Tujuh murid Seoryeong Academy terpaksa menjalani detention di hari libur setelah membuat onar di sekolah. Park Jiha, si cewek populer yang semua orang iri. Kim Taera, cewek beprestasi yang sempat jadi primadona namun berakhir difitnah dan dikucilkan. Jeon Junseok, murid bandel kesayangan Guru BK. Kim Haekyung, atlet kebanggaan yang selalu terlihat ceria. Min Yoohan, tukang tidur yang nyaris tidak pernah peduli. Serta Kim Namgil & Park Sojin, Ketua Kelas dan murid teladan yang diam-diam suka bolos demi mojok (pacaran).
Mereka mengira hanya perlu duduk diam beberapa jam, menunggu hukuman selesai. Tapi semua berubah saat seseorang mengunci mereka di gedung sekolah yang sepi.
Pintu dan jendela tak bisa dibuka. Cahaya mati. Telepon tak berfungsi. Dan kemudian… sesuatu mulai mengawasi mereka dari bayang-bayang. Tujuh bocah berisik terpaksa bekerja sama mencari jalan keluar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Rainey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 : RUUUNNNN!
Semua pintu terkunci. Menyisakan sebuah lubang yang bisa dimasuki. Barangkali semacam terowongan? Terowongan yang bisa mereka pakai untuk melarikan diri?
Sedetik kemudian mereka sudah menundukkan kepala dan memasuki lubang gelap di tembok.
Sojin terbatuk-batuk. Suara batuknya memantul dimana-mana. Awalnya terpantul nyaring, hingga menghilang di ujung sana, terdengar bermil-mil jauhnya. Ini dimana sih? Sojin mendongak. Gelap sekali.
"Tempat apa ini?" bisiknya dengan suara gemetar.
Suaranya bergema.
Sojin mengulurkan tangan dan menyentuh dinding. Berupa susunan batu. Batu yang dingin dan lembap.
Yoohan mengarahkan cahaya senternya kemana-mana. Udaranya terasa lembap dan sejuk. Di sekitar mereka terdengar suara air mengalir.
"Ini gorong-gorong lama,"ucap Yoohan. "Berarti pasti menuju ke suatu tempat di luar gedung sekolah kita."
"Mudah-mudahan saja," sahut Namgil. "Kita harus bergerak. Pasti ada jalan keluar dari gorong-gorong ini. Pasti ada!" Nada bicara Namgil terdengar tegas. Tidak ada keraguan di dalamnya. Cowok satu itu memang luar biasa. Orang-orang kebanyakan mungkin bakal mendekam takut dan memilih duduk menunggu pertolongan.
Sojin berpaling ke Namgil, tampangnya seperti pengemis lapar. "Maksudmu kita akan menjelajahi terowongan ini?"
Pertanyaan konyol. Tentu saja mereka akan menjelajahi terowongan ini. Seandainya kau tersesat di terowongan di bawah rumahmu, apa yang akan kau lakukan? Kan tidak mungkin kau cuma berdiri bengong di dalam terowongan. Kau pasti akan menjelajahi terowongan itu. Mau tidak mau. Berusaha memanjangkan leher terbukti tidak ada gunanya untuk melihat dimana letak pintu masuk mereka tadi.
Mereka akhirnya jalan pelan-pelan menyusuri lorong, sambil berpegangan pada dinding batu yang basah. Juga mencurigakan. Pasalnya, daritadi Sojin mendapati makhluk-makhluk kecil menggeliat-geliut di celah-celah batu. Masa bodoh. Dia lebih takut tidak bisa keluar dan seumur hidup harus tinggal di terowongan ini.
Terus terang, Sojin tidak menyangka kalau gorong-gorongnya sebesar ini. Siapa pun yang mati lalu mayatnya dibuang ke tempat seperti ini, tidak heran dia bangkit lagi setelah mati. Pastilah! Sojin juga bakal protes kalau seandainya dia mati dan jasadnya dibuang ke tempat macam begini.
Senter di tangan Yoohan berayun-ayun. Sinarnya berpindah cepat menerangi objek-objek di sekelilingnya. Berkat cahaya senter, mereka bisa melihat jalanan di depan.
