Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.
Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:
"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."
Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Serangan Pertama The Puppeteer
"Akhirnya sampai rumah. Rasanya tulang punggungku mau copot satu-satu."
Kalandra melempar jas kerjanya sembarangan ke sofa ruang tengah. Dia menghempaskan tubuhnya yang lelah, membiarkan otot-ototnya yang tegang seharian kembali rileks. Hari ini gila. Mulai dari drama Sinta, rapat dengan Jenderal, sampai menyusun ulang strategi berdasarkan analisis Zoya.
Zoya berjalan di belakangnya, melepas heels-nya di dekat pintu dan menggantinya dengan sandal rumah. Dia terlihat jauh lebih segar daripada suaminya, padahal dia yang berpikir paling keras hari ini.
"Jangan manja, Mas. Baru kerja segitu aja sudah ngeluh. Pasienku dulu di ruang otopsi nggak pernah ngeluh capek walau dibedah lima jam," komentar Zoya santai sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.
"Ya bedalah, Zoya. Mereka kan sudah mati," sahut Kalandra sambil memijat pelipisnya.
Tiba-tiba langkah Zoya terhenti di tengah jalan. Gelas yang dipegangnya belum sempat diisi air.
"Mas," panggil Zoya. Suaranya berubah. Tidak ada nada santai atau mengejek. Datar, tapi tajam.
"Kenapa? Air galon habis?" tanya Kalandra tanpa membuka mata.
"Ada kotak di meja makan. Mas pesan paket?"
Kalandra langsung membuka mata. Rasa kantuknya hilang seketika. "Nggak. Aku nggak pernah belanja online. Kamu kali?"
"Aku kalau belanja tas, kurirnya nggak mungkin berani masuk sampai ke dalam penthouse," jawab Zoya logis. "Mereka cuma titip di lobi bawah. Lagian kotak ini... aneh."
Kalandra bangkit dari sofa dengan waspada. Tangannya secara refleks meraba pistol di pinggang yang belum dia lepas. Dia berjalan mendekati meja makan marmer hitam itu.
Benar saja. Di tengah meja yang bersih, tergeletak sebuah kotak kado berwarna hitam matte seukuran kotak sepatu. Diikat dengan pita merah darah yang menyolok. Cantik, tapi aura yang dipancarkannya membuat bulu kuduk merinding.
"Jangan sentuh," perintah Kalandra tegas saat Zoya hendak mendekat.
Kalandra menatap sekeliling ruangan dengan liar. Dia berlari kecil ke panel smart home yang tertanam di dinding dekat pintu masuk. Jarinya menari cepat di layar sentuh, mengecek log keamanan.
"Sialan!" umpat Kalandra keras.
"Kenapa, Mas? Pintunya dibobol?" tanya Zoya, mendekat namun tetap menjaga jarak aman.
"Bukan dibobol paksa. Diretas," desis Kalandra, wajahnya merah padam menahan amarah. "Sistem keamanan kita offline selama sepuluh menit tadi siang. Log-nya menunjukkan 'Mode Pemeliharaan'. Si bajingan ini meretas sistem lift privat kita, memanipulasi kode akses seolah-olah dia teknisi gedung, lalu naik ke sini tanpa memicu alarm. CCTV juga di-loop, rekamannya cuma nampilin ruangan kosong berulang-ulang."
Kalandra meninju tembok. Keamanan penthouse super mewah ini ternyata bobol di tangan hacker yang tahu celah digital.
"Dia masuk ke sini..." bisik Zoya, matanya menatap kotak hitam itu. "Dia ada di rumah kita, Mas. Dia menyentuh meja makan kita."
Kalandra kembali ke meja makan. Dia mengeluarkan pisau lipat taktis dari saku celananya. "Mundur, Zoya. Mundur sampai ke pintu."
"Aku mau lihat," tolak Zoya keras kepala.
"Zoya! Ini mungkin bom!"
"Bukan. Kotaknya terlalu ringan dan nggak ada bunyi detak. Itu pesan," ucap Zoya yakin.
