NovelToon NovelToon
ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Duniahiburan
Popularitas:15
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanya dalam Benak Abimanyu

Abimanyu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sikap Sinta dan Sekar Arum dari siang hingga malam masih saja menghantui pikirannya. Ia merasa ada sesuatu yang aneh di antara kedua sahabat itu.

"Kenapa Sinta kok ujug-ujug narik Sekar lunga, ya?" gumamnya seorang diri sambil berjalan menuju lapangan basket SMAN 1 Eromoko. Sore itu, ia berjanji untuk bermain basket bersama teman-temannya: Jaka, Bagas, Rangga, Tomo, dan Didit.

Biasanya, Sinta selalu bersikap ramah dan terbuka kepadanya. Namun, siang tadi, ia terlihat terburu-buru dan seperti ingin menjauhkannya dari Sekar Arum. Abimanyu merasa sedikit kecewa, karena ia ingin mengucapkan selamat kepada Sekar Arum yang sudah menang lomba puisi.

"Apa mungkin Sinta cemburu karo Sekar? Tapi, lha kok cemburu? Wong ya kanca cedhak banget."

Abimanyu memang sudah lama memperhatikan Sekar Arum. Ia kagum dengan kepintarannya, bakatnya menulis puisi, dan kesederhanaannya. Ia juga senang dengan senyum Sekar Arum yang selalu membuat hatinya hangat. Namun, ia tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya secara langsung.

"Ah, paling-paling aku GR," pikirnya lagi. "Sekar kan wonge ramah karo sopo waé."

Saat sedang asyik melamun, tiba-tiba ia mendengar suara seseorang memanggil namanya.

"Abimanyu!"

Ia menoleh dan melihat Sinta berjalan menghampirinya dengan senyum manis di bibirnya. Abimanyu sedikit kaget, karena Sinta jarang menemuinya secara langsung.

"Eh, Sin," sapané. "Ono opo?"

"Ora ono opo-opo," wangsulané Sinta. "Mung arep nyopo waé. Lagi arep nang perpustakaan, arep nggoleki buku kanggo tugas sejarah."

Abimanyu mengangguk. "Oh, arep nyilih buku tho? Yowes, semangat ya!"

Sinta tersenyum tipis. "Iyo. Eh, Abi..." Sinta mendadak berhenti bicara, tampak ragu.

"Opo, Sin? Ono sing arep mbok omongke?" tanya Abimanyu, penasaran.

Sinta menggeleng. "Ah, ora. Ora sido (tidak jadi). Wis, aku lungo dhisik yo."

Abimanyu mengerutkan kening. "Lho, kok aneh? Arep ngomong opo tho?"

Sinta hanya melambaikan tangan dan berbalik pergi, meninggalkan Abimanyu dengan tanda tanya besar di benaknya. Ia menatap punggung Sinta yang menjauh, merasa semakin bingung dengan sikapnya.

"Opo yo sing tak pikirke iki bener?" gumamnya dalam hati. "Ah, embuhlah! Wis, arep main basket wae!"

Abimanyu pun mempercepat langkahnya menuju lapangan, mencoba mengenyahkan kebingungan dan rasa penasaran yang berkecamuk di pikirannya. Namun, entah mengapa, bayangan Sinta terus menghantuinya.

Di sisi lain, Sinta berjalan cepat menuju perpustakaan. Sesampainya di sana, ia tidak langsung mencari buku. Ia malah berdiri di dekat jendela, menatap lapangan basket tempat Abimanyu dan teman-temannya mulai bermain.

"Kudune aku ngomong wae mau," bisiknya lirih. "Tapi... aku wedi (takut)."

Sinta menghela napas panjang. Ia tahu, ada sesuatu yang harus ia lakukan. Tapi, ia juga takut dengan akibat dari tindakannya. Ia menggigit bibir bawahnya, tampak bimbang.

"Aku kudu piye?" tanyanya pada diri sendiri.

Sementara itu, di lapangan basket, Abimanyu berusaha fokus pada permainan. Namun, pikirannya terus melayang pada Sinta dan Sekar Arum. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi di antara mereka, dan ia ingin tahu apa itu.