"Lembap sekali," gumam Sojin. Pori-pori tangannya menyapu dinding terowongan. Udara langsung terasa lebih dingin. Dia menggigil. "Rasanya seperti masuk ke lemari es."
"Panjang terowongan ini mungkin bermil-mil," tanggapan Yoohan malah tidak nyambung. "Haloooooooooo!" panggilnya.
"Sssst!" Sojin makin panik karena cowok sok jago itu main buka mulut seenaknya. Bagaimana kalau ada makhluk berbahaya di depan sana?
Namgil mendorong Yoohan ke dinding yang lembap. "Jangan ribut! Kenapa sih kau tidak bisa serius?"
"Ini lagi serius!" balasnya mendesis. "Tidak perlu kasar!"
Senter kecil Yoohan menuntun mereka. Mereka melangkah sambil menghindari genangan-genangan air, berhati-hati melangkah agar tidak terpeleset. Semakin jauh mereka memasuki terowongan, udara terasa semakin dingin. Langkah kaki mereka menimbulkan bunyi. Bunyi itu memantul pada dinding batu. Setelah berjalan kira-kira... entah berapa lama, mereka berhenti sebentar dan menoleh ke belakang.
Rasanya tidak ada bedanya antara depan dan belakang. Dimana-mana cuma ada dinding batu dan hawa dingin menusuk.
Terowongan itu tiba-tiba saja berbelok. Dinding-dinding seolah-olah bertambah rapat. Perasaan ngeri mulai bangkit dalam diri Namgil, tapi dia cepat-cepat mengusirnya.
Ada cabang di depan, satunya mengarah ke kiri, dan satu lagi mengarah ke kanan. Mereka maju beberapa langkah ke kiri, kemudian berhenti.
"Tidak bisa." Yoohan menggeleng-geleng. "Tidak bisa masuk. Tertutup reruntuhan. Putar arah!"
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan melalui cabang sebelah kanan. Namun baru beberapa langkah, Yoohan mendadak berhenti. Samar-samar, dari jarak yang jauh sekali di depan sana, dia mendengar... suara rantai diseret.
Yoohan mengangkat sebelah tangan, langkah dua orang di belakangnya terhenti. "Sssst..." desisnya. "Kalian dengar yang barusan?"
Kepanikan Sojin meningkat drastis. "Apa lagi sih?"
Suara gemericing lirih dan gesekan berat. Mereka bertiga menajamkan telinga. Ada apa dengan tempat sialan ini?
"Apa itu...?" bisik Sojin cemas, ketegangan mencekik lehernya lagi. Ketiga pemuda itu berdiri kaku, tidak bergerak. Bunyi rantai yang diseret berat ke lantai itu semakin dekat dan jelas.
"Mundur!" perintah Namgil. "Kembali ke cabang tadi."
Mereka berlari ke cabang yang tadi mereka lewati, ambil langkah ke kiri, masuk ke sana, dan meringkuk rapat-rapat di dekat reruntuhan bebatuan. Mereka duduk berdempet-dempetan di situ. Sambil pasang telinga. Sojin menempelkan tangan ke mulutnya. Matanya melotot waspada. Sunyi. Senyap. Mereka mendengarkan.
Sosok perempuan berdaster putih berdiri di sana untuk beberapa lama dan hanya mengamati, menunggu, kepalanya berputar ke kiri. Ikut mendengarkan bunyi langkah kaki.
Tidak menemukan siapa-siapa dia kembali menyeret rantai besi yang ternyata terhubung ke leher... patung?
Yoohan terbelalak melihat badan kaku yang diseret gadis itu bukan patung manekin, melainkan tubuh kaku mayat sungguhan yang mengenakan gaun panjang seperti putri-putri raja.
Yang membuat tiga orang itu ngeri, mayat si perempuan sudah pucat, urat-urat biru di badannya mencuat semua ke permukaan, menghiasi tubuh pucatnya yang membusuk dan kurus sekali, nyaris menyusut menjadi tulang.
