Memiliki pasangan menjadi impian Citra selama ini, tidak menyangka laki-laki yang mengajak nikah selama 10 tahun memiliki niat buruk terhadap Citra. Apa yang akan dilakukan Citra untuk membalas dendam dan sakit hatinya terhadap suami tidak setia dan memanfaatkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maya ps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Pertama kalinya Angga melepaskan pelukannya Winda didepan Citra, membuat istri keduanya cemberut melihat tingkah suaminya padahal dirinya mau kasih tahu tingkah berlebihan karyawan-karyawannya Citra yang keterlaluan tapi suaminya lebih menyebalkan sudah berani melepaskan pelukannya.
"Ayah kenapa melepaskan pelukan aku, padahal aku hari ini sedih karena menahan rasa lapar tahu sayang." ujar Winda lemas karena seharian tidak makan
"Loh kenapa tidak makan, di rumah ini kan banyak makanan masa tidak makan sedikit pun?" tanya Citra pura-pura bingung, padahal sudah dikasih tahu jika Winda tidak mau beberes sama sekali akhirnya tidak mau makan karena makan nasi pakai kecap saja.
"Bunda kenapa tidak makan, bener kata Bunda pertama di rumah ini banyak bahan makanan kenapa tidak makan dan tidak masak?" tanya Angga bingung karena Winda tidak makan sama sekali.
"Ini semua karena orang kampung tua itu sayang, masa kulkas dijaga dan aku tidak boleh makan sama sekali, karena aku bukan majikan mereka jadi mereka seenaknya seperti ini sama aku bahkan dompet aku mereka sita segala!" protes Winda kesal dan sedih diperlakukan tidak baik
"Bohong Tuan, dia saja tidak mau melakukan perintah Nyonya Citra dan kami cuman menjalankan perintah saja jika Winda tidak melakukan apapun dikasih makan nasi pakai kecap tapi dia tidak mau makan jadi salah dia sendiri." ucap Bik Sumini tidak mau disalahkan.
"Sudah Bik masuk sana ke kamar Bibik ganti baju kita berdua makan di cafe Bibik belum makan kan?" tanya Citra sengaja mengabaikan ucapan Winda, karena tidak peduli sama apa yang dirasakannya.
"Loh kok ajak dia bukannya kami, kami kan keluarga Bunda ngapain ajak orang lain!" protes Angga tidak terima yang diajak makan enak ART saja sedangkan dirinya diabaikan.
"Apa keluarga, enak saja anggap sampah seperti kalian sebagai keluarga tidak sudi saya cih. Hayo Bik siap-siap!" sambung Citra senyum sinis melihat Angga dan Winda terlihat kesal karena tidak dianggap keluarga, Citra ajak Bik Sumini untuk ke kamarnya untuk siap -siap.
Bik Sumini ngangguk setuju dan bahagia sekali diajak jalan sama Citra, sudah lama sekali tidak jalan-jalan bareng majikannya lagi.
Kesal sangat kesal melihat Citra pergi begitu saja mengabaikan dirinya, padahal Winda yang kelaparan tapi justru Bik Sumini yang diajak makan enak, air mata tidak terasa turun membasahi wajahnya rasanya sedih sekali hidup tinggal di rumah Citra sama sekali tidak dihargai bahkan seperti dihina sekali.
Bingung bagaimana bersikap, Angga ajak Winda masuk kedalam kamar untuk ganti baju, Angga bakal ajak Winda makan diluar mumpung masih ada uang tunai masih bisa ajak Winda makan enak diluar bareng anaknya dari pada larut dalam kesedihan.
**
Terlihat jelas wajah sedih yang dirasakan majikannya membuat Bik Sumini ikut merasakan apa yang dialami Citra saat ini.
"Jika Nyonya sudah tidak kuat lepaskan tanpa ada niat balas dendam biar hidup Nyonya lebih tenang." ucap Bik Sumini pelan.
"Tidak bisa Bik, enak di mereka kalo saya melepaskan Angga begitu saja apa lagi mampu hidupin Winda dan anaknya walaupun dengan sisa keuangan yang tidak banyak, saya tidak rela selama ini saya dijadikan mesin berjalan mereka enak saja mereka." ucap Citra berusaha tenang.
"Terus mau sampai kapan Nyonya seperti ini, maaf jika saya kepo tapi saya tidak tega melihat Nyonya galau seperti ini, ketenangan Nyonya jauh lebih penting apa lagi saya diamanati sama saudara Nyonya untuk kasih saran sama Nyonya untuk melepaskan demi kebahagiaan dan ketenangan Nyonya sendiri." sambung Bik Sumini terus terang.
Ngangguk mengerti apa yang dibilang Bik Sumini, bahagia melihat orang yang masih peduli sama dirinya dan mau ikutin perintahnya tanpa takut sama Angga sedikitpun.