NovelToon NovelToon
Si Buntung Dan Lengan Bionik Nya

Si Buntung Dan Lengan Bionik Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Dokter Ajaib / Pendamping Sakti
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mobs Jinsei

Remake dari karya berjudul Emas yang belum lama di rilis dan karya teman penguasa berlengan satu yang sudah di drop.

Kisah seorang pria yang selalu di hina akibat dia hanya memiliki satu lengan. Dia di khianati istri yang sewaktu smp di tolongnya sampai mengorbankan lengannya. Mertua dan iparnya menganggap dia sampah karena dia sering di pecat karena kondisi nya.

Dia sempat berpikir mengakhiri hidupnya dan di tolong, dia mendapat lengan bionik karena kebetulan dan sempat mau di bunuh oleh selingkuhan istrinya, namun di saat kondisinya sudah kritis, lengan bionik nya malah menolongnya dan memberinya kekuatan untuk mengubah nasib. Bagaimanakah kisah perjalanan hidup baru nya ?

Genre : Fiksi, fantasi, drama, komedi, supranatural, psikologi, menantu terhina, urban.

100 % fiksi, murni karangan author. mohon like dan komen nya ya kalau berkenan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mobs Jinsei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4

Keesokan harinya, “tap,” Marlon berhenti di depan sebuah gedung tinggi nan lebar yang berada di pusat bisnis kota dan sangat mencolok karena tidak ada bangunan sebesar gedung di depan nya di sekeliling nya. Tapi ketika dia membaca nama gedungnya, dia menjadi kaget karena pernah mendengar nama itu dulu sekali,

“Rumah sakit internasional ortopedi dan prostetik Dirgantara,” ujar Marlon dalam hati.

Ingatan Marlon beralih ketika dirinya di rujuk untuk memasang lengan buatan yang canggih di rumah sakit depannya sewaktu dia masih pemulihan akibat lengan nya di amputasi oleh dokter yang merawat nya. Karena harganya sangat mahal, di tambah dia melihat paman nya uring uringan, dia menolak rujukan itu.

Sekali lagi dia memastikan alamat yang di berikan pesan kemarin dan share location nya, ternyata memang benar adanya, rumah sakit inilah yang memanggilnya untuk wawancara kerja. Pertanyaan baru muncul di benaknya, dia menekan situs pencari kerja untuk mengetahui perusahaan apa saja yang dia lemparkan cv miliknya. Namun karena jumlahnya sangat banyak, sampai ratusan, akhirnya dia menyerah mencari nya.

“Ya sudahlah, coba masuk saja,” ujarnya dalam hati.

“Huuuuf,” Marlon menarik nafas dan menghembuskan nya, dia memantapkan hatinya untuk berani masuk ke dalam. Namun pada akhirnya, dia merenung selama 5 menit di depan gerbang untuk mengumpulkan keberanian dan melangkah masuk ke dalam. Sepanjang berjalan menuju ke pintu lobi rumah sakit, dia terus melihat ke bawah untuk melihat kemeja lusuhnya.

“Duh pantes ga ya masuk pake baju begini,” gumam nya dalam hati.

Langkah yang semula lebar, menjadi sedikit menyempit sampai akhirnya berhenti ketika dia melihat sebuah alam pemeriksaan bom yang berwujud seperti pintu, terpasang sebelum masuk pintu lobi dan banyak orang yang nampak elit mengantri untuk masuk. Dia menatap pintu lobi  dari kejauhan sembari menunggu antrian habis.

Setelah orang terakhir melangkah masuk ke dalam alat pemeriksaan, Marlon buru buru mendekati pintu lobi, namun belum sempat kaki nya melangkah masuk ke dalam alat pemeriksaan, telapak tangan seorang sekuriti yang menjaga alat, hinggap di dadanya menahan dirinya untuk melangkah. Sang sekuriti menatap Marlon dan memindai Marlon dari atas ke bawah kemudian naik lagi ke atas.

“Kamu pasien ? kalau pasien sebaiknya pulang saja, di sini tidak terima asuransi gratis (harusnya bpjs),” ujar nya ketus.

“Um...bukan pak, saya kesini mau wawancara kerja,” balas Marlon.

“Hmm ? wawancara ? sebagai ?” tanya sang sekuriti sombong.

“Saya belum tahu pak, saya hanya di minta hadir di sini jam sembilan, ini pesan nya,” ujar Marlon sambil memperlihatkan smartphone nya ke sekuriti di depannya.

Sang sekuriti menunduk dan memicingkan matanya ketika melihat layar smartphone Marlon, dia melirik ke lengan kemeja kiri Marlon yang melambai lambai karena tidak ada isinya dan terhembus angin ac dari pintu lobi. Wajahnya langsung tersenyum nyinyir,

“Aduh, tidak mungkin kamu bisa kerja di sini, lebih baik kamu pulang,” ujar sang sekuriti.

