Gugur dalam sebuah pemberontakan tepat di hari pelantikannya sebagai jenderal, Ellenoir, mantan prajurit wanita hebat di dunia kuno, kembali ke dunia aslinya, dunia yang sudah hancur. Dengan membawa pedang dan tekad ia bergerak menumpas kejahatan dan zombie.
Sepupu dan tunangan yang selingkuh? Bunuh!
Paman dan Bibi yang licik? Bunuh!
Orang-orang serakah yang berniat jahat? Bunuh!
Meski perjalanan panjang dan berdarah menanti, Elle siap menghadapinya. Bersama orang-orang kepercayaannya, menaklukkan kota miskin yang terbuang, menciptakan sebuah kota aman yang akan menjadi cahaya dimasa depan. Menciptakan sebuah harapan ditengah-tengah keputusasaan.
Mampukah Elle menciptakan harapan ditengah kehancuran? Atau justru gugur dimakan kejinya akhir dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merekrut dan Menimbun Perbekalan
**
Elle menghela nafas lega. Kemudian ia turun dari atap. Berjalan ke tumpukan sofa, dan menatapnya lekat. "Keluar!" Ucapnya dengan nada intimidasi. "Keluar, jika kau masih sayang nyawamu!" Lanjutnya dengan nada dingin.
Mendengar ancaman, akhirnya orang yang bersembunyi disana keluar, merangkak perlahan. "A-aku keluar kakak..." Ucapnya dengan nada takut.
Elle sedikit terkejut ketika melihat orang didepannya, meski tidak menunjukkannya dengan jelas. Seorang anak-anak, dia kira itu adalah anak buah si bajingan yang tersisa dan memilih bersembunyi. Pantas saja, ketika si anak buah membalikkan sofa ia tidak terlihat. Tubuhnya masih kecil dan memudahkannya bersembunyi.
"Siapa kau? Sedang apa disini? Apa kau anak si bajingan itu?" Tanya Elle mengintimidasi, meski ia mengajukan pertanyaan ini, tapi di kehidupan sebelumnya ia tidak ingat jika kepala keamanan komunitasnya punya anak laki-laki.
"Bukan, bukan, kakak... A-aku bukan. Aku datang menyelinap semalam untuk mencari kakakku. Dia menculiknya, hiks... Aku d-datang untuk menyelamatkannya...Tapi zombie tiba-tiba datang, aku tidak sempat menyelamatkannya, dia menjadikan kakakku tameng sementara dia bersembunyi dikamar..." Balasnya langsung menangis. Tubuhnya gemetar, perasaan takut dan kehilangan menimpanya secara bersamaan.
"Kakak, jika kau mau membunuhku, maka lakukan dengan cepat. Aku...hiks takut sakit. Tapi aku juga tidak punya siapa-siapa lagi. Kakakku satu-satunya keluargaku juga sudah-"
Elle maju memeluknya, menenangkan tubuh gemetar dan emosi sedih yang tidak terkendali tersebut. Isak tangisnya bahkan membuatnya tidak mampu melanjutkan ucapannya. Begitu pelukan datang, isakannya semakin kencang. Menangis meraung memanggil sang kakak.
Elle mendongakkan kepalanya, perasaan sedih anak ini memengaruhinya. Wajahnya terlihat tidak berdaya, dunia yang hancur ini...semua orang pasti mengalami kehilangan, kesedihan dan penyiksaan. Kemudian setiap manusia mulai berubah setelah mengalami semuanya, ada yang menyerah, tidak menyerah tapi menjadi jahat juga, adapula yang tidak menyerah dan memilih menjadi kuat untuk membalas dendam.
Seperti Elle. Yang akhirnya berhasil membalas dendam, meski harus melewati kehidupan lain didunia kuno. Ia cukup puas, apalagi ia juga berhasil menghilangkan keluarga pamannya, sumber dari segala penderitaannya.
Setelah 5 menit menangis, perlahan si anak kecil mulai tenang. Elle pun melepaskan pelukannya. Menatapnya dengan beberapa pikiran. "Siapa namamu?" Tanya Elle kemudian.
"Arshavin, kakak b-bisa memanggilku Avin." Ucapnya gugup. Ia merasa malu, ia bahkan mengusap air mata yang membasahi wajahnya dengan cepat.
"Aku tidak akan membunuhmu, kau bisa pergi bergabung dengan penyintas lain nanti. Mereka semua selamat, teman-temanku sudah mengatur mereka ditempat aman dilantai bawah." Ucap Elle.
Avin terdiam beberapa saat, ia ingat pelukan hangat barusan. Meski wajah yang ditampilkan selalu datar dan terlihat tidak tersentuh, tapi Avin benar-benar merasakan kehangatan. Jadi ia memberanikan diri untuk bertanya setelahnya. "Kakak, b-bisakah aku... i-ikut denganmu?" Tanyanya gugup, kepalanya juga menunduk dan memilin baju sebagai pelampiasan gugupnya.