Yoohan pikir dia akan pingsan lalu mati di tempat karena shock, tapi nyatanya tidak. Jantungnya hanya berdebar super cepat, sementara dia waswas menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah perempuan itu akan menemukan mereka.
Namgil masih belum berani bernapas atau bergerak. Sebelah tangannya tetap membekap mulut Sojin, sebelah tangan lagi memeluk tubuh kekasihnya itu, yang gemetaran hebat.
Mata perempuan gila itu sangat liar dan menakutkan. Haus darah. Mata predator. Sorotnya tajam persis sorot binatang buas yang senang berkeliaran di malam hari.
Sojin memejamkan kelopak mata rapat-rapat, tidak berani melihat. Bau busuk yang menguar dari tubuh mayat gadis yang ditariknya membuat Sojin ogah dan jijik duluan untuk mencari tahu siapakah gerangan yang sedang mereka hadapi.
Perempuan itu kembali melangkah menyusuri terowongan. Suara rantai dan langkah kaki diseret menjauh meninggalkan mereka.
Berhasil! Mereka nyaris menjerit karena senang.
Namgil menunggu beberapa detik lagi sebelum melepaskan bekapannya pada mulut Sojin. Cewek itu agak oleng saat mencoba berdiri, Namgil harus memeganginya agar Sojin tidak jatuh berdebum lalu menimbulkan keributan. Pada akhirnya mereka tidak berani kemana-mana dulu selain menunggu, dicekam rasa takut yang menerobos ubun-ubun.
Setelah beberapa lama, Namgil berbisik. "Kita aman."
Sojin menggeleng kencang. "Aman katamu? Kita tidak aman!"
"Ssst!"
"Tidak aman! Aku... aku tidak mau... kita pulang saja..." Sojin terisak. "Kita akan mati di sini..."
"Ssst.. hei, hei, hei." Namgil harus memeluknya lagi. Jangan sampai Sojin berlarut-larut dalam mimpi buruk yang menghambat mereka untuk maju. "Kita akan keluar dari sini. Aku janji. Aku akan membawa kita keluar. Dengan aman. Janji."
"Tapi bagaimana kalau dia kembali?" Sojin sesenggukan di pundak Namgil.
"Kita tunggu sebentar." Namgil memutuskan. "Kalau nggak terdengar apa-apa lagi, kita lanjut."
Sojin menggeleng-geleng. Air matanya mengucur deras. Dia mengusap wajahnya dengan lengan jaketnya yang kotor dan bau apek. "Kita akan mati di sini, dan aku... aku belum mau mati..."
Sojin malah semakin mewek. Aduuuh. Bisa-bisa perempuan gila tadi beneran kembali!
"Ayo, kita masih harus mencari jalan keluar. Ingat? Memangnya kau mau terjebak di sini?"
Sojin menggeleng cepat. "Tidak mau."
Namgil melingkarkan lengannya semakin erat di pundak kekasihnya itu. "Jangan takut. Kau biasanya selalu kelihatan paling keren dan tangguh. Kau tidak boleh membiarkan orang-orang seperti mereka menakutimu. Kita tidak akan mati di sini, sayang." bisik Namgil, meski tak ayal rasa takut merayap di punggungnya. "Aku janji."
Yoohan memutar mata. Kenapa sih dia harus jadi obat nyamuk terus?
Mereka kembali menelusuri dinding-dinding batu yang lembap ketika menyusuri terowongan yang berbelok ke arah kanan. Melompati genangan air yang membentang dari dinding ke dinding. Mereka berusaha tidak menimbulkan suara. Entah berapa lama mereka menelusuri lorong yang kian menyempit, Sojin sudah mulai sesak napas akibat terlalu lama berada di ruangan tertutup, plus ketakutan setengah mati. Lututnya lemas dan dia menderita dehidrasi akut. Berteriak pun tidak sanggup. Namun genggaman tangan Namgil terasa mantap. Itu memberinya kekuatan untuk melanjutkan.
Terowongan itu berbelok sekali lagi, dan sebuah pintu muncul di hadapan mereka. Pintu kayu jelek berwarna cokelat gelap yang sebagian permukaannya dimakan rayap dan jamur. Mereka bergegas mendekat.
