Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Pagi itu, perjalanan menuju pengadilan terasa jauh lebih tenang dari yang dibayangkan.
Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan kota, Relia duduk di antara dua pelindungnya.
Tangannya yang masih sedikit dingin digenggam erat oleh Mama Wahyuni, memberikan kehangatan dan kekuatan mental yang ia butuhkan.
Relia tampak menikmati potongan terakhir roti bakar selai nanas buatan Ariel.
Rasanya manis dan sedikit asam, persis seperti suasana hatinya saat ini dimana ada rasa manis kemenangan, namun ada sedikit rasa asam dari kenangan pahit yang akan segera ditutupnya.
"Makan yang banyak, Sayang. Kamu butuh energi untuk bicara di depan hakim nanti," ucap Ariel lembut dari kursi depan, sesekali melirik istrinya melalui spion tengah dengan tatapan bangga.
Saat mobil memasuki area Pengadilan Negeri, kerumunan wartawan sudah memadati gerbang. Namun, perhatian Relia teralihkan oleh sebuah mobil tahanan yang berhenti tepat di depan lobi pintu masuk khusus tersangka.
Pintu jeruji mobil itu terbuka. Sosok pria yang ada dalam neraka kecilnya, kini melangkah turun dengan langkah gontai.
Markus tampak sangat menyedihkan; rambutnya yang biasa klimis kini berantakan, wajahnya kuyu, dan yang paling memuaskan bagi batin Relia adalah melihat kedua tangan pria itu terbelenggu oleh borgol besi yang dingin.
Relia terpaku menatap pemandangan yang berbanding terbalik.
"Dulu, dia menggunakan borgol mental untuk mengikatku. Dan sekarang, hukum menggunakan borgol nyata untuk mengikatnya."
Markus sempat menoleh ke arah mobil mewah Arkatama yang baru saja berhenti.
Matanya yang merah menatap benci, namun saat ia melihat Relia turun dari mobil dengan dagu terangkat dan didampingi oleh keluarga Arkatama yang berwibawa, keberaniannya seolah luruh.
Ia segera menundukkan kepala saat petugas kepolisian mendorongnya masuk ke ruang tunggu tahanan.
Mama Wahyuni merangkul bahu Relia dan mengajaknya masuk.
"Ayo masuk, Sayang. Ini saatnya dunia mendengar keputusan akhir untuknya."
Di dalam ruang sidang yang megah, aroma kayu jati dan keheningan yang mencekam menyambut mereka.
Tak lama kemudian, hakim masuk dan mengetuk palu.
"Sidang perkara pidana atas nama terdakwa Markus dan Sarah, dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum."
Relia menarik napas dalam, ia menatap tajam ke arah Markus yang duduk di kursi pesakitan.
Ia tidak lagi melihat monster yang menakutkan, melainkan hanya melihat seorang pria kecil yang sedang menunggu kehancurannya sendiri.
Suasana ruang sidang mendadak menegang ketika pengacara Markus berdiri.
Dengan senyum sinis dan nada suara yang mengintimidasi, ia mulai melancarkan serangannya.
"Saudari saksi, Anda mengklaim adanya penyiksaan yang luar biasa. Namun, di media sosial Anda menuliskan semuanya dengan sangat puitis dan terstruktur seperti sebuah fiksi. Bukankah ini membuktikan bahwa Anda sebenarnya memiliki imajinasi yang berlebihan? Atau jangan-jangan, semua luka ini adalah bagian dari skenario Anda untuk mendapatkan simpati dan kekayaan keluarga Arkatama?"
Pertanyaan itu bagaikan hantaman gada di dada Relia.
Kata-kata "imajinasi" dan "rekayasa" memicu memori kelam saat Markus sering meneriakinya gila di gudang gelap.
Dada Relia mendadak sesak. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging.
Jemarinya mulai gemetar hebat, dan pandangannya mengabur.
Anxiety itu kembali menyergapnya di titik paling krusial.
Relia menunduk, napasnya tersengal pendek-pendek.
Di kursi terdakwa, Markus menyeringai tipis, merasa telah menemukan celah untuk menghancurkan mental korbannya lagi.
Dalam kepanikan itu, Relia secara refleks menoleh ke arah bangku penonton.
Di sana, Ariel duduk di barisan terdepan. Ariel tidak memalingkan wajahnya dan ia menatap Relia dengan tatapan yang sangat fokus dan tenang.
Ariel meletakkan tangannya di dadanya sendiri, lalu melakukan gerakan napas dalam yang pelan dimana sebuah isyarat yang hanya mereka berdua pahami.
“Tarik napas, Sayang... satu... dua... tiga... hembuskan,” bisik Ariel lewat gerak bibirnya tanpa suara.
Relia mengikuti irama napas Ariel. Perlahan, oksigen mulai mengisi paru-parunya.