Elle tersenyum samar. Ia memang berencana merekrutnya, tapi ia tidak ingin ada unsur keterpaksaan, ia ingin kesukarelaan. Lagipula, dengan banyaknya patroli yang berjalan diluar dilantai 6, ia bisa masuk menyusup ke rumah yang ditempati sang bos, ia jelas punya beberapa kemampuan. Sangat cocok dijadikan orangnya.
"Dimasa depan, aku akan banyak membunuh orang dan zombie. Kau juga lihat caraku barusan terlihat sangat kejam. Kau yakin mau ikut denganku?" Tanya Elle memastikan.
Avin mendongak, kemudian dengan kedua mata lebar ia mengangguk dengan semangat. "Yakin, kakak... Aku tidak takut, aku a-aku juga akan membantumu membunuh mereka!" Balasnya.
"Oke, ikutlah kalau begitu." Ucap Elle mengangguk setuju, membuat Avin tersenyum lebar, dan segera mengucapkan terimakasih, dengan air mata bahagia keluar tanpa sadar. Pikirannya dipenuhi dengan, ia akhirnya punya kakak lain sebagai tempat pulang.
Elle menatapnya. Kemudian Meraih ransel yang dipakainya sebagai kamuflase, mengeluarkan makanan dan baju baru yang sesuai ukurannya yang ia temukan sebelumnya dilantai atas, dan memberikannya padanya. "Aku lihat dikamar mandi tadi masih ada beberapa ember air. Bersihkan dirimu, kemudian tunggu aku sambil makan." Ucap Elle.
Avin mengangguk setuju, menerima barang dan mengucapkan terimakasih. Dengan mata yang lagi-lagi mengeluarkan air, ia menatap punggung Elle yang perlahan menjauh. Avin juga tidak bertanya apapun, kepercayaannya sudah melekat pada Elle. Jadi, ia pun pergi untuk membersihkan diri kemudian.
**
Elle memasuki kamar yang tadi ditempati dua orang bodoh itu. Berjalan masuk dengan tenang, kamar yang telah ditempati itu terlihat sangat rapi tapi tidak dengan kasurnya. Berantakan sampai membuat Elle jijik. Ia tidak menyentuh hal lain, ia fokus pada barang yang kira-kira adalah kunci mekanisme untuk ke gudang perbekalan diruangan tersembunyi dikamar ini.
Ia akan mengambil semuanya, tentu saja. Meski perbekalannya sendiri sudah banyak dan ia bisa menghasilkan makanan sendiri, ia tetap akan mengambil banyak perbekalan selama diperjalanan, bagaimanapun ia punya beberapa rencana untuk masa depan, dan perbekalan yang banyak sangat dibutuhkan.
Trek.
Elle berhasil menemukan mekanismenya. Itu sebuah vas bunga antik berwarna zamrud. Cukup putar pot, dan dinding yang terhalangi lemari buku perlahan terbuka, menunjukkan lorong temaram yang agak panjang.
Elle masuk, setelah beberapa waktu berjalan, akhirnya ia sampai ditempat. Ini adalah gudang minuman, terlihat dari banyaknya wine mahal yang berjejer di rak. Elle tersenyum lebar, kemudian melambaikan tangan dan wine beserta raknya seketika menghilang.
Setelahnya, Elle kembali berjalan, membuka satu ruangan lain yang tertutup pintu disana. Menatap sekeliling, senyumnya semakin melebar. "Banyak sekali perbekalan!" Ucapnya dengan mata berbinar.
Beras, biji-bijian, minyak, makanan instan dan kalengan, serta rokok, dan baju setiap ukuran. Selain itu ada banyak uang dan emas. "Oh, apakah dia berencana menimbun makanan untuk dijual kembali dengan harga mahal?" Gumam Elle mengernyit. Terutama beras, biji-bijian dan minyak, ketiganya paling banyak diantara yang lain.
Ketika badai bintik matahari belum pecah, matahari ada lebih dari satu. Beberapa orang pintar seperti pemilik rumah jelas pintar, melihat keadaan yang mungkin akan buruk ia memanfaatkan keadaan. Beras, biji-bijian dan minyak memang langka sebelum badai bintik matahari pecah. Pemilik rumah ini benar-benar orang licik. Maka pantaslah, menjadi korban kepala keamanan.
"Meski begitu, terimakasih, ini jadi milikku sekarang." Ucap Elle tersenyum, kemudian melambaikan tangannya, mengambil semua perbekalan, masuk ke dalam ruangnya.
Elle mengangguk dengan puas, kemudian kembali ke ruang tengah, untuk menjemput anak kecil itu. Kembalilah dan cari orang-orangnya dilantai bawah. Pikirnya.
"Dobrak, hancurkan saja pintunya!"
Pekikan Darrion yang terdengar panik mengalihkan perhatian Elle pada pintu. Ia tersenyum samar, sementara Avin mendekatinya dengan takut. "Kak, ayo sembunyi. Itu mungkin anak buah orang itu." Ucapnya seraya menunjuk mayat zombie.
Elle menggelengkan kepalanya, "Itu adikku. Ayo pergi temui mereka." Ucapnya.
**