Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 : Penjelasan Garwa Jaler
Dwipangga bangun, membantu Ainur agar bersandar pada kepala ranjang. Kaki mereka tertutup selimut, duduk dengan posisi lengan saling bersentuhan. Memandang lurus kedepan, menatap pantulan mereka dari cermin meja rias.
“Benar kalau kedua anak itu adalah putrimu, tapi bukan lagi keturunan asli – Mereka sudah dirasuki oleh arwah jahat, beraura iblis. Dengan kata lain, lebih sederhananya … ki Ageng memuja iblis demi mewujudkan ambisi menciptakan tentara dari klan sama untuk membuat tunduk, mengendalikan para manusia hilang arah, hilang akal.”
Ainur terkejut bukan main, ia mendongak mencari kebohongan di netra kuning keemasan Dwipangga. Hanya didapati kejujuran. “Apa, bagaimana …?”
Dwipangga paham jika Ainur masih tabu tentang hal-hal mistis, adanya dunia lain selain yang dia tinggali. Terlebih diasuh dalam lingkungan sempit, tidak bersosialisasi dengan lingkungan maupun masyarakat desa.
“Gumpalan darah calon janinmu membawa sejumput gen ibunya atau lebih halusnya bisa dikatakan serpihan jiwa. Yang mana dimanfaatkan oleh ki Ageng untuk membangkitkan iblis jahat. Suara-suara minta tolong yang kamu dengar lewat mimpi, itu nyata adanya. Sukma asli putri-putrimu kesakitan, tak kuasa melepaskan belenggu,” jelasnya memilih kalimat mudah dipahami.
“Apa jika mereka terbebas, ruh atau jiwanya hilang dari muka bumi ini?”
“Iya.”
“Bisa tidak, tinggal di desa Alas Purwo?” ia berharap jawaban, iya bisa.
Namun harapannya langsung pupus.
“Tidak bisa. Ainur ….” Dwipangga menggenggam jemari istrinya yang terasa dingin. “Kalau kita bisa membebaskan mereka dari rasa sakit, sudah hal benar. Agar jiwa murni itu kembali ke tempat semestinya, pemilik alam semesta. Tidak lagi diperbudak.”
“Namun, membuat kedua putrimu hidup di desa tempat tinggal gaib, adalah hal mustahil. Sebab, sewaktu dicuri – mereka belum berbentuk janin, masih gumpalan darah. Belum juga memiliki jiwa utuh,” sambungnya berempati.
“Bahkan aku belum pernah menimang mereka. Belum juga dikasih kesempatan merasakan tendangan kaki mungil saat masih dalam kandungan, kenapa harus dipisahkan lagi?” Ainur tidak kuasa menahan air matanya.
Dwipangga merangkul pundak sang istri, menarik lembut kepala Ainur agar bersandar di dadanya.
“Terkadang takdir memang sangat kejam, tapi dibalik itu ada hikmah yang dapat dipetik. Daripada membiarkan mereka seperti malaikat pencabut nyawa, lebih baik dibebaskan, walaupun balasannya tak lagi bisa melihatnya. Sakit memang, namun jauh lebih sakit menyaksikan bagaimana tubuh mungil itu memegang senjata tajam, mencabik-cabik organ manusia.”
Ainur dapat menerima perkataan Dwipangga. Dia pun berpikiran sama, cuma masih berat hati.
‘Pada akhirnya, aku juga harus berkorban lagi,’ hatinya meratap pilu.
“Kapan waktunya membebaskan mereka, Garwa?” tanyanya parau sambil memandangi selimut tipis.
“Kalau calon adik mereka sudah siap umur.”
“Hah?” Ainur menoleh ke atas, ia bingung.
“Anak kita. Kehadirannya nanti bisa menjadi tameng teruntuk ketiga saudaranya agar bisa kembali dalam kandungan ibunya, yaitu kamu.”
“Garwa ndak lagi bercanda, ‘kan? Bukankah sebelumnya dikatakan kalau ketiga putraku tidak bisa dilahirkan ke dunia ini? Lantas bagaimana bisa aku mengandung mereka?”
