𝘛𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝙈𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙂𝙡𝙤𝙧𝙮—𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘦𝘭𝘪𝘵𝘦 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘯𝘥𝘰𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶— 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
왕신 ー 13
“Shin!”
Pria itu benar-benar datang. Betapa Aiko merasa lega dengan kemunculannya. Setelan napas kembali lancar, dia mengangguk untuk menjawab pertanyaan lelaki itu terkait keadaannya. “Ya, aku baik-baik saja, tapi ....” Takut-takut matanya melirik arah di mana Oh Chunbae menelungkup dengan darah mengalir hasil perbuatannya.
“Jangan pedulikan dia!” Shin mengingatkan. “Ayo kemasi barangmu! Kita pergi dari sini sebelum petugas datang! Tapi pertama-tama, kita bersihkan tubuhmu dulu.” Tidak menunggu respon, Aiko ditariknya ke kamar mandi untuk membersihkan cipratan darah milik Oh Chunbae.
Aiko bingung dan ketakutan, tangannya gemetar lagi saat Shin sibuk mengusap dan membasuh nodanya dengan kucuran air.
“Di mana Paman Takeda?” tanya wanita itu, lemah.
“Sepertinya dia tidak di sini." Gerakan Shin sudah beralih sesi, dari mencuci, sekarang tubuh Aiko sedang dikeringkannya menggunakan handuk.
“Maksudmu?”
“Aku tidak tahu. Sekarang ayo ganti bajumu.”
...
Dalam beberapa menit Aiko dan Shin sudah ada di lobi, bergegas menuju parkiran. Hotel ditinggalkan secepat mungkin sebelum keadaan Oh Chunbae menggemparkan seisi tempat.
Shin membawa mobil pinjaman milik salah seorang anggota Venom.
“Takeda menghubungiku pagi sekali, meminta tolong agar aku cepat datang dan membawamu pergi. Katanya dia ditipu seorang polisi yang datang mengaku sebagai anak buah Sol Gibaek.”
Ternyata begitu, dan Aiko tentu sangat terkejut. “Lalu, apa kau sudah tahu di mana dia sekarang?!”
Jawaban Shin masih sama, “Entahlah. Mungkin di kantor polisi, atau bisa jadi di tempat lain.”
Itu tidak membantu sama sekali, Aiko membuang wajah untuk menyembunyikan semua hal buruk yang dirasakan.
KRIING!
Ponsel berdering mengejutkan irama mereka.
Milik Aiko.
Kebetulan sekali, dari Takeda. Cepat-cepat gadis itu menerimanya.
“Paman! Paman ada di mana sekarang?!”
Singkat, padat dan jelas, kata-kata Takeda sebelum kemudian dijawab Aiko dengan, “Hah, syukurlah. Segera aku akan tiba di sana bersama Wang Shin.
Panggilan ditutup.
“Jadi, di mana dia sekarang?” tanya Shin, sambil tetap fokus menyetir.
"Paman bilang ... dia sudah bersama Sol Gibaek.”
“Benarkah?”
“Ya. Sepertinya dia berhasil menyelesaikan masalah dengan polisi itu.”
Shin terdiam, tidak menanggapi, tapi pikirannya mulai berisik. “Seperti yang hampir dilakukan Aiko tadi, Takeda mungkin membunuh polisi itu.”
Hanya di hati, di suara luarnya, singkat dia bertanya, “Lalu?”
“Kita diminta ke dermaga segera. Pengiriman dimajukan satu jam lagi.”
“Apa?!”
“Ya, satu jam lagi.”
"Kita berhenti sebentar!”
CKIIIIDD!
“Ada apa?”
“Aku harus menghubungi seseorang.”
Aiko tak membalas lagi, Shin sudah melanting keluar, menghampiri pohon untuk melakukan panggilan telepon.
“Mereka mengubah rencana. Sebelum satu jam lagi kalian sudah harus bersiap di dermaga.”
Di line, Park Junwon terdengar terkejut, namun mengiyakan dan mengucapkan terima kasih setelah itu.
