NovelToon NovelToon
Kelas Paus

Kelas Paus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: Chika cha

Cover by me.

Saat SMP Reani Sarasvati Ayuna pernah diam-diam jatuh pada Kadewa Pandugara Wisesa, sahabat kakaknya—Pramodya yang di ketahui playboy. Tapi bagi Kadewa, Rea cuma adik dari temannya, bocah kecil yang imut dan menggemaskan.

Patah hati saat Kadewa masuk AAL sambil menjalin cinta pada gadis lain dan kali ini cukup serius. Rea melarikan diri ke Jakarta, untuk melanjutkan kuliah dan setelahnya menetap dan berkarir disana sebagai encounter KAI, berharap bisa menjauhkan dirinya dari laut dan dari...

Kadewa..

Tujuh tahun berlalu, takdir menyeretnya kembali. Kadewa datang sebagai Kapten TNI AL yang lebih dewasa, lebih mempesona, dan lebih berbahaya bagi hatinya.

Rea ingin membuktikan bahwa ia sudah dewasa dan telah melupakan segalanya. Namun Kadewa si Paus yang tak pernah terdeteksi dengan mudah menemukan kembali perasaan yang telah ia tenggelamkan.

Mampukah cinta yang terkubur tujuh tahun itu muncul kembali ke permukaan, atau tetap menjadi rahasia di dasar samudra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jeda di Ujung Negeri

Dua penerbangan dan satu transit panjang selama dua hari lebih akhirnya membawa Kadewa berdiri di bawah langit yang benar-benar berbeda. Tidak ada kepulan asap industri Surabaya. Tidak ada deru macet yang memekakkan telinga. Yang ada hanya aroma asin laut yang kental dan angin yang berhembus bebas, tanpa harus bernegosiasi dengan gedung-gedung tinggi.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, paru-paru Kadewa terasa punya ruang.

Ya. Kadewa minggat ke Natuna.

Ke tempat Mbak Nasya—kakak keduanya yang mengikuti penugasan sang suami, seorang prajurit TNI AU sekaligus pilot pesawat tempur.

Dari semua kakaknya, hanya Nasya yang dalam pandangan Kadewa benar-benar memilih hidupnya sendiri. Tidak terjun ke dunia bisnis keluarga. Tidak masuk ke orbit Panji. Ia memilih jalan yang berbeda, menjadi dokter, bertugas di tempat yang jauh dari keluarga, jauh dari ambisi yang dibungkus nama tanggung jawab keluarga, lalu berakhir menikah dengan prajurit TNI AU.

Dan tanpa Nasya sadari, itulah alasan Kadewa datang.

Karena jika ada satu orang dalam keluarga Wisesa yang tahu rasanya bernapas tanpa peta hidup buatan orang lain, orang itu adalah Mbak Nasya.

Kadewa datang tanpa membawa persiapan apa pun.

Tidak ada koper berisi pakaian.

Tidak ada rencana cadangan.

Bahkan ponselnya pun tertinggal, tergeletak begitu saja di meja makan malam itu, bersama amarah, keputusan sepihak, dan hidup yang ia tinggalkan.

Ia datang hanya dengan tubuh yang lelah, kepala yang penuh, dan satu hal yang tersisa utuh yang merupakan keinginan untuk berhenti diatur.

Dan untuk pertama kalinya, Kadewa tidak merasa itu keputusan yang salah.

Setelah dari bandara, ia langsung berjalan kaki menuju komplek perumahan dinas di lingkungan Lanud Raden Sadjad.

Begitu tiba di depan pos masuk, langkah Kadewa terhenti.

Seorang prajurit jaga menghadangnya.

Namun sebelum Kadewa sempat membuka suara, pria berseragam itu sudah lebih dulu menyipitkan mata, menatapnya dari ujung kepala sampai kaki, lalu tersenyum lebar.

“Lho?” katanya, nada suaranya berubah santai. “Ini bukan iparnya letkol Argantara ya?"

Kadewa menghela napas kecil. Sudut bibirnya terangkat samar.

