Harap bijak dalam memilih bacaan, sebagian konten ini berunsur dewasa 21+
Demi menyelamatkan panti asuhan yang akan di gusur, Fatimah rela menikah dengan pria setengah baya berusia 50 tahun. Tetapi laki - laki itu sama sekali tak pernah menyentuhnya. Kenapa ? dan ada rahasia apa di balik pernikahannya....
Lalu bagaimana reaksi Glenn Wijaya Liem yang melihat Ayahnya sendiri menikahi wanita yang diam-diam ia cintai sejak tiga tahun yang lalu.... kuy ikutin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekaman cctv
Setelah mengantar dokter Jimmy keluar, Glenn kembali lagi ke ruangannya. Ia melihat Fatimah masih duduk di atas sofa.
"Maaf Direktur, saya akan kembali bekerja." ujar Fatimah seraya beranjak dari duduknya.
"Tidak perlu, lebih baik aku antar kamu pulang untuk istirahat."
"Direktur mau ngapain ?" teriak Fatimah ketika Glenn akan menyentuhnya.
"Tentu saja menggendongmu. Apa kamu tadi tidak dengar apa dokter, jangan terlalu banyak bergerak." sahut Glenn dengan alasan logisnya dan tentunya di bumbui sedikit modus.
"Apa direktur tidak mendengar gosip di kantor ini ?"
"Kamu pikir saya suka menggosip ?"
"Saya juga tidak suka menggosip Direktur, tapi kalau yang di gosipkan saya sendiri mau tidak mau saya juga perduli." sahut Fatimah seraya mendudukkan dirinya di sofa kembali karena kakinya terasa nyeri jika harus kelamaan menahan tubuhnya.
"Memang kamu di gosipkan apa ?" tanya Glenn ingin tahu.
"Mereka mengira Direktur dan saya...."
"Pacaran ?" potong Glenn.
"Itu Direktur tahu." Fatimah mencebikkan bibirnya, bagaimana bisa laki-laki di depannya itu sangat santai menghadapi gosip yang beredar di kalangan karyawannya.
"Bagus dong kalau mereka beranggapan seperti itu."
"Maksud Direktur ?" Fatimah membulatkan matanya tak percaya, bagaimana mungkin Direkturnya itu menyetujui gosip tersebut.
"Daripada kamu di gosipkan jadi simpanan Papa."
Fatimah tersentak, ia nampak membenarkan perkataan Glenn. Bagaimanapun juga pernikahannya dengan tuan Candra itu di sembunyikan dari kalangan umum, jika ada yang tahu dia pasti akan di sangka wanita simpanan Om-Om.
"Tapi semua ini tidak benar, gara-gara gosip itu banyak Fansnya Direktur membenci saya."
"Aku tidak merasa mempunyai Fans jadi jika ada yang mengganggumu kamu tinggal bilang saja aku akan mengatasinya."
Fatimah terlihat geram dengan perkataan Glenn itu, bagaimana bisa dia mengatasi masalah segampang itu tanpa memperdulikan akibatnya. Apa karena dia mentang-mentang yang punya perusahaan jadi bisa berbuat sesuka hati. Bahkan masalah resepsionis beberapa waktu yang lalu, yang kena imbasnya adalah Fatimah dengan di musuhi sebagian besar karyawan di kantor tersebut.
Ngomongin masalah resepsionis, Fatimah baru mengingat wanita yang menginjak kakinya di kantin tadi siang adalah pegawai resepsionis yang di pindahkan ke bagian gudang oleh Glenn.
"Astaghfirullah, kenapa begitu banyak masalah yang ku hadapi." batin Fatimah sembari memijat pelipisnya.
"Jadi bagaimana, mau ku antar pulang ?"
"Tidak terima kasih, saya akan jalan pelan-pelan dan naik taksi saja."
"Kenapa kamu keras kepala sekali sih." teriak Glenn tak sabar.
"Ku mohon jangan menyulitkan hidupku Direktur," Fatimah hanya bisa menggerutu dalam hati. percuma juga dia mengatakannya, karena laki-laki itu pasti tidak akan mendengarkan.
Kemudian Glenn mengambil ponsel diatas meja kerjanya, lalu segera menelepon seseorang. "Bro, carikan kursi roda sekarang juga !!" lalu ia mematikan teleponnya sebelum seseorang yang di telepon itu bertanya lebih lanjut. Sangat arogan.
"Saya bisa jalan sendiri Direktur." sanggah Fatimah, terlalu berlebihan menurutnya karena sejauh ini ia masih bisa berjalan meski terasa sakit.
"Mau pakai kursi roda atau ku gendong ?" tawar Glenn.
"Kursi roda saja," sahut Fatimah mantap. Ogah banget dia harus di gendong oleh laki-laki menyebalkan itu, selain karena tidak mau bersentuhan ia juga tidak mau jadi bahan gosip orang sekantor.
