Salsabillah Khairunnisa Kirani, 25 tahun. Terpaksa harus menikah dengan Adrian Mangku Kusumo, 25 tahun. Karena perjodohan orang tua mereka, padahal mereka sama-sama memiliki kekasih.
Sabillah tak tahu mengapa Adrian selalu menuduhnya menjadi penyebab kehancuran Ajeng, kekasih Adrian.
Hingga di tujuh bulan pernikahan mereka, Sabillah melihat Adrian bersama wanita yang tengah hamil tua, dan wanita itu, kekasih Adrian.
Apakah Adrian sudah mengkhianati pernikahan mereka? Meski mereka sepakat untuk berpisah setelah dua tahun pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isma Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Eka
Sabillah yang tadinya ingin kerumah teman-teman Arjuna, ia urungkan, sebab tak mungkin dia meminta Adrian yang mengantarnya, ini saja Sabillah terpaksa satu mobil dengan mantan suami durjananya.
Sepanjang perjalanan pulang, Sabillah memilih menatap luar jendela, tak sudi melihat wajah menyebalkan Adrian yang sekarang sok kecakepan didepanya.
Adrian juga jadi segan membuka suara, suasana didalam mobil terasa mencekam bagi Adrian, jika dia berani membuka suara, seakan Sabillah akan menelanya hidup-hidup. Roda berputar 360 derajat, jika dia dulu berani memarahi Sabillah dengan segala ucapan pedasnya, kini, mengajak bicara Sabillah saja dia takut.
Mobil Adrian berhenti tepat didepan rumah Sabillah dan Arjuna. Adrian ingin sekali membukakan pintu untuk Sabillah, tapi lagi-lagi dia takut membuat Sabillah marah dan tak nyaman.
Didepan rumah Sabillah sudah menunggu pak Sofyan, Sintya, dan kedua anaknya. Mata pak Sofyan menajam melihat Sabillah pulang diantar mobil Adrian.
Tertatih sambil memegangi pinggangnya yang terasa pedas, Sabillah tersenyum melihat orang-orang tersayang menyambut kepulanganya. Meski kemudian senyum itu berubah senyum getir, mendapati kenyataan, orang yang memberinya limpahan kebahagiaan sudah tak ada lagi disisinya.
"Pada nungguin Umak ya, anak-anak Umak?" Memberikan tanganya untuk disalimi kedua anaknya.
"Umak la sekali," gerutu Eka. Eka kemudian menatap Adrian yang turun dari mobil, dia langsung menunjukkan wajah tidak sukanya.
"Orang itu siapa, Umak?" tanyanya enggan menyebut Adrian, om, pak, atau panggilan lain.
"Supir taksi online, Sayang. Yuk masuk, Umak capek." Menggandeng Arial dan Eka kedalam.
"Umak nggak bawa makanan untuk kita?" Eka mendongak.
"Maaf, Umak tadi tidak sempat mampir ke mini market." Duduk di sofa menselonjorkan kaki yang terasa kaku, memijatnya perlahan. "Kalian mau apa, Umak pesankan online saja."
"Kalochi sama Choi pan," jawab Arial dan Eka bersamaan. Sabillah pun memesan makanan kesukaan anaknya.
Diluar, Adrian sedikit gantelman turun dan menyapa pak Sofyan dan Sintya. Wajah Sintya biasa saja, tapi tidak dengan suaminya.
"Pulanglah, tidak perlu mengatakan apa-apa."
Belum juga sampai didepan pak Sofyan, Adrian langsung diusir. Sintya yang biasanya membela, memilih diam. Dia sadar, tak elok jika membela Adrian, sedangkan putrinya baru saja kehilangan, dan dia merasakan penyesalan yang mendalam terhadap Arjuna.
Adrian tak membantah, dia mengangguk. "Saya permisi kalau begitu." Memutar badan, dan meninggalkan kediaman keluarga Sabillah dengan hati bercampur aduk rasanya. Tak ingin memaksa juga, Adrian sadar diri, belum seharusnya berada di rumah janda yang baru ditinggal berpulang suaminya beberapa hari.
