Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Prioritas Sang Tuan
Deru mesin mobil sport Arlan yang memasuki pelataran mansion terdengar seperti guntur yang mengakhiri ketenangan sore itu. Arlan keluar dari mobil bahkan sebelum supirnya sempat membukakan pintu. Langkah kakinya yang lebar dan mantap bergema di lorong, memecah kesunyian rumah besar itu.
Ia mengabaikan sapaan hormat dari para pelayan. Tujuannya hanya satu: kamar bayi di lantai atas.
Saat ia membuka pintu kamar dengan perlahan, ia melihat pemandangan yang paling ia dambakan sepanjang hari. Amara sedang duduk di kursi goyang dekat jendela, menyusui Kenzo. Sinar matahari sore yang keemasan menyapu kulit bahu Amara yang terbuka, membuatnya nampak seperti lukisan yang sangat menggoda.
Amara tersentak kaget melihat Arlan sudah berada di sana jam segini. "T-Tuan? Anda sudah pulang?"
Arlan tidak menjawab. Ia melangkah mendekat, matanya terkunci pada gerakan mulut Kenzo yang menghisap dengan tenang. Arlan menanggalkan jas dan melemparnya sembarang ke atas sofa. Ia melonggarkan dasi dan membuka dua kancing kemejanya, memperlihatkan dadanya yang bidang.
"Kenzo sudah kenyang?" suara Arlan terdengar berat dan serak.
"S-sebentar lagi, Tuan. Tuan Kenzo baru saja mulai—"
Tanpa menunggu kalimat Amara selesai, Arlan membungkuk dan dengan lembut namun tegas mengambil Kenzo dari pelukan Amara. Bayi itu sempat merengek kecil karena pelepasannya yang tiba-tiba, namun Arlan menimangnya sejenak hingga Kenzo kembali tenang.
Arlan melangkah menuju boks bayi dan meletakkan putranya di sana, memberikan sebuah mainan empuk agar Kenzo teralihkan. "Mainlah sebentar, Jagoan. Papa punya urusan mendesak dengan pengasuhmu," gumam Arlan tanpa rasa bersalah.
Amara berdiri dengan perasaan was-was, mencoba merapikan pakaiannya yang terbuka. "Tuan, kenapa Kenzo diletakkan? Dia belum selesai..."
Arlan berbalik, menatap Amara dengan tatapan predator yang haus. Ia memojokkan Amara kembali ke kursi goyang tadi, menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi sehingga Amara terkunci di bawah tubuhnya.
"Aku yang belum selesai, Amara," bisik Arlan tepat di depan bibir Amara. "Sepanjang rapat tadi, aku tidak bisa memikirkan hal lain selain rasa manis dari tubuhmu. Kerongkonganku sangat kering, dan hanya kau yang punya penawarnya."
"T-tapi Tuan, ini masih sore... pelayan lain bisa saja masuk," Amara memohon dengan suara yang bergetar, namun jantungnya justru berkhianat dengan berdetak liar.
"Pintu sudah kukunci," jawab Arlan singkat.
Tangan Arlan menarik paksa kerah seragam Amara, memperlihatkan ÐåÐå besar yang nampak kencang dan penuh. Tanpa basa-basi lagi, Arlan langsung membenamkan wajahnya di sana. Ia menghirup dalam-dalam aroma khas Amara sebelum akhirnya melahap þµ†ïñg merah muda itu dengan rakus.
"Mmmþhh... ahhh, Tuan..." Amara memejamkan mata, tangannya meremas kemeja Arlan.
̧åþåñ Arlan kali ini terasa lebih menuntut dan penuh rasa lapar yang tertahan. Ia seolah ingin menggantikan semua rasa frustrasinya di kantor tadi dengan cairan hangat dari tubuh Amara. Amara hanya bisa mendesah pasrah, merasakan bagaimana kekuasaan Arlan benar-benar telah menelan seluruh hidupnya, mengubahnya dari seorang pengasuh menjadi milik pribadi sang tuan yang tak pernah puas.
***
Gåïråh yang menyiksa Arlan sejak di ruang rapat tadi kini mencapai puncaknya. Sambil terus menghisap þåɏµÐårå Amara dengan rakus, tangan Arlan bergerak dengan tergesa ke arah pinggangnya. Suara sret dari ritsleting celana mahalnya memecah kesunyian kamar bayi, disusul dengan celana kain dan pakaian dalamnya yang merosot jatuh ke lantai.
Seketika, kêjåñ†åñåñ Arlan yang besar, panjang, dan berurat menegang dengan gagahnya, berdiri menantang tepat di hadapan wajah Amara yang sedang terduduk di kursi goyang.
"Aakhhh!" Amara memekik kaget, matanya membelalak lebar hampir keluar dari kelopaknya. Ia secara refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar hebat melihat pemandangan yang belum pernah ia saksikan seumur hidupnya. "T-Tuan... itu... apa itu?!"
Arlan melepaskan kulumannya dari þµ†ïñg Amara yang basah. Ia mendongak, menatap Amara dengan tatapan sayu yang penuh kemenangan. Ia perlahan menjilat sisa-sisa cairan kental putih yang masih menempel di bibir tipisnya dengan lidahnya, seolah memamerkan betapa ia menikmati "susu" Amara. Senyum smirk menghiasi wajah tampannya saat melihat kepanikan luar biasa di wajah gadis desa itu.
"Kenapa kau berteriak? Ini namanya þêñï§, Amara," ucap Arlan dengan suara serak yang berat. Ia menggerakkan pinggulnya sedikit, membuat miliknya yang tegang itu bergoyang pelan di depan mata Amara. "Coba pegang."
Amara menggelengkan kepalanya dengan kuat, air mata ketakutan mulai menggenang di sudut matanya. "P-pegang, Tuan? Tidak mau! Itu... itu sangat besar dan menyeramkan. Saya takut!"
Tawa Arlan pecah seketika. Suara tawanya yang bariton memenuhi ruangan, terdengar sangat geli mendengar kejujuran dan kepolosan Amara yang begitu murni. Ia merasa sangat terhibur mendapati ada wanita di zaman sekarang yang masih begitu awam akan tubuh pria.
"Menyeramkan?" Arlan tertawa lagi sambil mengusap air mata di sudut matanya. "Kau belum pernah melihat yang sebesar ini sebelumnya, Amara?"
Amara masih menatap benda itu dengan ngeri, seolah benda itu adalah monster yang siap menerkamnya. Ia menjawab dengan polos sambil terus menggeleng, "Punya adik saya di desa masih kecil sekali, Tuan... dan milik Tuan Muda Kenzo juga masih kecil. Kenapa milik Tuan... bisa jadi raksasa begitu?"
Arlan kembali tertawa hingga bahunya berguncang. "Tentu saja milik mereka kecil, mereka masih anak-anak. Tapi miliku... ini sudah dewasa, Amara. Dan dia menjadi sebesar ini karena kau. Dia menyukai aroma susumu, dia menyukai desahanmu."
Arlan kemudian meraih tangan mungil Amara yang sedang gemetar. Meskipun Amara mencoba menariknya kembali, kekuatan Arlan jauh lebih besar. Arlan menuntun jemari halus Amara untuk menyentuh kepala kêjåñ†åññɏå yang panas dan berdenyut.
"Rasakan, Amara... dia tidak menggigit. Dia hanya ingin kau rasakan betapa panasnya gåïråh yang kau ciptakan pada tuannya," bisik Arlan, suaranya kini berubah menjadi sangat menggoda sementara ia kembali menunduk untuk mêñgµlµm þµ†ïñg Amara yang sebelah lagi.