Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Runtuhnya Pilar Matahari
Hujan ungu masih mengguyur Kota Wuhe, mengubah jalanan batu yang indah menjadi sungai-sungai beracun yang mengepulkan asap.
Bau belerang dan daging yang terbakar memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang mencekam. Di atas tembok benteng yang mulai keropos, Tetua Zhao berdiri dengan tubuh gemetar.
Sebagai pemimpin cabang Aliansi Penumpas Iblis, ia tidak pernah membayangkan bahwa kejayaan sektenya akan berakhir di tangan seorang pemuda yang bahkan tidak membawa sebilah pedang pun.
"Cukup! Hentikan kegilaan ini!" teriak Zhao. Suaranya pecah, bersaing dengan suara desisan hujan korosif. Ia menghunus pedang besarnya, Pedang Mentari Agung, yang memancarkan cahaya emas menyilaukan—upaya terakhir untuk mengusir kegelapan ungu yang mengepungnya.
Xiao Chen berjalan menanjak menuju tembok benteng, langkahnya seringan bulu, seolah-olah gravitasi tidak berlaku baginya. "Hentikan? Sepuluh tahun yang lalu, aku juga meminta kalian untuk berhenti agar bertanggung jawab atas kematian orang tuaku, apakah kalian berhenti?"
Zhao tertegun. Ingatannya dipaksa kembali ke malam berdarah itu. Wajah wanita yang ia bunuh hanya karena ia tidak menemukan kitab yang ia cari kini tumpang tindih dengan wajah dingin pemuda di hadapannya. "Jadi... kau benar-benar benih sialan dari keluarga petani itu..."
"Aku adalah hantu yang kau ciptakan sendiri," balas Xiao Chen datar.
Zhao menggeram, rasa takutnya berubah menjadi amarah yang nekat. Ia membakar seluruh esensi Qi-nya, mencapai puncak kekuatan Ranah Langit.
Tubuhnya mulai berpijar seperti matahari kecil. "Jika aku harus mati di sini, maka aku akan membawamu ke neraka bersamaku! Jurus Rahasia: Matahari Terbit di Ujung Barat!"
Ia melompat dari tembok, pedangnya menebas udara dengan kecepatan cahaya, menciptakan gelombang api emas yang sangat besar yang bertujuan untuk menguapkan Xiao Chen dan seluruh hujan racun di sekitarnya.
Xiao Chen tidak menghindar. Ia justru menutup matanya sejenak, merasakan aliran energi yang sangat panas itu mendekat.
"Bai," bisiknya.
Ular perak di lengannya melepaskan desisan yang menggetarkan jiwa. Xiao Chen merentangkan tangan kirinya, dan Qi ungu di tubuhnya memadat, membentuk perisai berbentuk kelopak bunga teratai yang menghitam.
BOOM!
Benturan antara api emas dan racun ungu menciptakan ledakan yang meruntuhkan gerbang kota. Debu dan uap panas membubung tinggi.
Zhao mendarat dengan napas terengah-engah, yakin bahwa serangannya barusan telah memusnahkan lawan. Namun, saat debu menipis, matanya membelalak ngeri.
Xiao Chen masih berdiri di sana. Jubah abu-abunya bahkan tidak terbakar. Di tangan kanannya, ia memegang Pedang Mentari Agung milik Zhao... dengan tangan kosong. Cairan ungu pekat mengalir dari telapak tangan Xiao Chen, perlahan-lahan memakan logam pusaka tersebut hingga berlubang dan rapuh.
"Senjatamu... sama pengecutnya dengan pemiliknya," ucap Xiao Chen. Ia meremas pedang itu hingga hancur menjadi serpihan karat.
Zhao terjatuh berlutut. Harapan terakhirnya musnah. "Bagaimana... bagaimana mungkin seorang ahli racun memiliki tubuh sekuat ini?"
"Karena aku tidak hanya mempelajari racun, Zhao. Aku menjadi racun itu sendiri. Setiap inci dagingku telah ditempa oleh seribu jenis maut. Api kecilmupun tak akan bisa membakar samudera racun di dalam nadiku."
Xiao Chen melangkah mendekat, bayangannya memanjang menutupi tubuh Zhao yang gemetar. Ia membuka Kitab Racun-nya. "Sebelum kau mati, katakan padaku... di mana anggota Aliansi lainnya menyembunyikan sisa 'harta' yang mereka rampas dari desa-desaku?"
Zhao tertawa getir, darah hitam mulai merembes dari mulutnya—tanda bahwa hujan ungu tadi sudah mulai merusak organ dalamnya secara perlahan. "Kau pikir ini berakhir denganku? Aliansi Pusat dipimpin oleh para ahli Ranah Raja Roh. Kau hanyalah lalat yang akan digencet oleh mereka!"
"Raja Roh, ya?" Xiao Chen menjambak rambut Zhao dan memaksanya menatap mata ungu miliknya yang kini berpendar mengerikan. "Maka aku akan memanen kepala para raja itu satu per satu sampai takhta mereka berubah menjadi kuburan."
Xiao Chen tidak membunuh Zhao dengan cepat. Ia melepaskan Bai, ular peraknya, yang langsung masuk ke dalam mulut Zhao. Ular itu bergerak di dalam tubuh Zhao, memakan esensi Qi dan energinya dari dalam, membiarkan Zhao merasakan rasa sakit yang luar biasa saat jiwanya perlahan-lahan dilumat.
Jeritan Zhao bergema di seluruh Kota Wuhe yang kini telah sunyi dari perlawanan.
Setelah beberapa saat, tubuh Zhao mengering seperti mumi, meninggalkan hanya kulit dan tulang yang menghitam. Xiao Chen mengambil pena bulunya, dan di bawah nama Mu Rong, ia menuliskan nama kedua dengan tinta yang terbuat dari esensi kehidupan Zhao sendiri: Zhao dari Sekte Matahari Emas.
Xiao Chen berdiri di atas puing-puing tembok kota, menatap ke arah cakrawala. Kota Wuhe telah jatuh. Pesan ini akan segera sampai ke telinga Aliansi Pusat. Mereka akan tahu bahwa Sang Arsitek Maut tidak lagi sekadar rumor, melainkan badai yang akan menghapus mereka dari peta dunia persilatan.
"Satu kota jatuh, sepuluh ribu lagi menunggu," gumam Xiao Chen sambil berjalan meninggalkan kota yang mati itu, diikuti oleh Bai yang kini kembali melilit di pergelangan tangannya, tampak lebih berkilau setelah memangsa energi seorang ahli Ranah Langit.
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.