NovelToon NovelToon
Pesona Kakak Posesif Season 2

Pesona Kakak Posesif Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Keluarga / Cintamanis
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Dwi Asti A

Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.

Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.

Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.

Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadis Di Metro

Saat makan Hanin masih sempat mencuri-curi memandang pria yang duduk di seberang meja di hadapannya, seakan tengah meyakinkan diri bahwa pria itu memang ayahnya. Begitu pria itu melihat ke arahnya Hanin langsung membuang pandangannya.

Melihat situasi yang canggung itu Awan lekas mencairkan suasana dengan pembicaraan ringan bersama Aariz.

“Bolehkah Anda cerita sedikit Bagaimana Anda mengenal Anissa ibu kami? Saat melihat Anda aku tidak memiliki bayangan bagaimana pertemuan kalian hingga sampai menikah?” pertanyaan Awan.

“Kenapa merasa aneh, pertemuan itu sudah ditakdirkan bahkan hal yang tak masuk akal pun bisa menjadi jalan pertemuan kita dengan seseorang, dan pertemuanku dengan Nissa bukan hal yang aneh.” Tanggapan Aariz.

“Tapi dia hanya seorang TKW, sedangkan Anda seorang pebisnis.”

“Sekarang aku memang seorang pengusaha, tapi dulu aku hanya karyawan biasa yang belum memiliki apa-apa, bahkan untuk pergi bekerja pun masih menggunakan angkutan umum.”

“Maksud Anda kalian bertemu di transportasi umum, di bus?” pikir Awan.

“Di sebuah metro,” balas Aariz. “Aku berangkat ke perusahaan, sementara Nissa pergi ke tempat kerjanya. Ketika itu dia seorang buruh pabrik makanan. Hampir setiap hari kami dipertemukan di kereta yang sama.”

Cerita Aariz tentang awal pertemuannya dengan Nissa mulai menarik perhatian Awan dan Hanin. Usai makan, Awan meminta Aariz untuk melanjutkan ceritanya.

“Nissa seorang perempuan yang berbeda karena mungkin dia bukan dari negeri kami. Itu menurut pandanganku. Entah di mana letak perbedaannya aku sendiri tidak mengerti, tapi dia ramah, murah senyum dan baik. Meskipun di kendaraan umum dia selalu mengutamakan orang lain, selalu memberikan tempat duduknya untuk orang yang lebih membutuhkan, sementara dia memilih berdiri, dan di sanalah kami didekatkan.”

Aariz menjeda ceritanya. Meneguk air minum hingga habis setengah, lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi. Posisi duduknya yang lurus dengan Hanin membuatnya lebih sering menjatuhkan pandangannya pada gadis itu. Hanin langsung gelagapan.

Melihat reaksi Hanin, Aariz menyadari putrinya itu sepertinya cukup pemalu, atau mungkin karena belum terbiasa berhadapan dengan dirinya. Untuk mengalihkan Hanin dari perasaan gugupnya, Aariz melanjutkan ceritanya.

“Suatu hari dia berdiri di depanku, membuat jarak kami sangat dekat. Saat itu metro penuh sesak. Aku lihat di sekitar kami kebanyakan penumpangnya adalah laki-laki, sementara perempuan lebih banyak duduk. Naluriku sebagai laki-laki untuk melindunginya dari tangan jahil pun tergerak. Untuk keamanannya aku meminta dia berdiri di pinggiran dekat jendela. Aku mengungkungnya dengan kedua tanganku bukan untuk berbuat buruk. Aku tidak ingin dia tersentuh pria-pria itu yang bisa saja mengambil kesempatan dalam kesempitan.”

“Aku rasa, Anda yang tengah menggunakan kesempatan itu,” celetuk Hanin.

“Apa aku memiliki tampang seperti itu?” tanya Aariz sembari memajukan tubuhnya.

“Kalau itu mana saya tahu, tapi tampang Anda ini sudah menunjukkannya. Anda ini pasti sedang tebar pesona dengan ibuku, kalau tidak mana mungkin ibuku suka denganmu.”

“Jadi maksudmu ayah ini tampan?”

Ditanya seperti itu Hanin tak bisa menjawabnya.

