Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Negosiasi dengan Roh penjaga
Roh Penjaga Kuil itu terdiam sejenak, tatapannya menyapu Freen, menilai ketulusan di balik kata-kata dan energi yang dipancarkan Mustika Merah Delima. Ada perang batin dalam diri Yay, antara menjaga sumpah kuno dan keinginan untuk dihormati serta diperhatikan kembali.
"Ambil. Tapi jika kau berbohong, aku akan mencari kalian sampai ke neraka dan mengikat jiwamu sebagai gantinya!" ancam Yay, suaranya kini terdengar lebih mirip bisikan keputusasaan daripada raungan kemarahan. Aura merahnya perlahan surut, meskipun masih terasa mencekam.
Freen merasa lega luar biasa. Ia telah melewati fase negosiasi yang paling berbahaya.
"Terima kasih, Yay. Saya akan menepati janji ini," janji Freen, dengan keyakinan penuh.
Freen berjalan hati-hati menuju backpacker asing itu. Wanita itu, yang kini Freen yakini bernama Jane, masih duduk kaku. Matanya menatap kosong, dan tangannya tetap merangkai bunga layu secara mekanis. Dia benar-benar terikat dan kehilangan kesadaran diri.
Freen berlutut di hadapan Jane. Ia memegang kalung jangkar perak di leher gadis itu. Begitu disentuh, kalung itu terasa dingin menusuk dan memancarkan getaran energi negatif.
"Nam, siapkan air suci!" perintah Freen pelan.
Nam segera membuka botol kecil berisi air suci yang telah mereka bawa.
Freen tidak membuang waktu. Ia merapal mantra perlindungan singkat, lalu menggunakan kekuatan fisik dan spiritual yang tersisa untuk melepaskan kalung jangkar itu dari leher Jane. Ikatan spiritualnya sangat kuat; butuh tarikan keras dan energi dari Mustika Merah Delima untuk memutusnya.
Sret!
Kalung itu terlepas. Begitu kalung itu berada di tangan Freen, Jane tersentak. Kepalanya terkulai ke samping, dan ia ambruk ke tanah, tidak sadarkan diri, tetapi ketegangan di tubuhnya sudah hilang.
Freen memegang kalung jangkar itu. Ia bisa merasakan energi ikatan Roh Penjaga Kuil itu berkumpul di sana.
Freen mengambil napas dalam-dalam, memejamkan mata, dan merendam kalung itu ke dalam air suci yang disiapkan Nam. Saat kalung itu menyentuh air, air itu mendesis dan berubah warna menjadi keruh kehitaman.
Freen mengangkat kalung itu, yang kini tampak bersih secara spiritual. Ia meletakkannya di altar kecil di samping Patung Buddha.
"Yay," panggil Freen, menoleh ke arah Roh Penjaga. "Ikatan sudah dilepaskan, dan objek janji sudah dimurnikan di tempat suci ini. Kami akan membawa wanita ini kembali. Kami akan kembali dengan Biksu untuk memulai restorasi dan persembahan. Percayalah pada janji kami."
Roh Penjaga Kuil itu melayang mendekati Patung Buddha. "Aku akan mengawasi kalian, Freen Sarocha. Jangan khianati kehormatan kuil ini."
Aura Roh Penjaga itu surut, dan Freen merasakan kehadirannya menghilang. Kekuatan spiritual yang menekan di kuil itu lenyap, digantikan oleh keheningan yang tenang.
"Sudah aman," kata Freen, kelelahan menjatuhkan dirinya ke tanah.
"Nam, kita harus segera membawa Jane ini keluar dari hutan dan ke rumah sakit terdekat."
Nam mengangguk, lalu menoleh ke arah Freen. "Kau hebat, Freen. Kau berhasil bernegosiasi dengan roh penjaga kuil."
"Itu karena aku punya manajer yang kejam dan jimat yang luar biasa," balas Freen sambil tertawa pelan.
"Ayo, kita bawa backpacker terikat ini pulang."
Freen Sarocha dan Nam, sang Paranormal dan Researcher kini bertransformasi menjadi tim evakuasi darurat, membawa Jane keluar dari Kuil Pha Rakam, menuju peradaban dan janji restorasi yang harus mereka tepati.
Membawa seseorang yang tidak sadarkan diri, bahkan yang bertubuh ramping seperti Jane, keluar dari hutan terjal adalah tantangan fisik yang berat. Freen dan Nam harus bekerja keras.
Nam memanggul ransel mereka berdua, sementara mereka berbagi beban Jane, menyeret dan sesekali memanggulnya secara bergantian di punggung.
Jalur yang tadinya hanya sulit, kini terasa brutal di bawah beban yang mereka bawa. Kaki mereka sering tersandung akar pohon dan bebatuan licin.
"Aduh! Pelan-pelan, Nam! Kepalanya terbentur batu!" desis Freen, berusaha menyesuaikan langkahnya.
"Maaf, Freen! Jalurnya gelap sekali, dan berat Jane ini tidak main-main! Aku yakin dia makan lebih banyak curry daripada yang terlihat!" balas Nam, terengah-engah.
Freen, meskipun tubuhnya lelah, menemukan dirinya masih memiliki energi sisa dari Mustika Merah Delima, yang membantunya menopang beban berat.
Saat mereka berhasil melewati bagian paling terjal, Nam melirik Freen yang wajahnya sudah basah oleh keringat dan lumpur.
"Freen, kamu sangat terkenal di dunia Roh," ledek Nam, berusaha meredakan ketegangan dengan humor.
"Dari roh dendam, roh leluhur, roh iblis kuno, sampai roh penjaga kuil—semua seolah punya janji temu dengan 'Paranormal Gadungan' kita."