“Bagaimana soal gudang produksi?" tanya Shin ingin tahu. Park Junwon menjelaskan dengan versinya, yang kemudian dia tanggapi dengan sesuatu yang disebut lega. “Bagus kalau begitu. Aku harus menutup teleponnya. Kau ... selamat bekerja.”
Gegas dia kembali ke mobil dan menemukan Aiko masih menunggu.
“Aiko Hart!” panggilnya saat sudah resmi duduk kembali dan menutup pintu.
“Ya!” Kening Aiko agak mengernyit. Selain panggilan Shin yang tiba-tiba berubah, tidak ada embel-embel 'nona' seperti biasa bahkan hingga beberapa saat lalu, tatapannya juga sedikit berbeda dari yang tadi.
“Aku ingin bertanya.” Shin menatapnya serius.
“Apa itu?”
“Apa kau ... sungguh ingin kembali pada ayah angkatmu dan berada terus dalam kendalinya?”
Keheranan terbit dari kernyitan di wajah Aiko. “Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"
“Jawab saja! Apa kau sungguh sudah berdamai dengan dirimu dengan bekerja seperti ini? Kau tidak takut?”
Semakin aneh, tak ayal Aiko harus menjawab, “Aku ... sebenarnya akuー”
“Cukup!" Shin memotong cepat. “Itu sudah cukup jadi jawaban.” Maksudnya keraguan wanita itu.
Tak sempat Aiko menimpal lagi, Shin sudah menyalakan mesin mobil kemudian melaju cepat.
“Ada apa ini sebenarnya, Shin?” Aiko perlu tahu, namun Shin tidak menjawab.
Sampai wanita itu kemudian sadar akan sesuatu, tatapan rusuh menatap jalanan. “Ini ... bukan jalan menuju tempat Sol Gibaek ... ataupun dermaga!"
“Memang bukan!”
“Lalu?!”
“Ke tempat lain.”
“Kemana maksudmu?! Bukankah kita harus pergi ke dermaga! Paman menungguku di sana!”
“Kalau pergi ke dermaga, kau akan tamat dalam penjara, Aiko Hart!”
Semburan Shin melebarkan bola mata gadis Jepang itu. “Maksudmu?!"
“Polisi segera mengepung tempat itu hingga ke markas Sol Gibaek dan gudang produksi mereka. Kemungkinan besar Takeda juga akan tertangkap di sana.”
“A-apa kau bilang?!”
Dan kebisuan Shin setelahnya memberitahu Aiko satu hal penting.
“Shin ... jangan bilang kalau kau ....”
“Ya! Aku pengecualian dari Venom, Sol Gibaek, bisnis dan kejahatan mereka. Tapi aku bukan polisi!”
Rasa tidak percaya menggertak Aiko, kelu lidahnya untuk berkata, selain kepala menggeleng-geleng kaku dengan gemuruh di dalam dada.
“Jika kau bertanya kenapa aku melakukan ini padamu, jawabannya sudah jelas, karena aku tahu, kau hanya wanita biasa yang ingin hidup seperti wanita lain pada umumnya.” Setelah mengatakannya dengan tatapan penuh, Shin kemudian membuka pintu dan keluar, mobil sudah berhenti dari sesaat lalu. “Ayo turun. Kau akan aman berada di sini.”
Aiko menurut karena belum bisa mencerna banyak dari situasinya, itu mendorongnya pada kenyataan bahwa sekarang tidak ada pilihan lain.
“Lalu bagaimana dengan Paman?” tanyanya, ragu-ragu meraih uluran tangan Shin untuk menariknya keluar.
“Aiko Hart ... seorang penjahat cepat atau lambat akan menerima ganjaran perbuatannya. Jika kau mengakui dia sebagai pamanmu, orang tuamu atau apa pun itu, maka kau salah, mereka hanya iblis yang mengendalikanmu. Tidak ada yang perlu kau sesali dari hukuman yang diterimanya. Jadi lupakan semua mulai sekarang.”
Aiko terkejut, ponselnya dirampas cepat lelaki itu.
“Jangan sesekali menghubungi dia untuk mengingatkan! Atau kuhubungi polisi untuk memenjarakanmu!”