Dwipangga tersenyum tipis sekali, ia tatap lekat manik berair Ainur. “Tidak bisa dilahirkan bukan berarti ndak bisa juga mengandungnya. Rahimmu mampu menampung empat bayi sekaligus, Diajeng.”
“Apa mungkin? Jika ditilik lebih jauh, usia mereka ndak sama, dan aku juga belum hamil?”
“Kehamilan anak manusia dan bayi setengah siluman itu berbeda, Ainur. Sama seperti putaran roda kehidupan, jalannya waktu juga tak sama dengan alam manusia. Satu hari disana, sama halnya sepekan disini. Semua bisa, karena darah kita telah menyatu, terikat tali pernikahan, dan sudah melewati malam pengantin,” jelasnya.
“Jikalau aku hamil, apa ndak bahaya, Garwa?” ia trauma, tak sanggup lagi bila harus mengalami kehilangan.
“Jangan ragukan keturunan dari Raden Dwipangga, Diajeng?” nadanya setengah menggoda, lalu dia berkata serius. “Bayi kita nanti akan memberikan banyak manfaat ke ibunya. Kamu dapat merasakannya sendiri. Pun, ada ksatria bayangan melindungi kalian selama dua puluh empat jam penuh. Ndak perlu mengkhawatirkan apapun, Ainur.”
"Terus, bagaimana kalau mereka mengetahui kehamilanku, terutama ki Ageng?" ia terlihat sedikit panik.
Dwipangga menenangkan, menghapus lelehan air mata yang terus membasahi pipi. "Ada saya suamimu. Banyak pula prajurit terlatih, siap mati demi melindungi calon pewaris tahta selanjutnya, serta sang ibu suri."
Meskipun ragu, Ainur berusaha mempercayai. Ia tak lagi bertanya, memalingkan wajah menatap pantulan mereka pada cermin.
Tangan kiri Dwipangga bergerak-gerak dibawah selimut, seperti berjalan menuju perut datar tertutup dress. “Ngger … tumbuhlah dengan baik, ndak lama lagi kamu punya teman bermain di tempat ternyaman, yakni rahim ibumu. Sekedap malih, nggih (Tunggu sebentar lagi, ya).”
Ainur menyipitkan matanya, ia seperti kehilangan arah, tak mampu berpikir. Matanya bergerak perlahan melihat kebawah. Pelan-pelan diturunkan selimut menutupi perut – menatap dengan perasaan campur aduk, seperti tidak nyata. Air matanya jatuh tepat di punggung tangan berurat. “Dia ….”
“Ya. Sini tangannya, Diajeng.” Dwipangga membawa telapak tangan dingin, meletakkan diatas perut masih kempes. “Dia sudah ada, ndak lama lagi ketiga saudaranya pun kembali menghuni rahim biyungnya.”
Ainur tergugu, tangan satu lagi ikut meraba perutnya sendiri. Suaranya bergetar hebat. “Tolong katakan sekali lagi, Garwa Jaler.”
“Diajeng, kamu tengah mengandung. Sama seperti sebelumnya, rahimmu ditinggali, bukan kosong maupun hamil palsu.” Dwipangga mengelus pucuk kepala Ainur yang menunduk dalam, tangan mengelus perut, dan dia menangis kencang.
“Aku beneran hamil, Garwa? Ndak lagi berhalusinasi ‘kan?” tanyanya ulang seraya mengelus perutnya penuh kasih.
“Nggeh, istriku. Ndak lama lagi kamu bakalan mengalami perubahan hormon, merasakan nikmat seperti ibu hamil lainnya,” ia meyakinkan.
Tubuh Ainur bergetar samar, ia tersentak dan langsung mendongak. Memandang curiga sorot mata menenangkan. “Kenapa cepat sekali? Apa kehadirannya sudah dipersiapkan jauh-jauh hari?”
“Benar.” Dwipangga manggut-manggut, tak memutuskan pandangannya.
Mata Ainur menyipit, menatap penuh rasa curiga. “Ini asli anakku, kan? Bukan hasil dari ritual Pujon Bayi ...?”
.
.
Bersambung.
para iblis berwujud manusia tak layak untuk hidup atau di maafkan.
kekejian mereka semasa hidup dah bukan lagi harus di maafkan, nyawa di bayar nyawa baru adil