh. Untungnya reflek Miltus sangat bagus, Miltus menangkap tubuh Mesh, sesaat keduanya bertatapan sangat dekat dan lekat.
...****************...
To be continue...
Makasih juga buat bang yosh,keren novelnya, walaupun kadang2 bikin pengen demo wkwk 🤣 semangat terus bang,ditunggu karya2 selanjutnya 😄 jangan bikin yang sad ending Mulu bang hehe
tapi masih kurang sebenarnya... masih belum sebanding sama kejahatan yang dilakukan Kallida 😣