"Abi! Kowe kok nglamun wae?" tegur Jaka, kapten tim. "Fokus, Abi! Mengko kalah lho!"

Abimanyu tersentak kaget. Ia tersenyum meminta maaf dan berusaha memusatkan perhatiannya pada permainan. Namun, dalam hatinya, ia tahu bahwa ia tidak bisa tenang sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

"Abi! Kowe kok nglamun wae?" tegur Jaka, kapten tim. "Fokus, Abi! Mengko kalah lho!"

Abimanyu tersentak kaget. Ia tersenyum meminta maaf dan berusaha memusatkan perhatiannya pada permainan. "Sorry, Jak. Ono sing tak pikirke sethithik," jawabnya.

"Mikirke opo? Mikirke Sekar Arum?" celetuk Tomo sambil tertawa. "Cieee... sing lagi kasmaran!"

Wajah Abimanyu немного merona. "Ah, opo sih, Tom? Ora kok," elaknya.

"Halah, ora ngaku," goda Rangga. "Ketok kok soko raimu (kelihatan kok dari wajahmu). Wis, gek ndang ditembak (cepat ditembak) wae, keburu di sambar wong liyo (keburu diambil orang lain)!"

Abimanyu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia tahu teman-temannya hanya bercanda. Tapi, dalam hatinya, ia mengakui bahwa ia memang memiliki perasaan khusus terhadap Sekar Arum.

"Wis-wis, ojo nggodha Abi terus," lerai Bagas. "Saiki fokus main basket wae. Mengko nek menang, tak traktir es teh!"

Semua pun tertawa dan kembali fokus pada permainan. Abimanyu berusaha melupakan sejenak masalahnya dan menikmati setiap momen bersama teman-temannya. Namun, di sela-sela permainan, matanya sesekali melirik ke arah perpustakaan, berharap melihat Sinta keluar dari sana.

Pertandingan berjalan cukup sengit. Tim Abimanyu dan tim lawan saling berbalas serangan. Jaka sebagai kapten tim terus memberikan semangat dan arahan kepada teman-temannya. Bagas menunjukkan semangat juangnya yang tinggi, Rangga memamerkan skill individunya yang memukau, Tomo menghibur dengan celotehan lucunya, dan Didit memberikan kontribusi yang stabil dan konsisten.

Abimanyu sendiri bermain dengan cukup baik. Ia berhasil mencetak beberapa poin penting dan memberikan assist kepada teman-temannya. Namun, ia merasa bahwa permainannya hari ini tidak sebaik biasanya. Pikirannya terlalu terbebani oleh masalah Sinta dan Sekar Arum.

Di tengah pertandingan, tiba-tiba Abimanyu melihat Sinta keluar dari perpustakaan. Ia tidak langsung menghampiri lapangan basket, tapi malah berjalan ke arah gerbang sekolah. Abimanyu merasa semakin penasaran.

"Arep nang ngendi Sinta?" gumamnya dalam hati.

Tanpa berpikir panjang, Abimanyu memutuskan untuk meminta izin kepada Jaka untuk keluar sebentar.

"Jak, aku izin metu sethithik yo. Ono urusan penting," katanya.

Jaka mengangguk mengizinkan. "Yowes, tapi ojo suwe-suwe (jangan lama-lama). Tim butuh kowe," pesan Jaka

Abimanyu bergegas berlari keluar lapangan, mengejar Sinta yang sudah hampir mencapai gerbang sekolah. Ia mempercepat langkahnya, berusaha menyusul Sinta sebelum ia menghilang dari pandangan.

"Sinta! Sinta!" panggil Abimanyu dengan sedikit berteriak.

Sinta berhenti dan menoleh. Ia tampak terkejut melihat Abimanyu berlari ke arahnya.

"Abi? Ono opo?" tanyanya.

Abimanyu mengatur napasnya yang tersengal-sengal. "Kowe arep nang ngendi? Kok moro-moro (tiba-tiba) lungo?"