“Tapi apa yang kamu pikirkan sepertinya memang benar, Hani. Awalnya ayah pikir dia akan marah dan salah paham, ternyata dia memahami niat baikku. Posisi yang begitu dekat membuatku bisa mencium aroma parfum yang dia pakai. Wangi yang lembut dan menyejukkan. Sampai sekarang pun aku masih ingat merek parfum yang dia pakai.”

“Aku tahu ibuku selain cantik pasti juga pandai merawat diri, tapi bukan berarti Anda harus menceritakan hingga sedalam itu.”

“Awan, apa dia ini memang gadis yang galak? Sedari tadi dia begitu ketus ucapannya?” Aariz sampai bertanya pada Awan yang semenjak tadi hanya mendengarkan cerita Aariz.

“Sedikit, tapi dia ini sebenarnya sangat manja dan ...,”

“Jangan diteruskan!” Hanin mencegah Awan meneruskan kata-katanya dengan membungkam mulutnya. “Jangan katakan apa pun padanya, belum tentu juga dia adalah ayahku.”

“Kalau putriku tidak suka, aku tidak akan melanjutkan ceritaku.” Aariz berlagak merajuk.

“Tidak apa-apa Pak Aariz, Anda lanjutkan saja ceritanya, tanggung jika tidak diteruskan.”

Awan melihat Hanin memelototi dirinya, tapi dia mengacuhkannya. Aariz kemudian melanjutkan ceritanya.

“Aku memberanikan bertanya, It seems you’re not from Cairo, where are you from?” tanyaku memberanikan diri.

“I’m from Indonesia,” jawab Nissa.

“Tiba-tiba seseorang menyenggolku aku hampir menubruknya, lalu aku menghindar. Namun, aku tak bisa menghindar ketika bibirku menyentuh keningnya.”

Aariz menghentikan ceritanya. Mengenang kejadian itu membuatnya tersenyum. Namun, sedetik kemudian kedua matanya berkaca-kaca seakan ada yang sedang berusaha ditahannya.

“Awalnya kami tak saling mengenal. Namun, pertemuan setiap hari di waktu yang sama akhirnya membuat kami saling menyapa, lalu mengobrol. Sampai akhirnya kami saling mengenal lebih jauh.”

“Perjalanan perkenalan kami cukup lancar karena masing-masing memang tidak memiliki pasangan. Nissa bercerita dia sudah pernah menikah dan mempunyai putra, tapi dia berpisah dengan suaminya. Dia sungguh wanita yang kuat, menjadi tulang punggung untuk keluarganya. Bagiku asalkan dia sudah sendiri aku tak mempersoalkan statusnya, dan hanya beberapa bulan kemudian aku mengungkapkan perasaanku, tak disangka dia menyambutnya. Kami kemudian menikah.” Aariz kembali menghentikan ceritanya.

Mendengar pria itu bercerita telah menikah dengan Nissa, perasaan Hanin menjadi lega. Itu artinya dia bukanlah anak haram seperti yang dituduhkan orang. Hanin ingin bertanya lebih jauh, tapi hatinya melarang sebelum ada hasil tes DNA yang menyatakan Aariz Zayan Malik adalah ayahnya.

“Anda bilang saat itu dia sudah menikah dan punya anak laki-laki?” tanya Awan.

“Benar, tapi aku tak mempersoalkan itu.”

Awan tertegun. Dia menyadari sesuatu dari cerita Aariz yang membuatnya cemas.

Hanin juga menyadari sikap Awan dari pertanyaannya, tapi dia tak berani membahasnya.

“Kak Awan kau tidak apa-apa?” Hanin memastikan.

“Tidak apa-apa,” jawab Awan.

“Kakak jangan bohong, kakak khawatir kalau ternyata anak laki-laki itu adalah kakak, kan?”

“Untuk apa khawatir, aku hanya terkejut saja. Kalau bukan Aariz ayahmu lalu siapa ayahku?”

“Ini masih belum pasti, Kak. Nanti kau pun harus tes DNA dengannya,” saran Hanin.

“Itu sudah pasti.”