“Tapi pak, pesan ini mengatakan saya harus sampai di sini jam....”

“Tolong minggir, kamu menghalangi orang lain,” ujar sang sekuriti.

Marlon menoleh ke belakang, dia melihat ada beberapa orang yang sudah mengantri di belakangnya. Dengan terpaksa, Marlon keluar dari barisan dan memberi jalan orang orang yang mengantri di belakangnya. Marlon melirik sang sekuriti yang dengan manis nya menyapa orang orang yang masuk setelah dirinya dan tersenyum lebar.

Dia mengangkat smartphone nya, waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi tepat, harapan Marlon pun pupus, dia tidak di beri kesempatan untuk masuk ke dalam, dia berbalik dan berniat berjalan ke arah gerbang sekali lagi, namun belum sempat dia melangkahkan kaki, “tap,” tiba tiba pundak kirinya di tepuk halus dari belakang.

Marlon menoleh, dia melihat seorang pria paruh baya berambut putih, berwajah ramah dan tersenyum, memakai jas yang nampak mewah, berdiri di belakangnya dan menepuknya,

“Anda pak Marlon ?” tanya sang pria paruh baya dengan ramah.

“Benar pak, maaf, bapak siapa ya ?” tanya Marlon.

“Ternyata benar anda pak Marlon, anda pasti lupa ya sama saya, masih ingat anda dulu ke rumah saya untuk menawarkan produk elektronik penyedot debu dan mempraktekkan nya ?” tanya sang pria.

Marlon mencoba mengingat ingat wajah pria di depannya, sekitar enam bulan lalu, dia memang pernah bekerja sebagai sales door to door yang menjual produk elektronik penghisap debu merek terkenal. Dia di tugasi oleh manajer di sebuah perumahan mewah, dimana hampir seluruh rumah yang ada di sana adalah mansion seperti rumah seorang bangsawan. Tapi karena terlalu banyak dia mendatangi rumah rumah, dia sama sekali tidak mengingat pria di depannya.

“Mohon maaf sekali pak, saya memang pernah menjadi sales produk yang bapak sebutkan, namun saya sama sekali tidak ingat anda,” jawab Marlon.

“Hahaha sudah pasti, tapi saya masih ingat jelas dengan anda pak Marlon, anda begitu gigihnya mempraktikkan penggunakan mesin di depan saya dan istri saya sampai akhirnya kita tertarik untuk membelinya dan sampai sekarang saya masih menggunakan alat nya (melihat dan menatap Marlon) apa anda ada keperluan ke rumah sakit saya ?” tanya sang pria.

“Um...sebenarnya begini,”

Marlon menceritakan singkat kepada pria di depannya kalau dia mendapat wawancara kerja kemarin dari rumah sakit ini, dia juga mengatakan kalau dia tidak ingat dia melamar sebagai apa karena dia menekan semua tombol lamaran di situs, namun dia di panggil untuk wawancara oleh seorang wanita dan itulah sebabnya dia sekarang datang.

“Ah...jadi yang di katakan sekertaris saya kemarin rupanya anda ya, wah senang sekali, ternyata memang kita di takdirkan bertemu hari ini, mari masuk sama saya,” ajak sang pria.

“Um...tapi tadi saya tidak di ijinkan oleh sekuriti masuk, jadi sebaiknya saya pergi saja, saya tidak mau mencari masalah,” balas Marlon.

“Tidak apa apa, ayo masuk sama saya,” ajak sang pria sedikit memaksa sampai merangkul pundak Marlon.

“Baik pak,” balas Marlon yang pasrah karena sudah di rangkul.

Keduanya berjalan kembali menuju lobi dari tempat parkir, begitu sampai di depan lobi, sang sekuriti yang melihat pria paruh baya di sebelah Marlon, langsung berdiri tegap seperti seorang tentara dan menatap sang pria dengan wajah serius.

“Selamat pagi pak Richard,” ujar sang sekuriti.

“Hmm,” balas Richard sambil menunduk sedikit membaca bet nama sang sekuriti di seragam nya.

Richard mengajak Marlon masuk ke dalam sampai membuat sang sekuriti pucat ketika melirik Marlon. Begitu masuk ke dalam, beberapa sekuriti, resepsionis di konter dan beberapa perawat langsung menyapa Richard yang berjalan masuk ke dalam untuk naik lift ke atas. Setelah itu, keduanya berhenti di depan lift kecil yang hanya bisa muat satu dua orang saja. Richard menekan tombolnya, “ting,” lift langsung terbuka seketika.

“Mari pak Marlon,” ajak Richard.

