NovelToon NovelToon
The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Dark Romance
Popularitas:173
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: KEBENARAN YANG MENJIJIKAN

Suara baling-baling helikopter yang menderu keras di atas kepala seolah tenggelam oleh suara detak jantung Arunika yang menggila. Di bawah sana, kobaran api di atap stasiun perlahan mengecil, begitu juga dengan sosok Adrian yang berdiri kaku menatap kepergiannya.

Arunika menyandarkan punggungnya ke kursi helikopter yang dingin. Tubuhnya gemetar hebat, sisa adrenalin dan efek obat yang diberikan Adrian pagi tadi membuatnya merasa antara nyata dan tidak. Di sampingnya, Maya—wanita misterius yang menyelamatkannya—sedang sibuk berbicara melalui walkie-talkie.

"Target diamankan. Kita menuju titik koordinat B-12. Pastikan tim medis siap, dia habis dicekoki sesuatu oleh Valerius," ucap Maya tegas.

Arunika menoleh dengan tatapan kosong. "Siapa kamu sebenarnya? Dan kenapa kamu menyebut nama Elena?"

Maya tidak langsung menjawab. Dia melepaskan masker hitamnya, memperlihatkan wajah yang memiliki bekas luka bakar kecil di sudut matanya. Dia mengambil sebuah map cokelat tua yang sudah agak lusuh dari bawah kursi dan meletakkannya di pangkuan Arunika.

"Buka saja. Kau butuh alasan untuk tetap hidup dan tidak kembali pada monster itu," kata Maya dingin.

Dengan tangan yang masih gemetar, Arunika membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat lembaran dokumen medis, laporan kepolisian yang dipalsukan, dan beberapa foto lama. Di lembar pertama, ada foto seorang wanita yang sangat mirip dengan Arunika, mengenakan gaun putih sederhana. Dia sangat cantik, tapi matanya memancarkan kesedihan yang mendalam.

Di bawah foto itu tertulis: Elena Valerius.

Namun, yang membuat Arunika nyaris berhenti bernapas adalah dokumen di lembar berikutnya. Sebuah akta kelahiran dan hasil tes DNA lama.

"Elena... dia bukan istri pertama Adrian?" tanya Arunika, suaranya nyaris hilang ditelan angin.

"Bukan," jawab Maya sambil menatap lurus ke depan. "Dia adalah adik kandung Adrian. Satu-satunya keluarga yang tersisa setelah orang tua mereka meninggal dalam kecelakaan yang, menurut rumor, diatur sendiri oleh Adrian saat dia masih remaja."

Arunika menutup mulutnya dengan tangan. Rasa mual yang tadi sempat hilang kini kembali menyerang dengan lebih hebat. "Tapi... Adrian memperlakukanku seperti dia. Dia memaksaku memakai barang-barangnya, mengikuti aturannya, bahkan memanggilku dengan sebutan yang sama..."

"Karena Adrian adalah monster yang terobsesi pada kesempurnaan. Dia mencintai adiknya dengan cara yang sangat menjijikkan. Dia mengurung Elena, menjadikannya koleksi pribadinya di rumah itu selama bertahun-tahun. Saat Elena akhirnya berhasil kabur—atau lebih tepatnya 'dihilangkan' oleh Adrian karena mencoba melawan—dia mulai mencari penggantinya. Dia mencari wanita yang memiliki struktur wajah, golongan darah, dan ketahanan mental yang mirip dengan Elena."

Maya menatap Arunika dengan tatapan kasihan. "Kau bukan istrinya, Arunika. Kau adalah 'Edisi Kedua' dari adiknya yang gagal dia jinakkan."

Arunika merasa dunianya runtuh. Selama ini dia mengira dia sedang bersaing dengan bayang-bayang mantan istri, ternyata dia sedang dijadikan pengganti untuk sebuah obsesi incest yang gila.

"Lalu di mana Elena sekarang?" bisik Arunika.

Maya terdiam sejenak. "Itu rahasia yang hanya diketahui oleh Adrian dan Sandra. Tapi menurut intelijen kami, Elena masih hidup... di suatu tempat. Terkunci di fasilitas yang jauh lebih mengerikan daripada mansion itu. Dan itulah alasan kenapa Sandra membantumu tadi."

"Sandra? Dia bekerja untukmu?"

"Sandra adalah salah satu korban Adrian yang paling lama bertahan. Dia melakukannya untuk bertahan hidup, tapi jauh di lubuk hatinya, dia menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan Adrian dari dalam. Dia memberikan kunci loker itu padamu karena dia tahu hanya dengan cara ini, kau bisa bertemu denganku."

Helikopter mendarat di sebuah gudang tua di pinggiran kota yang sudah dikelilingi oleh mobil-mobil hitam. Begitu pintu terbuka, seorang pria berlari mendekat dengan wajah panik.

"Arunika!"