Sinta tampak gugup. Ia mengalihkan pandangannya, menghindari tatapan Abimanyu. "Aku... aku arep mulih (pulang)," jawabnya lirih.

"Mulih? Lho, iki kan durung jam mulih (ini kan belum jam pulang). Ono opo toh, Sin? Cerito karo aku," pinta Abimanyu dengan nada lembut. Ia mencoba meraih tangan Sinta, namun Sinta menarik tangannya.

"Ora ono opo-opo, Abi. Wis, aku arep mulih," kata Sinta lagi, berusaha menghindar.

Abimanyu merasa semakin curiga. "Ora mungkin (tidak mungkin) ora ono opo-opo. Kowe kok ngedohi (menjauhi) aku? Lan (dan) kowe karo Sekar... ono masalah opo toh?"

Sinta terdiam. Air mukanya berubah menjadi sedih. Ia menunduk, tidak berani menatap Abimanyu.

"Aku... aku ora iso cerito saiki (tidak bisa cerita sekarang), Abi," kata Sinta dengan suara bergetar. "Percoyo o (percaya saja), aku ora pengin (tidak ingin) gawe loro ati (menyakiti hati) sopo-sopo (siapa pun)."

Abimanyu merasa semakin bingung dan frustrasi. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

"Tapi, kowe wis gawe aku bingung, Sin," kata Abimanyu dengan nada немного naik. "Aku pengin ngerti (ingin tahu), opo sing lagi terjadi (apa yang sedang terjadi)?"

Sinta mengangkat wajahnya, menatap Abimanyu dengan mata berkaca-kaca. "Wis toh, Abi. Percoyo o karo aku. Aku janji (janji), nek (kalau) wis wayahe (waktunya), aku bakal cerito kabeh (akan cerita semua) karo kowe. Tapi, ora saiki (tapi tidak sekarang). Saiki, aku mohon (mohon)... ojo takon opo-opo (jangan tanya apa-apa) disik (dulu)."

Sinta menatap Abimanyu dengan tatapan memohon. Abimanyu terdiam, bimbang. Ia tidak tega melihat Sinta seperti ini.

"Yowes," kata Abimanyu akhirnya, dengan nada mengalah. "Nek kuwi (kalau itu) karepmu (maumu), aku ora arep meksamu (tidak akan memaksamu). Tapi, ojo lali (jangan lupa), nek kowe butuh (kalau kamu butuh) bantuan, aku siap mbantu (membantu) kowe."

Sinta mengangguk pelan. "Matur nuwun, Abi," ucapnya lirih. "Aku lungo disik yo."

Sinta pun berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Abimanyu yang berdiri terpaku di depan gerbang sekolah. Abimanyu menatap kepergian Sinta dengan perasaan campur aduk. Ia merasa bingung, penasaran, khawatir, dan sedikit sakit hati.

"Opo sing lagi terjadi karo Sinta lan Sekar?" gumamnya dalam hati. "Aku kudu ngopo?"

Abimanyu menghela napas panjang. Ia tahu, ia tidak bisa memaksa Sinta untuk bercerita. Ia hanya bisa menunggu dan berharap Sinta akan segera membuka diri kepadanya.

Dengan langkah gontai, Abimanyu kembali menuju lapangan basket. Ia merasa kehilangan semangat untuk bermain. Pikirannya masih terus melayang pada Sinta dan misteri yang menyelimutinya.

Sesampainya di lapangan, teman-temannya langsung mengerumuninya.

"Lho, kowe nang ngendi wae, Abi?" tanya Jaka. "Kok suwe banget?"

Abimanyu hanya tersenyum tipis. "Ono urusan sethithik," jawabnya singkat.

Ia pun bergabung dengan teman-temannya, berusaha untuk melupakan sejenak masalahnya dan menikmati sisa waktu sore itu. Namun, dalam hatinya, ia tahu bahwa ia tidak akan bisa tenang sebelum mengetahui kebenaran tentang apa yang terjadi antara Sinta dan Sekar Arum.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!