"Halo, ada siapa di situ?" panggil Yoohan. "Halooo!" Dia gedor-gedor pintu itu dengan tangan terkepal.
Tak ada jawaban.
Penasaran, dia meraih gagang pintu. Memutarnya, dan mendorong pintunya sampai membuka. Ternyata cukup berat dan berderit-derit ketika didorong. Gemanya terlalu berisik, Sojin langsung menoleh paranoid.
Dinding-dinding di dalamnya juga sama gelapnya. Dan berbau pengap. Perpaduan antara bau got dan tikus mati. Sojin kontan mengernyit sambil menutupi hidung. Mereka melangkah masuk ke sebuah ruangan kecil berbentuk bujur sangkar.
Sojin menemukan pintu lain
Apa lagi sih ini?!
Begitu dibuka, dia spontan menahan napas. Sojin sedang menatap lorong yang panjang, lorong itu diterangi lilin-lilin yang berkerlap-kerlip. Di samping setiap pintu ada satu lilin menyala.
"Hei, bagaimana caranya kita bisa sampai di sini?" dia celingukan bingung. "Padahal terowongan yang tadi kita lewati gelap sekali."
"Entah." Yoohan mengedikkan bahu. "Ayo ke sana."
"Lagi?!" Sojin melotot. "Ada apa dengan otak kalian? Setiap kali menjumpai lorong apa cuma ada kata "Maju" di kepala kalian? Kita sudah terlalu jauh!"
"Itu dia intinya," balas Yoohan. "Kita sudah terlanjur jauh."
"Ini semua salahmu!" tuduh Sojin. "Aku tidak mau tersesat seumur hidup di bawah sini!"
"Shh.." Namgil memeluk tubuh sang kekasih, mencoba menenangkannya. "Sayang, kita tidak akan tersesat seumur hidup di sini."
"Gimana kau bisa seyakin itu!" ucap Sojin emosi. "Aku saja lupa kita tadi lewat mana!"
"Kita akan menemukan jalan keluar." Namgil terus-terusan optimis, bikin Sojin gerah, muak dan capek, bosan menghadapi Namgil si optimis.
Mereka melewati pintu demi pintu. Suasana yang sunyi meliputi lorong yang panjang dan sempit itu. Satu-satunya suara yang terdengar adalah suara sepatu kets mereka pada lantai batu. Semua pintu tertutup rapat. Tak satu orang pun kelihatan. Cahaya lilin yang berkerlap-kerlip, pintu-pintu yang gelap, keheningan yang menyeramkan—semuanya membuat bulu kuduk berdiri dan seluruh tubuh gemetaran.
Kami terus berjalan dalam cahaya jingga yang redup.
Namgil, Yoohan, dan Sojin terkesiap mendengar lengkingan bernada tinggi dari sisi kanan.
"Suara Jiha!" Yoohan menatap teman-temannya. "Itu suara Jiha! Ke sana!"
Belum ada dua puluh langkah menyusuri lorong gelap, mereka terpaksa mengerem langkah begitu melihat perempuan bergaun putih keluar dari balik tembok.
Sojin melangkah mundur, rasa ngeri yang luar biasa terbias di bola matanya. Gadis itu sekarang berdiri kurang dari sepuluh meter di depan sana. Menatap telak-telak mata Sojin yang masih tidak menyadari apa yang diinginkan gadis itu.
Perlahan, seringai menyeramkan terlukis di bibirnya. "Kau mainan baruku."
Sojin melongo. "Hah?"
Perempuan itu mengacungkan pisau daging.
"Lariii!" Yoohan balik badan kabur duluan.
Namgil menggandeng tangan Sojin yang lari-lari kewalahan di belakangnya.
Tuhan, Sojin capek sekali. Tenaganya terkuras. Tapi dia tidak bisa menyerah sekarang. Tidak bisa!
.
.
Bersambung....
Kalo berkenan boleh singgah ke "Pesan Masa Lalu" dan berikan ulasan di sana🤩
Mari saling mendukung🤗
Rasanya kaya bener bener ada di sana dan ikut ngerasain apa yg tokoh tokohnya alami