Selang beberapa saat David masuk ke dalam ruangan tersebut dengan mendorong kursi roda. "Loe kenapa bro, lumpuh ?" ucap David yang lolos begitu saja dari bibirnya.
"Sialan. mata loe nggak lihat, gue berdiri normal begini."
"Lalu untuk siapa, astaga kaki loe kenapa Fa ?" tanya David sambil melangkah ke arah Fatimah dan duduk berjongkok untuk melihat kakinya.
"Nggak usah sok perhatian." Glenn menarik lengan David agar menjauh.
"Astaga posesif sekali loe itu, istri juga bukan." David mendengus kesal.
"Ayo aku antar !!" ajak Glenn dengan mendorong kursi roda kearah Fatimah agar ia segera mendudukinya.
"Saya sudah minta tolong Mira untuk mengantar saya sampai bawah." ucap Fatimah.
"Ya sudah terserah kamu." sahut Glenn dingin lalu berjalan kearah mejanya lalu duduk di kursinya.
Fatimah yang menyadari perubahan Glenn, merasa tidak enak hati tapi bagaimanapun juga ia harus menjaga jarak dengan laki-laki itu. Bukan hanya karena gosip di kantor tapi Fatimah sadar betul kalau Glenn sudah menaruh perasaan padanya.
Fatimah tidak akan memberikan sedikitpun harapan padanya, karena harapan itu memang tidak ada dan tidak akan pernah ada. Karena dalam agamanya pernikahan ibu tiri dan anak tirinya itu haram hukumnya, meskipun Ayahnya tidak pernah menyentuhnya sekalipun.
"Mau gue bantu ?" tanya David ketika melihat Fatimah sudah duduk di kursi rodanya.
"Terima kasih pak David, saya bisa sendiri lagipula ada Mira yang sudah menunggu saya diluar."
"Terima kasih Direktur, saya permisi." Fatimah melihat Glenn yang sedang duduk kursinya, tapi laki-laki itu sedikitpun tak menyahutinya bahkan melihatnya saja tidak.
Kemudian dengan memutar rodanya pakai tangan, Fatimah berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
David yang melihat Glenn tak bergeming dari duduknya nampak menarik napasnya panjang lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Sudahlah bro apa yang loe harapkan dari Fatimah." ucap David yang merasa miris dengan sepupunya itu, sungguh ironis kisah cintanya harus berebut satu wanita dengan Ayahnya sendiri.
"Diamlah, gue tidak sudi di ceramahi oleh calon penghuni neraka seperti loe."
"Sekarang berikan gue rekaman cctv jam makan siang tadi di Cafetaria." ucapnya lagi.
"Memang ada apa bro ?" tanya David penasaran.
"Nanti loe juga tahu."
Kemudian David berlalu pergi, untuk mengambil rekaman cctv di ruangan security karena ia juga sangat penasaran. Tidak biasanya sepupunya itu perduli dengan kawasan kantornya apalagi Cafetaria tempat yang tidak pernah ia datangi.
Sedangkan Fatimah yang sedang duduk di atas kursi rodanya dan Mira yang mendorongnya nampak menjadi tontonan beberapa pasang mata yang sedang berada di lobby.
"Thanks ya Mir." ucap Fatimah ketika Mira membantunya masuk kedalam taksi online yang baru ia pesan.
"Kalau ada apa-apa hubungi gue." ujar Mira yang langsung di anggukin oleh Fatimah.
Setelah itu taksi yang membawa Fatimah berlalu pergi meninggalkan gedung pencakar langit tersebut.
David yang membawa rekaman cctv di tangannya segera masuk kedalam ruangan Glenn.
"Nih bro." David menaruh flashdisk di meja kerjanya Glenn dan laki-laki itu langsung mengambil dan memasangnya di komputernya.
"Apa loe mengenal wanita itu ?" tanya Glenn pada David yang juga ikut menonton rekaman cctv tersebut.
"Itu bukannya resepsionis yang waktu itu loe suruh gue untuk di pindahkan ke bagian gudang." ujar David, matanya masih fokus melihat rekaman tersebut.
"Pecat dia sekarang juga !!" ujar Glenn kesal.
"Apa itu tidak berlebihan bro ?"
"Berlebihan bagaimana, sudah jelas dia sengaja menginjak kaki Fatimah dengan heelsnya itu." teriak Glenn emosi.
"Maksudku kalau kita pecat dia, takutnya dia akan merasa dendam pada Fatimah dan akan mencelakainya diluar."
"Itu tugas loe, biar apa yang loe pikirkan itu tidak terjadi. Kalau perlu usir dia dari kota ini."
"Baiklah, terserah loe aja." sahut David pasrah.