Ya, Kadewa sudah dua kali ke pulau terpencil itu. tepatnya saat ada peristiwa yang terjadi dengan kakak iparnya dan saat kakaknya melahirkan. wajar jika satu atau dua prajurit mengenalnya. Apa lagi Kadewa yang memang memiliki pribadi yang ramah.

“Iya, Pak,” jawabnya pelan sambil tersenyum tipis.

“Tumben sendirian? Biasanya datang rame-rame.” tanya prajurit itu saat tak menemukan siapapun selain laki-laki remaja itu.

Tatapannya kemudian turun, menyapu tubuh Kadewa lebih teliti.

Tidak ada ransel.

Tidak ada koper.

Bahkan jaket pun tidak, ia hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih dengan celana jeans berwarna hitam. Hanya itu.

Sebagai prajurit yang terbiasa membaca situasi, naluri itu langsung bekerja.

Alisnya terangkat sedikit. Suaranya merendah, penuh selidik.

“Kamu ini… lagi kabur?”

Sebenarnya itu hanya tebakan. Lemparan ringan.

Tapi cara Kadewa berhenti sepersekian detik terlalu kentara.

Kadewa lalu menghela napas panjang, berlebihan dan menegakkan bahu seperti orang siap berpidato.

“Kabur sih nggak, Pak,” katanya santai.

Ia menoleh kiri-kanan, lalu menambahkan dengan wajah polos, “Lebih ke… evakuasi diri dari tekanan hidup.”

Prajurit itu memicingkan mata, jelas tak langsung paham. “Hah?”

Tapi Kadewa malah melanjutkan dengan mengangguk mantap. Bodo amat dia kalau prajurit di depannya bingung.

“Iya. Dokter bilang stres bisa bikin kita cepat ubanan, Pak. Jadi saya nyari udara segar sebelum rambut saya putih.”

Hening dua detik.

Lalu...

“Ngawur,” potong prajurit itu cepat.

Kadewa nyengir tanpa dosa. “Lho, beneran loh, Pak.”

Prajurit itu menggelengkan kepala sambil bersedekap dada. Nada suaranya kini datar, tapi ada geli tipis yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.

“Anak muda zaman sekarang nggak ada takutnya,” gumamnya. Lalu ia bertanya, “Kamu sudah punya KTP belum?”

Kadewa mengangguk ringan.

“Udah, Pak.”

Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet mahalnya yang merupakan satu-satunya barang yang ia bawa sejak pergi, lalu menyodorkan kartu identitasnya.

“Ini, Pak,” katanya santai, seolah ia sedang menyerahkan kartu parkir, bukan identitas diri.

Prajurit itu menerima KTP tersebut, melirik nama yang tertera, lalu kembali menatap Kadewa dengan ekspresi yang kini lebih sulit dibaca.

Ia menyerahkan kembali KTP itu setelah membacanya beberapa saat.

“Kamu tahu nggak,” katanya pelan, “datang ke komplek militer tanpa barang, tanpa izin tertulis, terus ngaku lagi evakuasi diri padahal gak ada bencana apapun itu bisa bikin kamu dicurigai macam-macam, lho.”

"Siap. Salah, Pak."

Prajurit itu menghela napas, lalu menunjuk tanah di depan Kadewa.

“Push up.”

Kadewa melongo sesaat. “Pak?”

“Push up. Dua puluh.”

“Pak, saya adik iparnya letkol—”

“Justru itu,” potong prajurit itu datar.

“Dua puluh. Sekarang. Kalau masih mau nambah komentar, saya tambah.”

Kadewa mendesah pasrah, lalu menurunkan tubuhnya ke posisi push up.

“Saya baru mendarat dua jam lalu loh, Pak,” gumamnya sambil mulai menurunkan badan. “Jet lag.”

“Hitung,” perintah prajurit itu tak perduli.

“Satu…” Kadewa menurunkan badan.

“Dua… ini sebenernya bentuk sambutan hangat, ya Pak?”

“Lima tambah,” jawab si prajurit tanpa ekspresi.