Tapi, Adrian merasa tertantang untuk mendapatkan Sabillah lagi setelah mendapat penolakan terang-terangan seperti ini, bagaimanapun caranya. Terkesan memaksakan dan tak tahu diri memang, tapi Adrian akan berusaha.
Malamnya, Sabillah sedang menidurkan kedua anaknya. Sabillah baru saja selesai membacakan dongeng untuk sang anak, Arial sudah tidur lebih dulu, sejak siang anak laki-laki itu begitu aktif, jadi dia kelelahan. Tinggal Eka yang belum tidur, Sabillah mengusap rambut anaknya sembari mengobrol tentang yang dilakukan sang anak seharian ini. Hingga kemudian Eka berani berkata.
"Umak, kalau keluar jangan pakai lipstik, dan baju bagus, ya. Eka tidak suka jika nanti ada cowok yang suka, Umak. Nanti dia minta nomor telepon Umak, ajak bertemu, lalu menikah." Mendongak, menatap Sabillah yang tidur miring menghadapnya.
Mendengar itu Sabillah lantas tersenyum, bagaimana bisa Eka bisa berpikir sejauh itu? Sedang dia sendiri belum terpikirkan kesana sama sekali.
"Kenapa Eka bisa bicara begitu?" tanya Sabillah ingin tahu alasannya, masih mengusap kepala Eka.
"Karena kata pak ustadz yang mengajar ngaji Eka bilang, jika Umak menikah lagi, Umak dan Bapak tidak bisa bertemu lagi di surga. Eka mau kita sama-sama lagi suatu saat nanti," ucapnya.
Harapan sederhana seorang anak, tapi Sabillah tak bisa mengangguk atau mengiyakan. Dia tak tahu kehidupan seseorang kedepannya, dia berharap bisa selalu setia pada Arjuna seperti yang diinginkan Eka.
"Orang yang tadi bersama, Umak. Dia teman bapak, kan? Sama kayak teman Bapak yang suka datang kesini," sambung Eka lagi masih bicara, "Eka tidak suka pada mereka, mereka baik hanya suka sama Umak."
Sabillah mengerutkan dahi, bersitatap dengan Eka. Apa yang dimaksud anaknya Adrian dan Jimmy? Dia tidak pernah menjelaskan Adrian dan Jimmy teman Arjuna. Tapi ... setajam itukah ingatan Eka?
"Memang menurut Eka mereka begitu?" Sabillah juga bisa merasakan itu. Tapi ia tak mau terlalu percaya diri, mungkin saja hanya perasaanya saja.
Eka mengangguk. "Sangat kelihatan mereka suka, Umak. Eka juga tidak suka pada orang yang suka datang, kelihatan jika dia bukan orang baik," ucapnya bersedekap dada.
Sabillah tersenyum, memeluk erat tubuh Eka yang dulu gembil, sekarang nampak lebih kecil. Sabillah menyadari itu.
"Kamu jangan memikirkan banyak hal ya Sayang. Tugas kamu cuma sekolah, sehat dan bahagia untuk Bapak, juga sayang sama Umak dan adik-adik kamu. Masalah orang-orang yang Eka katakan tadi, biar jadi urusan Umak."
Eka membalas pelukan Sabillah, tapi cukup menjaga jarak diperut, tahu didalam ada adiknya.
Setelah anak-anaknya tidur, Sabillah keluar kamar. Ada pak Sofyan dan Sintya diruang tamu sekaligus ruang keluarga itu, mereka sedang menonton acara kesukaan mereka di siaran tivi lokal.
Sabillah ikut bergabung karena dia juga belum mengantuk.
"Bagaimana kamu tadi bisa bersama Adrian, Sabill?" tanya pak Sofyan.
