Kisah hidup seorang wanita dengan dua nama panggilan yang berbeda, yaitu Mona dan Lisa jika Mona adalah seorang wanita dengan beraneka karakter tergantung tugas yang diberikan kepadanya, maka Lisa hanyalah bagian lain dari dirinya yang menampilkan sisi asli dari kepribadiannya.
Armand Ferdinand Rahardja seorang CEO perusahaan besar, tiba tiba saja mengaku jatuh pada pandangan pertama tarhodon terhadap Lisa, yang sebenarnya memiliki maksud tersembunyi terhadap Lisa.
akan seperti apa hubungan mereka terjalin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9.
Pagi hari yang mendung seakan menunjang suasana kelabu dipanti, Eri yang baru tahu semalam dari Bu Marta tentang rencana kepergian Lisa, terus terusan menangis dikamar Lisa sambil memeluknya, seakan tidak rela sahabat barunya itu pergi begitu saja, sampai akhirnya dia tertidur dikamar Lisa
"Eri, udah dong meluk meluk nya, engap tahu dari semalam dipeluk kamu"
"Biarin, aku mau puas puasin meluk kamu selagi kamu masih disini" Eri yang baru bangun dengan mata nya yang bengkak kembali mengulang dramanya semalam
"Aku bukan mau pergi ke negeri antah barantah, aku pasti bakal sering sering main kesini kalau lagi holliday "
"Tetep aja aku ga rela, aku ngerasa Tuan Armand udah nyulik kamu dari panti, ga ada angin ga ada hujan tiba tiba dia ngelamar kamu, aku tahu kamu cantik nya ga ketulungan, tapi kan bisa pedekate dulu gitu, kamu juga main terima aja" Eri kembali nyerocos meluapkan emosinya
Lisa yang kembali mendengar ocehan Eri, mencoba lagi menjelaskan untuk yang kesekian kalinya
"Kan udah aku bilang kalau aku ga bisa nolak, coba bayangkan aku yang cuma hidup sebatangkara di dunia ini, tiba tiba datang seorang pangeran berkuda putih dihadapanku, dia mengulurkan tangannya dan berkata come with me, apa jawaban kamu kalau diposisi aku?"
Eri nampak berfikir sejenak kemudian menjawab
"Le**t's go" ucap Eri lirih
"E**xactly, jadi anggap saja kejadiannya seperti itu dan jangan menghawatirkanku, oke!"
Lisa menghaluskan nada bicaranya sambil menangkup kedua pipi Eri, mengarahkan wajahnya kehadapannya,memandang matanya dengan tatapan menenangkan dengan senyum kecil yang terselip dibibirnya
Bukannya menjadi tenang, tangis Eri malah semakin menjadi, dipeluknya lagi tubuh sahabatnya itu sambil membenamkan wajahnya dipundak Lisa
Lisa hanya bisa mengusap ngusap punggung Eri, menunggu tangis nya reda dengan sendirinya
***
Di hotel, Armand sudah rapi dengan setelan jas nya, duduk di sofa suite room nya sambil menikmati kopi, dsampingnya ada Dean yang melaporkan berita terkini kepada Armand
"Tidak ada tanda tanda pemberontakan seperti yang anda khawatirkan pa, nona Lisa hanya diam didalam panti sepulang bertemu anda" Dean memberikan laporannya
"Baguslah, berarti dia memang calon istri yang penurut" Armand menjawab sambil menyeruput kopi miliknya
"Jam berapa kita pulang ke ibukota? kau sudah menyiapkan semuanya dengan baik bukan?"
"Tentu pa,kita akan kembali sebelum tengah hari, saya sudah mengirim seseorang untuk mengantarkan keperluan nona Lisa ke panti"
"Oke, kalau begitu aku mau pergi keruangan mama sama papa dulu, kamu pergi dulu kepanti, jika semua sudah siap, bawa dia kesini, kita akan berangkat bersama dari sini"
"Baik pa" Dean beranjak dari duduknya, dia membungkukan sedikit kepalanya kepada Armand kemudian pergi dari ruangan itu
Tak berselang lama Armand pun keluar kamarnya menuju ke kamar sebelah tempat orangtuanya menginap, dia memijit bel dipintu dan beberapa detik kemudian pintu kamar pun terbuka
"Kau sudah siap? mama sama papa masih siap siap, lagi nyocokin outfit buat nyambut calon mantu" Bu Nadia sumringah membayangkan pertemuan pertamanya dengan sang calon menantu
Armand masuk kedalam sambil menutup kembali pintu kamar
"Papa mana ma? dandan aja lama bener"
"TADAAA"
Pa Eddie keluar dari kamar tidur sambil mebentangkan kedua tangannya, memamerkan dirinya dengan pakaian berwarna senada yang sudah dipilihkan istrinya, dan disambut oleh tepuk tangan sang istri
Armand yang menjadi saksi pemandangan memalukan dihadapannya itu hanya bisa memalingkan wajah sambil menutup wajahnya dengan sebelah tangan
Ya**a ampun, kapan kedua orangtua ini bisa dewasa, batin Armand
"Papa keren ga? papa udah lihat foto calon istri kamu dari mama kamu, emang ga sia sia bakat papa turun ke kamu"
"Emang papa mau nyaingin kekerenan Armand? kalau Lisa pindah haluan ke papa gimana? kasian mama dong"
"Enak aja kamu kalau ngomong, kita ini cuma mau memberi kesan pertama yang baik dihadapan calon mantu kita, apalagi dihadapan gadis berhati malaikat seperti dia, kita harus pinter pinter ngambil hatinya biar dia betah sama keluarga kita"
"Dapat ide darimana mama manggil Lisa gadis berhati malaikat, kaya udah ketemu aja" Tanya Armand penasaran dengan julukan yang diberi ibunya
"Dari data dirinya yang dikasih kamu lah, kan disana ditulis kalau dia itu dari kalangan atas juga, tapi dia suka memberi santunan dan tidak segan untuk turun langsung kelapangan, kaya bakti sosialnya dipanti kemarin"
Armand mencoba memutar otaknya mengingat tiap lembar file Lisa yang dibuat Dean, karena dia hanya membaca part penting saja, sepertinya dia tidak terlalu memperhatikan bagian itu
"Aahh, iya yang itu, dia memang gadis hebat iya kan ma?" Armand hanya mengiyakan saja
"Papa juga udah ga sabar pengen ketemu calon mantu papa, kapan kita pulang Ar?"