Mereka kembali meminta Aariz untuk melanjutkan ceritanya. Pria itu pun tak keberatan untuk bercerita.

“Setelah menikah denganku dan dia pulang ke Indonesia dia sedang mengandung usia 8 bulan. Sejak saat itu aku tidak pernah lagi bertemu dengannya.”

“Jadi benar kau ini ayahku? Pria yang tidak bertanggungjawab yang telah menelantarkan istri dan anaknya!” tiba-tiba Hanin beranjak dan berbicara dengan marah.

Awan memintanya untuk duduk, tapi Aariz membiarkan saja. Pria itu tetap duduk dengan sikap tenang membiarkan Hanin marah-marah. Dia justru merasa senang secara tidak langsung Hanin sudah mengakui dirinya sebagai ayahnya, meskipun marah karena kesalahpahaman. Aariz memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk membuat Hanin tenang.

“Duduklah, Nak! Aku tahu apa yang kamu pikirkan, aku bisa menjelaskannya,” kata Aariz.

“Menjelaskan seperti apa Pak Aariz? Saat ibuku melahirkanku dan hingga kini aku sudah dewasa kau tak pernah menemuiku. Penjelasanmu tidak akan mengubah kesedihanku dengan hinaan dan tuduhan orang-orang selama ini. Aku dicap sebagai anak haram, dan itu sangat menyakitkan!”

“Aku mengerti, duduklah, biar aku jelaskan. Semua tidak seperti apa yang kamu pikirkan.” Aariz berusaha membujuk Hanin.

“Hani, duduklah!” pinta Awan.

“Tapi aku tak bisa, Kak! Pria ini yang sudah meninggalkanku. Dia yang sudah membuangku dan menyia-nyiakanku! Seharusnya aku percaya dengan perkataan Papa Elvan, pria ini memang tidak bertanggungjawab.” Hanin beranjak lalu mengajak Awan pergi.

“Kita pergi, Kak.”

“Ke mana?”

“Pulang.”

“Kau yakin akan pulang? Sudah datang jauh-jauh mau pergi begitu saja tanpa hasil. Kita bahkan belum tahu apakah dia benar ayahmu atau bukan.”

“Apa yang dia ceritakan sudah jelas, Kak.”

Awan menarik nafas dalam-dalam, kemudian mengusap bahu Hanin.

“Setelah kita pulang apa yang akan kau jelaskan pada orang-orang yang sudah menuduhmu? Kalau penjelasan saja sudah cukup membuat mereka berhenti menuduhmu untuk apa kita pergi jauh-jauh mencari ayahmu. Bukti yang jelas baru bisa meyakinkan mereka, Hani “

Hanin tertunduk sedih. Apa yang Awan ucapkan memang benar. Dia tidak bisa kembali tanpa membawa bukti apa pun. Hanin akhirnya kembali pada tempat duduknya.

Melihat amarah gadis itu, Aariz tertegun. Sekilas dia memahaminya, meskipun tidak merasakannya secara langsung. Namun, jika orang-orang menghina putrinya sebagai anak haram dia tidak terima. Sementara tuduhan itu terjadi karena kesalahannya yang tak pernah ada di sisi putrinya.

Aariz beranjak. Menilik jam di tangannya.

“Maaf, aku tidak bisa menemani kalian sampai selesai. Kalian lanjutkan saja makan kalian, esok kita bertemu kembali untuk tes DNA,” ujar Aariz. Dia kemudian menghampiri Amaan. “Kau atur semuanya, dan pastikan semua berjalan dengan lancar!” perintahnya pada Amaan.

“Baik Tuan!”

Aariz berjalan ke arah pintu. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, ia menoleh kembali pada Hanin yang wajahnya masih terlihat marah. Esok setelah hasil tes DNA keluar ia berharap sikap gadis itu akan berubah.

1
Muhammad Raihan
Sudah sampai seperti itu masih saja tidak mau ngaku suka, Satya breng*** juga
Muhammad Raihan
Semangat Kakak 👍🏻
D Asti
Selamat datang di novel ke dua aku, ayo kakak pembaca yang terkasih beri author dukungannya dengan like, komentar, saran dan ulasannya ya, terima kasih😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!