Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.
Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Delapan
Arka menghabiskan sisa paginya di ruang kerja, duduk di balik meja besar dari kayu gelap yang selalu menjadi bentengnya dari dunia luar. Layar laptop menyala, menampilkan laporan-laporan yang menumpuk, angka-angka yang seharusnya ia pahami di luar kepala. Namun sejak tadi, matanya hanya menatap kosong ke satu titik.
Bayangan Revan yang tadi sarapan dengan lahap. Selama ini bocah itu tak pernah seceria dan sebahagia pagi tadi.
Bayangan Revan yang tertawa kecil, Alana yang canggung tapi tulus, dan suasana hangat yang jarang, bahkan nyaris tak pernah hadir di rumah itu, terus berputar di kepalanya. Arka mendengus pelan, seolah ingin mengusir perasaan asing yang mengganggu fokusnya.
Ia kembali menunduk, mencoba membaca satu baris laporan. Baru saja akan berkonsentrasi, suara ketukan pintu membuyarkan semua pikiran.
Suara ketukan pintu membuat Arka mengangkat wajahnya. Ia sedikit mengernyit. Biasanya tak ada yang berani mengganggunya saat ia di ruang kerja, kecuali dalam keadaan sangat penting.
“Masuk,” ucap Arka datar. Dia tak suka diganggu di saat bekerja.
Pintu terbuka perlahan. Yang muncul bukan Alana. Bukan Bi Marni. Bukan pula asistennya. Tapi ponakannya, Revan.
Bocah itu berdiri di ambang pintu, memeluk boneka dinosaurus kesayangannya. Matanya menatap ragu, seolah belum yakin boleh masuk lebih jauh atau tidak.
Arka refleks berdiri sedikit dari kursinya. “Revan? Kenapa ke sini? Apa ada yang menggangumu?"
Revan melangkah masuk pelan, lalu menutup pintu di belakangnya seperti yang sering ia lihat orang dewasa lakukan. Ia berjalan mendekati meja Arka, berhenti tepat di depannya.
“Om lagi kerja?” tanya Revan dengan polosnya.
“Iya,” jawab Arka singkat, lalu melunak sedikit. “Ada apa?”
Revan menggoyang-goyangkan kakinya, tampak berpikir keras. “Om … Revan mau bilang sesuatu.”
Arka menghela napas pelan. Ia menggeser laptopnya sedikit, memberi perhatian penuh. “Katakan saja, Sayang.”
Revan mengangkat wajahnya, matanya berbinar dengan harapan. “Revan mau liburan.”
Arka terdiam sesaat. “Liburan?” Dia bertanya ulang.
Revan mengangguk cepat. “Iya. Liburan bareng Om Arka … sama Mbak Alana.”
Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa beban. Tanpa tahu betapa beratnya bagi Arka.
Arka menyandarkan punggungnya ke kursi. “Tidak bisa,” ucapnya tegas. “Om sibuk.”
Wajah Revan langsung berubah. Alis kecilnya berkerut. “Tapi … Revan pengen liburan.”
“Tidak,” potong Arka. “Om banyak kerjaan. Lagipula, liburan itu tidak penting.”
Kalimat terakhir itu seperti pisau kecil. Revan menunduk. Tangannya mencengkeram boneka dinosaurus lebih erat. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang canggung.
Lalu terdengar isakan kecil. Arka tersentak, dia paling tak bisa mendengar itu. Revan mulai menangis.
Bukan tangisan keras yang meledak-ledak. Tapi tangis pelan, tertahan, seperti anak yang sudah sering kecewa dan belajar untuk tidak terlalu berharap. Air mata mengalir diam-diam di pipinya.
“Revan cuma mau main dengan Om,” isaknya lirih. “Om jarang sama Revan .…”
Dada Arka terasa diremas. Dia berdiri, refleks berjalan mendekat. Dia berjongkok di depan Revan, menatap wajah kecil yang basah oleh air mata itu. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menghantamnya tanpa ampun.
Kenapa setiap kali Revan menangis, wajah Aurelia selalu muncul di benaknya?. “Jangan menangis,” ucap Arka, suaranya lebih pelan dari yang ia rencanakan.
“Tapi Om selalu tak mau kalau Revan ajak liburan.” Revan kembali terisak. “Revan cuma mau liburan … cuma sebentar.”