"Sebentar lagi, nunggu Dean jemput Lisa dipanti"
"Tapi Ar, kamu yakin keluarga Lisa setuju juga sama pernikahan ini? masa nanti dipernikahan kalian ga ada perwakilan dari keluarga mempelai wanita?" tanya Bu Nadia yang sedikit cemas
"Tenang aja ma, yang pentingkan Lisa setuju, kan mama juga udah baca kalau orangtua Lisa sudah meninggal, Keluarganya semua ada di Belanda, perusahaanya diurus sama family dia, soalnya dia ga terlalu ngerti masalah bisnis, jadi ya sebenernya keluarga Lisa seneng seneng aja dia nikah, secara perusahaan Lisa jadi bebas mereka kendalikan" sebuah kebohongan yang tanpa Armand ketahui menyimpan sedikit fakta tentang Lisa
"Kasian ya dia kaya kebuang gitu sama keluarganya sendiri, tapi ga apa apa, kita sebagai orangtua baru siap memberi kasih sayang pengganti" ucap Bu Nadia sambil mengatupkan kedua tangannya dan matanya memandang ke arah langit langit, otaknya sudah membayangkan hal hal menyenangkan yang akan dia lakukan bersama calon mantunya itu
____________________
Semua penghuni panti sudah berjajar dihalaman depan, baru kemarin mereka berjajar untuk menyambut kedatangan tamu istimewa, sekarang mereka sudah berjajar kembali, tapi kali ini untuk memberikan ucapan perpisahan kepada salah satu orang yang di anggap spesial bagi mereka
Lisa memeluk mereka satu persatu, hampir semua dari mereka ikut menangis, terutama Eri yang menangis paling kencang, dipeluknya sahabatnya itu sambil memberi ucapan perpisahan
"Eri, jangan bikin Bu Marta kesel terus ya, kasian beliau nanti darah tingginya naik" Lisa mencoba menyelipkan canda dibalik perpisahannya agar Eri bisa sedikit tersenyum
"Kamu jaga diri baik baik disana ya, kalau ada apa apa telepon aku, nanti aku bakal jemput kamu, kalau Bu Marta kamu ga usah khawatir, dia udah kebal sama aku" akhirnya tawa kecil keluar dari mulut keduanya
"Aku bakal sering sering telpon kamu" Lisa melepaskan pelukannya dari Eri kemudian beralih pada Bu Marta, wanita yang sudah seperti ibu dan penyelamat hidupnya
"Bu, maaf selama ini aku udah banyak ngerepotin, aku belum sempet balas semua kebaikan ibu, tapi kalau nanti aku udah sah jadi nyonya Athena Corp, aku bakal ngasih sumbangan yang banyaakk tiap bulannya"
Bu Marta hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Lisa, "pikirkan diri kamu sendiri dulu Sa, jika kamu memang sudah betul betul bahagia, baru kamu boleh ngirim sumbangan yang banyak"
Lisa ikut tersenyum, kemudian mengucapkan perpisahaan terakhirnya
"Lisa pamit ya Bu"
"Pergilah Nak, do'a ibu selalu menyertaimu"
Lisa pergi mengenakan pakaian yang sudah disiapkan Armand, dia terlihat begitu cantik dan berkelas, bahkan Dean yang akan menjadi sopirnya pun terus terusan berdecak kagum
Lisa memasuki mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh Dean, dia membuka jendela mobil untuk melambaikan tangannya kearah panti, perlahan mobil melaju, meninggalkan tempat Lisa menyembunyikan dirinya beberapa waktu lalu, dan kini dia siap untuk kembali menghadapi dunia