"Rendra?" Arunika langsung menghambur ke pelukan pria itu begitu turun dari helikopter. Tangisnya pecah seketika. Rendra memeluknya sangat erat, seolah tidak akan pernah melepaskannya lagi.

"Maafkan aku, Rendra... gara-gara aku, kamu hampir celaka," isak Arunika.

"Sstt, yang penting kamu selamat. Kita akan pergi dari sini, jauh dari jangkauan Adrian," kata Rendra sambil mengusap air mata Arunika.

Namun, Maya berjalan mendekati mereka dan memecah suasana haru itu. "Jangan terlalu senang dulu. Adrian punya akses ke satelit militer dan jaringan pengintai di seluruh negeri. Dalam waktu kurang dari dua jam, dia akan tahu kita di sini. Kita harus segera bergerak ke perbatasan."

"Tunggu," potong Arunika. Dia teringat sesuatu. "Di Gudang Sektor 7... Adrian bilang dia sedang melakukan riset. Dia bilang daging yang aku makan itu untuk memeras 'hormon ketakutan'. Apa maksudnya?"

Wajah Maya mendadak berubah sangat pucat. "Dia melakukannya padamu? Bajingan itu benar-benar sudah melangkah terlalu jauh."

Maya menarik Arunika masuk ke dalam sebuah mobil van yang sudah disulap menjadi laboratorium kecil. Dia segera mengambil sampel darah Arunika.

"Dengar, Arunika. Adrian bukan hanya terobsesi secara seksual atau emosional. Dia adalah psikopat yang percaya bahwa dia bisa menciptakan 'obat' untuk menghilangkan rasa takut manusia, atau justru mengendalikannya. Riset itu dia namakan Project Medusa. Elena adalah subjek pertamanya. Itulah kenapa dia sangat membutuhkanmu tetap hidup, tapi dalam keadaan mental yang hancur."

"Jadi selama ini... dia tidak pernah menganggapku manusia?" tanya Arunika lirih.

"Baginya, kau adalah aset laboratorium kelas atas yang kebetulan bisa dia nikahi," jawab Maya ketir.

Tiba-tiba, suara ledakan terdengar dari kejauhan. Lampu-lampu di gudang itu berkedip lalu mati total. Suasana menjadi gelap gulita.

"Dia sudah sampai," bisik Maya sambil mengokang senjatanya. "Cepat! Masuk ke terowongan bawah tanah!"

Rendra menarik tangan Arunika, mereka berlari menembus kegelapan. Di belakang mereka, suara sepatu bot militer mulai terdengar menendang pintu masuk gudang. Suara Adrian bergema melalui pengeras suara mobil-mobil yang mengepung tempat itu.

"Arunika! Aku tahu kau di dalam! Jangan membuatku semakin marah, Sayang. Kembali padaku sekarang, dan aku berjanji tidak akan menyakiti Rendra!"

Suara itu terdengar sangat tenang, tapi penuh dengan ancaman yang mematikan. Arunika berhenti berlari sejenak, menoleh ke arah kegelapan di belakangnya. Dia tahu, sejauh apa pun dia lari, bayangan Adrian Valerius akan selalu mengikutinya.

"Aku tidak akan kembali menjadi koleksimu, Adrian!" teriak Arunika dengan sisa keberaniannya.

"Kalau begitu," suara Adrian terdengar sangat dekat, seolah dia sudah berada di balik dinding terowongan. "Aku akan membawa pulang mayatmu. Karena koleksi yang rusak, lebih baik dihancurkan daripada dimiliki orang lain."

Brak!

Dinding kayu di depan mereka hancur ditabrak oleh mobil lapis baja milik tim keamanan Adrian. Cahaya lampu sorot yang sangat terang membutakan mata Arunika. Di tengah cahaya itu, Adrian berdiri dengan pistol di tangannya, wajahnya yang tadi penuh darah kini sudah dibersihkan, namun matanya memancarkan kegilaan yang sempurna.

"Permainan selesai, Arunika. Pulanglah," ujar Adrian sambil mengarahkan pistolnya... bukan ke Arunika, tapi ke kepala Rendra.

Tangan Arunika gemetar. Dia berdiri di antara kebebasan yang ada di depan mata dan nyawa Rendra yang berada di ujung jari telunjuk Adrian.

"Jangan tembak dia!" teriak Arunika.

Adrian tersenyum tipis. "Pilihan ada di tanganmu, Sayang. Pilih dia dan lihat otaknya berhamburan, atau pilih aku dan kita akan kembali ke rumah untuk merayakan 'ulang tahun' Elena malam ini."

Arunika melirik Maya yang sedang membidik dari kegelapan, tapi Maya memberikan isyarat untuk tidak bergerak. Saat itulah, ponsel di saku Arunika—ponsel yang diberikan Maya tadi—bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal:

[Lihat ke arah lampu sorot ketiga. Tembak tangki bensinnya. Sekarang. —Sandra]

Arunika menyadari, Sandra masih bermain bersama mereka. Tapi apakah dia sanggup melakukannya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!