Freen mendengus, berusaha mengatur napas. Mereka kini berdua memapah Jane di antara mereka.
"Kau tahu," jawab Freen, suaranya serak karena kelelahan, "Manajerku sangat handal mencari klien. Dia tidak mau membuang waktu dengan kasus-kasus remeh seperti kunci mobil hilang atau cicak berbisik. Langsung saja ke kasus yang bisa mengancam keseimbangan dimensi atau melibatkan transfer uang dalam jumlah besar."
"Aku tidak bisa membantah soal itu," kata Nam sambil tertawa pendek.
"Setidaknya kau punya branding yang jelas sekarang: Spesialis Pemutusan Ikatan Kuno dan Pengembalian Segel Iblis. Harus kita masukkan ke kartu nama baru."
Mereka terus berjalan. Saat fajar benar-benar menyingsing, mereka akhirnya tiba di batas aman hutan tempat Paman Baisri menunggu.
Paman Baisri yang tadinya tertidur, langsung terkejut melihat Freen dan Nam kembali dengan membawa wanita asing yang pingsan.
"Kalian berhasil! Gadis itu... dia baik-baik saja?" tanya Baisri, bergegas membantu.
"Dia hanya butuh rumah sakit, Paman. Tolong bantu kami membawanya ke mobil," kata Freen, langsung menyerahkan Jane kepada Baisri dan Nam.
Setelah berhasil membaringkan Jane di kursi belakang mobil SUV, Freen menyerahkan sejumlah uang besar kepada Baisri sebagai janji yang sudah disepakati.
"Paman Baisri, ada satu hal lagi. Kami berjanji kepada Penjaga Kuil. Kami akan segera kembali dengan Biksu dari kota untuk memulai restorasi Kuil Pha Rakam. Tolong sebarkan berita ini ke desa. Kuil itu harus dihormati," pinta Freen.
Baisri, yang menyaksikan keajaiban yang dilakukan dua pemuda itu, mengangguk penuh hormat.
"Saya akan menyampaikannya, Nak. Saya akan pastikan kuil itu tidak akan dilupakan lagi."
Freen dan Nam, dengan Jane yang masih pingsan di belakang, mengemudi menuju kota dan rumah sakit terdekat. Mereka harus memastikan Jane pulih, dan kemudian, mereka harus menepati janji mereka kepada Roh Penjaga Kuil. Setelah itu, barulah liburan yang sesungguhnya bisa dimulai.
***
Freen mengemudi SUV itu dengan kecepatan tinggi namun aman, langsung menuju rumah sakit terdekat di kota Chiang Mai. Nam memantau Jane di kursi belakang, memastikan gadis itu bernapas dengan stabil.
Begitu sampai di rumah sakit, Jane segera dibawa ke UGD. Freen dan Nam kembali memainkan peran sebagai asisten peneliti yang menemukan korban di hutan. Setelah memberikan keterangan yang diperlukan kepada staf medis, mereka melangkah keluar, wajah Freen terlihat serius.
Freen bersandar di dinding koridor, menghela napas panjang. Ia menoleh pada Nam.
"Nam, ini tugas terpenting setelah Jane aman," kata Freen, fokusnya kembali pada janji yang ia buat di kuil.
"Siapkan dana untuk restorasi Kuil Pha Rakam. Kita akan menggunakan sebagian dari uang Tuan Vongrak. Kita harus menepati janji kita pada Yay. Nam, segera hubungi Biksu di Kuil Agung Chiang Mai—Biksu yang dikenal memiliki wibawa dan kesucian tinggi."
Freen melanjutkan, memikirkan strategi jangka panjang. "Kita juga butuh koordinasi dengan tim SAR dan polisi hutan yang tadi kita temui. Kita akan meminta izin untuk membuka jalur menuju kuil, membuat akses ke sana lebih mudah. Bagi warga dan tetua desa untuk sering membersihkan dan menjaga kuil itu. Ini bukan hanya tentang restorasi fisik, tapi restorasi spiritual kuil itu agar tidak dilupakan lagi."
Nam segera mengeluarkan tabletnya, matanya sudah berbinar karena tantangan logistik yang kompleks ini.
"Freen, ini akan menjadi proyek amal terbesar yang pernah kita lakukan! Restorasi kuil! Aku akan segera menghubungi Kuil Agung dan meminta audiensi dengan Biksu kepala. Aku akan jelaskan bahwa ini adalah permintaan atas nama 'Kyai' (tokoh spiritual senior), agar mereka mau membantu dan memberikan legitimasi," ujar Nam, penuh semangat.
"Bagus. Dan pastikan kita membayar pekerja lokal untuk membersihkan dan membuka jalur itu, bukan kontraktor besar. Libatkan penduduk desa di kaki gunung. Itu akan menguatkan ikatan mereka dengan Kuil Pha Rakam, Nam," tambah Freen, memikirkan efek sosial dari misi mereka.
Freen kemudian berjalan menuju ruang tunggu. Ia mengambil salah satu roti lapis yang tersisa dan memakannya dengan lahap.
"Aku akan menunggu kabar tentang Jane dan memastikan dia bisa menghubungi kedutaan atau keluarganya. Kau, Nam, kau adalah Manajer Proyek Amal Spiritual kita sekarang. Setelah semua ini selesai, barulah kita bisa bicara tentang liburan."
Nam mengangguk dengan senyum bangga, lalu mulai melakukan panggilan telepon pertamanya, suaranya sudah terdengar meyakinkan dan berwibawa. Misi Freen Sarocha, sang penyelamat spiritual dan kini filantropis tak terduga, berlanjut di kota utara.