"Hanya tidak sengaja, Pa. Taksi yang Sabill tumpangi mogok, lalu dipesankan Taksi temanya, tiba-tiba anak teman pak supir sakit," jawab Sabillah apa adanya.
"Papa curiga dia mendekati kamu ada maksud tertentu."
"Entahlah, Pa. Sabill tidak memikirkan apa-apa saat ini. Sabill hanya fokus pada kehamilanut Sabill, dan mencari tahu tentang kematian mas Arjuna. Entah mengapa ada yang mengganjal di hati Sabill." Berkata sambil mengusap perutnya.
* * *
Keesokan harinya Sabillah kembali pergi, ia pergi pagi-pagi sekali seorang diri, pak Sofyan tak bisa menemani, sebab dia masih tak enak badan. Rasa penasaran yang tinggi membuat Sabillah tak bisa menunda lagi, hingga sore hari ia mengunjungi satu persatu rumah teman Arjuna, terakhir yang Sabillah kunjungi adalah rumah Tio.
"Benar kalian malam itu tidak jadi operasi kesana?" tanya Sabill pada Tio.
"Benar, Kak. Memang awalnya kami ditugaskan melakukan operasi di pelabuhan, tapi tiba-tiba kami digantikan oleh tim lain." Jawaban yang sama yang Sabill dapatkan dari teman Arjuna yang lain.
Menjelang maghrib Sabillah baru pulang, dari keempat jawaban teman Arjuna, tak ada yang bisa memuaskan hati Sabillah. Tetap saja ada yang mengganjal dihatinya. Biasanya Arjuna akan cerita jika memang tidak jadi melakukan operasi tempat tujuan awal, tapi mau bagaimana lagi, tak ada satupun bukti yang ia dapat.
Saat diperjalanan, Sabillah merasakan perutnya yang tiba-tiba mulas. Ia meminta pak supir untuk langsung ke rumah sakit, ia memeriksa ponselnya, ingin menghubungi papanya, tapi ponselnya mati.
"Astaga, nak. Apa kamu akan lahir sekarang?" Sabillah memegangi perutnya yang semakin terasa sakit. "Pak, cepat sedikit." Pinta Sabill pada pak supir. Keringat jagung keluar dari pelipisnya.
"Iya, Buk." Pak supir menambah kecepatan, ia juga ikut panik.
* * *
"Bagaimana, Tuan? Apa perut anda masih sakit?" tanya Arthur pada Adrian, berjalan di koridor rumah sakit.
"Sudah tidak," jawab Adrian, "sialan Jimmy, sudah tahu aku tidak suka makanan pedas, tapi memasukkan banyak cabai kedalam makanan ku." Adrian menepuk perutnya yang menyisakan sedikit rasa sakit.
Tadi siang Adrian melakukan pertemuan dengan beberapa orang yang akan bekerja sama dengannya dalam pembangunan hotel. Adrian ingin mengepakkan sayap bisnisnya di dunia properti, secara bersamaan ia bertemu dengan Jimmy, dan terjadilah makan siang yang tidak direncanakan.
"Siapkan hukuman gan tung jika dia tidak mau mengganti rugi perbuatanya. bercandanya sangat tidak lucu."
Salah Adrian sendiri, meminta Arthur kekantor lebih dulu saat ia bertemu Jimmy, alasannya dia ingin lebih santai. Lupa jika Jimmy temanya yang memiliki sifat seperti jin.
"Suster tolong, ada pasien mau melahirkan." Teriak suara seseorang meminta tolong pada petugas. Beberapa petugas yang berada di didepan resepsionis bergegas menghampiri supir yang baru turun itu.
Hal itu menyita perhatian Adrian dan Arthur, Adrian jadi teringat pada Sabillah yang sedang hamil besar. Sabillah akan melahirkan seorang diri tanpa ada suami yang menemani disisinya nanti.
"Tuan tunggu disini, saya akan mengambil mobil." Adrian yang sedang memandang kerumunan para petugas yang membantu pasien itu beralih menatap Arthur. Adrian mengangguk.