Kalandra menghela napas kasar. Dia tahu percuma melarang istrinya. Dengan hati-hati, ujung pisau Kalandra mengiris pita merah itu. Sreet.
Tutup kotak dibuka perlahan menggunakan ujung pisau.
Kalandra menahan napas. Zoya terdiam.
Di dalam kotak itu, terbaring sebuah boneka.
Bukan boneka santet atau boneka kain seram. Itu adalah boneka Barbie mahal yang cantik.
Tapi yang membuat darah Kalandra mendidih adalah detailnya. Boneka itu memiliki rambut hitam yang digelung rapi ke atas—persis gaya rambut Zoya. Boneka itu mengenakan setelan blazer kecil warna oatmeal dan celana kulot—persis pakaian yang Zoya pakai ke kantor polisi hari ini.
Dan yang paling mengerikan...
Sebuah jarum suntik medis asli menancap dalam di leher plastik boneka itu.
Di samping boneka, ada secarik kartu ucapan berwarna putih bersih dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan artistik:
Halo, Dokter Zoya.
Analisis yang indah hari ini.
Tapi hati-hati... boneka yang terlalu pintar bicara, biasanya cepat rusak pita suaranya.
- The Puppeteer -
"Bangsat!" teriak Kalandra. Dia membanting pisau lipatnya ke lantai hingga berdenting keras.
Kalandra mundur selangkah, napasnya memburu. Rumahnya, tempat perlindungannya, telah dinodai. Istrinya diancam tepat di depan hidungnya.
Zoya mendekat, menatap boneka itu dengan tatapan analitis yang dingin, meski jari-jarinya sedikit gemetar.
"Dia tahu, Mas," bisik Zoya. "Dia tahu aku yang membongkar trik simpul talinya. Dia tahu aku yang kasih profil itu. Dia memantau kita. Mungkin dari CCTV jalan raya, atau mungkin dia punya mata-mata di kantor polisi.
"Cukup!" Kalandra menyela cepat.
Dia tidak tahan melihat Zoya menatap ancaman kematian itu. Rasa takut yang belum pernah dia rasakan sebelumnya—rasa takut kehilangan—tiba-tiba menghantam dada Kalandra seperti ombak besar.
Tanpa peringatan, Kalandra menarik lengan Zoya kasar, menyentaknya hingga tubuh wanita itu menabrak dada bidangnya.
Kalandra memeluk Zoya. Erat. Sangat erat sampai Zoya sesak napas.
"Mas... sesak..." protes Zoya pelan, kaget dengan reaksi suaminya yang tiba-tiba.
Tapi Kalandra tidak melonggarkan pelukannya. Dia membenamkan wajahnya di ceruk leher Zoya, menghirup aroma tubuh istrinya untuk memastikan Zoya masih hidup, masih bernapas, dan belum jadi mayat. Tangan Kalandra gemetar di punggung Zoya.
"Dengar aku," bisik Kalandra di telinga Zoya, suaranya bergetar menahan emosi. "Mulai detik ini, kamu nggak boleh selangkah pun jauh dari aku. Nggak ada lagi tidur beda kamar. Nggak ada lagi jalan sendiri."
Kalandra melepaskan pelukannya sedikit, menangkup wajah Zoya dengan kedua tangannya yang besar. Matanya menatap tajam, penuh ketakutan dan tekad yang menyala-nyala.
"Ke mana pun aku pergi, kamu ikut. Ke kantor, ke lapangan, bahkan ke toilet pun aku bakal jagain di depan pintu. Paham kamu?"
Zoya terpaku menatap mata suaminya. Dia melihat ketulusan di sana. Si Komandan yang gengsian itu sedang panik setengah mati.
"Paham, Mas," jawab Zoya pelan.
"Bagus," Kalandra menarik Zoya kembali ke dalam pelukannya, matanya menatap nyalang ke arah boneka terkutuk di meja. "Karena kalau sampai dia nyentuh sehelai rambut kamu, aku bakal bakar kota ini buat nemuin dia."