Kadewa mendengus. “Natuna ramah banget ya, ternyata.”

Meski napasnya mulai memburu, senyumnya tetap ada.

Untuk pertama kalinya sejak ia pergi dari rumah, hukuman sekonyol ini justru terasa… ringan.

Lebih ringan daripada beban yang ia tinggalkan.

Prajurit itu memperhatikan Kadewa menyelesaikan hitungan terakhirnya. Keringat sudah membasahi pelipis remaja itu, napasnya sedikit tersengal.

“Dua puluh lima,” ucap Kadewa akhirnya, menjatuhkan tubuhnya ke tanah dengan nafas memburu.

Prajurit itu mendengus kecil melihatnya. Ia bahkan hampir tersenyum. Hampir.

“Berdiri,” perintahnya singkat.

Kadewa menurut. Menepuk-nepuk tangan dan tubuhnya yang kotor terkena tanah semen.

Prajurit itu lalu melirik ke arah dalam komplek, sebelum kembali menatap Kadewa. Nada suaranya kali ini tak lagi setajam tadi.

“Kamu masih ingat rumah Letkol Argantara yang mana?”

Kadewa mengangkat alis, berpura-pura berpikir keras.

“Yang catnya biru, kan, Pak?”

Alis prajurit itu langsung naik. Matanya mendelik. “Semua rumah dinas di sini warnanya biru.”

“Oh.” Kadewa manggut-manggut serius. “Berarti yang birunya paling biru.”

Prajurit itu menatapnya datar. Sangat datar. “Kamu ini mau nyari aman atau nyari tambahan push up lagi?”

Kadewa nyengir. "Ampun, Pak. Ampun. Jangan di tambah dong, lagi jet lag saya.”

Prajurit itu menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan.

“Masuk,” katanya akhirnya, sambil memberi isyarat ke arah dalam komplek. “Jalan lurus, belok kanan di gang kedua. Rumah paling ujung.”

Kadewa langsung berdiri tegap.

“Siap. Terima kasih, Pak. Push up nya sangat menyentuh batin.”

“Pergi.”

"Siap."

Kadewa lantas melangkah masuk, melewati palang besi yang perlahan terangkat dengan senyum yang belum hilang.

Deretan rumah dinas berwarna biru berdiri rapi, nyaris seragam, hanya dibedakan oleh pot tanaman di teras, foto pasangan pemilik rumah yang tertempel di pintu masuk dan suara televisi yang samar dari balik jendela.

Langkahnya berhenti di rumah paling ujung, sesuai petunjuk.

Ia berdiri sejenak di depan pintu. Menarik napas. Sekali. Dua kali.

Lalu mengetuk.

Tok!

Tok!

Tok!

Tak lama, pintu terbuka.

Mbak Nasya berdiri di ambang pintu, mengenakan jilbab instan dan kaus rumahan. Di satu tangannya ada botol kecil minyak telon, aromanya masih samar tercium, jelas ia baru saja selesai memandikan Yasa—anaknya yang kemungkinan kini sudah berusia enam bulan.

Ekspresinya netral.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu wajah itu berubah seketika.

“Pandu?!” pekiknya kaget. “Kamu… kok bisa di sini?!”

Nasya refleks melangkah setengah maju, matanya membulat, seolah yang berdiri di depannya itu bukan adik bungsunya, melainkan hal yang mustahil. Natuna bukan tempat yang bisa didatangi begitu saja. Jauh. Terlalu jauh. Bahkan untuk sekadar sampai ke pulau ini saja, orang harus menunggu jadwal pesawat yang tak selalu pasti, kadang sehari, kadang dua hari, kadang bisa lebih. Dan bahkan kalau memang ada hal mendesak mereka harus ikut naik pesawat milik TNI.

Dan Pandu berdiri di sana.

Sendirian.

Tanpa apa-apa.

Nasya menatapnya dari ujung kepala sampai kaki, napasnya sedikit tertahan.

Apa yang membawa adiknya sejauh ini?

Dan kemudian satu pertanyaan lain menghantam kesadarannya.