Arka menutup mata sejenak. Dia kalah. Tak bisa melihat air mata bocah itu.
“Baiklah!" ucap Arka akhirnya.
Revan terdiam, menatap Arka dengan mata berkaca-kaca. “Om mau?”
“Ya, kita liburan,” ulang Arka. “Besok.”
Mata Revan membesar, tak percaya mendengar jawaban pria itu. “Beneran, Om?!”
“Iya,” jawab Arka, menarik napas panjang. “Ke pantai. Menginap satu hari.”
Tangisan Revan langsung berubah jadi senyum paling lebar yang pernah Arka lihat. Bocah itu langsung memeluk lehernya tanpa aba-aba.
“Yeaaay!” teriaknya girang. “Om baik banget!”
Arka terkejut, tapi tangannya refleks membalas pelukan itu. Untuk sesaat, ia membiarkan dirinya merasakan hangatnya pelukan kecil itu, sesuatu yang selama ini ia tolak tanpa sadar.
“Terima kasih Om!” Revan berteriak lagi sebelum berlari keluar ruang kerja dengan penuh semangat.
Arka berdiri di sana, terpaku. Dia baru saja membuat keputusan besar. Dan dia tahu, keputusan itu akan membawa lebih banyak perubahan dari yang ia bayangkan.
---
Sore harinya, Arka memanggil Alana ke ruang kerja.
Gadis itu datang dengan langkah hati-hati. “Tuan memanggil saya?”
“Kita liburan besok,” ucap Arka tanpa basa-basi.
Alana mengangkat kepala, terkejut. “Liburan?”
“Ke pantai. Menginap sehari,” lanjut Arka. “Revan ikut.”
Alana terdiam beberapa detik, mencerna. “Lalu … saya?”
“Kamu ikut.”
Alana langsung menggeleng. “Maaf, Tuan. Saya rasa tidak pantas. Saya hanya ...."
“Ini perintah, tak ada bantahan!" potong Arka dingin.
Kalimat itu membuat Alana terdiam. Gadis itu menunduk, jari-jarinya saling menggenggam gugup.
“Baik, Tuan,” jawab Alana akhirnya.
Arka mengangguk. “Persiapkan barang Revan.”
“Iya, Tuan.”
Alana berbalik pergi dengan jantung berdegup kencang. Liburan… bersama Arka? Bersama Revan? Ia tidak tahu harus merasa senang atau takut.
---
Pantai menyambut mereka dengan angin aroma asin dan suara ombak yang menenangkan.
Revan hampir tak bisa diam sejak mereka turun dari mobil. Ia berlari kecil di atas pasir, tertawa lepas, menarik tangan Alana ke sana kemari.
“Mbak lihat! Lautnya besar banget!”
Alana tertawa, membiarkan dirinya larut. “Iya, besar. Jangan terlalu dekat air ya.”
Arka berdiri agak jauh, mengamati mereka. Revan tertawa tanpa beban. Alana tersenyum tulus. Sesuatu di dadanya menghangat.
Mereka menghabiskan hari itu dengan sederhana. Bermain pasir, makan es krim, berjalan menyusuri pantai saat matahari mulai condong ke barat.
Malamnya, mereka duduk di balkon penginapan. Revan tertidur di antara mereka, kepalanya bersandar di bahu Alana.
Arka menatap bocah itu lama. “Terima kasih,” ucap Arka tiba-tiba. Kata yang hampir tak pernah ia ucapkan.
Alana menoleh, terkejut. “Untuk … apa, Tuan?”
“Karena sudah menjaga Revan,” jawab Arka pelan. “Dan membuatnya bahagia.”
Alana tersenyum kecil. “Dia anak yang baik.”
Arka mengangguk. “Dan kamu … berbeda dari pengasuhnya terdahulu. Kamu bisa membuatnya tersenyum dan ceria.”
Alana terdiam. Tak tahu harus berkata apa. Dia juga melakukan semua itu dengan tulus dan apa adanya. Jika Revan menyukainya, itu tanda yang baik.
"Saya juga berterima, Tuan. Saya diizinkan tinggal di rumah Tuan dan ada tempat untuk berteduh."
Arka jadi mengerutkan dahi mendengar ucapan gadis itu. Dia selama ini justru beranggapan gadis itu hanya terpaksa tinggal di rumahnya.
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