Suara denging di telinganya mereda, digantikan oleh kekuatan yang datang dari keberadaan suami dan ibu mertuanya.
Relia memejamkan mata sejenak, lalu membukanya dengan binar mata yang jauh lebih tajam dari sebelumnya.
Ia menegakkan punggungnya, menatap langsung ke arah pengacara Markus.
"Jika Anda menyebut luka di punggung saya sebagai imajinasi, maka biarkan hasil visum dan rekaman suara asli yang berbicara," ucap Relia terdengar jernih dan tegas, menggema di seluruh ruang sidang.
"Saya menulis puitis bukan karena ini fiksi, tapi karena hanya melalui kata-kata saya bisa bertahan hidup saat mulut saya disumpal kain oleh klien Anda. Menulis adalah cara saya menjaga kewarasan ketika klien Anda mencoba menghancurkannya setiap pukul dua pagi. Mengenai kekayaan Arkatama, Saya tidak butuh uang mereka. Saya sudah mendapatkan sesuatu yang tidak pernah bisa diberikan oleh klien Anda yaitu sebuah perlindungan dan kehormatan sebagai manusia."
Seluruh pengunjung sidang terdiam. Pengacara Markus kehilangan kata-kata, wajahnya memerah karena malu. Hakim mengetuk palu dengan mantap.
"Pertanyaan pengacara terdakwa tidak relevan dan bersifat menyerang pribadi. Saksi, silakan lanjutkan kesaksian Anda."
Markus yang tadi menyeringai, kini tertunduk lesu.
Ia menyadari bahwa Relia yang ada di depannya bukan lagi gadis lemah yang bisa ia gertak dengan kata-kata.
Setelah Relia turun dari kursi saksi dengan kepala tegak, kini giliran Sarah yang dipanggil ke depan.
Wajah Sarah tampak pucat pasi, matanya gelisah menatap ke segala arah, menghindari kontak mata dengan Relia yang kini duduk tenang di samping Ariel.
Jaksa penuntut umum berdiri, melangkah mendekat ke arah Sarah dengan tatapan yang sangat mengintimidasi.
"Saudari Sarah, Anda adalah istri sah dari terdakwa Markus. Selama dua tahun Relia tinggal di rumah Anda, apakah Anda pernah melihat luka-luka di tubuhnya? Atau apakah Anda pernah mendengar suara teriakan dari kamar belakang?"
Sarah meremas jemarinya yang gemetar ketakutan.
"S-saya tidak tahu. Markus bilang dia hanya sedang mendisiplinkan keponakannya. Saya tidak berani ikut campur."
"Tidak berani ikut campur?" Jaksa menaikkan nada suaranya.
"Atau Anda justru menjadi kaki tangan? Kami memiliki bukti komunikasi antara Anda dan terdakwa Markus di mana Anda menyarankan untuk menambah dosis obat penenang agar Relia tidak terus-menerus menangis. Benar begitu?"
Sarah tersentak, ia menatap Markus yang juga tampak tegang.
"Itu, agar dia tenang! Dia sering histeris!"
"Histeris karena disiksa!" potong Jaksa dengan tegas.
"Saudari Sarah, apakah Anda sadar bahwa membiarkan penganiayaan terjadi di depan mata Anda tanpa melaporkannya adalah sebuah tindak pidana serius? Terutama ketika Anda justru membantu menutupi luka-luka tersebut dengan kosmetik saat ada tamu yang datang?"
Sarah mulai terisak di ruang persidangan, mentalnya runtuh di bawah tekanan pertanyaan jaksa yang bertubi-tubi.
Ia menyadari bahwa jika ia terus membela Markus, ia akan ikut tenggelam dalam hukuman yang sangat berat.
"Saya dipaksa!" teriak Sarah tiba-tiba sambil menunjuk ke arah Markus.
"Dia mengancam akan melakukan hal yang sama padaku jika aku bicara! Dia yang merencanakan semuanya! Dia yang menyuruh penembak jitu itu! Saya tidak tahu apa-apa tentang penembakan, saya bersumpah!"
Suasana sidang riuh seketika. Markus berdiri dan berteriak, "Diam kau, wanita bodoh! Jangan mengada-ada!"
TOK! TOK! TOK!
"Harap tenang!" Hakim mengetuk palu berkali-kali.
Relia menggenggam tangan Ariel dengan erat. Ia melihat bagaimana kedua orang yang dulu menindasnya kini saling serang untuk menyelamatkan diri masing-masing.
Di sampingnya, Mama Wahyuni membisikkan sesuatu yang menenangkan.
"Lihat itu, Relia. Kerajaan kebohongan mereka sedang hancur berkeping-keping karena keserakahan mereka sendiri," bisik Mama Wahyuni.
"Sedikit lagi, Sayang. Kebenaran sudah di depan mata." ucap Ariel sambil mencium kening Relia.
mudah"an relia selamat