“Loh…” Nasya celingak-celinguk ke kanan dan kiri teras, mencari-cari sosok lain yang seharusnya ada. “Mana Ibu, Ndu?”

Tatapan Nasya kembali ke wajah Pandu, kini penuh tanya dan kekhawatiran yang mulai merayap pelan.

Kadewa menggaruk tengkuknya, senyum kecil yang sejak tadi menempel di wajahnya kini terasa canggung.

“Ehm…” ia melirik ke dalam rumah sekilas, lalu kembali menatap Nasya. “Ibu nggak ikut, Mbak.”

Alis Nasya langsung bertaut. “Maksud kamu?”

Kadewa mengangkat bahu, berusaha terdengar santai meski suaranya sedikit serak karena lelah. “Aku datang sendiri.”

Sunyi sejenak.

Hanya terdengar suara angin laut yang masuk dari sela-sela jendela dan gumaman halus Yasa dari dalam rumah.

Nasya menelan ludah. Tatapannya kini jauh lebih tajam, seperti dokter yang sedang menilai pasien, bukan adik kecil yang biasanya datang sambil bercanda.

“Kamu ke sini naik apa?” tanyanya pelan.

“Pesawat,” jawab Kadewa cepat. “Dua kali. Satu kali nunggu lama di Batam.”

"Ya Allah... Kenapa gak hubungi Mbak dulu sebelum berangkat?"

Kadewa nyengir. "Emmm... Hp aku tinggal, Mbak."

Dan disinilah Nasya menyadari sesuatu, ada yang tidak beres disini. Ia memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam-dalam, lalu membukanya lagi. “Pandu,” katanya rendah, “ini Natuna. Kamu nggak mungkin ke sini cuma buat main. Apa lagi sampai lupa bawa HP sementara mainmu sejauh ini.”

Cengiran Kadewa tadi langsung berubah menjadi senyuman tipis. Senyuman lelah. “Aku juga nggak ngerasa lagi main, Mbak.”

Kalimat itu membuat dada Nasya mengeras.

Ia menatap Kadewa lama, terlalu lama, sampai akhirnya menghela napas panjang, napas orang yang tahu ada badai besar di balik satu kalimat pendek yang keluar dari bibir adiknya.

“Masuk,” katanya akhirnya, membuka pintu lebih lebar. “Kita ngomong di dalam.”

Kadewa melangkah masuk.

Begitu pintu tertutup di belakang mereka, Nasya langsung menoleh lagi. “Kamu kabur dari rumah, ya?”

Melihat adiknya tak membawa barang apapun selain tubuhnya, tidak ada cerita lain, sudah pasti ia kabur kan?

Kadewa berhenti melangkah. Lalu menoleh pelan. Tidak menyangkal. Tidak juga mengiyakan.

“Aku cuma…” ia menghela napas, lalu mengangkat bahu kecil. “Butuh tempat buat bernapas, Mbak.”

Nasya menatap adiknya, lama. Lalu tanpa sadar tangannya mengepal di sisi tubuh.

Ia tahu.

Kalau Kadewa sampai datang sejauh ini, tanpa Ibu, keluarga, tanpa kabar, artinya sesuatu yang besar sudah pecah di rumah mereka...

Nasya menarik napas panjang, lalu melangkah mendekat. Tangannya terangkat, ragu sepersekian detik, sebelum akhirnya mendarat di pundak Kadewa.

“Kamu kelihatan capek,” ucapnya pelan.

Bukan nada kakak yang menuntut penjelasan.

Bukan pula suara orang dewasa yang hendak menasihati.

Ia hanya mengerti beban berat apa yang di pukul laki-laki yang ada di rumah mewah itu, termasuk adik bungsunya.

Kadewa menunduk. Senyum kecil yang sejak tadi ia pertahankan akhirnya runtuh.

“Iya, Mbak.”

Satu kata.

Tapi keluar tanpa sisa pertahanan. Matanya bahkan sudah mulai berkaca-kaca.