“Oh...apa boleh pak saya naik lift ini ? apakah muat ?” tanya Marlon yang melihat betapa kecilnya lift itu.

“Haha muat pak, mari,” ajak Richard sekali lagi.

Marlon pun melangkah masuk, pintu menutup, dia melirik Richard yang berdiri di sebelahnya dengan santai namun berpostur tegap.

“Siapa ya bapak Richard ini ?” tanya Marlon dalam hati.

“Ting,” lift sudah terbuka sebelum pertanyaan Marlon terjawab, ternyata laju lift benar benar cepat dan mengagumkan. Ketika keluar, Marlon langsung merasa minder dan salah tempat, alasannya dia berada di sebuah kantor pribadi yang mewah dengan sebuah meja kerja besar yang nampak antik berkelas, satu set sofa yang nampak nyaman dan sebuah bar mini berisi banyak minuman keras.

Richard mengajak Marlon duduk di sofa, kemudian dia berjalan ke bar untuk mengambil dua gelas minuman. Marlon menoleh melihat nama di atas meja kerja Richard dan matanya langsung membulat, ternyata Richard bernama lengkap Richard Dirgantara dan dia adalah pemilik / owner sekaligus CEO rumah sakit mewah itu. Marlon yang semula merasa santai saja, sekarang langsung merasa grogi dan sedikit salting setelah tahu siapa sebenarnya Richard.

Setelah Richard kembali membawa dua gelas minuman, dia langsung duduk santai sambil melipat kakinya di hadapan Marlon,

“Nah pak Marlon, sebelumnya boleh saya bertanya ?” tanya Richard.

“Si – silahkan pak,” jawab Marlon.

“Berapa usia anda pak ?” tanya Richard.

“Um...usia saya 27 tahun pak,” jawab Marlon resmi.

“Aduh tolong santai saja pak Marlon, jangan kaku kaku seperti itu, saya akan jelaskan pekerjaan pak Marlon sekarang,” balas Richard.

Richard langsung mengatakan kalau dirinya, dua orang dokter ortopedi dan dua orang dokter prostetik sedang membuat terobosan baru yaitu sebuah anggota tubuh bionik yang memiliki fungsi lebih canggih dari smartphone menggunakan teknologi terbaru yaitu holographic interface. Tapi produk ini belum pernah di implementasikan kepada manusia sama sekali.

Alasannya karena harga yang mahal, belum teruji juga efek samping nya terhadap tubuh manusia. Selain itu, para dokter dan ilmuwan pengembang prostetik harus mencatat perkembangan pasien yang di pasangi prostetik bionik tersebut dan memantau kondisinya selama satu bulan setelah pemasangan.

“Nah permasalahan yang kita hadapi saat ini, tidak ada orang yang bersedia mencoba ready product kita, kalau kita mencari anak anak, orang tua mereka tidak mengijinkan, lagipula resiko besar karena mereka masih bertumbuh. Kalau pria atau wanita dewasa, mereka terlalu berisiko dalam penyesuaian nya karena struktur tulang mereka yang sudah mengeras dan kuat, jadi kita memang mencari orang yang berusia sekitar minimal 15 tahun sampai maksimal 30 tahun, karena usia itu adalah usia ideal tulang baru selesai berkembang atau sudah berkembang dan masih belum terlalu keras,” ujar Richard.

Marlon terkesiap, ternyata pekerjaan yang di tawarkan bukanlah pekerjaan melainkan menjadikan dirinya kelinci percobaan produk baru mereka. Semua masuk akal ketika dia di tawari bayaran mahal dalam pekerjaan ini karena pastinya resiko yang harus di tanggung juga tidak mungkin kecil.

1
Syari Andrian
double2 up donh
TUAN AMIR
next
Syari Andrian
Next
Syari Andrian
Nyesal gak kamu vania? Hufh keqnya enggak😑😑😑
Syari Andrian
Keren banget idenya bikin cerita thor…
Syari Andrian: Sama2
Mobs Jinsei: makasih dan makasih support nya kak/Pray/
total 2 replies
Syari Andrian
Next seru
Syari Andrian
Astaga…😬😬😬
Syari Andrian
Akhhhh knapa jadi aku yang nge bayangin….
Syari Andrian
Waaah identitas baru.. berarti lajang dong awokawoak
Syari Andrian
Jangan sulit2 ancamannya ya kasian MC nya
Syari Andrian
Banka kamu akan menyesal di kemudian hari 😪😪
WHITE FIRE
lanjut author aku tunggu updatenya
Mobs Jinsei: Siap kak
total 1 replies
WHITE FIRE
lanjut author aku tunggu
allowble_ranger
lanjut jadi penasaran
Mobs Jinsei: Siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!