Nasya menepuk pundaknya sekali, lalu berbalik. “Kamu mandi dulu. Habis itu makan, terus istirahat. Nanti baru cerita. Pelan-pelan.”

“Di sini nggak ada jadwal. Nggak ada target. Nggak ada yang ngejar kamu.” lanjut Nasya sambil menatap wajah lelah adiknya.

Dan kalimat itu membuat dada Kadewa menghangat dan perih bersamaan.

“Iya,” jawabnya lirih.

Di kamar yang sebelumnya tampak seperti ruang kerja Mas Argan dan kini disulap secepat kilat disulap mbak Nasya menjadi kamar kecil untuknya, entah sampai berapa lama. Kadewa berdiri beberapa detik sebelum akhirnya duduk di tepi ranjang.

Jendela besar menghadap langsung ke laut.

Angin asin masuk tanpa permisi, membawa suara ombak yang konstan dan jujur.

Tidak ada klakson.

Tidak ada pengingat jadwal.

Tidak ada suara yang menuntutnya menjadi versi tertentu dari dirinya sendiri.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun,

ia tidak merasa terlambat.

Ia tidak merasa gagal.

Ia hanya merasa… tiba.

Dan di bawah langit Natuna yang sunyi, Kadewa akhirnya mengizinkan dirinya berhenti berlari meski hanya sebentar.

...Halo... Siapa yang kangen sama Mas argan dan Mbak Nasya?...

...Mereka akan ikut muncul di beberapa part di kelas paus ini. Pantengin ya☺️...

1
Esti 523
bha ha ha ha ya ampun aq baca sambil guling2 ngakak bgt
Ghiffari Zaka
kok aq senyum2 sendiri ya bacanya??🤭🤭🤭 laaaah AQ jadi baper malahan,duh mas paus gombalnya buat AQ ikut cengar cengir padahal siapa. yg di gombali 🤭🤭🤭.
ah pokoknya author is the best lah👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
mey
makasih thor untuk upnya🥰🥰 I❤️U sekebon mawar🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Yani Sri
kopi untukmu kakak....
Lili Susanti
nyambung banget syg.....senyum2 sendiri dr awal sampai akhir baca nya ....yg rajin update ya..ku ksh gift nuch 😍
Niken Dwi Handayani
masih nyambung kok ...ini malahan lagi masa pdkt mas Paus 🤭🤭. Belum masuk yang tegang-tegang nich cerita nya
syora
cukup fokus ke si paus sm plakton
another story keep in save folder🤭
semangat thor gas pol
buat tmn mnyambut ramadhan
syora
nyambung
jgn coba" mlarikan diri xa 🤣
mey
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Esti 523
aq vote 1 ya ka syemangaddd
Esti 523
bagus bgt ceritanya,gak typo2
Esti 523
sekian purnama baru ketemu lg dgn novel yg reel bgt,gak typo2 good luc otor,syemangst
Chika cha: ada typo juga kak, tapi sebelum upload di cek dulu baru upload itu pun masih ada satu dua yang gak keliatan🤭
total 1 replies
falea sezi
jangan murahan re di gombalin gt aja km. uda basah yo heran deh jual. mahal donk di sakitin berkali kali. kok ttep oon meski dia g tau perasaan mu tp. dia penjahat kelamin
falea sezi
murahan
falea sezi
ini cerita nya emank bertele tele kah dr SMP dih lama amat thor
falea sezi
layu sebelum berkembang ya rea hiksss
falea sezi
sabar rea moga nanti ada cogan yg baik setia ya.. lupain cinta pertama yg jatuh pd orang yg salah
falea sezi
kok lucu gmbarnya
Nia nurhayati
dasar paus raja goombll kmu kadewaa
Ghiffari Zaka
di bab ini AQ benar2 gak bs kan men Thor,gak bs ngomong apa2 lagi,blenk AQ Thor karena fokus dan menghayati kata demi kata yg author tulis sehingga AQ merasa kayak bukan baca tp melihat suatu adegan di depan mata,sepertinya AQ ada di dlm situ buat nonton live,pokoknya cuman bisa bilang LUAR BIASA 👍👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!